The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 56 - Organisasi perjanjian negeri-negeri utara Greune-Aizolica



–15 Juni 3029–


Pagi harinya di kota Nerbil, negeri Frieden, terlihat seorang pria pada suatu balkon kastil sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil menghirup udara pagi yang segar.


“Haah… Walaupun dalam situasi perang seperti ini, aku tetap harus bersantai seperti ini walau hanya sebentar,” ucap pria itu.


“Eh…” Baru saja hendak bersantai, mendadak dia merasakan sebuah tekanan kekuatan yang besar mendekat ke kota tersebut.


Tanpa pikir panjang, pria itu melompat dari balkon kastil di ketinggian enam puluh kaki dan mendarat ke bawah.


“Semuanya, bersiap…! Ada yang datang mendekat!” Teriak pria itu, memanggil para prajurit.


Sontak rombongan prajurit dengan bersenjatakan senapan seketika berkumpul dan berbaris dengan rapi di depan pria itu. Para prajurit kemudian menargetkan senapan mereka pada dua titik cahaya berwarna biru yang dengan cepatnya mendekat.


“Sepertinya Venerate Pavonas dan para aliansinya tidak mau jika kita bersantai sejenak,” ucap Pria itu sedikit kesal.


“Tapi, kenapa arah datangnya dari barat…?” Namun, pria itu merasa bingung dengan dua titik cahaya yang diduganya merupakan Venerate dari kubuh timur itu datang dari arah barat.


Negeri Frieden sendiri terletak di bagian barat benua Greune, dan berbatasan langsung dengan negeri Pavonas di arah timur. Selain Pavonas yang memang mustahil melakukan serangan dari arah barat, negeri-negeri aliansi dari negeri kubuh timur itu tidak terletak disebelah barat benua Greune. Sehingga membuat pria itu menjadi bingung darimana asal dua titik cahaya tersebut datang.


“Akh…!” Sesuatu yang misterius itu seketika mendarat di depan mereka hingga menciptakan sebuah kabut tebal dan hempasan angin yang kuat membuat para prajurit yang berbaris tersebut seketika terhempas karena tidak bisa menahannya.


Tetapi, satu-satunya orang yang tidak terhempas adalah pria itu. Dia kemudian memunculkan sebuah tombak kapak bersiap melawan sesuatu yang mendarat tersebut.


Tak bersalang lama, kabut di sekitar tempat itu kemudian hilang. Nampak Raquille dan Aguirre berdiri saling membelakangi sambil ditiup oleh hembusan angin yang membuat aura mereka menjadi lebih elegan.


“Siapa kalian?” Tanya pria itu dengan tatapan tajam pada kedua Elfman tersebut.


“Perkenalkan, namaku adalah Aguirre Noroh, gubernur letnan jendral negeri Fuegonia… Aku dan adikku datang kemari sebagai bala bantuan kubuh barat,” ucap Aguirre.


“Fuegonia…? Kupikir kalian Venerate Pavonas yang mau menyerang kami.”


“Kalau begitu, ayo kita masuk terlebih dahulu tuan-tuan…” Karena mengtahui negeri asal mereka merupakan aliansi negerinya, pria mempersilahkan Aguirre dan Raquille masuk ke dalam kastil.


“Terima kasih atas sambutan anda tuan... Aku minta maaf karena kami terlalu berlebihan pada para prajurit anda,” kata Aguirre, meminta maaf atas apa yang dia dan Raquille lakukan pada para prajurit negeri Frieden sebelumnya.


“Tenang saja, itu bukan apa-apa? Lagipula mereka masih baik-baik saja,” respon pria itu.


Raquille dan Aguirre pun mengikuti pria itu masuk ke dalam kastil. Saat berjalan di dalam kastil tersebut mereka nampak membincangkan sesuatu.


“Ngomong-ngomong tuan, aku belum mengetahui siapa anda?” Tanya Aguirre.


“Aku…?” Mendengar pertanyaan dari Aguirre, pria itu seketika memutar-mutar dan memainkan tombak kapaknya.


Kedua Elfman yang melihat perilaku pria itu nampak kebingungan, namun tidak berkomentar apapun karena menghormatinya.


“Perkenalkan… Namaku Frodor Niarru… Pangeran mahkota kerajaan Frieden.” Pria itu kemudian bergaya sambil memperkanalkan dirinya.


“Eh, iya… Tuan Frodor, senang bertemu denganmu.” Aguirre pun tersenyum tipis walau merasa aneh melihat gaya berlebihan pria bernama Frodor tersebut.


“Senang juga bertemu dengan anda, tuan Aguirre,” balas pria itu.


Setelah tak berapa lama mereka berjalan kembali, ketiga orang itu kemudian sampai di depan sebuah ruangan.


