
“Hei bocah… Apa kau menginginkan kekuatanku?” Tiba-tiba terdengar suara berbicara lewat batin pemuda itu.
“Siapa yang bicara?” Gumam Drakon dalam hati, kebingungan.
“Heh… Setelah seribu tahun berlalu, ternyata ada Venerate yang bisa mendengar suaraku lagi,” gumam suara misterius itu.
“Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau bisa berbicara denganku? Katakan dimana keberadaanmu?” Drakon sontak bertanya-tanya karena telah jelas mendengar suara misterius itu berbicara.
“Aku… Aku yang selama ini memberikan kekuatan pada leluhur-leluhurmu. Aku bisa berbicara denganmu karena kau merupakan orang yang spesial sama seperti salah satu leluhurmu. Dan untuk keberadaanku, sepertinya belum saatnya kau mengetahui karena aku tinggal di tempat yang jauh dari jangkauan kalian,” kata suara misterius itu menjelaskannya pada Drakon.
“Kalau begitu apa kau menginginkannya? Aku akan langsung memberikannya jika kau setuju,” lanjutnya.
“Baiklah… Berikan kekuatanmu padaku sekarang. Aku tidak mau lagi kembali diremehkan oleh yang lain.” Tanpa pikir panjang, pemuda itu sontak menyetujui tawaran dari suara misterius tersebut.
“Baiklah...”
**
Setelah menerima tawaran dari suara misterius itu, Drakon yang telah terkapar tak berdaya itu tiba-tiba kembali berdiri. Tubuhnya kini nampak memancarkan pancaran energi berwarna emas yang langsung menyembuhkan luka goresan yang diberikan oleh Dimira padanya.
**
“Tuan Chrolexius, sepertinya itu…” Kata salah satu petinggi clan Magchora.
“Benar… Sepertinya dia telah membangkitkan kekuatan dewa Misorus,” kata Chrolexius dengan tersenyum menyeringai.
**
Dimira yang melihat hal tersebut sontak terkejut dan seketika meningkatkan fokusnya pada pemuda itu.
Dalam sekejap Drakon bergerak mendekati Dimira dan melancarkan sebuah pukulan pada perempuan itu.
Dimira pun dengan refleks menangkis serangan tersebut dengan menggunakan pedangnya. Namun, serangan pukulan yang dilancarkan Drakon seketika mengeluarkan energi emas yang langsung membuat perempuan itu terpental hingga tersungkur.
Masih belum puas, Drakon pun kemudian dengan cepat mendekatinya hendak melancarkan serangannya sekali lagi.
“Aahh…! Aku menyerah…!” Teriak Dimira mengakui kekalahannya.
Mendengar permohonan dari Dimira, Drakon pun menurunkan tangannya mengurungkan niat untuk menyerang perempuan itu.
“Pemenangnya Drakon.” Wasit yang berada di tempat itu kemudian mengumumkan hasil dari pertarungan mereka.
Lalu Drakon nampak mengulurkan tangannya pada Dimira untuk membantunya berdiri.
Namun, dengan ekspresi sinis perempuan itu menolak uluran tangan Drakon dan berdiri sendiri meninggalkan arena tersebut.
Drakon yang melihat sikap acuh perempuan itu padanya nampak tidak bisa berkata apa-apa. Dia kemudian membiarkan hal tersebut dan pergi menuju tribun dan duduk disamping Zeidonas.
“Hei adik, kau hebat sekali bisa membangkitkan kekuatan itu. Aku bahkan senang sekali melihat perempuan itu sangat ketakutan tadi,” kata Zeidonas memuji Drakon.
“Tapi, apa mungkin aku terlalu kasar padanya?” Namun, Drakon nampak khawatir memikirkan keadaan Dimira setelah menerima serangan darinya.
“Sudahlah… Dia pantas mendapatkannya,”
**
Beberapa saat kemudian setelah pertandingan tersebut usai, terlihat pemuda yang dikalahkan oleh Zeidonas sebelumnya datang menghampiri mereka bersama dengan Erklis dan Athira.
“Hei Drakon, selamat sekarang kau sudah selangkah lebih maju dari kita semua,” kata pemuda itu memuji Drakon.
“Terima kasih kakak, aku menghargai itu,” respon Drakon.
Namun, Erklis dan Athira seketika memasang ekspresi sinis kepada Drakon karena merasa iri dengan pemuda itu.
“Hei… Kenapa ekspresi kalian seperti itu? Asseios lihat kedua adikmu itu.” Zeidonas sontak langsung memperingati kedua remaja itu setelah melihat ekspresi mereka pada Drakon.
“Hei bodoh… Seharusnya kalian memberikan selamat padanya.” Pemuda bernama Asseios itu pun langsung memukul kepala kedua adiknya setelah mendengar perkataan Zeidonas.
