The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 47 - Kemunculan tiba-tiba



Bohrneer yang telah terkapar kembali mengingat ingatan masa lalunya, dimana saat keluarganya dibunuh tepat di depan matanya.


*


“Tidak… Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa menjadi lebih kuat untuk membalaskan dendam ibu, kakak, bahkan paman yang telah dibunuh oleh orang-orang itu. Aku harus menang…” Gumam dalam hati pria itu menyalahkan dirinya yang dirasanya terlalu lemah.


**


Saking kecewanya pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengimbangi kekuatan dari petarung Cielas itu, tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan hawa panas.


**


Berpindah pada Urano yang masih melayang di udara, setelah memperkirakan bahwa Bohrneer sudah dikalahkannya, perhatian pria itu kemudian tertuju pada Raquille dan Venere yang berada di bawah.


“Apa…? Venere sudah dikalahkan.” Betapa terkejutnya dia melihat saudaranya telah terkapar tak berdaya dihadapan pemuda Elfman itu.


Sontak pria itu dengan cepat meluncur ke bawah mendekati Raquille. Namun, Raquille yang melihat hal tersebut hanya berdiam diri di tempatnya dan dengan santainya memperhatikan pria Cielas itu mendekat hendak menyerangnya.


Saat berada satu titik di hadapan Raquille, Urano langsung mengayunkan tombak esnya, berniat menyerang Raquille.


Namun, seketika hal tersebut langsung dihadang oleh Bohrneer yang tiba-tiba muncul di hadapan pria Cielas itu.


“Fire burst… Strong axe…” Bohrneer pun langsung melancarkan serangan tebasannya, yang sontak membuat tombak es dari Urano seketika hancur dan menghempaskan pria itu.


Urano yang terhempas sempat terseret-seret di tanah, namun dengan sigap dia memutar tubuhnya kembali berdiri.


“Jadi kau masih bisa bertahan yah…”


Urano nampak memanggil kembali papan seluncurnya lalu menaikinya. Tanpa pikir panjang, pria itu kembali meluncur ke arah Raquille dan Bohrneer untuk mencoba menyerang mereka sekali lagi.


Melihat hal tersebut, Bohrneer seketika mengangkat salah satu tangannya ke atas menciptakan sebuah bola api, yang lama-kelamaan semakin membesar, sama seperti yang dia lakukan saat berhadapan dengan Raquille sebelumnya.


“Tanvark flame… Holy ball of fire…” Pria itu pun langsung meluncurkan serangan elemen api tersebut ke arah Urano.


Seketika Urano berhenti setelah melihat serangan api dari itu Bohrneer meluncur ke arahnya.


“Blue sky ice… Mirror ice ring…” Tiba-tiba cincin yang melayang di atas kepalanya berubah ukuran menjadi lebih besar dan langsung menghalangi serangan bola api Bohrneer layaknya sebuah perisai.


Tetapi, karena saking kuatnya tekanan bola api Bohrneer itu, hingga membuat cincin tersebut seketika hancur.


“Aaahhh...!” Pria Cielas itu seketika terhempas ke jarak yang cukup jauh oleh serangan bola api itu dan membuatnya langsung mengalami kekalahan.


Setelah mengalahkan pria itu, Bohrneer


nampak kembali ke wujudnya semula.


“Wuu… Huu…” Seru pria itu berhasil mengalahkan lawannya.


“Tuan Raquille, aku berhasil mengalahkan dua orang hari ini… Walaupun satunya dibantu olehmu.”


“Bukankah kali ini aku membantu juga?”


“Eh, iya benar juga.”


Setelah itu, Raquille nampak memainkan jarinya kembali untuk menghilangkan lingkaran sihir pada drone yang berada di dekat mereka.


***


Hal itu sontak membuat layar pada arena turnamen yang sebelumnya menjadi hitam kini telah kembali normal.


“Eh… Layarnya berfungsi kembali,” kata Rox.


**


“Raquille Noroh dan Bohrneer Flaus dari tim Fuegonia A berhasil mengalahkan Urano Redeglidei dan Venere Redeglidei dari tim Cielas.”


Setelah mengumumkan hasil pertarungan tersebut, layar yang berada di arena turnamen itu langsung memperlihatkan perolehan poin dari seluruh tim.


Fuegonia B (48), Fuegonia A (22), Lightio (22), Cielas (13), Asimir (12), Vielass (8), Mormist (4), Neodela (3), Machora Tira (2).


