
Raquille, Alyana dan Azouraz terbang dengan kecepatan mencapai delapan ratus sembilan puluh kilometer per jam, hingga membuat mereka sampai ke ibukota negeri Graina dalam waktu satu jam.
Saat mereka mendarat, tampak beberapa Venerate Graina langsung menyambut mereka bertiga.
“Selamat datang di kota Viek, tuan putri Alyara dari Morseli dan tuan Azouraz dari negeri Ledyana…” Ucap salah satu diantara mereka, memberi salam.
“Selamat datang juga tuan…” Lanjut pria itu memberikan salam kepada Raquille.
“Terima kasih sudah menyambut kami tuan… Ngomong-ngomong bagaimana keadaan pasukan Graina yang sedang menyerang wilayah Midauz?” Balas Alyara kemudian bertanya pada pria Graina itu.
“Soal itu anda tidak perlu khawatir karena pasukan kami berhasil memperluas wilayah Graina setelah penyerangan sebelumnya…”
“Aku juga meminta maaf mewakili pasukan Graina karena membuat anda dan tuan Azouraz juga menjadi repot-repot datang kemari, padahal keadaan pasukan kami masih baik-baik saja.”
“Kalau begitu, biar kuantar kalian untuk beristirahat terlebih dahulu…”
Para Venerate Graina kemudian pergi mengantar Raquille dan yang lain pergi ke suatu tempat dengan alasan untuk beristirahat setelah perjalanan mereka ke kota tersebut.
Raquille, Alyara dan Azouraz hanya bisa mengikuti kata dari salah satu Venerate Graina tersebut karena bagi mereka tetap berada di negeri Graina merupakan hal yang lebih menguntungkan untuk menjalankan misi mereka daripada harus pergi menyerang wilayah negeri Midauz bersama pasukan Graina.
***
Para Venerate Graina mengantar mereka ke sebuah ruangan yang luas untuk menunggu di tempat tersebut.
“Baiklah kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu,” ucap salah satu Venerate Graina kemudian pergi bersama Venerate yang meninggalkan tiga orang itu.
“Jadi kapan kita akan pergi ke tempat itu? Ini bukan kota yang kau bicarakan kan?” Tanya Raquille.
“Kita tunggu sebentar lagi… Kota Lynerbyich berada tidak jauh di arah utara kota ini,” jawab Alyana.
“Sekedar untuk mengingatkan padamu bahwa Arvhen Hryenko, presiden Graina juga berada di kota ini… Kita tidak boleh membuat para Venerate negeri ini menjadi curiga dengan sikap kita, jika tidak akan sangat menyusahkan kalau harus berurusan dengan pria itu,” lanjut Alyara.
Raquille pun paham dengan penjelasan Alyara. Pemuda itu mengerti bahwa kedatangan mereka ke negeri itu untuk menghancurkan senjata rahasia dari kubuh timur akan sangat berpengaruh besar bagi keuntungan pihak kubuh barat melawan musuh-musuh mereka nantinya.
***
“Hei, apa kau tahu pria berambut putih itu? Sepertinya aku belum pernah mendengar bahwa Morseli ataupun Ledyana memiliki Venerate tingkat atas sepertinya…”
Akan tetapi, tanpa mereka sadari para Venerate yang sebelumnya bertemu dengan tiga orang itu merasa curiga dengan penampilan Raquille yang lupa mengubah warna rambutnya.
“Sepertinya kalian benar…” pria Graina yang menjadi atasan dari mereka pun juga merasakan hal yang sama, dimana yang dia ketahui bahwa selama ini tidak ada yang satupun Venerate berambut putih dari negeri Morseli maupun Ledyana.
***
Waktu pun berlalu, dimana hari kembali berganti ke malam hari. Raquille yang berada di dalam ruangan sebelumnya bersama dengan Alyara dan Azouraz tampak bosan terus menunggu.
“Hei, apa kita akan bergerak sekarang?” Tanya pemuda Elfman itu.
“Sepertinya memang tidak ada satupun orang lagi yang akan mengurus kita…”
“Kalau begitu ayo kita bergerak kabur dari tempat ini…” Ucap Alyara.
***
Di tempat lain, pria Graina yang bertemu dengan Raquille dan yang lain sebelumnya tiba-tiba dijumpai oleh seseorang.
“Zynotyn darimana saja kau selama ini?” Tanya pria itu kepada orang yang barusan datang menemuinya.
