
“Waah… Waah… Sepertinya kita bertemu lagi dengan kalian,” kata Mercurio.
“Mari kita lanjutkan pertarungan kita yang pernah terhenti sebelumnya,” sambung Marte.
Tanpa merespon ucapan dari Marte dan Mercurio, Arepo dan Mayorio seketika melompat dan mengayunkan tongkat gada mereka ke arahnya dua pria Gimoscha itu secara bersamaan.
Melihat ayunan serangan dari dua prajurit Serepusco itu, dengan sigap Marte maupun Mercurio menahan serangan mereka. Marte menangkis serangan Arepo dengan menggunakan perisai serta tombak yang dipegangnya, sedangkan Mercurio nampak langsung menepis ayunan tongkat gada Mayorio dengan menendangnya menggunakan sepatu besi yang dipakai pria itu.
**
Tak jauh dari tempat itu, terlihat Terra bersama pasukan Gimoscha berhadapan dengan para pasukan Serepusco. Terra yang merupakan tingkat Land, dengan mudahnya mengalahkan prajurit-prajurit Serepusco yang datang untuk menyerangnya.
**
Mayorio yang melihat para prajuritnya dikalahkan oleh perempuan itu nampak tidak tinggal diam. Dengan segera pria itu meninggalkan pertarungannya dan berlari kea rah Terra hendak menyerang perempuan tersebut.
“Hei, Mayorio…!”
Arepo yang ditinggalkan oleh saudaranya tersebut sontak langsung mengalami kesulitan melawan dua Land Venerate Gimoscha sekaligus.
**
“Terra…!” Mayorio seketika melompat ke arah Terra sambil mengayunkan tongkat gadanya hendak menyerang perempuan itu.
Walaupun sedang melawan para prajurit Serepusco, Terra dengan lincah melompat ke belakang menghindari ayunan senjata dari pria itu. Dia kemudian memutar-mutar tongkat yang dipegangnya dan mengayunkan senjata tersebut kea rah Mayorio.
“Breaker wind… Rolling wind strike…” Terra sontak melancarkan serangan elemen angin dari tongkatnya tersebut pada Mayorio.
“Akh…!” Tidak mengira serangan tersebut, Mayorio seketika menerimanya hingga membuat dirinya menghantam pemukaan dengan kerasnya.
***
Di sisi lain dari kota Reom, pasukan Calferland terlihat sedang berhadapan dengan pasukan Gimoscha lainnya.
Cento yang merupakan pemimpin dari pasukan penyerang tersebut sontak berhadapan dengan dua Land Venerate sekaligus.
Walau memiliki tingkatan yang sama dengan musuh yang sedang dihadapinya, namun Cento dengan mudah dapat menangani dua prajurit itu tanpa mengalami kesulitan.
“Cento Lancheur… Ternyata kau kemampuanmu boleh juga,” kata salah satu prajurit Gimoscha, mengakui kehebatan dari prajurit Calferland itu yang bisa mengimbangi mereka berdua.
“Apa hanya ini kemampuan dari clan Nerautunno?” Balas Cento, sedikit meremehkan dua prajurit Gimoscha itu.
“Tidak, kami baru saja mau serius sekarang,” ucap salah satu dari dua prajurit tersebut.
Kedua Land Venerate Gimoscha itu kemudian mengangkat salah satu tangannya mereka menciptakan sebuah bola api, yang lama-kelamaan semakin membesar.
Melihat hal tersebut, Cento dengan cepat meningkatkan kekuatannya hingga tubuh pria itu nampak memancarkan uap es, bersiap untuk menahan serangan yang akan diluncurkan oleh mereka.
“Breaker flame… Blast meteoroid…” Bola api yang dilancarkan oleh dua prajurit itu seketika memecah menjadi beberapa bagian, meluncur dengan cepat ke arah Cento dan para prajurit Calferland.
“Breaker ice…” Sedikit terkejut dengan serangan yang tidak dikiranya tersebut, Cento pun dengan refleks melancarkan serangan uap es, yang langsung membuat beberapa serpihan serangan elemen api itu seketika lenyap.
Sebagian dari prajurit Calferland pun juga menepis serangan tersebut dan beberapa dari mereka langsung menghindarinya.
Namun, sebagian dari mereka yang tidak mengarah datangnya serangan tersebut, sontak langsung terhempas.
“Sial…” Umpat Cento, melihat prajuritnya menerima serangan elemen api tersebut.
“Breaker water…” Tanpa pikir panjang, pria itu maju mendekati dua Land Venerate itu dan melancarkan serangan elemen air.
“Breaker flame…” Namun, kedua Land Venerate itu dengan sigap langsung menahan serangan Cento dengan melancarkan sebuah serangan elemen api.
Kedua serangan tersebut seketika menciptakan sebuah kabut yang sangat tebal akibat panasnya api menguapkan proyeksi elemen air dari Cento.