“Kalau begitu, silahkan tunggu di ruangan ini. Karena pertemuan para petinggi akan dilaksanakan siang hari,” kata pria bernama Frodor itu.


“Pertemuan para petinggi?” Tanya Aguirre nampak tidak mengerti dengan penjelasan pria itu.


“Iya… pertemuan dari para anggota GANCO,” jawab Frodor.


“Oh benar-benar, aku mengerti…” Walaupun masih tidak paham dengan hal tersebut, Aguirre sontak mengiyakan saja perkataan dari pria tersebut.


“Jika ada yang ingin kalian perlukan, panggil saja prajurit-prajurit ini,” kata Frodor menunjuk dua prajurit yang berdiri di depan ruangan tersebut.


“Baik tuan,” kata Aguirre dengan senyuman tipis.


Kedua Elfman itu kemudian berjalan hendak memasukki ruangan tersebut.


“Tunggu dulu…” Baru saja beberapa langkah mereka berjalan memasukki ruangan tersebut, pria bernama Frodor itu sontak memanggil mereka.


“Iya ada apa tuan?” Tanya Aguirre.


“Siapa namamu?” Kata pria itu, menunjuk Raquille.


“Raquille Noroh…” Raquille pun sontak menjawabnya dengan ekspresi yang datar.


“Hmph… Sepertinya kau bukan orang yang seru… Aku kira kau akan menunjukkan gaya khas perkenalan dari Fuegonia,” kata Frodor, merasa bahwa Raquille tidak seseru yang pria itu kira saat memperkenalkan namanya.


*


“Memangnya aku harus sebodoh apa?” Gumam Raquille dalam hati, merasa aneh pada pria itu.


**


“Tapi, senang bertemu denganmu Raquille,” kata pria itu dengan senyuman tipis.


Pemuda Elfman itu sontak merespon sapaan pria itu dengan menganggukkan kepalanya sekali.


“Baiklah, aku pergi dulu…” Frodor lalu pergi meninggalkan mereka.


Setelah pria itu pergi, mereka pun masuk ke dalam ruangan terebut.


“Kakak… Apa yang dibicarakan oleh pria itu tadi?” Tanya Raquille pada Aguirre.


“Tentang apa?” Tanya balik Aguirre.


“Pertemuan dari para anggota GANCO.”


“Entahlah, aku juga tidak paham dengannya,” kata Aguirre.


“Mungkin saja itu adalah organisasi aliansi dari negeri-negeri kubuh barat,” lanjut Aguirre.


GANCO (Greune-Aizolica Northernlands Covenant Organization) merupakan organisasi perjanjian yang dibentuk oleh beberapa negeri utara benua Greune dan Aizolica. Tujuan dari dibentuknya organisasi tersebut adalah untuk melawan serangan invasi negeri-negeri kubuh timur di Greune barat.


Namun, selama terbentuknya organisasi tersebut, kubuh barat tidak pernah sekalipun dapat menyerang kubuh timur. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah bertahan dari serangan invasi kubuh timur, yang telah banyak mengambil alih wilayah negeri-negeri di bagian barat benua Greune.


Raquille kemudian duduk berbaring di sebuah sofa dengan mengangkat kedua kaki dan menutup matanya.


“Eh…” Namun, Raquille tiba-tiba kembali membuka matanya ketika merasakan seseorang seperti sedang menatapnya.


Pemuda itu pun sontak menoleh pada Aguirre, karena hanya pria itulah yang berada di dalam ruangan tersebut bersama dengannya.


“Hei, kenapa tatapanmu seperti itu?” Saat pemuda itu menoleh pada saudaranya tersebut, nampak pria itu sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


“Raquille… Kemana saja kau selama sepuluh tahun terakhir? Apakah kau selama ini bersembunyi di Fuegonia? Bukankah terakhir kali kau berada di Avanca?” Kata pria itu dengan melontarkan beberapa pertanyaan pada saudaranya tersebut.


“Aku tersesat ke suatu dunia yang dihuni oleh para ras dengan sepasang sayap berbulu putih layaknya sayap merpati di punggung mereka… Bisa dibilang mereka itu mirip seperti Fairyman ataupun Pixieman... Tapi tidak juga…”


“Kakak… Yang pasti ras tersebut lebih kuat…”


“Raquille, hentikan ocehanmu itu, aku bertanya dengan serius…!” Mendengar perkataan yang mengada-ngada dari saudaranya tersebut, Aguirre pun nampak kesal dan sontak langsung membentaknya.


“Ternyata kau tidak mempercayai ceritaku ini… Baiklah akan kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku.”