“Aku baru saja mendapatkan informasi yang sangat penting… Leonkiv, apa kau tahu bahwa negeri Ledyana ternyata sudah mengkhianati aliansi SGS,” ucap orang tersebut.
“Apa maksudmu?” Tanya pria bernama Leonkiv itu, masih belum paham dengan pernyataan tersebut.
“Aku sebelumnya memata-matai perseteruan antara Geracie dan Nascunia… Dan disana Azouraz Margvil, Continent Venerate dari Ledyana membantu para kubuh barat…”
“Bahkan pria itu kemungkinan pergi menyusup ke negeri kita dengan salah satu Venerate dari kubuh barat.”
“Azouraz sekarang berada di kota ini bersama putri Alyara dan satu orang misterius…”
Pria bernama Zynotyn seketika juga dikejutkan balik setelah mendengar pernyataan dari Leonkiv.
Tanpa pikir panjang mereka pun langsung bergerak hendak menyergap Raquille, Alyara serta Azouraz.
***
Beberapa saat kemudian, Raquille dan yang lain akhirnya keluar dari dalam kota Viek tanpa sepengetahuan para prajurit Graina.
“Tahan dulu…”
Tiba-tiba langsung disergap pasukan Graina dan dua Venerate yang sebelumnya sudah mengetahui kebenaran mereka.
“Sebelumnya aku hampir saja membuat kesalahan dengan membiarkan kalian masuk ke kota ini,” ucap Leonkiv.
“Jangan mencoba untuk melakukan perlawanan atau hal yang buruk akan terjadi kepada kalian…”
Raquille dan yang lain kini langsung dikepung oleh para prajurit Graina yang siap kapan saja untuk menyerang mereka.
“Jadi kita akhirnya ketahuan yah…” Ucap Raquille sambil memasang ekspresi menyeringai.
Pemuda Elfman itu kemudian mengaktifkan kekuatannya dan bersiap untuk hendak menyerang semua prajurit Graina yang mengepung mereka dengan satu serangan.
“Raquille, tunggu dulu… Jangan menggunakan serangan yang besar karena itu akan memicu kekacauan.” Baru saja akan menyerang, Alyara dengan cepat langsung memperingati pemuda Elfman itu.
*
“Kalau begitu apakah teknik aku harus menggunakan teknik es terkutuk,” ucap Raquille dalam hati.
“Sial, apa aku harus menggunakan jiwa-jiwa tersesat untuk mengekang mereka?” Ucap Azouraz dalam hati juga, nampak ragu untuk melakukan serangan.
**
“Eh…”
Tanpa Raquille dan Azouraz sadari, para prajurit Graina tiba-tiba telah berlutut dihadapan mereka dengan ekspresi wajah yang datar.
Raquille sangat ingat betul bahwa dia belum menggunakan tekniknya untuk membuat semua prajurit itu bisa dikendalikan olehnya.
“Semuanya berdiri…” Tiba-tiba saat Alyara berbicara semua prajurit tersebut langsung mengikuti perkataannya.
“Dengarkan aku… Kalian tidurlah sekarang, dan ingat setelah kalian tersadar nantinya, maka kalian semua tidak akan mengingat bahwa kami pernah datang ke negeri kalian…” Ucap putri dari negeri Morseli itu yang sontak membuat semua prajurit Graina langsung jatuh tak sadarkan diri.
Melihat hal tersebut Raquille serta Azouraz pun tampak terkejut.
“Tuan putri, aku tidak menyangka bahwa bisa melihat langsung teknik seperti ini,” ucap Azouraz memuji Alyara.
*
“Mirip seperti es terkutuk, tapi perintah yang diberikannya lebih mutlak… Sebenarnya apa yang dia lakukan hingga bisa membuat mereka seperti itu,” ucap Raquille dalam hati, bertanya-tanya dengan mekanisme teknik yang dilakukan oleh Alyara.
**
“Bagaimana kau melakukannya? Teknik macam apa itu?” Tanya Raquille.
“Aku hanya melakukan teknik menghipnotis lawan saja,” jawab Alyara dengan tersenyum.
“Aku juga tahu itu, tapi bukankah itu terlalu hebat sehingga bisa membuat dua Continent Venerate tak sadarkan diri.”
“Daripada kau terus bingung dengan apa yang kulakukan, lebih baik kita berangkat sekarang juga.”
Raquille pun mengurungkan niatnya untuk mengetahui tentang teknik yang dilakukan oleh Alyara dan lebih memilih untuk berangkat menuju ke kota tempat tujuan mereka.