Nampak perolehan poin dari tim Fuegonia B jauh mendominasi dari seluruh tim yang ada.


***


Di lain tempat, tampak Saturno, salah anggota tim Cielas terlihat kesal setelah mendengar dua anggota timnya telah dikalahkan oleh Raquille dan Bohrneer.


“Sialan… Jadi tinggal aku saja yang tersisa sekarang,” umpatnya dengan kesal.


**


Lalu memperlihatkan Neyndra dan Heinz, yang sebelumnya meluncur dari atas puncak bukit dengan perahu es yang diciptakan oleh Raquille.


“Kurang ajar sekali si rambut uban itu.” Nampak perempuan itu masih merasa kesal akan apa yang diperbuat Raquille sebelumnya.


“Hei nona, apa kau tidak mau turun? Sudah berapa lama kita berada di atas perahu es ini?” Tanya Heinz.


“Kau turun dan cari lawanmu saja. Aku mau tinggal disini,” jawab Neyndra.


“Baiklah kalua begitu.”


Baru saja pria itu hendak turun dari perahu es tersebut, tiba-tiba dalam sekejap mata Maeve, Vampireman dari tim Machora Tira muncul di hadapan mereka berdua dan langsung mengayunkan pedangnya pada kedua orang yang berada di atas perahu itu.


“Awas…!” Teriak Heinz.


Heinz dan Neyndra pun dengan sigap langsung bergerak ke kedua sisi ujung perahu tersebut untuk menghindari serangan dari Vampireman wanita itu.


Sontak perahu es itu seketika terbelah menjadi dua akibat serangan tebasan dari Vampireman tersebut.


Dengan refleks Neyndra dan Heinz pun langsung melancarkan serangan secara bersama-sama pada Vampireman yang berada di depan mereka. Neyndra nampak melancarkan serangan proyeksi energi berwarna merah dari tangan yang masih berwujud cakar tersebut. Sedangkan Heinz terlihat melancarkan serangan proyeksi elemen api dari kapaknya.


Melihat kedua serangan tersebut, dengan sekejap mata Vampireman perempuan itu tiba-tiba menghilang dan muncul di tempat yang cukup jauh dari jangkauan mereka.


“Henokh, kurasa kita harus melawannya,” kata Neyndra.


“Namaku Heinz,” kata Heinz tidak terima namanya salah disebutkan.


“Ya itu maksudku, terserah padamu saja.”


Neyndra pun sontak melompat dari perahu es yang terbela itu dan bersiap melawan Maeve. Begitu juga dengan Heinz yang nampak melompat dari perahu es itu.


“Jadi, aku akan melawan dua orang sekaligus,” kata Maeve.


“Heh... Itu tidaklah menjadi masalah bagiku,” lanjutnya.


Vampireman wanita itu langsung mengaktifkan kekuatan dari pedangnya, yang langsung memancarkan proyeksi energi berwarna putih. Dia kemudian langsung melancarkan serangan proyeksi energi berwarna itu secara beruntun.


Terlihat serangan beruntun tersebut dengan cepatnya meluncur ke arah Heinz dan Neyndra.


Dengan sigap kedua itu pun langsung menangkis serangan beruntun tersebut. Neyndra terlihat membelokkan serangan tersebut dengan cakarnya.


“Akh...!” Namun, berbeda Heinz, karena tekanan kekuatan dari serangan tersebut nampak terlalu kuat untuknya, sontak membuat pria itu langsung terhempas.


“Henokh, kau tidak apa-apa?” Melihat rekan setimnya itu terhempas, dengan cepat perempuan itu langsung menghampirinya.


“Sudah kubilang namaku adalah Heinz.” Heinz nampak masih bisa bertahan setelah terhempas dan malah memarahi perempuan itu karena salah menyebut namanya kembali.


“Tak usah pikirkan itu, ayo kita lari dulu.”


Neyndra lalu membantu Heinz untuk berdiri. Kemudian kedua orang itu berlari memasuki hutan yang berada di dekat tempat itu.


“Mau kemana kalian?” Melihat kedua orang itu melarikan diri darinya, Maeve sontak langsung mengejarnya.


**


“Nona bagaimana cara kita mengalahkannya? Vampireman itu memiliki kemampuan berpindah tempat dalam sekejap mata. Kita hanya beruntung bisa menghindari serangannya tadi.”


“Benar juga... Salah satu dari kita harus mengalihkan perhatiannya. Dan satunya diam-diam menyerangnya dari belakang.”