Tak lama kemudian, Chrolexius datang menghampiri mereka. Zeidonas dan Drakon yang melihat ayah mereka itu sontak langsung berlutut di hadapan pria itu.
“Selamat yah… Kau akhirnya bisa membangkitkan kekuatanmu.” Chrolexius tampak memegang bahu Drakon memberikan selamat pada putranya itu.
Namun, pria itu seketika pergi meninggalkan mereka tanpa memberikan selamat pada Zeidonas.
Melihat sikap acuh dari pria itu padanya, Zeidonas nampak terkejut dan sangat kecewa. Dia merasa bahwa kini dirinya akan dicampakkan oleh ayahnya itu.
–14 Maret 3019–
Setahun berlalu, Drakon akhirnya berhasil mencapai tingkatan Regional Venerate setelah berlatih cukup keras. Namun, hal itu berbeda dengan Zeidonas dan yang lain karena masih terjebak dalam tingkatan Division Venerate walaupun sudah berusaha sekeras mungkin.
Dengan perkembangan Drakon tersebut membuatnya perlahan-lahan dikucilkan oleh anggota clan Magchora yang belum bisa membangkitkan kekuatan mereka. Begitu juga dengan Zeidonas yang dulu selalu bersikap baik pada adiknya itu kini menjadi dingin karena iri dengan pemuda itu yang selalu mendapatkan perhatian dari ayah mereka namun tidak kepadanya.
***
“Ayah, aku ingin berbicara denganmu.” Nampak Zeidonas menemui ayahnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya ayahnya itu.
“Kenapa selalu saja hanya Drakon yang mendapatkan perhatian olehmu sedangkan aku tidak? Apa kau melakukan kesalahan selama ini?” Jawab Zeidonas.
“Heh… Jadi itu yang ingin kau bicarakan sampai datang kemari dan menggangguku. Bukankah kau sendiri juga tahu bahwa Drakon lebih membuatku bangga daripadamu.”
“Tapi, kau juga seharusnya menghargai usahaku.”
“Usahamu itu akan kuhargai jika kau juga bisa membangkitkan kekuatan dewa Misorus pada dirimu. Clan kita dikenal sebagai satu-satunya clan yang dapat menggunakan kekuatan pelepasan kedua tanpa menggunakan senjata suci. Jika kau tidak bisa melakukannya maka kau tidak pantas disebut sebagai anggota clan Magchora. Lebih baik kau terima saja bahwa kau itu adalah produk gagal.” Dengan teganya pria itu mengatakan hal tersebut pada anaknya itu.
Zeidonas yang mendengar hal tersebut nampak sangat kecewa dan langsung meninggalkannya. Namun, pria itu tidak memperdulikan hal tersebut dan sibuk pekerjaannya.
Tak lama kemudian, setelah Zeidonas meninggalkannya terlihat seseorang datang menemuinya.
“Tuan Chrolexius, sepertinya orang-orang Aizolica itu kembali lagi kemari.”
“Haah… Biarkan saja mereka,” kata Chrolexius.
“Apakah anda yakin?” Tanya orang itu.
“Iya… Itu tidak ada urusannya dengan kita. Mereka kemari untuk menyelamatkan kaum-kaum mereka yang berada di Avanca. Lagipula negeri kita salah satu jalan masuk untuk ke benua sana.”
“Baiklah kalau begitu, sesuai perkataan anda.” Setelah mendengar penjelasan dari Chrolexius, orang itu kemudian pergi meninggalkannya.
***
Kemudian terlihat Drakon yang nampak dirundung oleh Erklis dan para anggota muda clan Magchora. Pemuda itu menerima beberapa pukulan dari mereka tanpa membalasnya.
“Hei Drakon, berani-beraninya kau merendahkan kami karena telah berhasil membangkitkan kekuatanmu itu,” kata Erklis dengan nada tinggi.
“Kapan aku melakukannya bodoh…” Balas Drakon merespon tuduhan Erklis yang tidak benar itu.
“Oh… Beraninya kau berkata kasar padaku.” Mendengar perkataan tersebut, Erklis sontak melayangkan tangannya hendak memukul pemuda itu.
“Tunggu dulu, jangan lakukan itu tuan muda.” Tiba-tiba seseorang langsung menahan tangannya.
“Hei siapa kau, berani mencampuri urusan kami disini,” kata Erklis menatap tajam orang yang menahan tangannya.
“Perkenalkan aku adalah pangeran paling tampan dari negeri Blueland.” Nampak orang yang menahan tangan Erklis merupakan Raquille.
Mendengar perkataan dari pemuda itu, Erklis pun nampak kebingungan.
“Kalau aku pangeran paling tampan dari Neodela,” kata Morten, tidak mau kalah dengan Raquille.