“Pertama-tama yang harus kau tahu bahwa aku sama sekali tidak merasa telah menghilang selama sepuluh tahun sejak kejadian itu.”


“Apa maksudmu?” Aguirre pun menjadi bingung dengan penjelasan Raquille.


Pemuda itu kemudian menceritakan alasan hilangnya dia selama ini pada saudaranya, dimana dia terbawa ke masa depan setelah ditarik lubang dimensi yang diciptakan oleh rekan Guardian-nya.


“Awalnya aku juga sangat terkejut dengan itu… Tapi, perlahan-lahan aku mulai menerimanya.”


“Kapan pertama kali kau muncul di Fuegonia?” Tanya Aguirre.


“Sehari sebelum aku bertarung dengan perampok gunung dan mengeluarkan tekanan kekuatan yang besar,” jawab Raquille.


“Berarti, baru sekitar beberapa hari kau muncul,” kata Aguirre.


“Kakak, berapa umurmu sekarang?”


“Tiga puluh tiga… Memangnya kenapa?”


“Heh… Sekarang perbedaan usia kita sudah terpaut tiga belas tahun jauhnya… Aku juga tidak percaya sekarang kakak Hyphilia telah jauh lebih tua dariku.”


Namun, Aguirre terlihat menggelengkan kepalanya karena masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari saudaranya tersebut.


“Sudahlah… Aku ingin tidur dulu sekarang.” Raquille pun menutup matanya mencoba untuk tidur.


****


Setelah pemuda itu tertidur, dia seketika bermimpi tentang kejadian yang hampir mirip dengan yang telah diperbuatnya pada sepuluh tahun lalu, dimana dia telah membantai para rekan-rekan Guardian-nya dengan kejam.


Di mimpinya tersebut, dia melihat mayat-mayat Morten, Demesa, Erissa, serta rekan-rekannya terkapar tak berdaya di dihadapannya.


“Tidak…!” Teriak Raquille dengan menyesalnya.


“Lihat apa yang kau perbuat Elf iblis… Karena tidak dapat menahan emosimu kau dengan kejamnya membunuh mereka semua…” Terlihat sesosok bayangan hitam dengan mata merah yang tajam sedang berbicara di depannya.


“Kau…” Pemuda itu sontak menatap tajam bayangan tersebut, yang berdiri di depannya itu.


“Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu lagi,” kata bayangan tersebut.


“Pergi kau…!” Teriak pemuda itu, mengusir bayangan hitam tersebut.


“Hahaha… Kau pikir kau bisa lari dari dosamu ini… Bahkan sebentar lagi, keluarga dan kaum-kaummu akan mengalami hal yang sama seperti yang kau lakukan pada mereka semua.”


“Diam…!” Raquille pun menutup kedua telinganya dengan erat tidak mau mendengar perkataan dari sosok tersebut.


“Raquille…!” Tiba-tiba terdengar suara lain sedang memanggilnya.


****


Seketika Raquille terbangun dan melihat Aguirre berada di depannya.


“Raquille…”


Pemuda itu pun langsung berdiri dari sofa tempatnya berbaring sambil melihat ke sekitaran karena masih kebingungan.


“Kau bermimpi buruk lagi?” Tanya Aguirre.


“Iya… Bahkan mimpi itu mirip dengan kejadian saat aku membunuh para Guardian,” jawab Raquille.


“Apakah mungkin bayangan hitam itu datang lagi?”


Raquille pun merespon petanyaan saudaranya tersebut dengan menganggukkan kepalanya.


“Haah… Entah siapa bayangan hitam itu? Aku bahkan sudah tidak tahu caranya untuk tidur karena tidak mau bertemu dengan makhluk itu,” kata Aguirre.


“Entah kenapa bangsa Elfman selalu mendapat kesialan dan kutukan. Dimulai dari ras yang hampir punah karena jumlahnya yang semakin sedikit… Kehilangan kekuatan saat gerhana matahari tiba… Tidak bisa tidur karena takut dihantui oleh sosok hitam di dalam mimpinya… Dan bahkan sekarang menjadi bawahan negeri lain…” Gumam Raquille, meratapi nasib kaumnya.


Namun, saat mendengar pernyataan Raquille yang terakhir, Aguirre sontak langsung menatap tajamnya karena tidak terima dengan hal tersebut.


“Eh… Setidaknya sebelum aku mengetahui bahwa kau adalah salah satu pemimpin negeri itu,” kata Raquille sambil merapatkan kedua tangannya di depan Aguirre karena merasa telah menyinggung pria itu.


“Hei bocah… Asal kau tahu, aku itu salah satu penguasa dan orang penting dari negeri terluas kedua di dunia… Apa itu menurutmu seorang bawahan?” Kata pria itu dengan nada tinggi.


