
“Jadi Venerate yang terakhir tidak bersamamu juga…” Respon Raquille.
“Kalau begitu tuan Chrol, apa yang terjadi padamu selama berada disini? Apa selama ini kejadian itu kau akhirnya telah menjadi Venerate negeri ini?” Raquille kemudian bertanya mengenai bertanya mengenai keadaan dari pria bernama Chrol tersebut, setelah menerima teknik pemindahan ruang dari Vampireman yang sebelumnya dilawan oleh mereka dan akhirnya muncul di wilayah tersebut.
“Sebelum aku menceritakannya, apakah lebih baik kita pergi ke ruangan yang lebih luas dulu?” Ucap Chrol, menyarankan agar mereka berbincang di tempat lain, dimana lorong bangunan tempat berada berada kini memiliki suhu yang dingin, membuat para Venerate, selain Raquille dan Hyphilia menjadi tidak nyaman terus-terusan berada di tempat itu.
“Baiklah…” Ucap Raquille, menyetujui saran dari Chrol, sambil melihat keadaan dari ketiga kembar yang ternyata masing-masing telah menggosokkan telapak tangan mereka akibat kedinginan tidak mengenakan pakaian yang tebal.
“Ikut aku…” Chrol bersama dengan dua Venerate perempuan dari Pavonas lalu mengajak Raquille dan yang lain menuju ke suatu tempat.
***
Beberapa saat kemudian, mereka semua kini berada di dalam ruangan pertemuan yang masih berada di dalam bangunan yang sama, dimana dalam ruangan telah tersedia sebuah perapian untuk menaikan suhu ruangan agar tidak sedingin ketika mereka berada di dalam lorong bangunan sebelumnya.
Chrol pun mulai menceritakan mengenai kemunculan secara tiba-tiba dirinya di wilayah Briseria Timur Laut, tepatnya di kota bernama Kirutsk.
Berbeda dengan cerita dari Venerate Fuegonia bernama Yugro, yang muncul di sekitar wilayah negeri Midauz, dimana Chrol saat muncul di negeri tersebut, dirinya mendarat di sebuah altar di dalam sebuah kuil tempat pemujaan para bangsa Slivanic.
Para warga Pavonas yang sedang melakukan ritual keagamaan mereka, sempat mereka terkejut hingga beberapa dari mereka lari ketakutan keluar dari kuil tersebut.
Akan tetapi, sebagian dari para warga tiba-tiba langsung bersujut dihadapan pria itu, yang membuat dirinya sontak menjadi kebingungan.
Kebingungan Chrol menjadi bertambah ketika para warga Pavonas yang berada di dalam kuil tersebut lantas menyorakinya sebagai salah satu dewa bangsa Slivanic yang turun ke dunia untuk melihat para kaum pemujanya.
Salah satu warga lantas bertanya mengenai nama dari pria tersebut, dan lantas dijawab, hingga membuat merekapun lebih terlihat senang sambil menyoraki pria itu sebagai dewa Chrol.
Di saat yang bersamaan, salah satu Venerate perempuan yang kini sedang bersamaya, yang padasaat itu merasakan tekanan kekuatan Chrol datang memasuki kuil. Perempuan itu lantas mengambil kesimpulan bahwa Chrol bukanlah seorang dewa dari bangsa Slivanic melainkan iblis yang sengaja muncul untuk mengacaukan negeri Pavonas.
Tanpa pikir panjang, perempuan tersebut langsug menyerang Chrol, lantas membuat pria itu pun menghindar kemudian membalasnya.
Saat pertarungan mereka pecah, perempuan yang merupakan pemimpin kota Kirutsk, dengan mudah dikalahkan oleh Chrol karena memiliki tingkatan kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan pria tersebut.
Setelah pertarungan tersebut dimenangkan oleh Chrol, pria itu pun menjelaskan bahwa dia bukanlah dewa ataupun iblis yang disangka oleh para warga maupun perempuan tersebut. Chrol menjelaskan bahwa dia merupakan Venerate yang berasal dari Fuegonia, dan entah bagaimana ketika terjadi suatu konflik dirinya menerima sebuah teknik dari Venerate musuh dan tiba-tiba muncul di tempat itu.
