
“Lebih kuat dari World Venerate pada umumnya…? Hmph… Setahuku ada beberapa World Venerate yang memiliki sebutan seperti itu. Raja Elfman dari Blueland, Raja Dokkalfar dari Einor, Maharaja Jagatara dari Wandaria dan Osudobor dari Xaronveyn,” kata Haniwa menyebut beberapa World Venerate yang diketahuinya.
“Apakah dia salah satu dari mereka?” Lanjutnya, bertanya.
“Tidak… Bukan mereka,” jawab Erissa.
“Kalau begitu… Apakah dia adalah World Venerate muda dari Lightio, Dewi Merak?” Tanya Haniwa sekali lagi, menebak orang yang dikatakan oleh Erissa.
“Tidak juga… Lagipula siapa itu Dewi Merak? Kenapa namanya juga Dewi Merak?” Jawaban Erissa juga bukan World Venerate yang disebut oleh Haniwa terakhir kali.
“Hei… Haniwa, ternyata kau mengetahui banyak tentang World Venerate dari negeri lain,” kata Viecion.
“Tapi… Jika bukan mereka, lantas siapa?” Tanya Ashur, penasaran.
“Dia adalah Elf iblis, Raquille Noroh,” kata Erissa.
Sontak saat perempuan itu menyebut nama Raquille, mereka semua yang berada di tempat itu, seketika langsung terkejut.
“Apa…? Elf iblis katamu? Dia kan Elfman yang hampir membunuhmu… Dan juga setahuku dia sudah sejak mati sepuluh tahun yang lalu?” Kata Haniwa tidak percaya dengan yang disampaikan oleh perempuan itu.
“Dia belum mati… Aku melihat orang itu di dalam ingatan saudaranya yang tertangkap beberapa hari yang lalu.”
“Elfman itu akan segera kemari untuk menyelamatkan saudara-saudaranya. Dan aku yakin untuk menyematkan saudara-saudaranya tersebut, dia akan melakukan apa pun bahkan jika harus berhadapan dengan Pavonas dan kubuh timur.”
“Aku sangat mengenal bagaimana sifatnya itu.”
**
Berpindah di sebuah taman yang berada di Sprintrobe. Nampak Raquille sedang bersantai di atas sebuah pohon, yang berada di taman Sprintrobe tersebut.
“Mantra pengunci yah…?” Kata Raquille, terlihat berbicara sendiri.
“Jika tidak mengetahui cara untuk membatalkan mantra itu, mungkin perlu sekitar dua atau tiga hari agar dapat menghancurkan mantra tersebut,” lanjutnya, yang masih berbicara sendiri.
Nampak Raquille sebenarnya memang sudah mengetahui bahwa Flogaz serta Joker telah berada di ruangan bawah tanah kediaman clan Drown tersebut. Dimana pada kemarin malam juga, Elfman tersebut mengatakan pada Drakon bahwa dia memang memiliki indera pendengaran yang tajam, sehingga bisa mendengar percakapan orang-orang yang berada di sekitar kediaman tersebut.
Itu artinya bahwa Raquille memang telah mengetahui bahwa kedua penyusup itu telah berada di dalam Sprintrobe sejak kemarin malam.
Namun, walaupun telah mengetahuinya, Raquille tampak masih belum memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun.
Tak berselang lama, Drakon pun datang menghampirinya, yang terlihat sedang berbicara sendiri di atas pohon.
“Hei… Apa kau tidur dengan mata terbuka?” Tanya Drakon, heran melihat Elfman tersebut berbicara sendiri.
“Eh… Tuan Prajurit…”
“Tidak… Aku hanya memikirkan tentang sesuatu,” kata Raquille.
“Memangnya apa yang kau pikirkan itu?” Tanya Drakon, penasaran.
“Oh yah, selain aku dan World Venerate baru itu… Apakah ada Venerate lain yang di kota ini yang berada di atas tingkatan Land?” Tanya Raquille.
“Orang yang berada di tingkatan atas selain kalian berdua?”
“Selain tuan Rourke dan kau… Hanya ada tuan Rox saja. Namun, dia hanya Venerate di tingkatan Continent saja,” kata Drakon.
“Memangnya ada apa kau menanyakan hal itu?” Lanjutnya, bertanya.
“Yah… Aku hanya ingin tahu saja,” kata Raquille.
“Kukira kau mau mengatakan bahwa kau mau menantang orang itu juga,” kata Drakon.
“Tidak… Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu…”
“Tapi tuan prajurit… Kurasa di hari terakhir turnamen nanti… Aku terpaksa harus membongkar identitasku yang sebenarnya,” kata Raquille.
“Apa…? Kau mau membongkar identitasmu…? Jika kau melakukannya kita akan didiskualifikasi, dan bahkan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita nantinya.” Mendengar hal tersebut, Drakon sontak terkejut.
