
“Kakak… Apa yang kau katakan?” Ucap Raquille, nampak terkejut mendengar pernyataan dari Hyphilia.
“Apa? Ibu rasa kau tidak bisa ikut dengan Raquille, Hyphilia…” Begitu juga dengan Lorainne yang lantas terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Elfman perempuan itu.
“Tapi ibu Lorainne… Aku adalah tunangannya, bagaimana mungkin kita harus terpisah lagi, pokoknya aku juga ingin ikut dengannya,” ucap Hyphilia, memaksa.
“Hal ini bukan hanya mengenai itu saja… Jika saja kau bukan Continent Venerate ibu pasti akan mengijinkannya… Jika kau ingin pergi ke negeri Pavonas juga, maka negeri Blueland akan kehilangan dua Venerate tingkat atas mereka,” ucap Lorainne, menjelaskan kepada Hyphilia.
“Ibu rasa ayahmu tidak akan mengijinkan hal itu juga… Bukankah begitu Ruvaen?” Lanjut Lorainne, kemudian bertanya kepada Ruvaen.
“Sebenarnya tidak sepenuhnya aku menolak hal tersebut kakak…” Jawab Ruvaen, ternyata memiliki pendapat yang berbeda dengan Lorainne.
“Kupikir kau bisa mendukungku…” Gumam Lorainne, mendengar pernyataan dari Ruvaen.
“Baiklah… Jika kau menginginkannya, maka kau bisa menentukan pilihanmu.” Karena tidak punya pilihan, Lorainne lantas menerima permintaan Hyphilia yang ingin ikut bersama dengan Raquille ke negeri Pavonas.
“Ngomong-ngomong Phyton… Apa tidak masalah jika kau merekrut dua Venerate tingkat atas?” Tanya Raquille.
“Tentu saja kakak… Sebenarnya negeri Pavonas sekarang lebih membutuhkan Continent Venerate untuk menjadi pemimpin dari wilayah…”
Phyton kemudian menjelaskan bahwa setelah negeri Pavonas serta kubuh timur mengalami kekalahan, Pavonas sontak kehilangan banyak Venerate mereka, termasuk Venerate tinggkat atas. Untuk saat ini negeri Pavonas hanya memiliki dewi merak, yaitu Erissa sebagai satu-satunya World Venerate, serta beberapa Continent Venerate saja.
Phyton juga menjelaskan bahwa beberapa wilayah mengalami kekosongan pemimpin karena tidak memiliki lebih banyak Continent Venerate di negeri tersebut.
“Kalau begitu, lebih baik kau membawanya saja, jangan aku…” Ucap Raquille, sedikit mendorong Hyphilia untuk direkrut oleh Phyton, sedangkan dirinya tidak perlu bergabung ke negeri tersebut.
“Apa yang kau katakan Raquille? Kalau begitu aku juga aku akan menolak untuk bergabung Pavonas,” ucap Hyphilia.
“Tunggu dulu kakak-kakak… Bukankah kalian sudah setuju bergabung ke Pavonas… Sebenarnya aku juga ingin memohon…” Phyton pun menjadi terkejut mendengar pernyataan Raquille serta Hyphilia, serta langsung meyakinkan mereka untuk memikirkannya kembali lagi untuk menolak hal tersebut.
Raquille pun perlahan mendekati Phyton yang merasa terkejut dengan pernyataannya, dan kemudian memegang pundak pemuda itu.
“Kau tak usah menganggap bahwa hal itu serius… Aku sudah memutuskan untuk bergabung ke negeri Pavonas untuk memenuhi janjiku pada Erissa,” ucap Raquille.
“Baiklah… Kalau begitu, tidak perlu berlama lagi, setelah kalian siap, kita akan berang…”
“Eh… Yang mulia…” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Lorainne tiba-tiba merangkul pemuda tersebut.
“Jangan terburu-buru… Walaupun kemari sebagai salah satu Continent Venerate Pavonas, tapi kau juga adalah keluarga kami, jadi kau harus sedikit tinggal dulu di tempat ini walau hanya sehari,” ucap Lorainne sambil tersenyum.
“Maaf Yang mulia… Nenek… Aku sebenarnya sudah ditunggu oleh kakak Erissa,” ucap Phyton.
“Tidak perlu khawatir… Nenek pasti akan membicarakan kepada gadis cantik itu bahwa kau akan sedikit terlambat membawa Raquille dan yang lain,” balas Lorainne, tidak memperdulikan penjelasan Phyton sambil menarik pemuda itu meninggalkan ruangan tersebut.
Raquille serta yang lain pun terkejut melihat Lorainne membawa lari Phyton, dengan alasan agar pemuda itu bisa tinggal untuk sehari saja di negeri tersebut.