Chrol awalnya menolak saran tersebut dan lebih memilih untuk kembali ke negeri asalnya, namun setelah melihat-lihat keadaan dari kota, daerah, serta wilayah tersebut, pria itu pun mengubah pikirannya, dimana kekuatan yang dimiliki olehnya memang sangat dibutuhkan untuk para warga yang tinggal di tempat bersuhu sangat rendah tersebut.
Setelah menyetujui hal tersebut, Chrol kemudian berangkat ke kota Vosmoc bertemu dengan Erissa, dimana Erissa sendiri langsung menyetujui Chrol bergabung dan mengisi posisi yang disarankan, tanpa melihat bahwa sebenarnya negeri Pavonas sedang bersitegang dengan negeri asal pria itu.
“Cerita yang mengharukan… Aku tidak menyangka bahwa kau akan memilih untuk menetap, sementara keluargamu pasti selama ini sedang mencarimu tuan Chrol,” respon Raquille.
Mendengar respon dari Raquille, Chrol pun menjelaskan mengenai keadaannya di negeri Fuegonia, dimana dirinya ternyata sering dikucilkan oleh ayahnya karena tidak bisa menjadi sekuat seperti saudara-saudaranya. Chrol menjelaskan bahwa dia telah berjuang keras untuk membanggakan ayahnya, namun ayahnya tersebut tidak pernah menganggap perjuangan itu.
Merasa menjadi Venerate yang tampak tidak berguna di negerinya sendiri, Chrol kini nampak senang bahwa dirinya bisa berguna bagi negeri Pavonas.
Raquille pun mengerti dengan penjelasan pria itu sambil menganggukkan kepalanya, paham mengapa pria tersebut lebih memilih menetap di Pavonas daripada harus kembali ke Fuegonia lagi.
“Baiklah, kurasa ceritaku sudah cukup… Sekarang lebih baik kita saling mengenal satu sama lain,” ucap Chrol.
“Semuanya… Perkenalkan namaku adalah Chrol Bluntill, premier dari daerah Kirutsk…” Lanjut Chrol, memperkenalkan dirinya serta jabatan yang dipegangnya saat ini.
Setelah perkenalan diri Chrol, dua Venerate perempuan yang bersamanya sontak berdiri untuk melakukan hal yang sama.
“Tuan-tuan dan nona-nona… Perkenalkan namaku adalah Sargyna dari clan Dorgurova… Aku adalah Venerate yang menjabat sebagai mayor di kota Kirutsk… Aku juga merupakan orang yang diceritakan pernah bertarung bersama tuan Chrol…” Ucap salah satu Venerate perempuan, yang ternyata merupakan Venerate perempuan yang sempat menganggap Chrol sebagai sesosok iblis ketika pertama kali bertemu.
“Semuanya… Perkenalkan namaku adalah Alta dari clan Krycnan… Sama seperti nona Sargyna yang menjabat sebagai mayor, aku juga merupakan mayor dari kota ini sendiri…” Ucap Venerate perempuan yang satunya memperkenalkan dirinya, serta jabatannya sebagai pemimpin dari kota bernama Kyacha tersebut.
Setelah perkenalan diri para Venerate Pavonas, kita para Venerate yag baru saja bergabung satu per satu memperkenalkan nama mereka masing-masing.
“Aku tidak menyangka bahwa nona Erissa akan menunjuk kalian semua ke wilayah ini…” Respon Chrol, merasa senang melihat Raquille dan yang lain, termasuk Hyphilia yang menjadi pemimpin dari tersebut datang menemui mereka.
“Aku pikir diantara tuan Arn, tuan Asulf, ataupun nona Anhilde harus mengisi posisi premier dari daerah Kyacha,” lanjut Chrol, menyarankan salah satu dari ketiga kembar untuk menjadi pemimpin daerah di atas kota Kyacha, karena ketiganya memenuhi syarat sebagai Land Venerate.
Mendengar hal itu, Asulf serta Anhilde secara bersamaan langsung menatap saudara kembar tertua mereka yang tidak merupakan Arn, dimana pria itu nampak lebih cocok untuk mengisi posisi kosong tersebut.