Saat berlari di dalam hutan kedua orang itu pun nampak menyusun sebuah rencana untuk bisa mengalahkan Vampireman perempuan itu.


Mendengar perkataan Neyndra barusan, tiba-tiba Heinz mengingat pertarungannya dengan Giantman sebelumnya, yang secara tidak sengaja pria itu mengeluarkan serangan elemen angin.


“Nona, kurasa aku bisa menggunakan elemen angin.”


“Kau bisa menggunakannya?” Tanya Neyndra.


“Iya, tapi aku tidak terlalu yakin,” jawab Heinz.


“Kalau begitu cepat sembunyi, biar aku yang mengulur waktu,” kata Neyndra menyuruh pria itu untuk bersembunyi terlebih dahulu.


“Eh… Baiklah.” Sontak Heinz pun langsung menyetujunya, namun masih merasa ragu rencana tersebut bisa berhasil.


Pria itu pun kemudian pergi bersembunyi dibalik pepohonan. Serta Neyndra menghentikan langkahnya dan menunggu Vampireman itu datang menghampirinya.


Tak berselang lama, Vampireman perempuan itu pun sampai di tempat itu.


“Jadi kau mau melawanku? Tapi, dimana pria itu?” Tanya Maeve melihat ke sekitar, mencari keberadaan Heinz.


“Dia sudah pergi mendahuluiku,” jawab Neyndra.


“Tak usah fokus mencari orang yang tidak berada di sini... Majulah dan lawan aku sekarang,” lanjutnya, menantang Vampireman itu.


“Heh… Kau yang minta.”


Seketika Vampireman itu menghilang dengan sekejap dan tiba-tiba muncul di samping Neyndra dengan langsung mengayunkan pedangnya pada perempuan itu.


Sontak hal tersebut membuat Neyndra dengan refleks langsung menangkis serangan tersebut menggunakan cakarnya.


“Akh..!” Namun, karena kuatnya tekanan dari serangan tersebut, hingga membuat perempuan itu seketika langsung tersungkur ke tanah.


Vampireman itu kemudian kembali mengayunkan pedangnya saat perempuan itu telah tersungkur di tanah.


Melihat hal tersebut, dengan cepat Neyndra memutar tubuhnya dan kembali berdiri.


**


“Sial… Bagaimana ini, jika aku tidak bisa mengeluarkan elemen angin seperti tadi.” Heinz yang bersembunyi di balik pepohonan sontak merasa ragu untuk melakukan rencana mereka.


*


“Tapi, kenapa aku bisa mengeluarkan elemen angin? Memangnya clan Flaus memiliki kemampuan seperti itu?” Gumam pria itu dalam hati, bertanya-tanya kenapa dia tiba-tiba bisa menggunakan kemampuan tersebut.


**


“Ah, bodoh… Untuk apa aku memikirkan hal itu sekarang.”


“Aku harus fokus sekarang.”


Heinz pun kemudian memperhatikan pertarungan Neyndra dan Maeve, mencari celah kesempatan untuk bisa menyerang Vampireman wanita itu.


**


Neyndra yang telah kembali berdiri terlihat menciptakan sebuah serangan bola api.


“Flame projection… Flame ball…” Perempuan kemudian meluncurkan serangan tersebut ke arah Maeve.


Namun, dengan mudahnya Vampireman itu menghindari serangan bola api Neyndra dan langsung mendekatinya.


“Flame projection… Flame cyclone…” Dengan cepat Neyndra kemudian menciptakan pusaran api, sehingga membuat pergerakkan Maeve terhenti.


Pusaran api yang diciptakan oleh perempuan itu nampak berlangsung cukup lama sehingga membuat Vampireman itu tidak bisa berbuat apa-apa.


Namun, seketika Maeve terpikir akan sesuatu, dia terlihat memasang ekspresi senyuman menyeringai dan dengan sekejap menghilang.


Tiba-tiba Vampireman itu muncul di dalam pusaran api tersebut dan sontak langsung menendang Neyndra keluar.


“Akh…!” Neyndra yang terhempas oleh tendangan Maeve langsung menabrak sebuah pohon yang berada di dekatnya.


Karena nampak kesakitan akibat tabrakan tersebut, Neyndra pun terlihat kesulitan untuk berdiri.


“Lebih baik kau menyerah saja,” ucap Vampireman itu.


Saat hampir pasrah dengan keadaanya karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tiba-tiba perempuan itu melihat Heinz keluar dari tempat persembunyiannya dan kini berada di belakang Vampireman itu.


