The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 273 - Perpisahan Arn dengan Freynile



Ketika Raquille hendak meluncur untuk kembali melawan Modolf, serta mengambil jasad Freynile, tiba-tiba Demesa memegang tangan pemuda Elfman itu.


“Raquille… Maaf, tapi kita harus mementingkan terlebih dahulu orang yang masih bisa memiliki kemungkinan untuk selamat,” ucap Demesa.


Mendengar hal tersebut, Raquille pun menjadi dilema untuk menentukan pilihannya, dimana dia tidak mungkin pergi meninggalkan Freynile yang walaupun memang sudah tidak bernyawa, sedangkan di sisi lain pemuda Elfman itu harus segera membawa pergi Arn yang tsudah berada di ambang kematian setelah menerima serangan dari Modolf.


“Urgh…!” Teriak Raquille dengan kesalnya karena harus memprioritaskan Arn yang masih memiliki harapan untuk selamat.


Pemuda Elfman itu seketika menancapkan tongkat sihirnya ke tanah, yang sontak memunculkan diagram sihir tepat di permukaan.


“Maaf Freynile… Kuharap kau bisa tenang disana… Aku pasti akan menyelamatkan orang yang kau cintai…” Ucap Raquille sambil meneteskan air mata.


Dalam sekejap Raquille, Morten, Demesa, serta Arn yang tidak sadarkan diri menghilang dari tempat itu, meninggalkan Modolf dan jasad Freynile yang terkapar di tanah.


“Sayang sekali mereka telah meninggalkanmu gadis cantik… Eh… Kenapa juga aku berbicara dengan jasad?”


***


Beberapa saat kemudian, Raquille dan yang lain muncul di kota Keyvarjik, pulau Whiteland, tepat di dalam sebuah kastil.


Setelah meninggalkan jasad Freynile di wilayah negeri Ereise, Raquille pun langsung jatuh terduduk ke lantai, dan terdiam karena dengan terpaksa harus melakukan hal tersebut.


Tak berapa lama, prajurit yang berada di dalam kastil itu langsung berkumpul melihat keadaan Arn yang tidak sadarkan diri.


“Tuan Arn…” Ucap salah satu prajurit, nampak khawatir melihat keadaan dari Arn.


“Cepat… Pemuda ini dalam keadaan yang kritis…” Ucap Demesa.


Mendengar hal tersebut, beberapa prajurit tersebut langsung mengangkat Arn, kemudian membawa pemuda itu melakukan pertolongan untuk menyelamatkan hidupnya.


“Sial...” Umpat Raquille dengan kesalnya, karena hal tersebut menjadi pukulan yang kuat baginya.


****


“Eh… Dimana ini?” Tiba-tiba Arn terbangun telah berada di sebuah pandang rumput yang luas.


“Arn…”


Ketika mendengar suara memanggil namanya, Arn seketika menoleh ke arah samping, dan lantas terkejut melihat Freynile berada disampingnya.


“Freynile…”


Tanpa pikir panjang, Arn langsung memeluk Freynile karena tidak menyangka bahwa Elfman perempuan itu masih selamat setelah kejadian sebelumnya.


“Aku pikir, aku akan kehilanganmu… Syukurlah kau bisa selamat…” Ucap Arn.


“Arn… Tolong dengarkan aku…”


Akan tetapi, Freynile tiba-tiba melepas pelukan pemuda itu karena ingin menjelaskan mengenai sesuatu.


“Kejadian sebelumnya memang benar-benar telah terjadi…”


“Apa maksudmu?” Tanya Arn, tidak mengerti dengan ucapan dari Elfman perempuan itu.


“Dengarkan aku… Sebelumnya aku sempat menggunakan sihir persepsi untuk menyalurkan kesadaranku padamu… Kita sekarang sedang berada di alam bawah sadarmu…”


Ternyata Freynile yang dilihat oleh Arn hanyalah berbentuk sebuah kesadaran yang sempat disalurkan kepadanya, dimana bahwa sudah jelas bahwa Elfman perempuan tersebut telah tiada setelah kejadian sebelumnya.


“Apa kau bercanda? Jelas-jelas kau masih terlihat baik-baik saja.” Namun, Arn tampak tidak percaya dengan penjelasan dari Freynile bahwa Elfman perempuan itu hanyalah berbentuk sebuah kesadaran, dan bukanlah dirinya yang sebenarnya.


Tiba-tiba tubuh Freynile yang berbentuk sebuah kesadaran tersebut, perlahan-lahan mulai berubah menjadi butiran-butiran cahaya, membuat Arn pun lantas terkejut.


