The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 104 - Menghindari konflik



Beberapa saat yang lalu di seberang sungai wilayah negeri Geracie, pria yang sebelumnya memperingati Spirgios, datang ke kota yang berada di dekat daerah tersebut.


“Ini gawat…!” Dengan panik pria itu berteriak mendatangi sekelompok prajurit.


“Hei, ada apa? Kenapa kau begitu panik?” Tanya salah satu prajurit.


“Yang mulia Spirgios baru saja ditangkap oleh bangsa Slivan…”


“Eh…? Hahaha…!” Para prajurit sejenak menjadi kebingungan setelah mendengar penjelasan dari pria itu, namun ketika mereka perlahan-lahan mulai mengerti tiba-tiba saja semuanya langsung tertawa.


“Hei, karena itu jangan terlalu banyak tidur disaat kau sedang bertugas…” Ucap salah satu prajurit yang malah mengolok pria tersebut.


“Aku tidak berbohong… Yang mulia Spirgios sebelumnya menaiki perahu dan masuk ke wilayah negeri seberang. Aku sempat memperingatinya namun itu sudah terlambat, prajurit negeri seberang langsung menariknya ke daratan…”


Pria itu dengan raut wajah serius menjelaskan hal yang terjadi kepada Spirgios, namun para prajurit tetap tidak mempercayainya. Mereka berpikir bahwa hal tersebut mustahil karena bagaimana mungkin seorang World Venerate bisa dengan mudah tertangkap oleh prajurit biasa yang kemungkinan hanya berada pada tingkatan Regional Venerate sebagai tingkatan tertinggi mereka.


“Apa yang sedang terjadi?” Disaat pria itu telah putus asa dikarenakan penjelasannya si-sia, tiba-tiba salah seorang prajurit lain datang menghampiri mereka.


“Eh, tuan untung saja kau ada disini… Ini gawat, Yang mulia Spirgios telah ditangkap oleh prajurit bangsa Slivan,” ucap pria itu menjelaskannya pada prajurit yang baru datang tersebut.


“Haah… Aku sudah menduga hal buruk akan terjadi… Dia barusan mengatakan padaku bahwa akan bersantai dipinggiran sungai,” ucap prajurit tersebut.


Mendengar pernyataan dari salah satu prajurit tersebut, para prajurit yang lain sontak terkejut karena akhirnya paham bahwa penjelasan yang dikatakan kepada mereka bukanlah kebohongan.


Dengan sigap semua prajurit yang ada berdiri dan langsung bergegas untuk pergi ke suatu tempat.


***


Beberapa saat kemudian Spirgios dan perempuan yang ditinggalkan bersama dengannya datang ke pinggiran sungai perbatasan negeri Nascunia dan Geracie.


“Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku adalah raja Geracie?” Tanya Spirgios.


“Tentu saja aku mengetahuinya… Selain pernah melihatmu aku juga merasakan tekanan kekuatan yang besar,” jawab perempuan itu.


“Sekarang pergilah… Anggap saja bahwa kejadian tidak pernah terjadi,” perempuan itu pun langsung membiarkan Spigios untuk pergi.


“Kalau aku menolaknya, memang kenapa?” Namun Spirgios malah menolak untuk pergi dari tempat tersebut.


Sementara itu, Spirgios juga melihat pergerakkan wanita tersebut yang perlahan-lahan mengeluarkan sebuah alat komunikasi dan menekan salah satu tombol pada alat tersebut.


“Sepertinya kau ingin meminta bantuan?” Ucap Spirgios.


Perempuan tersebut sontak terkejut ternyata sedari tadi Spirgios memang telah memperhatikan pergerakannya.


Sebenarnya saat perempuan itu pertama kali mengenali Spirgios saat masih bersama dengan para prajurit Nascunia, dia telah berancang-ancang untuk memanggil sebuah bantuan.


“Kau juga pasti mengetahui yang bisa berhadapan denganku di negerimu hanya dua orang… Apa kau mau memanggil salah satu diantara mereka?” Tanya Spirgios.


“Disamping itu, sepertinya kau juga berniat untuk menahanku disini sampai mereka datang kemari?”


“Ternyata kau bisa menebaknya…”


“Tekhnika ekzortsista… Exterminator barrier…” Perempuan itu seketika mengaktifkan kekuatannya yang membuat sebuah cahaya tiba-tiba muncul di sekitar Spigios dan kemudian membentuk layaknya sebuah penghalang.


Tidak gentar dengan hal tersebut, Spirgios sontak melancarkan sebuah serangan elemen apinya.


“Eh, apa-apaan ini?” Namun serangannya tiba-tiba saja lenyap layaknya diserap oleh cahaya penghalang tersebut.


