
“Setahuku menghancurkan senjata suci bukanlah hal yang mudah. Bahkan butuh kekuatan gabungan dari para World Venerate untuk bisa menghancurkannya,” kata Zero.
“Aku yakin kau pasti memiliki kekuatan dari makhluk suci…”
“Makhluk suci macam apa yang memberikan kekuatan padamu?” Lanjutnya, bertanya.
“Heh… Ternyata ada yang menyadarinya juga yah… Makhluk suci yang memberikanku kekuatan sering disebut sebagai raja kutub. Dia mendiami wilayah bagian utara pulau Blueland, negeri asalku. Berkat kekuatan makhluk itu aku bisa menjadi World Venerate seperti sekarang ini,” jawab Raquille, menjelaskan hal tersebut.
Zero pun kemudian menganggukkan kepalanya, paham dengan penjelasan tentang asal kekuatan dari pemuda Elfman itu.
“Bagaimana denganmu? Kau juga memiliki kekuatan dari makhluk suci juga kan?” Tanya Raqulle.
“Eh, bagaimana kau bisa tahu kalau aku memiliki kekuatan makhluk suci juga?” Tanya balik Zero.
“Sewaktu tadi kita bertarung dengan World Venerate Gimoscha itu, kau sempat menarik sebuah kekuatan yang besar dari langit. Kekuatanku bahkan sempat bereaksi dengan hal tersebut…”
“Lagipula aku juga mendengar ucapanmu yang tadi… Wahai makhluk suci penguasa angkasa dan udara, pinjami sekarang aku kekuatanmu,” kata Raquille sambil meniru gaya Zero mengangkat tangannya, saat menyerap petir dari langit sebelumnya.
“Bagaimana? Apa aku salah?”
“Eh, kau benar… Sebenarnya sama denganmu, aku juga mendapatkan kekuatan dari makhluk suci dan berhasil menjadi World Venerate dalam waktu singkat...”
“Makhluk suci yang memberikanku kekuatan disebut sebagai raja angkasa, yang mendiami wilayah pegunungan Phila.” kata Zero sambil menunjuk arah utara.
“Hmph… Begitu yah…” Respon Raquille sambil menganggukkan kepalanya.
***
Beberapa waktu yang lalu, saat Raquille menghempaskan serangannya mengalahkan Janus yang dirasuki oleh Giano, di kota Vosmoc, ibukota negeri Pavonas, terlihat Erissa yang sedang duduk seketika merasakan tekanan kekuatan yang dikeluarkan oleh Raquille.
“Eh… Tidak mungkin… Raquille…?” Tampak perempuan itu langsung mengenali tekanan kekuatan tersebut berasal dari Raquille.
Sontak perempuan itu langsung berdiri dari kursinya dan pergi dari tempat tersebut.
***
Dia kemudian mendatangi suatu ruangan yang didalamnya sudah berada Rumen, pemimpin dari negeri tersebut.
“Tuan Rumen, apa kau merasakannya juga? Elf iblis itu sekarang sudah berada di benua ini,” kata Erissa.
“Elf iblis? Apa ras campuran yang pernah kau ceritakan sebelumnya?” Tanya Rumen.
“Iya itu dia. Dan juga sepertinya kubuh barat sudah melakukan pergerakan rupanya… Tapi, aku belum mendengar informasi dari negeri-negeri lain.”
“Aku juga belum mendengarnya… Namun, tekanan kekuatan yang kurasakan arahnya berasal dari selatan. Apa mungkin kubuh barat melakukan penyerangan pertama mereka ke negeri Gimoscha dan Geracie lebih dulu?”
“Aku juga merasakan tekanan kekuatan itu dari arah selatan…”
“Tuan Rumen apa mungkin sekarang kita lakukan pertemuan dengan para petinggi aliansi GSG?” Tanya Erissa, mengusulkan untuk mengadakan sebuah pertemuan.
“Mungkin lain kali saja, aku tidak mau mendengar ocehan dari Chrolexius lagi.” Pria itu sontak menolak usulan dari Erissa.
“Tuan Rumen, aku yakin kubuh barat sekarang akan melakukan pergerakkan besar-besaran. Jika kita hanya bersantai dan berdiam saja, mungkin kita akan mengalami kekalahan…”
“Setidaknya, kita harus melakukan persiapan juga.” Namun, Erissa tetap memaksa pria itu untuk membahas tentang pergerakkan kubuh barat ke negeri-negeri aliansi mereka.
“Yah, mungkin kau ada benarnya juga…” Rumen pun akhirnya menyetujuinya saat mendengar penjelasan dari Erissa.
“Ayo, kita pergi sekarang.” Setelah itu Rumen kemudian meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Erissa.
***
Kembali ke negeri Gimoscha, dimana Acadiuno beserta Juaferrex telah datang menghampiri Janus yang terkapar di tanah.
“Acadiuno…” Ucap Janus, setelah melihat pria itu datang menghampirinya.
