
–July 12th 3029–
Keesokan harinya, tampak Clava berjalan memasuki tempat peristirahatan para prajurit kubuh barat. Pria itu terlihat kebingungan entah darimana dia pergi sebelumnya.
“Hei Clava, apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Vingto setelah melihat raut wajah pria Serepusco itu.
“Tidak… Hanya saja aku mencari tuan Raquille. Dia sedari tadi tidak kelihatan. Kemana perginya?” Jawab Clava.
“Raquille? Oh, Elfman itu yah… Aku tidak melihatnya,” ucap Vingto.
“Percuma saja kau mencari Elfman itu. Dia sudah pergi bersama pasukan Ledyana sedari malam tadi.” Tiba-tiba Zero menyambung pembicaraan Clava dan Vingto, memberitahukan kemana perginya Raquille.
“Dia sudah pergi…? Memangnya kemana?” Tanya Clava.
“Aku yakin Elfman itu pergi bersama pasukan Ledyana untuk menyerang kubuh timur,” jawab Zero.
Malam hari sebelumnya setelah perbincangan Raquille dan Azouraz tentang letak kristal berpijar yang dimiliki kubuh timur, mereka bersama pasukan Ledyana kemudian bergegas pergi meninggalkan kota Dupstepa.
Disaat mereka meninggalkan ibukota Nascunia, Zero sempat melihat mereka, namun pria Calferland itu tidak menghiraukannya.
“Jadi kemungkinan mereka pergi menyerang kubuh timur?” Ucap Clava, terkejut mendengar penjelasan dari Zero.
“Biarkan saja dia… Tugas kita hanya sampai disini. Selanjutnya kita serahkan saja pada pasukan kubuh barat yang lain,” ucap Zero.
***
Kemudian di lautan, terlihat kapal dari pasukan Ledyana berlayar ke suatu tempat yang masih belum diketahui.
“Hei, kau bilang kita mau menghancurkan senjata kubuh timur yang berada di negeri Graina… Kenapa kapal kita sekarang berlayar ke arah lain?”
Pada suatu ruangan di kapal tersebut, Raquille membentak Azouraz karena tujuan mereka kini mengarah ke timur, dan bukannya ke arah utara, dimana letak negeri Graina berada.
“Tolong tenang dulu tuan Raquille. Untuk masuk ke negeri Graina kita harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu…”
“Karena aku yakin kubuh timur sekarang sudah mengetahui bahwa negeri Ledyana telah membelot pada mereka,” ucap Azouraz, menjelaskannya pada Raquille.
“Heh, terserah apa katamu, asalkan tujuan kita tidak akan berubah nantinya.”
“Tenang saja, tujuan utama kita tetap ke negeri Graina… Jadi, mohon bersabarlah lebih dahulu sebelum kita sampai ke tempat tujuan kita yang pertama.”
Setelah penjelasan Azouraz selesai, Raquille seketika meninggalkan ruangan tersebut.
***
Berpindah ke wilayah Frieden yang dikuasai oleh pasukan kubuh timur, tampak pasukan kubuh barat yang terdiri dari pasukan Fuegonia serta pasukan Erstleland sedang melawan pasukan-pasukan musuh yang berada daerah tersebut.
“Kukira setelah kekalahan Gimoscha dan Geracie keadaan akan menjadi lebih membaik… Mereka bahkan sekarang telah menganggap perlawanan kita ini adalah masalah yang serius,” ucap Anselm, World Venerate dari negeri Erstleland.
“Namun sekarang, kita tetap tidak boleh ragu untuk menyerang…” Balas Aguirre.
Sambil berbincang kedua World Venerate itu dengan mudah mengindari setiap serangan dari para prajurit kubuh timur, dan cepat melancarkan serangan balasan melumpuhkan para prajurit tersebut.
“Aku ingin segera mengalahkan pasukan Riemic, dan setelah itu menyelamatkan kedua saudaraku,” lanjut Aguirre berkata.
“Kau benar tuan Aguirre, ini bukan saatnya kita takut dengan ancaman mereka… Jika kubuh timur berhasil menang, maka tidak akan ada lagi kedamaian di benua ini.”
“Wooahh…!” Tiba-tiba pasukan kubuh timur yang lebih banyak datang untuk menyerbu.
Semua pasukan kubuh barat seketika bersiap untuk menghadang kedatangan mereka semua.
“Tunggu sebentar… Biar aku saja.” Namun, seketika Aguirre memerintahkan pasukannya untuk membiarkan mereka.
“Ice shaping… Mythical ice wyrm…” Aguirre menciptakan seekor ular naga es.
Kemudian Aguirre melompat naik ke atas ular naga es tersebut.
Di depannya, prajurit kubuh timur langsung membentuk sebuah formasi.
“Tekhnika ekzortsista…” Mereka secara bersamaan melancarkan serangan kea rah Aguirre.
