
Tiba-tiba Presiden Nascunia yaitu Dovian, datang menemui Spirgios walaupun dalam keadaan yang lemah.
“Yang mulia Spirgios, walau pasukanmu menyerang negeri kami, tapi aku tetap berterima kasih padamu karena telah menghentikan peperangan ini,” ucap Dovian.
“Sama-sama tuan presiden… Tapi, darimana kau bisa mengetahuiku?” Balas Spirgios, kemudian bertanya mengapa pria itu bisa mengetahuinya.
Sprigios tampak bingung mengapa Dovian bisa mengetahuinya, karena selama ini bahkan orang-orang Geracie pun banyak yang tidak mengetahui tentangnya.
Sudah sekitar puluhan abad raja Geracie itu mengasingkan diri di suatu tempat, dan hampir semua dari Venerate Geracie menganggapnya telah tiada karena tidak pernah sekalipun melihatnya langsung.
“Siapa yang tidak mengetahui tentangmu. Secara turun-temurun clan Sirozov selalu menceritakan tentang dirimu bersama dengan leluhur kami,” jawab Dovian.
“Tapi, setahuku anda telah mengasingkan diri di suatu tempat? Kenapa anda bisa keluar lagi setelah waktu yang lama?” Tanya Dovian pada raja Geracie tersebut.
“Entah kenapa baru beberapa waktu yang lalu aku merasakan tekanan kekuatan yang sudah lama tidak aku rasakan…” Jawab Spirgios sambil menatap Zitkavena yang berada di dekat Dovian.
Setelah menjawab pertanyaan Dovian, raja Geracie itu pun pergi meninggalkan ibu kota Nascunia bersama dengan pasukan Geracie.
Sambil berjalan bersama dengan para pasukannya, sesekali pria itu menengok ke belakang menatap Zitkavena kembali.
“Ada apa dengan orang itu? Tatapannya membuatku muak saja… Walaupun dia terlihat muda, tapi sebenarnya dia jauh lebih tua dari kakek.” Zitkavena sontak menjadi terganggu ketika pemimpin negeri Geracie itu berulang kali menatapnya terus.
“Aku yakin orang itu akhirnya keluar dari pengasingannya karena merasakan kekuatan makhluk suci yang berada di dalammu… Lagipula orang itu juga memang mengenal baik salah satu leluhur kita yang dulunya memiliki kekuatan yang diturunkan kepadamu,” ucap Dovian menjelaskan kepada Zitkavena mengapa pria bernama Spirgios itu selalu menatap perempuan itu dan memang seperti merasa mengenalnya.
“Jadi begitu, mengapa dia selalu menatapku…”
“Mungkin saja leluhur kita itu memiliki hubungan yang dekat dengan pria itu,” ucap Zitkavena sedikit mengerti dengan penjelasan dari Dovian.
*
“Untung saja hal yang dulu tidak terulang lagi… Zovia, aku memang bersalah karena tidak mengikuti permintaan terakhirmu…”
“Setelah merasakan kekuatan yang sudah tidak kurasakan, akhirnya aku mendapat keberanian kembali untuk menatap dunia luar…”
“Kali ini aku pasti akan menebus kesalahanku selama berabad-abad,” gumam Spirgios dalam hati.
Pria itu kemudian mengingat memori masa lalunya bersama dengan salah satu leluhur clan Sirozov yang memiliki kekuatan dari makhluk suci sama seperti Zitkavena.
–24 Januari 1431–
Lebih dari seribu lima ratus tahun yang lalu, di sebuah kota yang menjadi salah satu wilayah dari negeri Geracie, yang merupakan wilayah perbatasan antara benua Greune dan benua Antikara, terjadi sebuah peperangan yang cukup besar antara pasukan Geracie melawan pasukan dari negeri Tsureya.
Pada saat itu, pasukan negeri Tsureya telah mengalahkan sebagian pasukan Geracie dan berhasil menguasai wilayah kota tersebut di bagian benua Antikara.
Setelah menumpas semua pasukan Geracie yang berada di sisi sebelah kota, mereka kemudian menuju ke sisi kota yang satunya lagi dengan menyebrangi sebuah teluk.
Para prajurit Geracie sontak menjadi ketar-ketir melihat pergerakkan dari pasukan Tsureya yang sulit untuk dihentikan oleh mereka. Beberapa dari prajurit tersebut ketakutan dan seketika melarikan diri tidak mau berurusan dengan pasukan tersebut.
“Argh…!” Tiba-tiba saja seorang pria muncul dan langsung mengeluarkan tekanan kekuatannya hingga prajurit-prajurit yang akan melarikan diri tersebut terhempas.
