The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 217 - Tidak akan segan-segan



“Ternyata kau juga datang kemari... Apa yang kau inginkan sampai harus datang ke negeri ini?” Tanya Aisling mengenai tujuan Raquille datang ke negeri Brizora, khususnya ke pulau Vann tersebut.


“Tentu saja aku ingin bersaing dengan kalian untuk mengumpulkan ketiga belas harta karun yang berada di kawasan Brizerua ini,” jawab Raquille.


**


Di sisi lain, Cadhan pun nampak senang ketika melihat Raquille, yang merupakan World Venerate dari ras Elfman datang ke pulau itu. Layaknya tak perlu menjemput bola untuk menyerang wilayah Blueland, ternyata pemuda Elfman itu yang akan menjadi tujuan dari keinginannya bersama dengan raja Ierua akhirnya akan segera tercapai.


“Phyton...” Ternyata bukan hanya itu saja, bahkan saat menoleh ke arah Raquille yang sedang menemui Aisling dan yang lain, Cadhan menjadi lebih senang ketika melihat Phyton, cucunya sendiri juga datang ke pulau itu.


Bukan merasa senang karena melihat cucunya itu datang, Cadhan nampak merasa senang dikarenakan tidak perlu lagi memikirkan cara untuk menemukan cucunya yang membawa lari pedang yang menjadi salah satu dari ketiga belas harta karun tersebut.


Disaat sedang memperhatikan Raquille dan Phyton, tiba-tiba saja Magelline melancarkan sebuah serangan proyeksi elemen ke arah Cadhan, namun untung saja pria itu dengan sigap langsung menepisnya menggunakan tombak senjata suci miliknya.


“Hei sialan... Perhatikan keadaanmu sekarang,” ucap Magelline, menyuruh perdana menteri negeri Ierua itu untuk fokus terhadap pertarungannya.


“Maaf jika kau merasa cemburu nyonya... Aku hanya sedang memikirkan sesuatu mengenai kedatangan dari bala bantuan kalian itu,” ucap Cadhan, menjelaskan kepada Magelline mengapa dirinya sempat menoleh ke arah lain.


Perdana menteri Ierua itu kemudian langsung melanjutkan pertarungannya dengan secara bergantian melancarkan serangan proyeksi bersama dengan Magelline.


***


Kembali pada Raquille, Hyphillia serta Phyton yang masih berada di hadapan Aisling bersama dengan pasukan negeri Ierua.


“Bagaimana kalian berdua bisa bertemu?” Tanya Aisling, penasaran bagaimana cara Raquille dan Phyton bisa saling bertemu serta saling mengenal.


“Saat perang benua Greune, aku bersama dengan pasukan kubuh barat menyerang negeri Pavonas... Disaat itu, aku bertemu dengan Phyton yang masih menjadi prajurit tawanan kemungkinan,” jawab Raquille.


“Lalu bagaimana denganmu Phyton?” Tanya Aisling pada putranya.


“Aku... Aku sebenarnya sudah menjadi prajurit resmi dari negeri Pavonas semenjak berakhirnya perang itu,” jawab Phyton.


Mendengar jawaban dari Raquille serta Phyton, Aisling pun mengerti. Perempuan itu terlihat senang bahwa putranya tersebut nampak baik-baik saja selama ini.


“Ibu merasa senang bahwa kau baik-baik saja selama ini Phyton...” Ucap Aisling.


“Tetapi, karena kau sekarang berada di pihak musuh, maka aku tidak akan segan-segan melawanmu, walaupun kau merupakan putraku sendiri,” lanjut Aisling berkata.


“Apa katamu...?” Phyton pun seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari ibunya tersebut.


Aisling seketika langsung memunculkan sebuah tombak senjata sucinya untuk bersiap menyerang Phyton, putranya sendiri.


“Ibu... Kenapa seperti ini? Aku tidak mau melawanmu,” ucap Phyton menolak untuk bertarung dengan Aisling, dan walaupun dia berusaha, pemuda itu tidak akan bisa menandingi kekuatan ibunya yang berada pada tingkatan World Venerate.


“Hei Aisling... Setidaknya lawan aku saja...” Saat itu pun, Raquille langsung menghalangi Aisling untuk menyerang Phyton.


Mendengar hal tersebut, Aisling pun tersenyum, dan langsung melancarkan serangan proyeksi energi dengan mengacungkan tombaknya ke depan, membuat Raquille sontak terhempas karena tidak mengiranya.


