The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 163 - Dewi merak



“Aisling… Bagaimana kau bisa mengetahui nama itu?” Tanya Cyffredinol, dengan penasaran setelah terkejut mendengar nama yang diucap oleh pemuda itu.


Cyffredinol seketika mengingat ucapan Phyton saat menyelamatkannya sebelumnya, dimana pemuda itu mengatakan bahwa kekuatan elemen es miliknya sebenarnya diturunkan oleh ayahnya.


“Apa kau belum pernah melihat ataupun tahu siapa ayahmu sendiri?” Tanya kembali Cyffredinol, tidak memperdulikan tentang pertanyaan sebelumnya karena mulai yakin tentang apa yang dia ketahui mengenai pemuda di depannya tersebut.


Phyton pun menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan dari pria Elfman tersebut.


“Namun aku barusan mengetahui siapa nama ayahku dari tuan Raquille,” ucap Phyton sambil menunjuk Raquille.


Cyffredinol pun sontak menoleh ke arah Raquille sambil merasa dengan yakin bahwa pemuda bernama Phyton itu merupakan putranya, yang sudah lama tidak dilihat pria Elfman itu sendiri.


“Aku bahkan baru saja berkenalan dengannya dan mengetahui kebenaran itu,” ucap Raquille.


“Siapa nama ayahmu nak?” Cyffredinol kembali menoleh ke arah Phyton dan sontak bertanya kembali pada pemuda itu.


“Cyffredinol…” Dengan jelas Phyton pun mengatakan nama dari ayahnya yang merupakan pria Elfman yang sedang berada di depannya tersebut.


Cyffredinol pun tersenyum dan langsung memeluk putranya itu tidak menyangka bahwa mereka akan dipertemukan di negeri Pavonas tersebut.


“Akulah Cyffredinol ayahmu itu… Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi… aku sangat merindukanmu selama ini nak…” Ucap Cyffredinol, sambil bersyukur dan sangat rindu bertemu dengan anaknya kembali setelah kurang dari sepuluh tahun harus terpisah.


Phyton pun juga merasa senang akhirnya bisa bertemu dengan ayahnya, yang belum pernah diketahuinya karena sejak terakhir kali mereka berpisah dikarenakan Phyton saat itu masih berusia beberapa bulan dan tentu saja masih belum bisa mengingat ayahnya tersebut.


“Bagaimana keadaan Aisling, ibumu?”


“Eh, soal itu… Aku juga kurang yakin karena aku terpaksa meninggalkan Ierua setahun yang lalu,” ucap Phyton.


“Lalu kenapa kau berada di pihak Pavonas?” Cyffredinol terus menanyakan beberapa hal kepada Phyton saking penasarannya tentang kehidupan dari putranya tersebut selama ini.


Phyton pun kemudian menjelaskan secara panjang lebar kepada Cyffedinol bahwa yang diketahuinya, dia sejak kecil memang sudah hidup dan tinggal di negeri Ierua bersama dengan ibunya yang menjadi anak dari perdana menteri negeri tersebut.


Awalnya Phyton sering mendapatkan hasutan oleh kakeknya yang merupakan perdana menteri Ierua tersebut bahwa ayahnya merupakan orang yang bertanggung jawab karena telah meninggalkannya bersama dengan ibunya.


Akan tetapi, ibunya selalu meyakinkan bahwa hal tersebut tidaklah benar bahwa ayah dari pemuda itu terpaksa meninggalkannya karena secara terpaksa.


Beberapa tahun Phyton pun tumbuh menjadi seorang pemuda, dia mulai mengerti tentang sifat dari kakeknya tersebut. Ibunya pun meminta Phyton untuk pergi meninggalkan negeri Ierua karena ada sesuatu yang akan dilakukan oleh kakeknya kepada dirinya.


Phyton mengikuti ucapan dari ibunya dan pergi berpihak ke negeri Brizora, dimana merupakan negeri yang sering berkonflik dengan negeri Ierua.


Ketika perang kubuh barat dan kubuh timur pecah, negeri Brizora yang sebagai salah satu anggota organisasi GANCO mengirim Phyton bersama para Venerate lainnya untuk menyerang wilayah kubuh timur, tepatnya negeri Pavonas. Mereka saat itu kalah dalam jumlah pasukan serta kekuatan hingga akhirnya dapat dikalahkan dengan mudah dan ditangkap oleh pasukan Pavonas kemudian.


