
Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut tampak terkejut melihat Raquille melakukan hal tersebut kepada Arn.
“Uh…” Keluh Arn, perlahan-lahan mulai berdiri kembali.
“Eh…” Arn pun sejenak heran mengetahui bahwa dirinya tidak apa-apa setelah menerima serangan elemen petir dari Raquille.
“Hahaha… Aku baik-baik saja!” Seru Arn, tampak terlihat senang.
Semua orang selain tetua akademi pun nampak keheranan melihat pria itu mampu menerima serangan dari Raquille, yang pada dasarnya merupakan Venerate dengan tingkatan tertinggi.
“Kakak, lakukan sekali lagi…”
“Sesuai perintahmu…” Tanpa pikir panjang, Raquille pun meningkatkan kekuatan dari palunya, hingga pancaran elemen petir dari senjata suci yang dipegang oleh pemuda Elfman itu menjadi lebih besar dari sebelumnya.
“Tunggu… Tunggu… Aku tidak serius…”
Raquille pun langsung meluncurkan serangan elemen petir lebih kuat, yang langsung diterima oleh pria itu.
“Uwaah…!” Arn pun lantas menjerit ketika luncuran elemen petir bertegangan tinggi menerjang dirinya.
“Eh…” Namun, sejenak pria itu lantas kembali keheranan mengatahui dirinya tetap baik-baik saja setelah menerima serangan yang sebenarnya sangat mematikan tersebut.
Para Venerate Blueland, termasuk Raquille pun nampak keheranan melihat hal tersebut, dimana Arn kini layaknya memiliki sebuah pertahanan yang sangat kuat hingga serangan yang dilancarkan oleh World Venerate sekalipun bahkan tidak mampu untuk melukainya.
“Itulah kekuatan sesungguhnya dari jubah tersebut,” ucap sang tetua.
“Aku tidak percaya, pertahananku layaknya seperti meningkat dengan derastis…” Respon Arn, kembali merasa senang.
“Baiklah kakak, waktunya untuk pembalasan.” Arn tiba-tiba memasang ekspresi menyeringai di wajahnya, dan dengan cepat meluncur ke arah Raquille untuk membalas perbuatan pemuda Elfman itu kepadanya tadi.
Walaupun meluncur dengan cepat, namun kecepatan dari pria itu masih bisa diungguli oleh Raquille, dimana pemuda Elfman itu dengan cepat juga langsung menghindar lalu mengangkat palunya ke atas.
“Akh…” Bahkan hanya mengayunkan palu tersebut dengan pelan, Arn seketika terhentak ke lantai dengan kerasnya.
“Pertahananmu meningkat besar, namun serangan serta kecepatanmu tetap sama seperti biasa,” ucap Raquille.
“Eh sial… Kukira jubah ini bisa meningkatkan kemampuan yang lain,” ucap Arn, nampak kesal bahwa hal tersebut ternyata masih memiliki sebuah kelemahan.
“Daripada kita terus berada di tempat ini, lebih baik kita bergegas mencari harta karun yang lain,” ucap Raquille, menyuruh mereka untuk beranjak dari tempat itu.
“Mari kuantar…” Sang tetua pun kemudian menuntun mereka semua untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan tersebut.
***
Setelah berada di luar, Raquille dan yang lain kemudian berpapasan dengan perempuan yang disebut sebagai perdana menteri sebelumnya.
Perempuan itu lantas melihat Arn kini telah mengenakan jubah yang menjadi sumber pertahanan dari akademi sihir tersebut.
“Biar kuperkenalkan terlebih dahulu… Dia sebenarnya adalah perdana menteri negeri Brizora, nyonya Magelline Chesley, dan merupakan salah satu dari dua World Venerate penyihir selain Yang mulia ratu Harmae,” ucap sang tetua, memperkenalkan perempuan tersebut kepada Raquille dan yang lain.
“Senang bertemu dengan kalian,” ucap perempuan bernama Magelline tersebut.
“Senang juga bertemu dengan anda, nyonya Magelline… Mohon maaf soal yang tadi, kami terpaksa melawan karena tidak punya pilihan yang lain,” ucap Raquille sambil meminta maaf soal hal sebelumnya.
