
Akibat hal tersebut, kini kedua matanya pemuda itu terlihat memancarkan cahaya berwarna biru serta percikan petir dari tubuhnya.
*
“Apa-apaan ini?” Gumam Seremino dalam hati, nampak kebingungan melihat pancaran petir dari tubuhnya.
**
“Sial…” Umpat pemimpin prajurit itu.
Dia pun melompat ke arah Seremino sambil mengayunkan pedangnya hendak menyerang pemuda itu.
Seremino dengan refleks menghalangi serangan menggunakan kedua tangannya. Mendadak saat pedang prajurit itu menyentuh tubuhnya, tiba-tiba pancaran energi listrik dari tubuh pemuada itu menjadi lebih besar.
“Uakh…!” Prajurit itu seketika terhempas hingga terkapar.
Setelah menerima serangan kejut tersebut, pandangan prajurit itu tiba-tiba menjadi buram. Perlahan-lahan dia mulai kehilangan kesadarannya.
Prajurit-prajurit yang tersisa sontak terkejut hingga tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah pimpinan mereka dikalahkan dengan mudah oleh pemuda itu.
“Akhirnya ada Venerate yang bisa menggunakan senjata suci ini,” ucap salah warga.
Semua warga di desa tersebut seketika menunndukkan diri mereka Seremino.
“Venerate…?” Seremino menjadi lebih bingung dengan apa yang terjadi, mengapa semua warga sontak menunduk di hadapannya.
Pemuda itu tampak tidak mengerti mendengar ucapan para warga yang menyebutnya sebagai Venerate, sebuah kata yang tidak pernah dia dengar selama ini.
Di samping itu, Aulvius yang telah kembali berdiri, menghampiri para prajurit yang masih tersisa.
Pria itu bersama dengan para warga kemudian mengangkat Giano dan membawanya kembali ke dalam salah satu rumah.
“Kalian semua lebih baik bawa pemimpin kalian dan pergi dari tempat ini,” ucap tetua desa, mengusir prajurit yang tersisa.
**
Beberapa saat kemudian setelah para prajurit Geracie meninggalkan desa tersebut, Aulvius datang menghampiri Seremino yang masih kebingungan.
“Tuan, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba aku mengeluarkan kilatan petir, dan dengan mudah dapat mengalahkan prajurit itu? Kenapa juga mereka menyebutku sebagai Venerate? Apa sebenarnya itu?” Ucap Seremino, melontarkan beberapa pertanyaan pada Aulvius.
Pria itu pun menjelaskan dari awal bahwa Venerate merupakan orang yang memiliki kemampuan menyerap energi alam ke dalam tubuh mereka yang dapat digunakan untuk memanipulasinya menjadi sebuah kekuatan.
Setelah itu Aulvius menjelaskan bahwa dia, tetua desa, beserta keluarga bangsawan dari Seremino dan Giano merupakan seorang Venerate. Kemampuan Seremino dalam memanipulasi energi alam ketika dirinya memegang senjata suci tersebut.
Pria itu juga menjelaskan bahwa senjata suci yang dipegang oleh Seremino sekarang tidak bisa digunakan oleh sembarang orang. Hanya keluarga bangsawan Geracie saja yang bisa dengan mudah menggunakannya.
“Nak, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian. Sebelumnya kami sudah kehilangan harapan. Dengan senjata ini kau memiliki harapan untuk mengambil alih tahta Geracie.”
“Tapi tuan, aku tidak yakin dengan hal itu, aku saja baru mengetahui tentang Venerate atau apapun itu sejak kau mengatakannya sekarang.”
“Aku juga paham ini kau perlu waktu. Aku dan tetua desa akan melatihmu bersama adikmu. Kuyakin kalian bisa menjadi kuat dalam waktu yang singkat.”
Seremino tampak termenung mendengar perkataan dari Aulvius. Walaupun ragu untuk menyetujui pria itu, namun jika dia tidak melakukannya kerajaan tetap akan mengincar untuk membunuh pemuda itu bersama dengan adiknya.
“Tuan aku menyetujuimu untuk mengambil tahta Geracie.” Setelah menetapkan pilihannya, Seremino setuju untuk mengikuti perkataan Aulvius.
“Bagus sekali nak, aku berjanji akan melatihmu menjadi Venerate yang hebat bersama dengan saudaramu. Mulai sekarang aku akan melayani kalian dengan sepenuhnya.”
Aulvius pun senang mendengar ucapan Seremino. Seketika tangan pria itu langsung menjabat tangan pemida tersebut.