Spirgios mencoba melancarkan kembali serangan elemen apinya untuk kedua kalinya, namun hal yang sama tetap terjadi.


***


Tanpa pikir panjang, para prajurit dengan sigap mempersiapkan senjata-senjata artileri mereka dan menunggu perintah untuk menyerang kapal tersebut.


“Tahan dulu…” Salah satu prajurit yang merupakan pimpinan dari pasukan itu sontak memerintahkan bawahannya untuk menahan serangan mereka terlebih dahulu karena melihat salah satu prajurit Geracie yang berada di atas kapal tersebut sedang mengangkat kedua tangannya, yang artinya mereka datang bukan untuk menyerang.


“Apa yang mereka inginkan?” Gumam salah satu prajurit tersebut mengapa prajurit Geracie datang ke negeri mereka.


***


Tak lama kemudian kapal Geracie akhirnya berlabuh. Salah satu prajurit Geracie yang sebelumnya mempercayai pria yang melihat Spirgios ditangkap oleh prajurit Nascunia turun dari atas kapal.


“Salam tuan-tuan, maaf mengganggu kalian, aku datang kemari untuk…”


“Apa mau kalian?” Pemimpin pasukan Nascunia itu sontak memotong perkataan prajurit Geracie itu.


“Begini, kami ingin kalian membebaskan seorang pria yang barusan kalian tangkap,” ucap prajurit Geracie tersebut.


“Seorang pria…? Siapa orang itu?” Tidak tahu-menahu dengan persoalan yang telah terjadi sebelumnya, pemimpin pasukan Nascunia tersebut sontak bertanya kepada para bawahannya.


“Pria itu, dia tadi berada di atas sebuah perahu. Karena telah memasuki wilayah ini, jadi kami terpaksa menyeretnya ke daratan… Kami membiarkannya dibawah oleh tuan puteri,” ucap salah satu prajurit Nascunia menjelaskan kepada pemimpinnya.


“Aku mengerti sekarang… Mau itu disengaja ataupun tidak, jika seseorang dari negeri lain telah masuk, kami tidak membiarkan mereka dengan mudah dari negeri ini,” ucap pemimpin pasukan Nascunia tersebut dengan tegas setelah mengerti dengan persoalan yang terjadi.


“Tuan, orang yang kalian tangkap itu bukanlah hanya warga biasa.”


“Memangnya siapa dia?” Tanya pemimpin pasukan tersebut.


“Dia adalah Spirgios I, raja dari negeri Geracie.”


Mendengar ucapan prajurit Geracie itu, semua prajurit Nascunia yang berada di tempat itu sontak terkejut hingga tidak bisa mengatakan apa-apa.


“Dengar, aku hanya ingin menghindari konflik antara dua negeri ini. Jika kabar ini diketahui oleh para pemimpin di ibukota kami, maka mereka tidak akan segan-segan untuk menyerang negeri ini demi untuk membebaskan pemimpin negeri kami,” ucap prajurit Geracie itu menjelaskan dampak yang akan terjadi jika mereka masih bersikeras untuk tidak mau membebaskan Spirgios.


“Kalau begitu ikut kami sekarang. Kita harus mencari orang yang membawa pemimpin kalian itu.” Pemimpin pasukan Nascunia itu sontak langsung menyetujui setelah mendengar penjelasan tersebut.


***


Kembali pada Spirgios yang masih berusaha membebaskan dirinya dari penghalang diciptakan oleh perempuan tersebut.


“Percuma saja, penghalang itu sulit untuk dihancurkan,” ucap perempuan itu.


“Heh, ini hanya sulit saja, bukan tidak mungkin.”


“Holy god flame aura…” Spirgios meningkatkan kekuatannya hingga membuat pancaran api yang lebih besar, memancar keluar dari tubuhnya hingga membakar penghalang itu hingga lenyap.


“Akh…!” Bersamaan dengan lenyapnya penghalang tersebut, api yang memancar dari tubuhnya melebar sampai ke arah perempuan tersebut, hingga membuatnya terhempas.


Tekanan kekuatan yang besar dari raja Geracie itu pun kini terpancar keluar hingga membuat perempuan itu menjadi terintimidasi.


Spigios berjalan mendekati perempuan itu dan kemudian dengan mudah mencekiknya. Salah satu tangannya mengeluarkan kobaran api yang siap untuk menyerang perempuan tersebut.


Dengan refleks, perempuan itu mengangkat tangannya meninju pria itu. Tiba-tiba saja sebuah pancaran cahaya putih yang pukulannya membuat Spirgios langsung terpental.


Spirgios hanya bisa melotot, merasa heran dengan serangan yang baru saja dilancarkan oleh perempuan tersebut.