Ketika sedang ditahan di dalam penjara kota Vosmoc, Phyton tiba-tiba didatangi oleh Erissa dan langsung mengatakan bahwa perempuan itu mengenal ayahnya. Disaat itu juga Erissa berusaha menghasut Phyton dengan memberikan pernyataan tentang ayahnya seperti pernyataan yang didengar oleh kakeknya, namun Phyton tidak mempercayai hal tersebut dan terpaksa bergabung dengan pasukan Pavonas demi mengetahui siapa ayahnya sebenarnya dari Erissa.


“Jadi kau adalah Phyton?” Ucap Aguirre, yang juga sontak terkejut mendengar penjelasan dari pemuda itu.


Phyton pun menganggukkan kepalanya merespon bahwa pertanyaan dari Aguirre memang benar.


“Hahaha… Aku tidak menyangka akhirnya Razoranos dan Lorainne memiliki cucu pertama mereka,” ucap Aguirre, tampak merasa senang sambil memeluk pemuda itu.


***


Erissa kemudian menghampiri semua Venerate Pavonas yang sudah kembali tersadar di kota tersebut.


Perlahan-lahan Gudov mendekati Erissa kemudian diikuti oleh seluruh Continent Venerate, serta Land Venerate dan para Venerate yang berada di tingkatan bawah.


“Nona Erissa, karena hanya anda satu-satunya World Venerate yang tersisa, maka secara tidak langsung kami akan menganggapmu sebagai pemimpin agung negeri Pavonas menggantikan Rumen Sayruz,” ucap Gudov, mewakili semua Venerate Pavonas yang ada.


Semua Venerate Pavonas yang berbaris di depan Erissa dengan sigap bersujud menghormati pemimpin baru mereka, yang membuat perempuan itu tiba-tiba terkejut.


“Hidup pemimpin agung baru negeri Pavonas, Erissa Flamo sang dewi merak…” Ucap Gudov mewakili seluruh Venerate Pavonas.


“Hidup!” Semua Venerate pun lantas bersorak untuk pemimpin baru mereka tersebut.


“Dewi merak…” Erissa merasa kebingungan ketika Gudov menyebut julukan tersebut kepadanya.


“Sebagai perempuan pertama yang akan memimpin negeri Pavonas, maka anda akan mendapatkan julukan itu sebagai perwujudan sang dewi merak sebenarnya yang pada dahulu kala mendirikan negeri ini,” ucap Gudov, menjelaskannya pada Erissa.


Mendengar hal tersebut, Erissa pun merasa senang karena Venerate Pavonas asli bisa menganggapnya yang bukan berasal dari negeri Pavonas itu sendiri sebagai perwujudan dari sosok agung pendiri negeri tersebut.


**


Di dekat tempat tersebut terlihat para Venerate dari negeri Lightio, yang tidak lain merupakan Hefaistos, Artemis, Gahaelix, Lucierence dan Silvan.


“Jadi seorang perempuan dan bahkan berasal dari salah satu ras keturunan campuran akan menjadi pemimpin tunggal negeri ini,” ucap Artemis melihat para Venerate bersujud di hadapan Erissa.


“Kau juga akan menjadi pemimpin perempuan tunggal jika aku tidak berhasil diselamatkan,” balas Hefaistos.


“Diam kau…”


“Hahaha…” Para Venerate pria, lantas menertawakan respon dari Artemis tersebut karena merasa kesal mendengar ucapan dari Hefaistos.


**


Tak jauh juga dari tempat itu, terlihat Alyara sedang bersama dengan pria bernama Siramarg, sedang memperhatikan Erissa.


“Alyara, apa kau tidak mau kalah juga dengan perempuan itu? Setidaknya kau juga nantinya akan menggantikan ibumu sebagai khan agung Morseli.”


“Yah mungkin hal itu benar… Tapi, mungkin nantinya aku akan dianggap sebagai pembelot Pavonas,” ucap Alyara.


“Memangnya kenapa?” Tanya Siramarg, merasa bingung dengan pernyataan Alyara.


“Karena kali ini aku akan sering berkunjung ke negeri Pavonas, khususnya ke kota Vinks, dimana tempatmu berada nantinya,” jawab Alyara sambil tersenyum pada pria itu.


Siramarg lantas membalas senyuman Alyara karena sekian lama akhirnya bisa mendapatkan hati dari putri negeri Morseli itu.