
Kembali pada pertarungan Raquille dan Yankee, dimana pemuda Elfman itu kini sedang berusaha untuk mengimbangi kekuatan dari Venerate Pavonas itu.
Yankee yang tidak mau membuang-buang untuk beradu keahlian bertarung jarak dekat dengan pemuda Elfman tersebut lantas langsung melapisi senjatanya dengan proyeksi energi agar serangan menjadi lebih efektif.
Layaknya kini berada pada tingkatan Tribe Venerate bahkan lemah dibawahnya, Raquille dibuat beberapa kali terhempas akibat tidak kuat menahan tekanan kekuatan yang besar dari ayunan senjata Venerate itu.
Akan tetapi, dengan mengandalkan kekuatan fisiknya lagi, Raquille dengan sigap berdiri dan berusaha menyerang Yankee kembali.
“Dasar ras campuran sialan… Cepatlah kalah, aku muak dengan usaha sia-siamu itu.”
“Ukh…” Yankee dalam sekejap melancarkan serangan proyeksi energi, yang sontak membuat Raquille langsung terpental.
Raquille tidak mau menyerah walaupun keadaan sudah mulai melemah. Dengan berusaha pemuda Elfman itu kembali berdiri dan kembali maju menyerang Yankee.
“Howling slash…”
“Akh…” Raquille dengan refleks menahan serangan Yankee mengunakan kedua tangannya, walaupun hal tersebut percuma karena tetap membuat langsung terhempas.
Dalam keadaan lemah Raquille berusaha bangkit kembali, namun pemuda itu tiba-tiba memasang senyuman menyeringai pada pemuda itu sambil memperlihatkan gelang yang dipakainya perlahan hancur berkeping-keping.
“Sial…” Umpat Yankee, tidak menyangka bahwa serangan yang dilancarkannya dengan sengaja diterima oleh Raquille hanya untuk menghancurkan gelang yang dipakai oleh pemuda Elfman itu.
“Feuerzauber… Long way fire…” Tanpa pikir panjang Raquille langsung melancarkan serangan elemen api andalannya ke arah Yankee hingga pemuda itu pun terhempas ke jarak yang jauh.
Setelah Raquille mengalahkan Venerate terakhir, Aguirre pun datang menghampiri saudaranya, disaat bersamaan dengan Alyara yang juga datang dari arah yang berbeda.
“Sepertinya kau sedikit kesulitan, karena baru saja mengalahkan Venerate tadi,” ucap Aguirre.
“Aku sejenak menjadi manusia biasa sebelumnya… Maksudku manusia Elf biasa,” balas Raquille.
“Jadi tidak ada yang tersisa? Pasukan yang berada d kota ini ternyata lebih sedikit dari kota yang sebelumnya,” ucap Raquille sambil memperhatikan keadaan sekitar, dimana semua para prajurit Pavonas yang menyerang mereka sebelumnya telah dikalahkan.
“Jadi, apa ini waktunya Erissa untuk keluar,” lanjut Raquille berkata, karena sepertinya dia merasa akan segera bertemu dengan Erissa.
“Erissa… Sepertinya aku mengenal nama itu,” ucap Aguirre, menerka-nerka nama seseorang yang diucapkan oleh saudaranya.
“Erissa Flamo, putri dari marquis agung Neodela...”
“Dia selama ini ternyata telah menjadi World Venerate di negeri ini… Aku mengetahuinya dari putri Alyara,” ucap Raquille menjelaskannya pada Aguirre.
Aguirre lantas terkejut mendengar bahwa perempuan bernama Erissa tersebut yang diketahuinya sepuluh tahun yang lalu belum menjadi Venerate tingkat tinggi.
***
Kembali ke dalam kastil, dimana Erissa mengawasi menggunakan kekuatannya pada pertarungan antara Raquille, Aguirre dan Alyara melawan para Land Venerate Pavonas, yang kini telah dimenangkan oleh tiga World Venerate tersebut.
“Mereka semua sudah dikalahkan,” ucap Erissa, melaporkan informasi tersebut kepada Rumen serta Ienin yang berada di ruangan kastil tersebut.
“Hmph… Memang sangat sulit bagi para Land Venerate, sebanyak apapun mereka mengalahkan atau bahkan hanya membuat seorang World Venerate tersudut,” respon Rumen, memang telah memperkirakan hal tersebut.
“Kalau begitu waktunya untuk para Continent Venerate maju… Setidaknya kita buat energi mereka terkuras, agar nanti bisa mengalahkan mereka,” ucap Rumen.