“Haah… Mulai lagi dua orang ini,” kata Demesa menanggapi tingkah aneh dua rekannya itu.
Orang-orang yang sebelumnya dibicarakan oleh Chrolexius dan bawahannya merupakan Raquille dan kedua rekannya itu. Dan seperti yang dikatakan oleh pria itu bahwa tujuan mereka datang ke negeri Geracie itu adalah untuk memasuki benua Avanca untuk menyelamatkan para ras keturunan campuran.
Berbeda dengan benua yang lain, benua yang akan mereka tuju sendiri memiliki suatu penghalang yang mengelilingi daratannya sehingga menghalangi orang-orang yang berada di luar benua tersebut untuk masuk kedalam.
Namun, walaupun terlapisi oleh sebuah penghalang, bagian utara benua tersebut yang berdekatan dengan negeri Geracie dapat ditembus oleh Venerate tingkat atas.
“Lepaskan tanganku…!” Teriak Erklis kesulitan melepaskan tangannya dari Raquille.
“Baiklah tuan muda.” Sontak Raquille melepas pegangannya pada pemuda itu karena mendengarnya berteriak.
Seketika pemuda itu langsung melayangkan pukulannya ke arah Raquille. Namun, dengan mudahnya pemuda Elfman itu menghindarinya.
Erklis pun tidak menyerah, dia kemudian kembali menyerang Raquille dengan melayangkan beberapa pukulan serta tendangannya yang nampak percuma itu.
Tiba-tiba Raquille menendang kaki pemuda itu yang membuatnya seketika jatuh tersungkur. Dia kemudian mengeluarkan tekanan kekuatannya, yang membuat Erklis seketika ketakutan dan melarikan diri dari tempat itu.
Begitu juga dengan para anggota muda clan Magchora yang langsung ketakutan dan melarikan diri setelah merasakan tekanan kekuatan dari pemuda itu.
“Tuan muda, sepertinya kau bisa menangani para perundung itu sendirian?” Tanya Raquille pada Drakon.
“Yah… Kau benar, tapi aku tidak mau menyakiti mereka.” Nampak Drakon tidak mau membalas perbuatan kasar mereka dan lebih memilih diam karena tidak tega untuk menyakiti mereka.
“Walaupun lebih kuat dari mereka semua, tapi jika diam dan menerima ketidakadilan kau itu tetaplah orang yang lemah… Aku juga mengerti rasa iri dan putus asa mereka karena belum bisa membangkitkan kekuatan seperti dirimu, namun kau tetap tidak boleh membiarkan mereka berlaku kasar terhadapmu. Setidaknya berikan mereka pelajaran agar tidak meremehkanmu lagi,” kata Raquille dengan panjang lebar menasehati pemuda itu.
“Tapi tuan, mengapa anda bisa mengetahui bahwa mereka tidak bisa membangkitkan kekuatan mereka?” Tanya Drakon.
“Heh… Walaupun usiaku baru menginjak dua puluh tahun, tapi aku telah berkelana hampir ke seluruh ujung dunia ini... Bahkan, sudah banyak rahasia dunia ini yang kuketahui selama ini,” kata Raquille.
“Sepertinya aku tidak bisa lebih lama lagi berbicara denganmu, karena kami harus segera melanjutkan perjalanan. Kuharap kita bisa bertemu lagi di lain waktu.” Karena harus melanjutkan perjalanannya, Raquille sontak berpamitan pada Drakon dan berharap agar bisa bertemu dengan pemuda itu lagi.
“Morten… Demesa… Ayo kita pergi,” Raquille kemudian mengajak kedua rekannya beranjak dari tempat itu.
“Tuan, terima kasih karena telah membuatku kembali bersemangat lagi.” Baru saja beberapa langkah Raquille berjalan meninggalkannya, Drakon sontak memanggilnya dan mengucapkan terima kasih pada Raquille.
Pemuda itu kemudian membalas ucapan terima kasih Drakon dengan melambaikan tangannya dan pergi bersama kedua rekannya.
“Raquille, ajarkan aku menjadi bijak sepertimu,” kata Morten.
“Sudahlah… Itu tidak akan berhasil padamu,” kata Raquille.
***
“Sialan si Drakon itu, awas saja jika tidak ada orang yang tadi pasti sudah kubuat kau menjadi tak berdaya.” Di tempat lain nampak Erklis bergumam sendiri dan masih kesal dengan kejadian sebelumnya.
Tak lama kemudian, Dimira dan Athira datang menghampirinya.
“Erklis, kenapa kau?” Tanya Dimira.
“Aku baru mau memberi pelajaran pada Drakon, tapi seseorang berambut putih menghalanginya.”
