The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 214 - Sesuatu yang menarik



“Ada apa Yang mulia?” Tanya Claus sambil datang menghampiri raja negeri Ereise tersebut.


“Kurasa kita lebih baik pergi saja… Kita kini tidak bisa berbuat apa-apa, karena kuda kilat sudah lebih dulu diambil oleh mereka... Aku yakin mereka pasti sudah mendapatkan cincin yang berada di dalam ruang dimensi spasial berlapis,” jawab sang raja Ereise.


“Baiklah… Sesuai yang kau katakan.” Claus pun langsung menyetujui perintah dari pria itu untuk lebih baik meninggalkan tempat tersebut.


Giantman itu kemudian bersiul, yang seketika membuat sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor rusa kutub datang menghampiri mereka berdua.


Claus bersaja pria bernama Modolf tersebut kemudian naik ke atas kereta tersebut. Sebelum pergi, Claus sejenak menatap Raquille terlebih dahulu.


“Raquille, aku sekarang telah menjadi salah satu Venerate negeri Ereise, yang tentu saja berada dipihak yang bertentangan dengan negerimu Blueland… Jika nantinya kita bertemu dalam sebuah peperangan, pada saat itu aku tidak akan segan-segan kepadamu,” ucap Claus kepada Raquille.


“Aku mengerti tuan Claus… Aku juga pasti tidak akan segan-segan lagi, karena itu merupakan keinginanmu,” balas Raquille, juga berpikir hal yang sama seperti Giantman itu.


Setelah Raquille mengatakann hal tersebut, Claus tampak diam sejenak memikirkan sesuatu yang akan mau dikatakan olehnya.


“Mengenai Aloof…”


“Aloof…” Raquille seketika terkejut ketika mendengar Claus menyebut Aloof, yang merupakan Venerate ras Elfman anggota Guardian yang pada sepuluh tahun yang lalu masuk ke dalam sebuah lubang dimensi bersama dengan pemuda Elfman.


“Tunggu dulu… Apa mungkin kau mengetahui sesuatu tentang Aloof?” Begitu juga dengan Hyphilia, yang langsung beraksi ketika mendengar Giantman itu menyebut nama adiknya.


“Heh, kurasa lupakan saja…”


Tanpa terus menjalaskan mengenai Aloof yang sebelumnya disebut olehnya, Giantman itu lantas langsung memacu kereta rusa tersebut dan seketika terbang ke langit dengan kecepatan penuh meninggalkan Raquille dan yang lain.


“Hei Giantman…! Setidaknya katakan sesuatu mengenai adikku, jika kau mengetahuinya!” Teriak Hyphilia, meminta jawaban dari Claus, namun Giantman tersebut beserta sang raja Ereise telah jauh pergi meninggalkan mereka.


Raquille dan Hyphilia pun lantas merasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan jawaban mengenai Aloof yang kemungkinan diketahui oleh Giantman bernama Claus tersebut.


***


“Kenapa kau tidak mengatakan tentang Aloof kepada mereka saja?” Di atas kereta rusa yang sedang terbang melayang di udara Modolf sontak bertanya kepada Claus karena tidak mengatakan mengenai Elfman bernama Aloof yang kemungkinan juga diketahui oleh raja Ereise tersebut.


“Aku hanya bingung mau menjelaskan bagaimana kepada mereka… Kurasa mereka harus mencari tahu sendiri tentang kondisi dari saudara mereka tersebut,” jawab Claus.


***


Beberapa saat kemudian, Arn yang sebelumnya tak sadarkan diri setelah dikalahkan oleh Modolf, akhirnya telah kembali tersadar.


“Akhirnya kau sadar juga…” Ucap Raquille, nampak legah melihat pria itu telah sadarkan diri.


“Dimana pria itu?” Tanya Arn mencari keberadaan dari Modolf sambil menunjukan ekspresi yang kesal.


“Haah, sialan… Walaupun kemampuanku sudah meningkat karena baju zirah ini, namun aku masih belum mampu untuk bisa mengalahkannya,” ucap Arn sambil mengumpat, karena menyadari bahwa kemampuannya tersebut ternyata masih belum cukup untuk bisa mengalahkan seorang World Venerate, bahkan yang memiliki teknik sihir persepsi tingkat tinggi.