“Aku tidak punya pilihan tuan prajurit.”
“Memangnya sebenarnya ada apa?” Tanya Drakon sekali lagi, nampak lebih penasaran.
“Kau akan mengetahuinya nanti.”
“Jika ada hal yang aneh, kau harus mengatakannya padaku,” kata Drakon, agak khawatir.
“Tidak perlu cemas tuan prajurit. Lagipula tujuanmu yang sebenarnya mengikuti turnamen adalah untuk berhadapan dengan orang dari Lightio itu kan?”
“Aku jamin, aku tidak menyulitkanmu dengan yang lain,” kata Raquille, meminta pria tersebut untuk percaya padanya.
Namun, tetap saja terlihat dari raut wajahnya, bahwa Drakon merasa khawatir setelah mendengar hal tersebut dari pemuda itu.
**
Berpindah di luar pintu gerbang kediaman Sprintrope, nampak seorang perempuan yang bernama Ailene bersama seorang pria. Dua orang tersebut yang sebelumnya menonton turnamen dari luar arena.
“Nona Ailene… Kenapa kita tidak memberitahukan kedatangan kita pada anggota clanmu? Jika kau memberitahukannya, pasti mereka akan mengirim orang untuk langsung mengantarkan kita sampai kemari,” kata pria yang bersamanya.
“Sudahlah… kau tidak usah protes Lazurno. Aku sengaja tidak memberitahukannya karena aku mau membuat sebuah kejutan kepada keluargaku dengan datang diam-diam,” kata perempuan bernama Ailene pada pria yang bernama Lazurno tersebut.
Mereka berdua kemudian mendekati pos penjaga yang berada di depan gerbang tersebut. Tampak orang yang berada di dalam pos penjaga, sontak melihat kedatangan mereka berdua.
“Siapa yah…? Sepertinya aku mengenalinya?” Dari kejauhan orang itu mencoba mengenali kedua orang yang mendekat tersebut.
“Selamat malam, apakah kau bisa membukakan pintunya untuk kami,” kata Ailene.
“Eh… Nona Ailene, kenapa tidak ada yang memberitahukan padaku jika anda akan datang?” Setelah melihat Ailene dari dekat akhirnya penjaga itu mengenali perempuan tersebut.
Lantas penjaga itu langsung membukakan gerbang kepada mereka berdua untuk masuk.
“Aku sengaja tidak memberitahukannya. Kau juga tidak perlu melapor kepada yang lain bahwa aku datang.”
“Hah… Itu memang kebiasaanmu dari dulu.” Kata penjaga gerbang tersebut.
Ailene kemudian merespon perkataan penjaga gerbang tersebut dengan senyuman.
**
Kemudian terlihat Rox yang sedang berada di dalam ruangan kerjanya. Tak berselang lama, seseorang datang untuk melaporkan sesuatu.
“Maaf mengganggu tuan Rox…” Kata orang tersebut.
“Iya… Ada apa?” Tanya Rox.
“Kita kedatangan tamu malam hari begini,” lanjut orang tersebut.
“Tamu… Siapa?” Tanya lagi Rox.
“Eh… Mereka mengatakan bahwa jangan memberitahukan identitas mereka…” Kata orang tersebut, agak tersenyum.
Mendengar perkataan orang yang melapor tersebut, Rox seperti menduga sesuatu.
“Aku tahu… Itu pasti Ailene kan?”
“Eh… Iya benar tuan, ternyata anda sudah mengetahuinya.” Mendengar kata dari Rox, orang yang melapor tersebut sontak langsung tersenyum.
“Hah… Memangnya dia seorang mata-mata sampai harus selalu datang kemari dengan diam-diam?”
“Kalau begitu, ayo… Dimana dia sekarang?” Tanya Rox, langsung berdiri dari kursinya.
“Dia berada di ruangan tengah bersama dengan salah satu prajurit dari kota Wattao,” jawab orang tersebut.
Kemudian mereka berdua langsung meninggalkan ruangan tersebut.
**
Di ruangan tengah nampak Ailene bersama dengan pria bernama Lazurno sedang duduk. Lalu tak lama kemudian terlihat Rox datang menemui mereka berdua.
“Ayah… Lama tak berjumpa,” kata Ailene, langsung berdiri dan mendekati Rox.
“Oh… Lazurno… Lama tidak bertemu. Kenapa tidak memberitahukan kami jika kau datang,” kata Rox, menyapa pria bernama Lazurno dan tak merespon sapaan dari anaknya tersebut.
“Salam tuan Rox… Lama tak bertemu juga. Sebenarnya aku hanya mengikuti perkataan nona Ailene yang mau membuat kejutan pada keluarganya,” balas pria tersebut.
“Memang anak ini membuatmu repot. Apa mungkin kalian datang kemari dari Wattao hanya dengan berjalan kaki saja?” Tanya Rox.