“Orang berambut putih…? Siapa dia?” Tanya Dimira, penasaran.
“Entahlah, tapi dia sepertinya lebih kuat dari kita,” kata Erklis.
“Kalian berdua dari tadi kemana?” Lanjutnya, bertanya kepada dua perempuan itu.
“Kakak, kami baru saja mendapatkan sebuah informasi,” kata Athira.
“Informasi apa itu?”
“Cara membangkitkan kekuatan kita,” jawab Athira.
“Apa…? Bagaimana?” Nampak Erklis seketika terkejut mendengar pernyataan dari saudaranya tersebut.
“Athira, kita tidak boleh membahas itu.” Namun Dimira sontak melarang Athira untuk membicarakan hal tersebut.
“Kenapa tidak? Aku juga ingin mendengarnya.” Tiba-tiba Zeidonas datang menghampiri mereka bertiga.
“Katakan bagaimana caranya?” Zeidonas nampak sangat penasaran dengan yang baru saja dikatakan oleh Athira.
“Tidak, itu dilarang oleh clan kita.” Tetapi Dimira tetap tidak mau untuk mengatakannya pada mereka semua.
“Apa mungkin cara itu hanya membuat salah satu dari kita mendapatkan kekuatan?” Tanya Zeidonas.
Dimira kemudian nampak memperhatikan mereka bertiga dan memikirkan sesuatu.
“Aku dan Athira baru saja mendengar bahwa terdapat empat senjata suci yang disimpan di dalam kuil Torudan,” kata Dimira.
“Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita pergi mengambilnya sekarang,” kata Zeidonas nampak tidak sabar ingin mengambil benda tersebut.
“Tunggu dulu, jika kita mengambilnya, kita pasti akan mendapatkan masalah,” kata Dimira.
Terlihat juga Erklis dan Athira nampak ragu setelah mendengar penjelasan dari Dimira.
“Itu tidak menjadi masalah bagiku. Setelah mengambil benda tersebut, aku akan pergi dari negeri ini.”
“Kau mau pergi dari Geracie?” Tanya Dimira.
“Iya… Untuk apa lagi aku berada di negeri ini, bahkan orangtuaku tidak menganggapku sama sekali,” kata Zeidonas dengan yakin.
Mendengar perkataan pemuda itu, mereka bertiga nampak memikirkan sesuatu.
“Apa kalian ikut?” Tanya Zeidonas.
“Baiklah, kami ikut denganmu,” tanpa pikir panjang, Dimira langsung menyetujui ajakkan pemuda itu.
Erklis dan Athira yang nampak tidak memiliki pilihan lain pun sontak mengukuti mereka berdua menuju tempat yang dikatakan Dimira sebelumnya.
–Maret 3019–
Singkat cerita keempat orang itu pun berhasil mencuri empat senjata suci yang disimpan di dalam kuil Torudan dan melarikan diri dari negeri Geracie.
Beberapa hari setelahnya, para anggota clan Magchora mendapati bahwa senjata suci yang disimpan di dalam kuil tersebut telah hilang dan mengetahui bahwa Zeidonas dan yang lain telah mencurinya. Mereka kemudian melaporkannya kepada Chrolexius, sontak amarah pria itu memuncak setelah mengetahui hal tersebut. Dia lalu memerintahkan untuk mengejar Zeidonas dan yang lain.
Namun, hal itu sudah terlambat karena para pasukan clan Magchora yang mengejar tidak bisa mendapatkan mereka yang telah jauh melarikan diri dan tidak diketahui keberadaanya.
–24 September 3024–
Lima tahun berlalu, Drakon kembali naik satu tingkatan lagi menjadi Land Venerate. Setelah mendengarkan nasehat dari Raquille beberapa tahun yang lalu, kini pria itu menjadi orang yang dihormati dalam clannya.
Asseios salah satu anggota clannya, yang pernah berhadapan dengan Zeidonas sewaktu pertandingan tahunan kini berhasil membangkitkan kekuatannya setelah bersabar cukup lama. Dia juga telah berhasil mengejar Drakon menjadi Land Venerate setelah berlatih keras sewaktu berhasil membangkitkan kekuatannya.
***
Disamping itu, negeri Geracie kembali berseteru dengan negeri Tsureya, negeri yang telah menjadi musuh bebuyutan Geracie selama ratusan tahun.
Drakon dan Asseios kemudian dikirim untuk berperang di perbatasan Geracie dan Tsureya. Saat berada di peperangan, Drakon sontak memperhatikan sesosok mencurigakan dengan memakai topeng dan tudung yang melarikan diri diantara para pasukan negeri Tsureya.
Dia lalu mengikuti sosok misterius sampai membuatnya terpisah jauh dari pasukan Geracie yang sedang berhadapan dengan pasukan Tsureya.