
“Tuan Raquille, perkenalkan tuan putri Alyara Baurtova… World Venerate sekaligus putri mahkota Kekhanan Morseli,” ucap Azouraz, memperkenalkan perempuan itu pada Raquille.
“Tuan putri… Perkenalkan orang ini…”
“Raquille Noroh, si Elf iblis, salah satu World Venerate dari organisasi Guardian benua Aizolica… Elfman yang pernah membantai rekan-rekannya sepuluh tahun yang lalu…” Azouraz mencoba memperkenalkan Raquille pada perempuan itu, namun putri mahkota Morseli tersebut memang sudah mengetahui identitasnya.
Azouraz lantas terdiam mendengar ucapan putri itu, dia tidak bisa merespon ataupun menatap wajah Raquille, karena mendengar putri itu mengungkapkan hal buruk yang pernah dilakukan oleh pemuda Elfman tersebut.
Ekspresi Raquille berubah menjadi serius ketika mendengar ucapan putri Morseli itu. Dia perlahan-lahan mendekati perempuan tersebut lalu tajamnya.
“Tuan Raquille…” Raquille seketika memegang tangan putri itu hingga membuat Azouraz pun bersiaga.
“Senang bertemu denganmu tuan putri… Jadi kau adalah putri mahkota negeri ini…” Tiba-tiba ekspresi Raquille berubah, dia tersenyum dan menjabat tangan putri itu dengan kedua tangannya.
“Apa kau tahu? Kita memiliki sebuah persamaan… Aku juga adalah seorang pangeran sekaligus putra mahkota dari negeri Blueland… Yah, walaupun aku masih ragu kalau jabatanku itu sudah tidak berlaku lagi setelah sepuluh tahun terakhir.”
Raquille mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah putri itu, hingga membuatnya terkejut.
“Asal kau tahu, aku sangat membenci apa yang kau katakan mengenaiku sebelumnya… Aku tidak perduli walaupun kau seorang World Venerate sekalipun, Elf iblis ini bisa saja dengan sekejap mengirimmu ke dimensi lain hingga kau mati konyol disana…”
Ternyata ekspresi yang diperlihatkan Raquille sebelumnya hanyalah semata-mata sebuah kiasan. Dengan berbisik Raquille mengancam perempuan itu karena merasa tidak senang dengan ucapan yang menyebutnya sebagai Elf iblis.
Putri bernama Alyara itu pun menjadi segan untuk melawan ucapan dari pemuda Elfman tersebut. Dia menyadari bahwa Raquille berkata sebenarnya karena menurut informasi yang dia ketahui, Raquille merupakan World Venerate yang bahkan bisa mengalahkan Venerate yang berada di tingkatan yang setara dengannya.
“Baiklah… Apa rencana untuk menyerang Graina… Aku sudah tidak sabar.” Setelah mengancam putri Alyara, Raquille melepaskan tangannya.
Walaupun tidak mendengar dengan jelas bisikan Raquille pada putri tersebut, namun pria itu tahu bahwa ucapan Raquille sebelumnya merupakan sebuah ancaman.
Dia tidak mau mengambil pusing tentang masalah itu, karena masih menyayangkan nyawanya jika harus menghentikan perbuatan Raquille yang sebelumnya.
**
Tak lama kemudian, ketiganya duduk didepan sebuah meja bundar untuk membahas tentang rencana mereka.
“Aku tahu bahwa organisasi GANCO sedang bersiaga dengan ancaman dari Rumen Sayruz beberapa hari yang lalu…”
“Pernyataannya tentang senjata itu bukanlah kebohongan… Senjata itu kini sedang dalam tahap penyempurnaan yang sedang dilakukan oleh orang-orang Graina di kota mereka, Lynerbyich,” ucap putri Alyara.
“Kalau begitu, bagaimana cara kita menghancurkannya? Kristal berpijar yang menjadi bahan dasar dari senjata itu tidak bisa sembarangan kita hancurkan…” Tanya Raquille.
“Iya kau benar tuan Raquille, karena itu rencana kita bukanlah menyerang, melainkan menyusup ke tempat itu…” jawab putri Alyara.
“Karena itu merupakan hal yang sangat tepat membawamu kemari untuk menjalankan misi kita…”
“Memangnya kenapa denganku?” Tanya Raquille lagi.
“Dengan kekuatan sihirmu aku yakin kau pasti bisa menyegel batu-batu itu agar tidak bisa dipakai lagi oleh para pasukan kubuh timur.”
“Jadi, tujuan kita kesana adalah menyegel batu itu yah… Itu ide yang bagus, tenang saja aku bahkan memiliki kekuatan yang lebih kuat untuk bisa menyegel benda-benda itu agar menjadi tidak berguna lagi.”
