The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 270 - Sebuah seleksi



Ketiga Elfman bersaudara itu pun secara bergantian melancarkan serangan proyeksi ke arah Warlock, walaupun mampu dihindari dengan lincah oleh World Venerate negeri Einor tersebut.


Akan tetapi, dalam benak Warlock, pria itu nampak terkejut merasakan bahwa dirinya hanya mampu untuk menghindari segala serangan yang dilancarkan oleh para ras Elfman tersebut. tidak ada satupun celah bagi dirinya untuk bisa melancarkan serangan balasan, karena baik Ackerlind, Achilles, serta Aguirre tidak bisa memberikannya kesempatan untuk menyerang.


**


Disamping itu, tampak Ruvaen berkonsentrasi menciptakan sebuah serangan saat Warlock sedang sibuk-sibuknya menghindari serangan yang dilancarkan oleh para keponakannya.


“Geheimer lichtzauberspruch… Heiliges vernichterlicht…”


Dalam sekejap, pria Elfman itu meluncurkan serangan proyeksi elemen cahaya dalam skala yang besar ke arah Warlock, serta tiga Elfman yang sedang menyerangnya.


Karena sudah mengetahui luncuran serangan dari Ruvaen, dalam waktu yang tepat Ackerlind, Achilles, dan Aguirre langsung bergerak menghindarinya, hingga hanya World Venerate Einor itu pun yang menerima serangan proyeksi elemen cahaya tersebut.


Tiba-tiba sebuah efek ledakan yang besar tercipta ketika serangan proyeksi elemen cahaya itu menghantam Warlock.


Akan tetapi, setelah efek ledakan tersebut lenyap, Warlock yang tampak terluka setelah menerima serangan dari Ruvaen, seketika mengakses kekuatannya menyerap energi yang berada di alam, serta para prajurit Elfman yang berada di sekitarnya, hingga membuat luka-lukanya dalam sekejap sembuh.


“Teknik sihir korupsi, yang termasuk diantara teknik-teknik sihir hitam… Mampu untuk mencuri energi dari Venerate lain, namun memiliki sebuah batas tertentu dalam pemakaiannya,” ucap Ruvaen, menjelaskan mengenai kemampuan yang diperlihatkan oleh World Venerate bernama Warlock tersebut kepada Ackerlind dan yang lain.


“Ternyata kau bisa mengetahui banyak mengenai sihir yang aku kuasai… Karena seranganmu yang seperti para Venerate pembasmi, aku bahkan harus menggunakan teknik seperti ini…” Balas Warlock, bereaksi mengenai penjelasan Ruvaen, serta serangan yang baru saja diterimanya, yang mirip seperti para Venerate dari bangsa Slivan.


“Aku juga tidak menyangka bahwa pergerakan kalian sangatlah hebat dengan menggunakan senjata itu… Sangat diharapkan bagi anak-anak dari sang raja Elfman,” lanjut World Venerate itu berkata, terkesima dengan kemampuan Ackerlind, Achilles, serta Aguirre, yang bisa membuat sedikit tersudut ketika mereka menyerang secara bergantian ke arahnya.


Tanpa pikir panjang, Warlock pun mulai untuk serius, hingga membuatnya harus meningkatkan kekuatan sampai memancarkan pancaran proyeksi energi dalam jumlah yang besar. Tidak lupa pria itu kemudian memunculkan sebuah tongkat sihir yang merupakan senjata suci miliknya.


**


“Kalian bertiga mundur dulu… Biar kali ini paman yang menanganinya,” ucap Ruvaen, juga terlihat mulai serius.


Ruvaen kemudian memunculkan sebuah pedang yang juga merupakan senjata suci miliknya untuk mengimbangi kekuatan dari World Venerate Einor yang berada di depannya.


***


Berpindah di sisi lain, dimana Arn bersama dengan para murid Land Venerate hanya bisa terdiam di dalam hutan tersebut, tidak tahu harus melakukan apa.


Disamping itu, Freynile yang sebelumnya hanya bisa dibantu untuk berjalan kini sudah tidak sadarkan diri dan harus dibantu oleh beberapa rekannya memulihkan diri.


“Kenapa kita harus diberi misi seperti ini?” Ucap salah satu murid Land Venerate, bertanya-tanya mengapa mereka harus mendapatkan misi pergi ke tempat tersebut, yang ternyata memiliki resiko tinggi sampai membuat salah satu rekan mereka harus kehilangan nyawa.