“Tidak masalah… Lagipula aku juga sebelumnya sedikit ragu dengan pernyataan kalian, karena Yang mulia Harmae sebelumnya menugaskanku yang sebenarnya merupakan perdana menteri untuk menjaga sementara tempat ini dari orang luar yang ingin masuk untuk mengambil jubah itu…” Ucap perempuan bernama Magelline itu sambil menyatakan bahwa tidak mempermasalahkan hal yang sebelumnya.
“Ngomong-ngomong kalian setelah ini mau kemana?” Lanjut perempuan itu, bertanya tentang tujuan selanjutnya dari para Venerate Blueland itu.
Raquille pun mengambil peta yang disimpan menggunakan kekuatan spasial miliknya, kemudian menentukan titik letak harta karun selanjutnya yang akan mereka tuju.
“Sesuai yang teterah di peta, tempat paling dekat adalah sebuah semenanjung besar yang berada paling utara pulau ini,” jawab Raquille.
“Benar juga, aku sebenarnya sudah menduga bahwa kalian akan pergi kesana selanjutnya,” ucap perempuan itu.
“Kalau begitu, apa kau tahu tentang harta karun yang berada di tempat itu nyonya?” Tanya Raquille.
“Iya, tentu saja… Harta karun yang berada di tempat itu adalah sebuah cincin yang memiliki kekuatan untuk bisa membuat penggunanya mampu menyamarkan hawa dari keberadaannya…”
Magelline lalu menjelaskan tentang tempat tersimpannya salah satu dari ketiga belas harta karun tersebut, dimana lokasi pada titik di dalam peta tersebut terdapat sebuah kastil tua yang berada pinggiran sebuah tebing dekat laut, yang jika seorangpun masuk ke dalamnya, maka mereka akan muncul di sebuah labirin yang sering sebagai labirin keputusasaan.
Mereka yang masuk ke tempat itu, akan sulit untuk keluar dikarenakan pengaruh dari kekuatan yang berada di dalam cincin tersebut.
Walaupun pasukan Ierua beberapa berhasil keluar dengan membawa cincin tersebut, namun hanya beberapa diantara mereka yang bisa selamat, sedangkan untuk prajurit yang harus rela berkorban dan terpaksa harus terjebak selamanya di tempat itu.
Mendengar hal tersebut, para Venerate Blueland, termasuk Raquille nampak sedikit ragu untuk menuju ke tempat tersebut.
“Heh, walaupun sedikit menakutkan, tapi penjelasannya tetap menarik… Jangan khawatir, aku memiliki kekuatan yang mampu mengungkapkan sebuah kebenaran sekalipun hal itu sangat sulit.”
Akan tetapi, bukanlah Raquille namanya jika tidak merasa penasaran tentang tempat yang memiliki sebuah hal yang cukup menarik. Pemuda Elfman itu lantas langsung menghilangkan keraguannya demi akan terus mengumpulkan ketiga belas harta karun tersebut.
“Bagus untukmu anak muda…” Ucap Magelline, memuji semangat dari pemuda Elfman itu.
“Aku dengar bahwa kau memiliki banyak kekuatan yang diberikan oleh beberapa makhluk suci… Yah, walaupun hal itu tetap membuatmu berada dalam tingkatan World Venerate, karena tidak ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan itu…” Lanjut Magelline.
Mendengar hal tersebut, ekspresi Raquille tiba-tiba menjadi serius. Pemuda Elfman itu seperti mengingat atau megetahui sesuatu tentang pernyataan dari perdana menteri negeri Brizora itu.
“Nyonya Magelline, sepertinya ada sesuatu yang tidak kau ketahui selama ini…” Ucap Raquille dengan ekspresi serius.
“Apa yang tidak kuketahui?” Tanya Magelline.
“Bahwa sebenarnya aku sangat membenci jika ada orang yang mengatakan hal itu… Layaknya aku sedang diejek karena percuma saja memiliki lebih dari satu kekuatan makhluk suci, karena hal itu tetap membuatku tetap menjadi World Venerate dan tidak mampu mengungkap keingintahuan dari semua Venerate bahwa tingkatan di atas World Venerate itu ada,” jawab Raquille, menjelaskannya kepada Magelline sambil memperlihatkan ekspresi kesalnya.
Magelline pun tersenyum mendengar penjelasan dari Raquille. Perempuan itu ternyata telah salah mengira bahwa pemuda Elfman itu sepertinya mengetahui sesuatu tentang tingkatan diatas World Venerate.