–Tahun 257–
Selama sepuluh tahun terakhir, Seremino dan Giano dilatih oleh para Venerate di desa mereka. Selama itu pun kedua saudara itu berlatih dengan keras dan berhasil mencapai tingkatan tinggi dalam rana Venerate.
Sedangkan Giano diperintahkan oleh saudaranya memimpin sebagian pasukan suku Calfer melakukan perjalanan ke barat untuk memperluas wilayah mereka.
–Tahun 270–
Seiring waktu berjalan, suku-suku tanah Calfer yang sebelumnya terpisah-pisah akhirnya menjadi satu bangsa dibawah pimpinan dari Seremino dan disebut sebagai bangsa Seremoschan.
Selama sepuluh tahun terakhir juga, bangsa Seremoschan menjadi lebih kuat hingga dapat kerajaan Geracie dan merebut beberapa wilayah mereka.
Namun, Giano yang telah membantu Seremino mempersatukan bangsa Calfer selama sepuluh tahun terakhir, perlahan-lahan mulai berbeda pendapat dengan saudaranya.
Pria itu menjadi sombong karena kini telah memiliki kekuasaan ditangannya dan selalu semena-mena terhadap para warganya. Menjadikan mereka sebagai budak dan memaksa warganya untuk bekerja diluar batas kemampuan mereka. Dia juga tidak segan-segan memerintahkan para prajurit untuk membantai habis beberapa suku tanah Calfer yang masih tidak mau bergabung dengannya.
Seremino yang merasa bahwa adiknya tersebut telah berubah drastis setelah mendapatkan kekuatan tidak membiarkan hal tersebut. Pria itu mencoba untuk berbicara pada saudaranya itu, namun hanya membuat pertikaian diantara mereka berdua.
Seremino yang tidak mau membuat pertikaian itu menjadi lebih panjang lagi, memilih untuk memberikan wilayah semenanjung Pianena pada saudaranya tersebut, dan pergi ke wilayah semenanjung Airebi membentuk kerajaan yang damai.
–Tahun 295–
Namun, selama puluhan tahun hidup dengan damai, kerajaan Seremoschan yang dipimpin oleh Seremino akhirnya mendapatkan serangan invasi dari kerajaan Seremoschan yang dipimpin oleh Giano.
Akibat hal tersebut kerajaan yang dipimpin oleh Seremino kehilangan sebagian besar wilayah mereka, dengan hanya menyisakan ibukota mereka.
–27 September 295–
Di dalam suatu ruangan, tampak Seremino menatap ke luar, dimana terlihat pasukan yang dipimpin oleh Giano telah bersiap untuk menyerang ibukota kerajaan Seremoschan.
Tak lama kemudian beberapa prajurit datang menemui pria itu di dalam ruangan tersebut.
“Yang mulia, pasukan kerajaan Gimoscha kini telah berada di depan ibukota,” ucap salah satu prajurit.
“Haah... Kurasa ini waktunya untuk menyerahkan seluruh wilayah yang tersisa pada mereka,” ucap Seremino nampak pasrah dengan keadaan mereka yang sudah tidak ada pilihan sama sekali.
“Tapi Yang mulia, jangan patah semangat dulu, kami masih bisa bertarung sampai akhir.”
“Entah kalian masih bertarung ataupun tidak sama sekali, itu tidak akan mengubah apapun.”
Seremino pun kemudian keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh para prajurit yang sebelumnya masuk.
***
Seremino bersama dengan pasukannya kemudian datang menghampiri pasukan kerajaan Gimoscha.
Tak lama setelah itu, nampak Giano muncul diantara pasukan Gimoscha, terus berjalan sampai berada di depan pasukannya.
Seremino pun lalu datang menghampiri saudaranya itu dan saling bertatapan satu sama lain.
“Giano, tolong hentikan ini, kau mau wilayah kami kan. Baiklah akan kuberikan sekarang juga, tapi tolong jangan sakiti para warga lagi,” ucap Seremino.
“Kakak... Kau memang tidak berubah dari dulu yah... Keinginanmu akan kukabulkan jika kau bisa mengalahkanku,” ucap Giano.
“Tapi, kenapa haris seperti itu?”
“Kau ingin aku tidak menyakiti budak-budak itu lan. Maka lawanlah ali sekarang.”
Tidak memiliki sebuah pilihan yang lain, Seremino sontak memunculkan tongkatnya, bersiap untuk melawan saudaranya.
Giano pun juga seketika memunculkan sebuah tombak obor, bersiap untuk bertarung melawan saudaranya tersebut.