“Aku paham kau sangat membenci orang tersebut, bahkan hanya melihat wajahnya saja kau pasti langsung emosi tanpa memikirkan bahwa orang itu sangat sulit dikalahkan jika teknik mengetahui secara pasti teknik yang dikuasai olehnya,” ucap Raquille.


Arn pun hanya bisa terdiam setelah mendengar pernyataan yang dikatakan oleh Raquille. Memang benar pria itu tidak mampu untuk mengalahkan raja negeri Ereise tersebut jika tidak mengetahui dengan benar teknik sihir persepsi yang dikuasai oleh sang raja tersebut.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana kalian berdua bisa mengetahui bahwa pria itu adalah raja negeri Ereise?” Hyphilia kemudian bertanya kepada Arn serta Raquille tentang bagaimana mereka mengetahui raja Ereise bernama Modolf tersebut.


“Aku mengetahui pria itu saat kejadian sekitar satu tahun yang lalu… Tidak, maksudku sebelas tahun yang lalu…” Jawab Raquille.


“Kejadian itulah yang membuat beberapa murid akademi sihir Blueland terbunuh karena pergi menjalankan sebuah misi ke negeri Ereise, dimana yang selamat pada saat itu hanyalah Arn sendiri,” lanjut Raquille menjelaskan mengenai sebuah kejadian yang dialami oleh Arn.


“Pada saat itu…”


“Kakak, kurasa penjelasanmu cukup sampai disitu saja… Karena aku tidak mau mendengar tentang kejadian itu lagi…” Mendengar hal yang dibicarakan oleh Raquille, Arn pun lantas langsung memotong pembicaraan pemuda Elfman itu karena tidak mau mendengarnya lebih panjang lagi.


“Aku paham Arn…” Raquille pun mengerti mengenai keadaan dari pria itu, dan lebih memilih untuk tidak menceritakan hal tersebut lebih panjang lagi.


“Baiklah… Kurasa waktunya kita pergi ke tempat harta karun yang selanjutnya.” Raquille pun langsung mengganti pembahasan megenai pencarian tiga belas harta karun yang masih harus dikumpulkan olehnya, serta para rekan-rekan yang bersama dengannya.


Raquille mengambil peta lokasi semua harta karun yang ada, kemudian mulai memperhatikan lokasi selanjutnya yang akan mereka pergi.


“Kurasa kali ini kita akan pergi ke sebuah pulau yang berada diantara pulau Brizora dan pulau Ierua,” ucap Raquille.


“Maksudmu pulau Vann yang berada di daerah Northland barat…” Ucap Phyton.


“Iya, apa kau mengetahui mengenai harta karun yang berada di pulau itu?” Tanya Raquille.


“Hmph… Harta karun yang berada di pulau tersebut adalah sebuah cawan yang terbuat dari tanduk seekor makhluk suci…”


“Menurut informasi yang biasa kudengar, jika seseorang minum di dalam cawan tanduk makhluk suci itu, maka mereka akan mendapatkan kehidupan abadi… Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak… Karena pasukan Ierua yang selalu mengambil cawan itu, tidak berani untuk melakukan hal tersebut,” jawab Phyton, menjelaskan menngenai salah satu dari ketiga belas harta karun yang berada di pulau yang bernama Vann.


“Jadi itu adalah sebuah cawan yah…” Respon Raquille.


“Eh… Mengenai cawan yang menjadi salah satu dari ketiga belas harta karun… Di pulau itu juga terdapat sebuah hal yang cukup menarik juga.” Mendengar penjelasan dari Phyton, Venerate Pavonas yang merupakan mantan Venerate negeri Brizora bernama Jack pun langsung menjelaskan tentang suatu hal yang juga berada di pulau tersebut.


“Kalau begitu, katakan apa yang ketahui tuan Jack?” Mendengar penjelasan tersebut, Raquille yang memiliki sifat suka mencari tahu tentang sebuah hal, lantas bertanya pada Venerate tersebut.


“Tepat di tengah-tengah pulau tersebut terdapat sebuah pedang yang kemungkinan sudah ratusan tahun atau mungkin saja ribuan tahun menancap di sebuah batu…”