The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 196 - Labirin keputusasaan



Setelah Raquille berhasil menenangkan Anhilde yang merasa ketakutan sambil sedikit mengambil kesempatan, Mereka semua pun kemudian memperhatikan bola kristal yang diambil oleh Raquille dan Hyphilia.


“Apa kalian siap?” Tanya Raquille.


Raquille pun menyalurkan energi sihirnya pada bola kristal tersebut hingga memancarkan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan.


****


Setelah cahaya tersebut memudar, Raquille dan yang lain tiba-tiba telah berada di sebuah lembah berkabut tebal, dengan keadaan jarak penglihatan hanya sekitar lima sampai dengan sepuluh meter.


“Hati-hati, tempat berkabut ini lebih luas dari jarak pandanganku… Akan sangat berbahaya jika kita terpisah nantinya,” ucap Raquille memperingati para rekan-rekannya, serta menyuruh mereka tetap bersiaga dan tetap memperhatikan sesama mereka.


Mereka semua pun mulai perlahan-lahan berjalan menelusuri tempat tersebut, dimana Raquille bertugas untuk mengamati luas dari lembah berkabut tebal tersebut.


Seberapa jauh pun mereka terus berjalan menyusuri lembah tersebut, Raquille tetap tidak bisa menemukan letak dari bola kristal yang selanjutnya, ataupun cincin yang merupakan salah satu dari ketiga belas harta karun tersebut.


Raquille pun nampak mulai gelisah akibat merasa bersalah sudah membiarkan rekan-rekannya terpaksa harus mengikutinya sampai ke tempat itu.


“Windzauber…” Tiba-tiba Raquille melancarkan serangan hempasan angin yang sangat kuat untuk membuat kabut tebal dai berada di sekitar mereka menghilang.


Akan tetapi, hal tersebut sia-sia karena kabut tersebut kembali layaknya seperti semula menutupi pandangan mereka.


“Sial…” Umpat pemuda Elfman itu, nampak mulai putus asa.


Seketika dia mulai menyadari bahwa rekan-rekannya kini sudah tidak berada di sekitarnya.


“Kakak…! Arn…!”


“Asulf…! Anhilde…! Haltyrg…!” Teriak pemuda Elman itu, satu per satu memanggil rekan-rekannya.


Namun, tidak satu pun diantara mereka yang menjawab panggilan dari pemuda Elfman tersebut.


“Kakak...! Kau dimana?!” Teriak Raquille sekali lagi, memanggil Hyphilia, berharap agar Elfman perempuan itu bisa menjawab panggilannya.


Raquille nampak sangat gelisah ketika kehilangan rekan-rekannya, pemuda Elfman itu terus berlari tanpa arah yang pasti, berharap agar menemukan salah satu diantara mereka. Walaupun masih berada dalam mode insting emas dari kekuatan makhluk sucinya, yang mampu melihat keadaan di sekitar hingga ratusan kilometer sekalipun tertutup dengan kabut yang sangat tebal, namun Raquille tidak bisa melihat keberadaan dari salah satu rekannya.


“Hyphilia…! Dimana kau?!” Raquille terus berlari tanpa arah sambil memanggil Hyphilia, namun dia tetap tidak bisa menemukan Elfman perempuan itu.


“Hyphilia…! Tolong jawab aku…!”


Entah kenapa pemuda Elfman itu tiba-tiba merasa kelelahan hingga membuatnya hanya bisa terduduk dengan keadaan lemah.


Dalam keadaan yang lemah, Raquille tiba-tiba memperhatikan di depannya tampak wujud dari para anggota Guardian yang pernah dibantainya sebelumnya.


***


Di sisi lain, tampak Hyphilia juga merasa gelisah telah kehilangan semua rekan-rekannya.


“Raquille…! Arn…! Anhilde…!”


“Asulf…! Haltryg…!”


Sambil berjalan tanpa arah yang pasti, Elfman perempuan itu terus memanggil rekan-rekannya, berharap agar salah satu dari mereka bisa menjawab panggilan darinya.


“Hyphilia…” Disaat gelisah mencari keberadaan dari rekan-rekannya tiba-tiba Hyphilia terkejut mendengar sebuah suara misterius memanggil namanya.


“Eh…” Disaat bersamaan, Elfman perempuan itu, menjadi lebih terkejut lagi ketika melihat sesosok bayangan hitam berada jauh di depannya.


Tanpa rasa takut ataupun merasa ragu, Elfman perempuan itu berlari mendekati sesosok bayangan tersebut.


“Hyphilia…”


“Raquille…!” Panggil Hyphilia, mengira bahwa suara misterius yang memanggilnya tersebut merupakan Raquille.