“Ada apa dengan kalian semua? Beraninya kalian akan pergi disaat pasukan musuh hampir menginjak benua Greune,” ucap pria tersebut dengan ekspresi yang marah, tidak mengijinkan para bawahannya untuk meninggalkan medan peperangan.
“Cepat maju dan kalahkan mereka semua…!” Lanjutnya, berteriak memberikan perintah untuk menyerang pasukan Tsureya.
Tidak mempunyai pilihan pasukan Geracie sontak maju menyerang ketika pasukan Tsureya telah berhasil menyebrangi teluk yang berada di depan mereka.
Para prajurit Tsureya yang melawan Geracie merupakan pasukan Urusari, salah satu dari tiga pasukan elit negeri Tsureya.
Mereka sangat terkenal sebagai pasukan dengan pertahanan yang kokoh. Dengan memakai perlengkapan zirah, ditambah dengan proyeksi energi yang juga digunakan untuk melapisi tubuh mereka yang mirip dengan teknik dari para Venerate Geracie, membuat pertahanan dari para prajurit Tsureya tersebut menjadi sangat sulit untuk ditembus oleh serangan langsung maupun serangan proyeksi.
“Sial…” Umpat pria Geracie yang sebelumnya memerintahkan para bawahannya untuk menyerang.
Melihat sisa dari para prajurit Geracie yang mulai berkurang seiring waktu, pria itu pun akhirnya maju menyerang untuk membantu pasukannya.
“God aura… Superior punch…” Kali ini berbeda, beberapa pasukan Urusari yang memiliki pertahanan kokoh dengan mudah terhempas setelah menerima serangan proyeksi energi emas yang diluncurkan oleh pria tersebut.
Venerate Geracie itu lalu membentuk proyeksi energinya menjadi sebuah senjata dan kemudian menyerang beberapa prajurit Urusari yang lain.
Pria itu dengan mudah dapat mengalahkan prajurit-prajurit Tsureya tersebut dikarenakan tingkatan Venerate-nya yang telah mencapai pada tingkatan tertinggi.
Disaat bertarung melawan para prajurit Urusari, tiba-tiba saja sebuah serangan proyeksi meluncur ke arah pria Geracie itu.
Walaupun dapat mengantisipasinya, namun pria itu tampak sedikit terkejut dengan serangan yang datang tersebut.
“Wah… Wah… Sepertinya kita memiliki lawan yang kuat disini…”
Tak berapa lama setelah itu, terlihat tiga Venerate Tsureya dengan aura mencekam, yang dapat dirasakan oleh pasukan Geracie hingga membuat mereka terintimidasi, lantas muncul di tempat itu.
“Setelah para Venerate kuat kalian dikalahkan oleh kami, akhirnya kau turun juga, tuan Ancliedes Magchora…” Ucap salah satu dari tiga Venerate itu.
“Hei, apa hanya kalian yang ada? Lebih baik panggil World Venerate kalian kemari. Aku tidak mau berhadapan dengan Venerate yang tidak setingkat denganku,” ucap pria Geracie itu dengan angkuh meremehkan tiga Venerate Tsureya tersebut.
“Heh, kau pikir walaupun kau adalah seorang World Venerate, kau bisa mengalahkan kami dengan mudah?”
Pria Geracie bernama Ancliedes tersebut hanya menanggapi ucapan salah satu Venerate Tsureya itu dengan memasang ekspresi sinis kepada mereka.
“Akan kami buktikan kepadamu bagaimana cara kami bertarung.”
Tiga Venerate Tsureya itu seketika mengeluarkan proyeksi energi mereka dan langsung menggunakannya untuk melapisi tubuh mereka.
Tanpa pikir panjang, dengan serentak ketiga orang itu meluncur menyerang pria Geracie tersebut.
Awalnya serangan mereka dapat ditangani dengan mudah, namun lama-kelamaan pria Geracie itu mulai kewalahan disaat dia harus menangani serangan yang datang secara acak.
Pria itu pun akhirnya hanya bisa menghindari serangan-serangan yang ditujukan padanya dengan ekspresi yang terkejut.
*
“Pergerakkan mereka cepat juga ternyata…” Ucap pria bernama Ancliedes itu, merasa terkejut dengan serangan para Venerate Tsureya yang susah untuk ditebaknya.
**
Disaat memikirkan tentang serangan sebelumnya, tiba-tiba salah satu dari tiga Venerate tersebut muncul tepat dibelakangnya.
Ancliedes pun dengan sigap langsung berbalik hendak menangkis serangan yang ditujukan padanya.
“Hei, perhatikan juga kami yang ada disini…”
“Akh…!” Akan tetapi, dua Venerate yang lain langsung mengambil kesempatan tersebut dengan muncul secara tiba-tiba dari arah belakang dan langsung menyerang pria itu hingga terhempas.