“Iya benar tuan Rox,” jawab Lazurno agak tersenyum.
“Hahaha…!” Sontak mendengar jawaban dari Lazurno, langsung membuat Rox tertawa dan kemudian dia menatap tajam Ailene.
*
“Hah… Dasar tua bangka. Padahal aku datang kemari mau membuat kejutan untuknya juga. Kenapa dia tidak terkesima sedikit pun?” Kata Ailene dalam hati, membalas tatapan tajam Rox.
**
“Sudahlah kalau begitu… Lebih baik kau kemari. Kau mau memelukku kan? Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran,” Kata Rox, mempersilahkan Ailene untuk memeluknya walau terlihat agak kesal dari raut wajahnya.
Melihat hal tersebut, pria bernama Lazurno itu hanya bisa tersenyum.
**
Beberapa saat kemudian terlihat Roudra dan Neyndra datang menghampiri mereka.
“Ibu… Kakak…” Kata Ailene, yang langsung memeluk Roudra ibunya kemudian Neyndra.
“Hei… Kenapa kau baru datang sekarang?” Tanya Roudra, ibunya.
“Dia dan Lazurno kemari dari kota Wattao hanya dengan berjalan saja,” kata Rox.
“Apa katamu…?” Kata Roudra, terkejut.
“Hah, pantas saja kau belum sampai saat acara penobatan Rourke. Ternyata kau masih dalam perjalanan,” kata Neyndra.
Nampak Ailene hanya merespon perkataan dengan senyuman.
Kemudian Rourke, Dierill dan Afucco datang menghampiri mereka juga.
“Apa? Ternyata kau yang datang,” kata Afucco.
“Padahal aku yang datang, tapi reaksi kalian hanya seperti ini?” Kata Ailene, yang langsung mendekati dan memeluk Afucco serta Dierill.
“Urgh… Lepaskan…” Kata Dierill.
Saat ingin memeluk adiknya Rourke, sontak pemuda tersebut langsung menahan kepala perempuan itu dengan tangannya.
“Hei… Kau tidak mau memeluk kakakmu ini?” Tanya Ailene.
“Tidak…” Jawab Rourke dengan tegas.
“Apa kau marah karena aku tidak menghadiri acara penobatanmu?”
“Tidak juga…”
“Kalau begitu cepat peluk aku sekarang…” Ailene sontak langsung mencoba untuk memeluk Rourke.
Namun karena kegesitannya pemuda itu dengan cepatnya dapat menghindari Ailene yang ingin memeluknya.
“Hei Ailene, sudah hentikan, dia tidak mau dipeluk olehmu,” kata Neyndra.
“Uh… Baiklah.”
**
“Sebenarnya, kenapa kalian tidak ikut dengan rombongan prajurit Wattao, jika mau kemari?” Tanya Neyndra.
“Rombongan prajurit Wattao…? Siapa?” Tanya balik Ailene.
“Drakon,” jawab Neyndra.
“Maksudmu, Drakon Magchora…? Dia berada di sini?”
“Iya… Dia bahkan mengikuti turnamen Venerate, dan berada di tim yang sama denganku,” kata Neyndra.
“Jadi kau mengikuti turnamen itu lagi yah…? Kakak, aku tahu pasti karena tergila-gila dengan prajurit itu kau rela mengikuti turnamen… Padahal yang kutahu kau itu sudah muak dengan turnamen tersebut,” kata Ailene agak meledek saudaranya itu.
“Diam kau…” Kata Neyndra, terlihat memerah.
“Tapi, tunggu dulu… Kukira Drakon ditugaskan tuan Achilles pergi ke kota di daerah Barat Laut sana untuk menangkap para perampok gunung?” Tanya Lazurno menyadari sesuatu.
“Menangkap para perampok gunung? Dia tidak memberitahukannya padaku,” kata Neyndra.
“Prajurit Drakon itu datang dengan membawa para bawahan baru. Tiga dari mereka mengikuti turnamen Venerate. Siapa yah nama mereka…? Eh… Boron… Henokh… Dan Laventille, seorang Elfman,” kata Rox.
Mendengar perkataan dari Rox, Rourke sontak mengingat kejadian saat dia menyerang Bohrneer.
**
“Boron… Henokh…? Aku belum pernah mendengar clan itu, dan tidak ada prajurit yang berasal clan itu setahuku.”
“Dan juga Elfman bernama Laventille, kata anda…? Aku tahu tidak ada prajurit Elfman yang bernama Laventille sebelumnya,” Kata Lazurno.
“Ah… Mungkin aku salah mengucapkan nama mereka, sehingga kalian tidak mengetahuinya,” kata Rox.
**
Berpindah pada Raquille yang masih berada di atas pohon, di taman Sprintrobe.