Mendengar pernyataan dari Raquille, putri Alyara serta Azouraz pun tersenyum. Mereka percaya bahwa Raquille mampu melakukan hal tersebut untuk bisa menurunkan potensi ancaman yang nyata dari kubuh timur.
“Baiklah kalau begitu, kita berangkat besok hari,” ucap Alyara.
“Apa? Kenapa harus besok? Kita bahkan bisa melakukannya sekarang.”
Raquille pun terkejut mendengar ucapan Alyara. Pemuda itu tidak bisa bersabar lagi untuk menyelesaikan misi yang akan dijalankan oleh mereka, dan kemudian pergi untuk menyelamatkan kedua saudaranya, Cyffredinol dan Achilles.
“Aku sudah berjanji pada salah satu prajurit dari negeri Graina untuk menemuinya besok hari… Kumohon kau bersabar untuk hari ini dan mempersiapkan diri untuk hari esok.”
“Heh, padahal kita hanya akan menyusup, untuk apa kita mempersiapkan diri.” Ucap Raquille, sedikit kesal harus menyetujui ucapan dari putri Morseli itu.
***
Pemuda itu pun berinisiatif untuk pergi mencari udara segar di luar kedai tersebut.
**
“Eh, kenapa dia berada disana?” Ketika berada di luar kedai, Raquille melihat putri Alyara duduk di atas sebuah bangunan.
Melihatnya tidak ditemani oleh siapapun, Raquille pun terbang untuk menghampiri perempuan itu.
“Hei, apa yang lakukan disini?”
Putri Alyara yang baru menyadari pemuda itu sontak terkejut sambil menyembunyikan sebuah foto dari seseorang yang dilihatnya.
“Eh tidak, aku hanya tidak bisa tidur saja…”
“Boleh aku duduk disini?” Tanya Raquille, meminta ijin kepada Alyara duduk disebelahnya, walaupun sebenarnya pemuda itu langsung duduk tanpa memperdulikan respon perempuan tersebut.
“Malam yang indah kan?”
“Malam yang indah?” Alyara terheran-heran dengan ucapan pemuda Elfman itu karena tidak ada yang terlihat indah di malam tersebut akibat langit mendung yang menutupi bintang-bintang di atasnya.
“Maafkan aku sudah berkata kasar, serta megancammu tadi… Sebenarnya aku hanya sedikit kesal orang-orang menyebutku seperti itu,” ucap Raquille.
“Iya, aku juga meminta maaf karena dengan sombong berkata seperti itu padamu…”
Setelah saling meminta maaf kedua sejenak diam tidak mengatakan hal apapun.
“Kalau boleh kutahu, siapa orang yang kau lihat di foto itu? Aku sempat melihat kau menatap foto itu dengan serius.” Tanya Raquille.
“Foto ini?” Alyara mengangkat kembali foto yang dipegangnya, yang ternyata merupakan Ienin Sayruz, salah satu World Venerate yang berasal dari negeri Pavonas.
“Mungkin ini agak memalukan mengatakannya, tapi orang ini adalah pria yang kusukai,” jawab Alyara.
“Oh, Kupikir kau terpesona saat pertama kali melihatku… Ternyata kau memiliki pria yang lain, yang kau sukai,” ucap Raquille dengan kata sedikit meledek agar perempuan itu tersipu malu.
Akan tetapi, Alyara tampak menanggapi serius dari tingkah konyol pemuda Elfman itu.
“Siapa dia? Apakah tunanganmu yang nanti akan menjadi suamimu saat kau menjadi khan agung nantinya?”
“Tidak…”
“Apakah orangtuamu tidak menyetujuinya, ataupun sebaliknya?” Tanya Raquille, terus penasaran dengan hal tersebut.
“Tidak juga…”
“Kalau begitu, apakah cinta bertepuk sebelah tangan?”
“Mungkin bisa dibilang seperti itu… Karena sebenarnya dia juga memiliki orang yang disukainya.” Ternyata pertanyaan terakhir yang dikatakan Raquille benar.
“Tapi, kau pasti tidak menyangka siapa orang ini?”
Mendengar hal tersebut, Raquille pun menjadi penasaran dan ingin mengetahui siapa sebenarnya orang itu.
“Namanya Ienin, putra dari Rumen Sayruz, pemimpin negeri Pavonas.”
“Apa?” Raquille terkejut tidak menyangka bahwa orang yang disukai oleh perempuan itu adalah musuh mereka.
“Setelah mengalahkan negeri Graina, selanjutnya kita pasti akan menyerang negeri Pavonas…”
“Disaat itu kumohon padamu untuk membiarkan aku berhadapan dengannya… Aku ingin meyakinkan orang ini agar tidak melawan kita… Sebenarnya dia adalah orang yang baik, jauh berbeda dengan ayahnya,” ucap Alyara.
“Tenang saja, aku pasti akan memegang janji itu.”