“Kalian semua, tak usah segan-segan kepada Phyton. Anggaplah dia sudah bukan menjadi bagian dari negeri Ierua lagi, karena sekarang sudah berada di pihak yang berlawanan.” Sambil meluncur mendekati Raquille, Aisling memerintahkan pasukan Ierua khususnya para Continent Venerate untuk tidak segan-segan menyerang Phyton yang berada di depan mereka.


**


Saat Phyton berusaha mundur untuk menghindar dari konflik, berbeda dengan Hyphilia yang berada di sampingnya.


“Tuan putri, apa yang kau lakukan?” Tanya Phyton, melihat Hyphilia tidak mau mundur.


“Windzauber…” Dalam sekejap, dua Continent Venerate Ierua langsung diserang oleh Hyphilia hingga terhempas ke jarak yang cukup jauh.


Hyphilia pun langsung meluncur mendekati dua Continent Venerate itu, dan kemudian terlibat pertarungan dengan mereka.


**


Sementara itu, ketika hendak menyerang Phyton, para pasukan Ierua melihat pasukan Brizora, bersama dengan Arn, Anhilde, Asulf dan para Land Venerate Pavonas datang menyerbu untuk menyerang mereka.


Pasukan negeri Ierua pun langsung mengurungkan niat mereka untuk menyerang Phyton, dan lebih memilih untuk maju melawan pasukan yang datang ke arah mereka.


Phyton ditinggal sendirian bersama dengan putri mahkota Ierua yang berada di depannya.


“Eh… Bibi… Maksudku tuan putri, kurasa kita tidak perlu bertarung,” ucap Phyton sambil mengangkat kedua tangannya.


“Phyton… Sudah kukatakan padamu kan, jika jangan pernah menyebutku dengan sebutan bibi, walaupun ibumu sudah seperti saudara bagiku… Setidaknya panggil aku dengan sebuatan kakak jika kau menghormatiku.” Putri mahkota Ierua bernama Hazelise tersebut sebelumnya tidak berniat untuk menyerang Phyton, namun ketika mendengar bahwa dirinya dipanggil dengan sebutan bibi, perempuan itu pun seketika langsung memperlihatkan ekspresi yang kesal.


“Mohon maaf kakak… Maksudku tuan putri.”


Tidak menerima koreksi dari ucapan Phyton, perempuan bernama Hazelise itu pun langsung melancarkan serangan proyeksi energi ke arah Phyton.


“Uwah…” Untung saja, dengan sigap pemuda itu langsung menghindari seragan dari Hazelise, hingga tidak sampai diterima olehnya.


Masih belum menyerah, Hazelise berulang kali melancarkan serangan proyeksi yang sama ke arah Phyton, namun pemuda itu tetap hanya berusaha menghindarinya tanpa harus melancarkan serangan balik.


“Ah…” Tiba-tiba Hazelise terhempas ketika menerima sebuah serangan yang belum diketahui diluncurkan oleh siapa.


Melihat hal tersebut, Phyton pun langsung menoleh ke arah sumber serangan proyeksi tersebut, dan langsung melihat bahwa dua Continent Venerate Brizora bernama Guilmus dan Reminel akhirnya tiba di tempat tersebut.


“Oh… Kau Phyton kan… Mantan Venerate muda dari negeri Ierua…” Ucap Guilmus.


“Ngomong-ngomong, kau sekarang berada di pihak mana?” Lanjut Guilmus, bertanya tentang posisi dimana Phyton berada karena mengetahui bahwa pemuda itu sudah tidak menjadi prajurit Brizora, setelah sempat ditangkap oleh pasukan Pavonas pada perang benua Greune.


“Tenang saja tuan Guilmus, aku sekarang berada di pihak Brizora, walaupun telah menjadi Venerate negeri Pavonas… Lagipula Pavonas dan Brizora juga sudah berada di kubuh yang sama,” jawab Phyton, meyakinkan kepada Guilmus serta Reminel bahwa dirinya kini memihak ke sisi negeri Brizora.


Guilmus dan Reminel pun lantas mengangukkan kepala mereka bersamaan, mengerti dengan penjelasan yang dikatakan oleh pemuda itu.


“Kalau begitu, kau sekarang sedang melawan si tuan putri itu yah?” Tanya Reminel.


“Eh… Sebenarnya memang begitu, namun aku tidak bermaksud untuk melawannya, karena dia sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri,” jawab Phyton.