“Sial… Aku tidak bisa melihat dengan jelas dibalik kabut ini,” gumam prajurit pria Gimoscha itu.
“Mellia…! Dimana kau?” Dia lalu memanggil rekan perempuannya.
“Aku disini…” Tak berapa lama kemudian, Land Venerate yang satunya menjawab panggilan pria itu.
“Ancro hati-hati. Kita masih tidak tahu apakah pasukan Calferland memiliki kemampuan melihat dibalik kabut tebal ini,” lanjutnya, memperingati rekannya untuk berhati-hati terhadap pasukan Calferland.
“Hmph… Benar sekali…” Baru memperingati rekannya, tiba-tiba Cento kini telah berada tepat dibelakang perempuan itu.
“Akh…” Tanpa pikir panjang, Cento langsung mengayunkan tongkat gadanya ke arah perempuan itu.
Serangan tersebut seketika membuatnya terkapar dan tak sadarkan diri.
“Mellia… Ada apa denganmu?” Mendengar teriakan dari rekannya tersebut, pria bernama Ancro itu sontak memanggilnya sambil bersiaga dari serangan dadakan dari prajurit Calferland.
“Akh…” Namun, walaupun sudah bersiaga, pria itu seketika menerima serangan dari Cento, yang membuatnya juga seketika terkapar dan tak sadarkan diri.
“Breaker water…” Setelah mengalahkan kedua Land Venerate itu, Cento pun kemudian menghilang kabut tebal yang menutupi tempat tersebut.
Melihat kedua Land Venerate mereka telah dikalahkan oleh Cento, para prajurit Gimoscha yang tersisa seketika menjatuhkan semua senjata dan mengangkat kedua tangan mereka ke atas.
“Kami menyerah, tolong ampuni kami semua,” ucap salah satu prajurit, memohon ampunan dari pasukan Calferland.
“Baiklah, tangkap mereka semua sekarang.” Setelah mendengar pernyataan menyerah dari prajurit-prajurit tersebut, Cento pun langsung memerintahkan bawahannya untuk menangkap mereka.
***
Di udara terlihat Clava masih menghadapi Continent Venerate perempuan yang sebelumnya menolong Neptuno.
“Nyonya Jiqu, sebaiknya kau menyerah saja sekarang. Pikirkan nasib para warga negeri ini jika kita bertarung menggunakan kekuatan kita sepenuhnya, ucap Clava pada perempuan itu.
“Selama pemimpin kami tidak menyatakan bahwa dia telah menyerah, selama itu pun aku tidak akan berhenti… Aku disini hanya untuk mengulur waktu sambil menahan pergerakanmu. Lagipula kau juga tidak akan menggunakan kekuatanmu sepenuhnya kan?” Namun, perempuan bernama Jiqu itu masih tetap tidak mau menyetujui usulan dari Clava untuk menyerah.
***
“Akh…” Di sisi lain, nampak pertarungan dari Vingto melawan Ergine menjadi berat sebelah. Perempuan itu secara terus menerus melancarkan serangan proyeksi elemen cahayanya ke arah Vingto hingga pria tersebut terhempas berulang-ulang kali.
“Hei, lebih baik gunakan saja kekuatan pelepasan keduamu… Kalau seperti ini, cepat atau lambat nyawamu akan melayang ditanganku,” ucap perempuan itu memperingati Vingto.
“Lebih baik aku mati ditanganmu, daripada harus menyakiti gadis cantik sepertimu,” balas Vingto, kembali berdiri setelah mendapatkan serangan beruntun dari perempuan itu.
Merasa risih dengan ocehan pria itu, Ergine pun seketika kembali meluncur mendekatinya dan kembali melancarkan serangannya.
***
Kemudian terlihat Raquille dan Zero yang berada di luar kota Reom, nampak kembali bersiaga setelah melihat pemimpin negeri Gimoscha, yang mereka serang sebelum kini menghampiri mereka lagi.
“Hei umpan hidup, serang dia lagi,” kata Raquille, sedikit meledek pria Calferland itu.
“Apa kau bilang…” Tidak senang mendengar sebutan yang diucapkan oleh pemuda Elfman itu, Zero pun nampak kesal sambil meresponnya dengan nada tinggi.
“Sudahlah, cepat serang lagi dia. Kali ini aku yakin kita bisa mengalahkannya… Setidaknya jangan sampai dia menggunakan kekuatan pelepasan kedua.”
“Heh… Aku tidak punya pilihan… Hei, setelah kita mengalahkannya, jangan lupa lanjutkan pertarungan kita.”
“Apa…? Kau mau melanjutkannya?” Raquille seketika terkejut mendengar ucapan pria itu.
Tanpa menjawab Raquille, Zero seketika meluncur kea rah Giano sambil mengayunkan dua kapaknya yang memancarkan energi listrik.