“Hyphilia…” Seketika suara misterius itu kembali terdengar memanggil namanya lagi.


“Katakan siapa kau?!” Teriak Hyphilia, mulai merasa muak mendengar suara misterius itu yang terus saja memanggil namanya.


“Hyphilia…”


“Ah…!” Sontak, saat Elfman perempuan itu menoleh ke belakang, dia seketika terkejut melihat seorang pria berada di depannya, hingga membuat perempuan jatuh terduduk ke tanah.


“Aguirre…”


Sejenak Hyphilia mengenali wajah pria tersebut misterius merupakan Aguirre, namun dirinya tidak bisa memastikan lebih baik lagi karena sosok misterius yang tiba-tiba berada tepat di depanny sebelumnya kini telah kembali menghilang.


“Tidak mungkin itu adalah Aguirre, pasti ini adalah sebuah ilusi…” Gumam Elfman perempuan itu, tidak mungkin percaya bahwa orang yang dilihat sejenak olehnya tadi bukanlah Aguirre.


“Tidak mungkin…” Tidak hentinya Elfman perempuan dibuat terkejut, kini dia melihat sosok tersebut berubah menjadi menyerupai adiknya yang bernama Aloof.


“Kakak…” Sosok misterius yang menyerupai adiknya tersebut lantas berbicara kepadanya sambil menunjukan ekspresi tersenyum ke arah Elfman perempuan itu.


Perlahan sosok yang menyerupai adiknya tersebut berjalan menjauh hingga menghilang dari balik kabut yang tebal.


“Aloof… Ini aku Hyphilia…” Menjadi percaya bahwa sosok tersebut merupakan adiknya Aloof yang sebenarnya, Hyphilia yang tengah terduduk di tanah seketika kembali berdiri dan berlari mengejar sosok yang menyerupai adiknya tersebut.


“Aloof…! Kemana kau?!” Teriak Hyphilia, memanggil sosok misterius itu, yang dikiranya merupakan adiknya tersebut.


Tiba-tiba Hyphilia kembali melihat sosok hitam tersebut dari kejauhan, karena percaya bahwa sosok tersebut merupakan Aloof, karena memiliki perawakan yang mirip, Elfman perempuan itu langsung berlari untuk mencapainya.


“Aloof…”


“Ah…!” Hyphilia tiba-tiba berteriak ketika mendapati sosok misterius tersebut nampak sangat mengerikan dan jauh berbeda dari adiknya yang bernama Aloof tersebut.


Saking takutnya, Hyphilia pun lari sekencang mungkin, menjauh dari sosok yang sangat menyeramkan tersebut.


“Ah…! Tolong aku!” Teriak Hyphilia saking ketakutannya melihat sosok yang dikira merupakan adiknya tersebut ternyata mengincarnya.


Sosok menyeramkan itu seketika mengibaskan cakar tajamnya berniat menyerang Hyphilia, namun Elfman perempuan itu dengan beruntungnya mampu menghindar serangan sosok menyeramkan itu.


“Feuerzauber… Long way fire…” Tiba-tiba Raquille datang dan langsung melancarkan serangan proyeksi elemen api berskala besar, menghantam sosok menyeramkan itu dengan keras ke tanah.


Sosok misterius itu terkapar tak berdaya dan seketika perlahan-lahan mulai memecah menjadi butiran-butiran cahaya kemudian lenyap tak bersisa.


“Raquille…” Hyphilia pun merasa senang melihat Raquille, hingga membuatnya langsung memeluk pemuda Elfman itu.


Raquille pun langsung membalas pelukan dari Hyphilia, karena merasa senang serta mengetahui bahwa Elfman perempuan itu sebelumnya nampak merasa gelisah kehilangan rekan-rekannya.


“Apa yang terjadi disini? Aku melihat Aguirre dan Aloof ditempat ini,” ucap Hyphilia, menjelaskan kepada sosok yang mampu mengubah penampilannya menjadi orang yang mereka kenal.


“Sepertinya labirin yang dijelaskan oleh perdana menteri Brizora adalah tempat ini, dan bukanlah labirin yang sebelumnya…” Jawab Raquille.


“Aku juga sebelumnya melihat sosok rekan-rekan Guardian yang pernah kubunuh, namun karena sedang memikirkan untuk mencari kalian semua aku pun lantas tidak mempercayai bahwa hal tersebut adalah sebuah kenyataan,” lanjut Raquille, menjelaskannya kepada Hyphilia.


“Bagaimana dengan keadaan yang lain? Raquille ayo kita cepat temukan mereka… Aku khawatir jika mereka mendapatkan kejadian yang sama seperti kita,” ucap Raquille, lantas langsung menarik pemuda Elfman itu untuk mencari rekan-rekan mereka.