***
“Sepertinya pasukan kubuh barat sudah berada di ibukota Pavonas… Aku merasakan tekanan kekuatan yang bahkan dari seorang World Venerate,” ucap Hefaistos, merasakan tekanan kekuatan dari Raquille dan yang lain.
“Tapi, apakah mereka mengetahui bahwa kita dibawah kemari?” Tanya Gahaelix.
“Entahlah…”
Walaupun merupakan Venerate tingkatan atas, namun salah satu tangan dari masing-masing presiden penyihir serta Continent Venerate itu kini sedang dipakaikan gelang yang mengekang kekuatan Venerate mereka, dan ditambah dengan ruangan sel tersebut sebenarnya dikelilingi oleh sebuah penghalang tak kasat mata.
Hefaistos dan Gahaelix pun tidak bisa berbuat apa-apa selain diselamatkan oleh Raquille, Aguirre ataupun Alyara yang sedang menyerang kota Vosmoc.
Tak berapa lama, terdengar sebuah hentakan kaki mendekat ke arah ruangan sel mereka.
Setelah suara hentakan kaki itu tiba-tiba berhenti, nampak seorang pemuda yang tidak lin merupakan Haniwa, salah satu anggota yang sebelumnya berada pada pertemuan perencanaan kudeta Pavonas bersama dengan Erissa.
“Salam tuan presiden penyihir, Hefaistos Silkbar… Salam juga tuan Gahaelix Dirkcourt dari daerah New Sylievania,” ucap Haniwa, menyapa dua orang yang seperti dikenalnya itu.
“Siapa kau sebenarnya? Aku tidak terkejut jika kau mengetahui tuan presiden, tapi kenapa bisa tahu namaku serta daerah asalku?” Tanya Gahaelix, penasaran darimana pemuda itu bisa mengetahui identitasnya.
“Simpel saja, karena aku sebenarnya berasal dari Lightio… Aku juga banyak mengetahui tentang para Venerate di negeri Lightio,” jawab Haniwa, mengungkapkan bahwa dirinya berasal dari negeri Lightio.
“Sillabare dimisit…” Setelah menjawab pertanyaan dari Gahaelix, Haniwa pun menggunakan kekuatannya untuk menonaktifkan penghalang yang mengelilingi ruangan sel tersebut.
“Walaupun dibantu oleh Venerate tingkat atas Pavonas sebelumnya, tapi teknik penghalang ini bisa kuhilangkan kapanpun kumau,” ucap Haniwa sambil membuka pintu sel tersebut.
“Kalau begitu, silahkan keluar dan bertarunglah disisi para Venerate kubuh barat,” lanjut pemuda itu berkata, mempersilahkan Hefaistos dan Gahaelix untuk pergi dari penjara tersebut.
Hefaistos dan Gahaelix berjalan keluar dari dalam ruangan sel tersebut walaupun merasa bingung mengapa ada seorang Venerate Lightio berada di negeri tersebut, serta bagaimana caranya berada di tempat itu.
“Maaf… Apakah kau bisa membuka gelang ini. Percuma saja kau menyuruh kami keluar membantu kubuh barat jika masih memegang gelang ini,” ucap Hefaistos.
Haniwa pun langsung menggunakan kekuatannya mencengkram gelang yang dipakai oleh Hefaistos dan Gahaelix hingga hancur berkeping-keping.
Walaupun mereka kini telah terbebas dari gelang tersebut, namun Hefaistos maupun Gahaelix tidak mau beranjak karena masih penasaran dengan pemuda itu.
“Siapa namamu nak? Bagaimana kau bisa berada di negeri ini?” Tanya Hefaistos.
“Namaku Haniwa dari clan Bloodshifter… Kalian pasti tahu kan dari mana asalku setelah mendengar nama clanku… Aku berada di negeri ini karena beberapa tahun yang lalu sempat diculik oleh beberapa Venerate dari Pavonas,” jawab Haniwa.
“Clan Bloodshifter…” Lantas Hefaistos pun bersamaan dengan Gahaelix terkejut mendengar nama clan tersebut.
“Aku tidak menyangka salah satu anak dari clan yang sering menentang kita, ternyata malah menolong kita… Aku sangat menghargainya nak,” ucap Hefaistos, menjelaskan mengapa dirinya terkejut mendengar nama clan dari pemuda tersebut.
“Tidak masalah tuan, lagipula aku mengenal dan dekat dengan Zchaira,” balas Haniwa.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Zchaira sekarang tuan? Dia setidaknya adalah salah satu orang yang kurindukan juga,” lanjut Haniwa berbicara, menanyakan tentang anak dari presiden penyihir Lightio itu.
Hefaistos sejenak tampak diam setelah mendengar pertanyaan dari pemuda tersebut.