“Ah, sial… Mereka mulai mengetahui kebenarannya,” kata Raquille yang dari tadi menguping pembicaraan dari keluarga Drown.
**
“Oh iya… Dari tadi aku tidak melihat Nizale. Dimana dia?” Tanya Ailene, mencari Nizale.
“Nizale… Dia sekarang dirawat di institut kesehatan karena penyakitnya semakin parah setelah pertandingan pertama dalam turnamen,” kata Dierill.
“Apa…?” Kata Ailene, terkejut.
“Daripada membicarakan yang lain, ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua,” kata Lazurno, yang langsung berdiri dari kursinya.
“Aku sudah mengetahui dimana keberadaan bunga Camomile merah, obat untuk penyakit nona Nizale, saat mengorek informasi dari para pedagang gelap,” kata Lazurno.
Mendengar hal tersebut sontak membuat mereka terkejut.
“Apa…? Kau sudah mengetahuinya?” Tanya Rox.
“Benar sekali… Namun, kami belum bisa mengambil bunga tersebut.”
“Kenapa…? Kenapa tidak bisa?” Tanya Neyndra.
“Karena bunga itu hanya bisa tumbuh bebas di kawasan Biseria negeri Pavonas.”
Sontak mereka semua pun menjadi lebih terkejut mendengar perkataan dari pria tersebut.
“Pavonas katamu?” Kata Rox, terkejut.
“Para pedagang mengatakan bahwa sangat sulit untuk mendapatkan bunga tersebut. Tempat bertumbuhnya bunga itu sangat dijaga ketat oleh para prajurit Pavonas,”
“Sangat sulit juga untuk memasuki negeri tersebut dari daerah timur walaupun menyusup.”
“Hah… Sial, ternyata masih ada kesulitan lain walaupun sudah mengetahui keberadaan bunga itu,” kata Rox, sedikit mengumpat.
“Kalau begitu, terima kasih atas informasinya Lazurno. Aku pasti akan berusaha mendapatkan bunga itu dengan cara apa pun,” lanjutnya.
**
Berpindah pada Zeidonas dan para anggota timnya yang berada di suatu tempat.
“Haah… Aku tidak menyangka ternyata dua dari kita sudah mengalami kekalahan dalam turnamen ini,” kata Erklis.
“Sudah kukatakan kan padamu sebelumnya bahwa lawan-lawan kita di turnamen kali pasti akan lebih sulit dari turnamen sebelumnya,” kata Zeidonas.
“Kau benar… Aku memang terlalu menganggap remeh mereka,” respon Gerhanther.
“Tapi… Aku masih penasaran pada Elfman itu,” kata Dimira.
“Benar sekali… Teknik-teknik yang dia keluarkan sewaktu pertarungannya tadi… Tidak seperti Regional Venerate pada umumnya,” kata Zeidonas.
“Aku tidak menyangka bahwa Regional Venerate bisa mengalahkan dua Land Venerate, serta menyudutkan dua Land Venerate lainnya,” lanjutnya.
“Apa mungkin Elfman itu memang ras yang kuat... Bagaimana yah dengan Elfman yang berada di tingkatan World Venerate?” Kata Dimira.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dimira, Gerhanther seperti memikirkan sesuatu.
“Elfman World Venerate…? Hmph… Aku pernah mendengar bahwa dulu ras Elfman pernah memiliki seorang World Venerate yang dijuluki sebagai Elf iblis,” kata Gerhanther.
“Elf iblis…?” Tanya Zeidonas, penasaran.
“Iya… Ceritanya terjadi pada sepuluh tahun yang lalu. Dulu benua Aizolica pernah memiliki sebuah organisasi yang melindungi ras keturunan campuran dari ancaman manusia, yang berasal dari benua-benua seberang. Dan salah satu anggotanya merupakan Elfman yang dijuluki sebagai Elf iblis tersebut.”
“Memangnya kenapa dia bisa dijuluki sebagai Elf iblis?” Tanya Erklis, yang penasaran juga.
“Karena Elfman itu pernah membantai hampir semua rekan-rekannya.”
“Dia membantai anggotanya sendiri…?” Mendengar perkataan dari pemuda tersebut, sontak membuat Zeidonas dan yang lain terkejut.
“Iya… Elfman itu membantai anggotanya dengan kejam. Namun… Aku tidak mengetahui sebab yang pasti kenapa Elfman itu bisa membantai anggota sendiri. Padahal para anggota dari organisasi itu merupakan orang-orang terbaik yang terpilih dari negeri mereka masing-masing.”
“Apa mungkin hal itu juga menjadi alasan kenapa Blueland tidak diizinkan untuk mengikuti turnamen ini?” Tanya Dimira.
“Yah… Mungkin saja seperti itu. Selain Fuegonia, negeri-negeri di Aizolica sudah memandang buruk negeri para Elfman itu,” kata Gerhanther.