“Kakak, tenang… Aku tidak bermaksud untuk berkata seperti itu.” Melihat Aguirre nampak kesal dengan perkataannya, Raquille pun sontak menenangkan pria itu dengan memukul bagian belakangnya.


“Sudahlah… Lupakan saja itu, sepertinya pertemuan dari COGAN… GANCO… Atau apalah itu akan segera dilaksanakan,” kata Aguirre.


“Haah… Secepat ini…? Memangnya ini sudah siang?” Tanya Raquille.


“Kau tadi itu tidur hampir sekitar lima lamanya, bagaimana kau bisa tahu sekarang jam berapa… Aku bahkan sedari tadi hanya duduk dan mendengar perbincangan orang-orang di dalam kastil ini,” kata Aguirre.


“Ayo… Lebih baik kita pergi sekarang.” Aguirre pun kemudian berjalan keluar ruangan tersebut.


“Baik tuan…” Raquille kemudian mengikuti pria itu dari belakang.


Sesampainya di luar ruangan, salah satu dari dua prajurit yang berjaga di depan pintu mendekati mereka berdua.


“Tuan, pertemuan dari…”


“Aku tahu, pertemuan dari petinggi-petinggi negeri anggota organisasi perjanjian akan segera dilaksanakan.” Aguirre sontak memotong kata prajurit itu karena telah mengetahuinya saat mendengar pembicaraan beberapa orang yang berada di dalam kastil tersebut.


“Iya tuan,” kata prajurit itu.


“Tidak perlu diantar, aku sudah mengetahui tempatnya dimana,” kata Aguirre.


“Eh… Baiklah tuan, sesuai yang kau katakan.”


Setelah mengatakan hal tersebut pada prajurit itu, Aguirre bersama dengan Raquille kemudian pergi berjalan keluar dari kastil tersebut.


**


Setelah kedua Elfman itu berada di luar kastil tersebut, tiba-tiba beberapa prajurit datang dan langsung berbaris rapi di depan mereka.


“Beri hormat pada gubernur letnan jendral…” Para prajurit yang memberi hormat pada Aguirre merupakan prajurit-prajurit Fuegonia yang berhasil selamat karena sebelumnya dilepaskan oleh Gazou, salah satu World Venerate negeri Pavonas.


“Kalian kan prajurit yang sebelumnya berangkat bersama Cyffredinol maupun besama Achilles?” Tanya Aguirre melihat para prajurit tersebut.


“Benar tuan, kami berhasil selamat karena tuan Cyffredinol serta tuan Achilles. Mereka rela dibawa oleh para pasukan kubuh timur demi menyelamatkan nyawa kami,” ucap salah satu prajurit.


“Jadi begitu yah… Kalian tidak perlu khawatir, karena kita akan segera menyelamatkan mereka berdua sepecepatnya,” kata Aguirre.


“Baik tuan…” Respon prajurit tersebut.


“Tetapi tuan. Siapa orang yang bersama dengan anda ini?” Melihat Raquille yang tidak dikenalinya, salah satu prajurit itu sontak bertanya pada Aguirre.


“Dia adalah adikkku Raquille Noroh, World Venerate dari Blueland,” jawab Aguirre.


Mendengar pernyataan dari Aguirre pun para prajurit sempat terkejut karena sebenarnya mereka juga mengetahui apa yang telah dilakukan oleh pemuda tersebut sepuluh tahun yang lalu.


Namun, para prajurit Fuegonia tersebut tidak mau memberikan respon berlebihan karena menghormati pimpinan mereka, Aguirre serta Cyffredinol dan Achilles.


“Kalau begitu, ayo ikut denganku, kita pergi ke pertemuan yang berada di benteng sana,” kata Aguirre memerintahkan para prajurit tersebut untuk mengikutinya sambil menunjuk sebuah benteng tempat pertemuan dari organisasi GANCO.


“Sesuai perintah anda, tuan.” Para prajurit Fuegonia kemudian mengikuti kedua Elfman itu dari belakang.


Sambil berjalan ke tempat tujuan mereka, pandangan Raquille sontak tertuju pada sebuah armada pesawat tempur yang berada di langit kota itu. Dia nampak langsung mengenali armada pesawat itu dengan melihat sebuah lambang yang berada di badan pesawat-pesawat tersebut.



“Kakak, lihat itu… Sepertinya negeri saingan kalian akan ikut serta dalam peperangan ini,” kata Raquille menunjuk armada pesawat tempur itu pada Aguirre.


“Lightio…? Jadi mereka juga anggota dari aliansi kubuh barat?” Aguirre sontak terkejut melihat negeri Lightio ternyata akan ikut serta dalam peperangan benua Greune tersebut.