“Dengan siapa aku berbicara sekarang?” Tanya Acadiuno, masih memastikan bahwa pria tersebut memanglah Janus yang dia kenal.
“Siapa lagi kalau bukan orang yang kau anggap sebagai ayah,” jawab pria itu.
Acadiuno pun seketika langsung tersenyum, mendengar bahwa pria tersebut memang benar merupakan Janus yang tidak lagi dirasuki oleh Giano.
Acadiuno kemudian mengulurkan tangannya, membantu pria itu untuk berdiri.
“Iya… Aku harap juga Yang mulia Giano bisa tenang disana.”
“Hmph… Maaf menggangu reuni kecil-kecilan kalian ini, tapi urusan kita disini masih belum selesai.” Namun, Juaferrex tiba-tiba mengingatkan tentang situasi mereka berdua saat ini yang telah menyerah ke pihak kubuh barat.
“Benar juga, tapi tuan Juaferrex, ada yang ingin aku minta pada tuan Elfman itu terlebih dahulu,” ucap Acadiuno.
“Baiklah silahkan.”
Mereka pun kemudian pergi untuk menemui kembali Raquille yang sedang bersama dengan Zero.
**
“Permisi tuan muda, maaf jika aku meminta sesuatu lagi padamu. Jika kau berkenan apa mungkin kau bisa mengembalikan kedua anakku menjadi normal lagi?” Pria itu kemudian memohon untuk mengembalikan kesadaran dari kedua anaknya, Dagon dan Tezia yang mereka telah di perangkap Raquille sebelumnya.
“Eh, benar juga.” Raquille lalu memejamkan kedua matanya dan berkonsentrasi.
****
Kembali di sebuah gurun es dengan cuaca yang sagat ekstrim, Tiba-tiba sebuah cahaya biru muncul dan berubah menjadi Raquille tepat dihadapan Dagon dan Tezia, yang masih terbelenggu oleh sebuah rantai es.
“Kau…”
Seketika kedua orang itu terkejut melihat pemuda Elfman itu berada di hadapan mereka.
“Tolong lepaskan kami,” ucap Tezia memohon kepada Raquille.
“Tenang saja, aku akan melepaskan kalian sekarang juga…. Ayah kalian juga sudah memintanya duluan.” Raquille lalu mendekat dan memegang kepala mereka.
“Divine ice cursed… Released…” Seketika kedua prajurit Gimoscha itu menghilang dari tempat tersebut.
“Hei bocah ternyata kau masih hidup rupanya.” Mendadak sosok bayangan hitam raksasa dengan sinar mata berwarna biru kembali muncul di balik kabut yang tebal, tepat dibelakang Raquille.
Mendengar sosok tersebut berbicara, Raquille seketika terkejut dan menjadi tegang. Perlahan-lahan pemuda itu berpaling kebelakang menatap sosok tersebut.
“Tuan Reonnog, lama tidak melihatmu, walau sekarang kau hanya dalam bentuk tubuh astral saja,” kata pemuda itu sambil tersenyum di depan sosok misterius tersebut.
“Hmph… Hentikan ocehanmu itu, dan katakan darimana saja kau selama sepuluh tahun ini?” Seketika hempasan angin yang cukup kuat keluar saat sosok tersebut berbicara.
Hal tersebut sampai membuat Raquille dapat merasakan hempasan angin tersebut.
“Sebenarnya alasan aku hilang selama sepuluh tahun adalah karena aku telah melompat waktu melewati lubang dimensi,” kata Raquille.
“Lubang dimensi?”
“Tuan Reonnog, banyak yang ingin aku ceritakan padamu, tapi untuk sekarang aku harus pergi dulu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Raquille seketika berubah menjadi cahaya biru lalu hilang dari tempat itu.
****
Raquille sontak membuka matanya kembali ke dunia nyata.
“Baiklah, mereka serang sudah terbebas… Kau tinggal memeriksanya saja.”
“Tuan muda, tunggu. Tolong bebaskan anakku yang satu lagi, saudaranya mengatakan bahwa ditarik ke dalam lubang hitam oleh sebuah tangan,” ucap Acadiuno kembali memohon pada Raquille.
“Oh, benar hampir lupa tentang dia...”
“Kenapa akhir-akhir ini aku banyak menawan orang?” Gumam pemuda itu.
Raquille kembali memejamkan kedua matanya dan merapatkan kedua tangannya, kemudian berkonsentrasi.
“Shadow core…” Seketika sebuah portal hitam muncul di atas mereka, yang tak berapa lama, Plutone keluar dan jatuh tersungkur di tanah.
“Plutone...” Acadiuno seketika menghampiri anaknya tersebut.
“Aaahhh!” Pria itu sontak berteriak ketakutan melihat ayahnya.
“Siapa kau…?! Kenapa wujudmu seperti ayahku…?! Pergi sana…!” Dia pun lari menjauhi mereka semua yang berada di tempat itu.
“Hei, mau kemana kau?!” Teriak Acadiuno.