“Freynile…”


Arn pun hanya bisa terdiam mendengar ucapan dari Freynile yang ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya.


“Kuharap kau bisa melanjutkan hidupmu tanpaku setelah ini…”


“Sampai kapanpun aku tetap akan mencintaimu…” Ucap Freynile sambil memegang tangan pemuda itu, serta memasang ekspresi tersenyum.


Karena sihir kesadaran tersebut tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Freynile pun berubah sepenuhnya menjadi butiran-butiran cahaya, dan terbang ke atas.


“Tolong jangan tinggalkan aku… Aku juga mencintaimu… Kumohon, jangan seperti ini…”


Arn pun langsung mengejar butiran-butiran cahaya yang terbang ke langit hingga membuatnya terjatuh.


“Tidak… Kembali…” Karena tidak bisa menggapai butiran-butiran cahaya tersebut, Arn hanya bisa mengangkat tangannya sambil meneteskan air mata, dimana hal tersebut menjadi terakhir kalinya pemuda itu melihat perempuan yang dicintainya.


–25 Mei 3016–


“Freynile…!” Tiba-tiba Arn tersadar sambil mengangkat tangannya, yang langsung digapai oleh seseorang.


“Syukurlah kau sudah sadar Arn…”


Setelah dilihatnya, ternyata yang menggapai tangannya tidak lain adalah Raquille, yang tengah duduk disebelahnya, menunggu pemuda itu tersadar.


“Apa yang terjadi?” Tanya Arn, masih merasa kebingungan akibat baru saja tersadar.


“Kau sudah tidak sadar lebih dari seminggu lamanya… Semuanya tampak khawatir… Untung saja, baru berapa lama aku datang melihat keadaanmu kau akhirnya bisa tersadar,” jawab Raquille.


Setelah mendengar ucapan Raquille, tak berapa lama ingatannya mengenai kejadian di wilayah negeri Ereise kembali, yang membuat pemuda itu seketika terkejut lalu hendak berdiri dari tempat berbaringnya.


“Arn… Tunggu dulu, keadaanmu masih belum sembuh total… Setidaknya beristirahat dulu,” ucap Raquille, menahan pemuda itu agar tidak bangun dari tempat berbaringnya.


“Bagaimana dengan yang lain?” Tanya Arn.


Mendengar hal tersebut, Raquille seketika terkejut dan lantas terdiam untuk menjawab pertanyaan dari Arn.


“Kakak… Apa yang terjadi dengan mereka?” Tanya Arn sekali lagi.


“Mereka semua termasuk Freynile tidak selamat… Maafkan aku Arn, karena terlambat dan tidak sempat menolong mereka,” jawab Raquille.


Arn pun seketika menangis tersedu-sedu ketika mendengar jawaban dari Raquille, dan ternyata hal ucapan selamat tinggal yang seperti mimpi baginya tersebut memanglah benar bahwa Freynile pada hari itu memang tidaklah selamat.


“Maafkan aku Arn karena tidak bisa membawa pulang Freynile, walaupun memang tidak bisa menyelamatkannya… World Venerate Ereise itu sebelumnya menghalangiku untuk mengambil jasad Freynile…”


“Sudah kakak… Aku mengerti…” Arn pun langsung menyuruh Raquille untuk berhenti, karena tidak kuat untuk mendengarnya lagi.


“Maaf kakak… Apakah kau bisa meninggalkanku sendirian…” Ucap Arn.


“Baiklah… aku mengerti…”


Raquille pun berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan keluar dari ruangan tersebut, membiarkan Arn untuk sendirian terlebih dahulu.


–3016 sampai 3029–


Setelah kesalahan yang dilakukan oleh tetua akademi sihir negeri Blueland, pada hari itu juga akademi sihir tersebut harus kehilangan sebagian besar murid-murid Land Venerate mereka.


Sedangkan Arn pun menjadi kurang bersemangat untuk melanjutkan hidupnya, dimana dirinya yang telah kehilangan Freynile, perempuan yang dicintainya, hanya bisa mengurung diri di kota Keyvarjik tempat tinggalnya, dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari akademi sihir.


Walaupun sebenarnya pemuda itu merupakan murid yang hebat di dalam akademi sihir, dan mempunyai potensi menjadi Venerate yang lebih kuat, namun karena kejadian tersebut, dia sudah tidak memiliki keinginan apapun untuk dilakukan.


***


Hanya pada saat invasi yang dilakukan oleh pasukan Ierua, Arn pun mulai tergerak untuk kembali menjadi Venerate.