“Ice shaping… Ice giant humanoids…” Dengan sigap pria Elfman itu menciptakan tiga raksasa es untuk memblokade serangan para prajurit kubuh timur.
Serangan yang dilancarkan mereka tidak sedikitpun megoyangkan pertahanan dari raksasa-raksasa es tersebut hingga para prajurit pun terkejut melihatnya.
Aguirre lalu mengarahkan raksasa-raksasa es tersebut mengobrak-abrik formasi pasukan musuh.
Kubuh timur kini menjadi ketakutan melihat empat makhluk es ciptaan Aguirre tersebut. Tanpa pikir panjang mereka seketika pergi melarikan diri meninggalkan wilayah Frieden dengan menaiki pesawat tempur mereka.
“Teknik yang sangat hebat tuan Aguirre…” Ucap Anselm, terkesan melhat kemampuan yang diperlihatkan oleh pria Elfman itu.
“Hahaha… Kalau bukan karena kecerdasan adikku, kami selamanya hanya bisa menggunakan elemen es untuk membekukan benda saja,” balas Aguirre.
***
Berkilo-kilo meter dari tempat Aguirre, Anselm serta para prajurit kubuh barat berada, dimana letak dari Riemic, negero yang menjadi salah satu anggota kubuh timur, tampak Saulovas Revicius, pemimpin dari negeri tersebut merasa kesal mendengar informasi bahwa para pasukannya telah dipukul mundur oleh pasukan kubuh barat.
“Anselm Raenareon… Ternyata para Venerate dari Erstleland bisa memperlihatkan kegigihan mereka… Kukira mereka hanya bisa bersembunyi di belakang Frieden saja.”
“Tetapi tuan Saulovaz, kita juga harus berhati-hati pada salah satu World Venerate yang menyerang wilayah kekuasaan kita… Kemampuan orang itu juga tidak bisa dianggap remeh.” Kemudian terlihat seorang pria yang bersama dengan Saulovas, sedang memperingati pemimpin negeri Riemic itu.
“Ada apa dengan World Venerate yang satunya lagi?” Tanya Saulovas, nampak penasaran.
“World Venerate itu berasal Fuegonia, tetapi dia adalah salah satu dari kaum Elfman… Bukan hanya itu saja, dia adalah putra dari World Venerate terkuat, Razoranos Noroh dan pengguna kekuatan makhluk suci sama sepertimu,”jawab pria yang bersama Saulovas.
“Putra Razoranos Noroh yah… Kedengarannya sangat menarik.” Mendengar penjelasan dari pria, Saulovas pun tampak merasa bersemangat untuk berhadapan dengan pria Elfman yang bicarakan tersebut.
Disamping pembicaraan mereka, tiba-tiba salah seorang prajurit datang.
“Maaf mengganggu, tuan Saulovas, tuan Javor. Kita mendapatkan sebuah panggilan,” ucap prajurit itu sambil memberikan sebuah alat komunikasi ke arah Saulovas.
“Entah itu panggilan dari siapa lagi… Apa kau tidak melihat bahwa kini aku masih kesal karena wilayah yang direbut telah kembali ke tangan musuh kembali…” Ucap Saulovas dengan nada suara tinggi menolak untuk menjawab panggilan tersebut.
“Tapi tuan Saulovas…” Prajurit itu mendekati pemimpin negeri Riemic tersebut dan kemudian membisikan sesuatu.
Raut wajah Saulovas sontak menjadi terkejut setelah mendengar bisikan prajurit itu. Pria itu langsung mengambil alat komunikasi tersebut, lalu menjawabnya.
“Salam Yang mulia…”
“Saulovas, kenapa kau lama sekali menjawab panggilanku?”
“Mohon maaf Yang mulia, aku tidak bermaksud untuk menghiraukanmu,” Ucap Saulovas, terlihat segan berbicara dengan seseorang misterius melalui alat komunikasi tersebut.
“Sebenarnya ada apa anda menghubungi saya?” Tanya pemimpin negeri Riemic itu.
“Yah, aku langsung ke intinya saja. Aku ingin kau dan negeri Riemic membelot ke kubuh barat secepatnya.”
“Apa…? Membelot ke kubuh barat kata anda?” Saulovas kembali terlihat setelah mendengar ucapan pria yang disebutnya sebagai Yang mulia itu.
“Apa maksud anda? Kenapa anda meminta hal itu? Padahal sebelumnya anda mengatakan bahwa kami lebih baik kami berada pada kubuh timur?”
“Ikuti saja perintahku. Ini adalah bagian dari rencana kita.”
“Baiklah, sesuai perintah anda…” Saulovas langsung menyetujui hal tersebut, karena merasa takut untuk menolak perintah dari orang misterius itu.
“Bagus… Tapi, kau ingat satu hal, jika Riemic sudah tergabung ke kubuh barat, kau tidak boleh melupakan bahwa kau tetap loyal kepada kubuh utara.”