“Baiklah tiga kembar… Kurasa kalian juga harus menginap di kutub utara selama semalam…” Ucap Raquille.
***
Beberapa saat kemudian Lorainne membawa Phyton menemui Ackerlind. Saat bertemu Phyton, Ackerlind sedikit merasa terkejut pertama kalinya melihat pemuda yang merupakan anak dari saudaranya tersebut.
“Phyton… Tuan putri…” Jawab Phyton dengan ekspresi tegang.
“Jadi kau anak Cyffredinol yah… Bisa kulihat wajahmu memang mirip seperti ayahmu…” Respon Ackerlind.
“Tapi, kenapa kau sekarang menjadi Venerate Pavonas? Bagaimana bisa kau sampai ke negeri itu?” Tanya kembali Ackerlind, setelah mendengar informasi mengenai kedatangan Venerate Pavonas yang ternyata merupakan anak dari saudaranya Cyffredinol.
Phyton pun kemudian menjelaskan sama seperti sebelumnya bahwa ketika membelot ke negeri Brizora, pemuda itu turun ke peperangan benua Greune, kemudian mengalami kekalahan dan menjadi tawanan negeri Pavonas, dan kemudian kembali dibebaskan dengan syarat menjadi Venerate dari negeri tersebut.
“Jadi seperti itu…” Respon Ackerlind terhadap cerita dari pemuda tersebut.
“Dan kau kemari untuk merekrut Raquille menjadi World Venerate negeri itu?”
Phyton pun menganggukkan kepalanya, merespon bahwa tujuannya datang ke negeri tersebut memang benar seperti itu.
“Maaf tuan putri… Bagaimana denganmu? Apa kau juga mau bergabung ke negeri Pavonas?” Tanya Phyton, yang sebenarnya hanya iseng menanyakan pertanyaan tersebut kepada Elfman perempuan itu.
“Aku bisa melakukannya jika Yang mulia ratu Lorainne mengijinkannya,” jawab Ackerlind, ingin memenuhi hal tersebut jika mendapatkan izin.
“Tidak bisa… Mau berapa Venerate lagi harus pergi dari negeri ini?” Lantas Lorainne langsung menolak hal tersebut.
“Atau jika kau mau menjadi Venerate negeri ini, maka Ackerlind bisa saja bergabung ke Pavonas…”
“Apa katamu ibu?” Ackerlind lantas terkejut sambil menunjukkan ekspresi kesal setelah mendengar pernyataan dari ibunya tersebut.
“Maafkan aku, tapi kakak Erissa sudah mempercayakanku untuk memimpin sebuah wilayah di negeri Pavonas,” ucap Phyton menolak hal tersebut.
Lorainne beserta Ackerlind pun nampak sedikit terkejut ketika mendengar penjelasan dari Phyton yang merupakan salah satu pemimpin di wilayah negeri Pavonas.
“Ngomong-ngomong Phyton… Karena kau akan menginap hari ini, aku ingin menanyakan hal yang penting padamu… Sebagai ras Elfman generasi kedua, apakah kau bisa tertidur dengan nyaman?” Tanya Lorainne.
Sejenak Phyton pun merasa heran dengan pertanyaan sang ratu Blueland tersebut, karena hal tersebut sebenarnya tidak perlu ditanyakan kepadanya.
“Tentu saja nenek… Tapi, kenapa kau menanyakan hal itu?” Namun, karena merasa penasaran Phyton pun sontak bertanya balik.
“Karena seluruh ras Elfman yang berada di pulau ini tidak tertidur… Walaupun secara tidak langsung mencoba untuk tertidur, maka kami akan mendapatkan mimpi buruk yang sama,” jawab Lorainne.
Phyton pun sontak terkejut mendengar hal tersebut, walau sempat mendengar mengenai informasi tersebut, namun pemuda itu tidak menyangka bahwa hal tersebut ternyata memang benar adanya.
“Kalau begitu, kau memerlukan tempat tidur di kamarmu…” Ucap Lorainne.
***
Berpindah pada Arn yang tampak sendirian berada di salah satu balkon kastil kota Nuku sambil melihat pemandangan pulau utama negeri Blueland.
“Kau Arn kan…” Tak berapa lama, Drannor datang menemui pria itu dan sontak menyapanya.
“Tuan Drannor…” Ucap Arn, sedikit terkejut melihat Elfman yang merupakan kakak dari Freynile tersebut.
“Apa kau sudah baik-baik saja?” Tanya Drannor mengenai keadaan dari pria itu yang diketahuinya memang sempat merasa depresi ketika kehilangan Freynile beberapa tahun yang lalu.