“Menyerah katamu? Bahkan bila kau menyiksaku, aku tetap tidak akan menyerah pada makhluk hina sepertimu,” ucap Neyndra memanas-manasi Vampire itu untuk mengalihkan perhatiannya.


“Apa kau bilang…?” Maeve seketika menjadi terprovokasi oleh perkataan perempuan itu.


Dia pun langsung berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya. Nampak pedangnya kembali memancarkan proyeksi energi berwarna putih.


Tetapi, saat Vampireman itu hendak melancarkan serangannya, dengan cepat Heinz langsung mengibaskan kapaknya sehingga memunculkan pusaran angin yang cukup besar.


Hal itu sontak membuat Maeve seketika terhempas terbang ke atas.


“Nona ini saatnya, serang dia…!” Teriak Heinz.


Walaupun dalam keadaan yang kurang bagus, perempuan itu tetap berusaha untuk berdiri kembali.


“Flame projection… Orca phoenix…” Tanpa pikir panjang, perempuan itu langsung melancarkan serangan proyeksi elemen apinya mengarah pada Maeve yang sedang terhempas ke atas.


“Akh…!” Dalam sekejap Maeve menerima serangan tersebut dan jatuh bebas menghantam tanah.


Melihat hal tersebut Neyndra kemudian nampak lega dan jatuh tersungkur kembali.


“Nona, kau tidak apa-apa?” Tanya Heinz mendekati perempuan itu dan membantunya untuk berdiri.


“Iya, yang penting kita berhasil mengalahkan…”


Betapa terkejut Neyndra melihat Maeve tiba-tiba berdiri kembali setelah menerima serangan darinya.


“Boleh juga… Seranganmu itu,” ucap Maeve dengan raut wajah kesal.


Dalam sekejap Vampireman itu menghilang kembali dan muncul tepat di depan Neyndra dan Heinz.


“God aura… Superior kick…”


Tiba-tiba Drakon muncul dan langsung menendang Vampireman itu dengan keras ke tanah hingga membuatnya kini mengalami kekalahan.


Neyndra dan Heinz pun sontak langsung terkejut dengan kemunculan tiba-tiba dari tuan prajurit itu.


“Nona Neyndra, apa kau baik-baik saja?” Tanya Drakon.


Nampak ekspresi bahagia terlihat dari wajah perempuan itu setelah melihat Drakon datang menolongnya. Namun, dengan sekejap ekspresinya pun berubah drastis.


“Iya, aku tidak apa-apa,” jawab Neyndra sambil membuang wajahnya pada Drakon.


“Bagaimana denganmu Henokh? Apa kau juga tidak apa-apa?” Tanya Drakon pada Heinz.


“Namaku Heinz, kenapa kalian selalu saja menyebut namaku?” Heinz nampak kesal mendengar namanya terus salah diucapkan oleh mereka.


Tak lama kemudian, terlihat sebuah drone mendekati mereka.


“Drakon Magchora dari tim Fuegonia B berhasil mengalahkan Maeve Wilmond dari tim Machora Tira.” Drone tersebut langsung mengumumkan hasil pertarungan tersebut.


“Nona Neyndra biar kubantu untuk berjalan,” ucap Drakon menawarkan bantuan pada Neyndra.


“Tidak aku baik saja-saja.” Namun, perempuan itu pun langsung menolak tawaran Drakon dan mencoba berjalan sendiri.


Tiba-tiba Neyndra kembali terjatuh. Melihat hal tersebut, dengan sigap Drakon langsung merangkul tangan perempuan itu ke pundaknya untuk membantunya berjalan.


Neyndra yang nampak membutuhkan pertolongan tersebut, sontak tidak bisa berkomentar lagi dan terpaksa menerima hal tersebut.


**


Di waktu yang bersamaan, beberapa peserta telah menyelesaikan pertarungannya. Nampak di suatu tempat Dierill salah satu tim Fuegonia A berhasil mengalahkan Erklis dari tim Lightio.


Di tempat lain nampak empat peserta berhasil mengalahkan lawan mereka. Gerhanther dari tim Lightio mengalahkan Aleron dari tim Machora Tira, Zurbag dari tim Machora Tira mengalahkan Rys dari tim Asimir, Eldriata dari tim Neodela mengalahkan Jenesyn dari tim Vielass, serta Horner dari tim Vielass mengalahkan Zared dari Mormist.