“Sigmar… Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan kalian semua mati di tempat ini… Karena itu aku terpaksa harus melakukan satu hal yaitu menyerah pada World Venerate itu…”


“Arn… Jangan bilang kau ingin bergabung menjadi Venerate negeri ini…” Murid akademi bernama Sigmar itu pun lantas terkejut mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Arn.


“Kita tidak mempunyai pilihan lain… Entah apa para Venerate Blueland mengetahui keadaan kita yang berada disini atau tidak… Karena itu, jalan satu-satunya adalah bergabung ke negeri Ereise agar kita semua bisa tetap hidup,” ucap Arn sambil menatap Freynile yang masih tidak sadarkan diri.


Pemuda itu kemudian datang mendekati dua murid perempuan yang sedang memulihkan keadaan dari Freynile.


“Sedikit lagi… Karena energinya terkuras habis, kami harus membantu Freynile agar dia bisa mampu kembali menyerap energi di alam dengan sendirinya,” jawab murid akademi bernama Eira.


Mendengar hal tersebut, Arn pun nampak merasa lega karena keadaan dari Freynile ternyata tidak terlalu parah seperti yang dipikirkan olehnya.


***


Setelah kedua murid akademi yang membantu Freynile agar bisa kembali menyerap energi alam, tak berapa lama kemudian Elfman perempuan itu akhirnya bisa tersadar kembali dengan kondisi yang lebih baik.


“Arn…” Ucap Freynile, menyebut nama Arn saat membuka mata, orang pertama yang dilihat olehnya merupakan pemuda tersebut.


“Akhirnya kau sadar…” Arn pun merasa senang melihat Freynile tersadar sampai membuatnya langsung memeluk Elfman perempuan itu.


“Ekh…” Karena dipeluk di depan para murid-murid Land Venerate, Freynile nampak sedikit canggung hingga perlahan-lahan harus melepaskan pelukan Arn padanya.


“Jangan khawatir… Aku baik-baik saja,” ucap Freynile, menyatakan dirinya sudah tidak apa-apa.


“Tapi… Steinmir…” Lanjutnya ketika menyebut murid Land Venerate yang dibunuh oleh Modolf sebelumnya.


Mendengar hal tersebut Arn serta murid-murid akademi yang lain pun menjadi murung karena sudah tidak tahu bagaimana keadaan dari jasadnya rekan mereka, yang terpaksa harus ditinggal.


“Freynile… Dengan terpaksa kita harus menyerah pada World Venerate itu,” ucap Arn.


Freynile pun menjadi diam, memikirkan pilihan yang tepa tapa harus menyetujui hal yang dikatakan oleh Arn atau tidak.


“Kurasa itu memang pilihan yang tepat…” Namun, tak berapa lama Elfman perempuan itu langsung menyetujui Arn karena melihat keadaan mereka yang memang tidak mungkin bisa menang melawan Modolf, sang raja Ereise, serta tidak tahu apakah bala bantuan dari negeri Blueland akan datang membantu mereka.


“Oh, jadi kalian mau menyerah saja…”


Tiba-tiba Modolf muncul di dekat mereka, yang membuat semua murid Land Venerate pun langsung bersiaga terhadap raja Ereise tersebut.


“Bisa saja kalian menyerah, namun aku memiliki sebuah syarat untuk kalian,” ucap Modolf.


“Apa syarat itu?” Mendengar hal tersebut Arn pun lantas bertanya sambil merasa curiga mengenai syarat yang akan diberikan oleh raja Ereise tersebut.


“Aku harus melakukan seleksi bagi para Venerate luar yang akan bergabung ke negeri Ereise…” Jawab Modolf.


“Seleksi… Berarti tidak semua diantara kita yang bisa bergabung dengan negeri Ereise.” Arn pun lantas terkejut ketika mengetahui maksud dari Modolf.


“Benar sekali… Kalian harus membuktikan diri kalian masing-masing dengan saling membunuh di tempat ini,” ucap Modolf dengan ekspresi menyeringai sambil mengangkat salah satu tangannya ke depan.


Seketika diagram-diagram sihir muncul di bawah kaki masing-masing para murid-murid akademi sihir.


Merasa berbahaya dengan hal tersebut, Arn pun langsung melompat ke arah Freynile, mendorong Elfman perempuan itu keluar dari diagram sihir yang diinjaknya.