The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 125 - Menuju ke wilayah Graina



Gudov terhempas menghantam dinding bangunan, kemudian runtuh dan menimpa pria Pavonas itu.


Verre perlahan-lahan datang menghampiri pria itu sambil memasang ekspresi datar di wajahnya.


Verre mengangkat Gudov melayang di udara menggunakan kekuatannya. Tak lama setelah itu, puing-puing bangunan yang menimpa Gudov juga terangkat oleh kekuatan telekinesis pemuda itu.


Ternyata niat pemuda itu ingin menghantamkan dengan keras puing-puing tersebut hingga membuat tubuh pria Pavonas itu remuk.


**


“Sineto… Apa itu juga bagian rencanamu?” Tanya Viecion nampak terkejut memperhatikan Verre yang terlihat serius ingin melakukan hal tersebut.


“Tidak…” Jawab Sineto dengan satu kata yang membuat Viecion lebih terkejut lagi.


*


Di dalam benak Gudov yang mulai berhalusinasi, pria itu dengan samar-samar mengingat sebuah memori masa lalunya.


Ketika masih berusia mudah, dia perlakuan dengan buruk, dikurung didalam sebuah sel penjara dengan rantai yang membelenggu kedua tangan serta kakinya.


Dengan keadaan lemah penuh dengan luka, Gudov yang masih berusia mudah itu melihat seorang pria misterius berambut panjang yang sedang memperhatikannya dibalik pintu besi sel dengan senyuman menyeringai.


**


Disaat mengingat kenangan tersebut, tiba-tiba kedua mata pria itu memancarkan cahaya yang terang.


Gudov dalam sekejap menghilang saat puing-puing yang meluncur tersebut hampir saja menghantamnya.


Melihat hal tersebut Verre sontak terkejut dan langsung meningkatkan fokusnya. Pemuda itu memperhatikan keadaan sekitarnya, mencoba mencari keberadaan Gudov.


“Akh…!” Baru saja dia sadar bahwa Gudov tiba-tiba muncul dibelakangnya, pemuda itu langsung menerima serangan tebasan.


Verre hendak mencoba mengaktifkan kekuatan manipulasi gravitasinya untuk menahan pergerakan Gudov, namun seketika pria itu langsung memancarkan sebuah proyeksi cahaya disekitarnya hingga membuat Verre pun tidak bisa mengakses kekuatannya.


Verre lantas kebingungan dengan apa yang terjadi kepadanya. Pemuda itu tampak heran dengan teknik yang digunakan oleh pria yang berada di depannya, yang membuat kekuatannya tiba-tiba menghilang.


Gudov mengaktifkan kekuatannya, melapisi energi proyeksinya pada belati yang digenggamnya tersebut.


Saat pria Pavonas itu akan melancarkan serangannya, seketika tanah di depannya muncul ke atas hingga membuat serangan yang akan dilancarkannya pada Verre menjadi terhalang.


“Hentikan itu tuan Gudov…” Ucap seseorang dari arah belakang.


**


Viecion dan Sineto yang hanya bisa menyaksikan pertarungan mereka pun tampak terkejut melihat kedatangan orang yang mencoba berbicara pada Gudov.


**


Gudov menoleh ke arah belakangnya, dan ternyata seseorang yang berbicara padanya tersebut adalah Erissa.


“Untuk apa aku mengatakan itu? Dia kan sudah kehilangan kesadarannya,” gumam Erissa.


Benar saja, ucapan Erissa tidak diindahkan oleh pria Pavonas, dan kini malah bergerak untuk mengincar perempuan itu.


Dengan sigap Erissa melancarkan serangan elemen air bertekanan tinggi hingga membuat Gudov terhempas.


Gudov kembali berdiri dan kembali bergerak mendekati Erissa hendak melancarkan serangannya lagi.


Muncul tanaman-tanaman merambat yang langsung menjerat Gudov, namun dengan sigap pria itu langsung menebasnya hingga membuatnya terbebas.


Gudov yang nampak kehilangan kesadaran itu tetap bersikukuh mendekat pada Erissa, untuk mencoba menyerang perempuan itu.


Kini memunculkan sebuah senjata suci yang berbentuk sebuah tongkat pendek dan mengibaskannya hingga menciptakan sebuah penghalang yang membuat Gudov pun terkurung di dalamnya.


Gudov yang terkurung terus saja menebas-nebas dinding penghalang tersebut layaknya orang sudah telah kehilangan kendali.


“Ada apa ini?” Tak lama kemudian, Ienin datang dan bertanya tentang masalah di tempat itu.


“Sepertinya dia sudah kehilangan kendali lagi karena kekuatan kekangan surgawi,” jawab Erissa menjelaskan kepada Ienin, yang ternyata pria bernama Gudov itu merupakan pemegang kekuatan kekangan jiwa kedua, yang dibahas oleh beberapa orang Graina.


“Lepaskan penghalangnya,” ucap Ienin.


Dengan sekejap mata Ienin bergerak mendekati Gudov dan langsung melingkari leher pria itu.


Ienin lalu mengucapkan sebuah kalimat yang panjang dengan Bahasa yang sulit untuk dimengerti.


Perlahan-lahan mata Gudov yang memancarkan cahaya mulai redup hingga kesadaran kembali lagi.


“Eh, ada apa ini?” Ucap Gudov, tampak kebingungan ketika Ienin menahannya.


Setelah yakin bahwa pria itu seratus persen telah tersadar, Ienin langsung melepaskannya dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun.


“Nona Erissa…” lanjut Gudov berkata ketika melihat Erissa berada didepannya.


“Siapa yang merencanakan hal ini?” Tanya Erissa, menatap Viecion dan Sineto.


**


Lantas Viecion pun langsung menunjuk Sineto yang otak dari pertarungan antara Gudov dan Verre sebelumnya.


**


Erissa tidak terlalu mempermasalah tentang pertarungan Gudov dan Verre itu karena hal tersebut sudah terlanjur terjadi.


“Gudov… Kau pasti sudah mendengarnya kan, bahwa kami berniat untuk melakukan kudeta kepada Rumen…”


“Bergabunglah bersama kami…” Ucap Erissa, langsung pada intinya.


“Kalau begitu berikan sebuah alasan agar aku bisa percaya bahwa kalian akan berhasil,” balas Gudov.


“Aku yakin rencana kita akan berhasil… Rumen yang selama ini mengaktifkan teknik agar pikiran tidak dapat dimanipulasi olehku, akhirnya sudah tidak mengaktifkannya lagi karena telah menaruh kepercayaan yang kuat padaku…”


“Aku kini sudah bisa masuk ke dalam pikiran, membaca hal yang dipikirkannya selama ini…”


“Lagipula semua orang-orang yang sangat loyal kepadanya kini berada di kota Vinks… Semua Venerate yang berada di kota ini sebenarnya adalah orang yang menentang pria itu, termasuk kau.”


Mendengar penjelasan tersebut, Gudov terdiam, memikirkan pilihan tepat yang akan diambilnya.


“Baiklah… Aku akan bergabung bersama kalian… Dan lagipula tujuan kita juga sama,” Pria Pavonas itu pun seketika langsung menyetujui permintaan dari Erissa.


Mendengar hal tersebut Erissa pun tersenyum karena anggota mereka kini bertambah satu orang, dan merupakan orang yang sangat berpengaruh untuk bisa mengalahkan pemimpin Pavonas nantinya.


“Verre… Hentikan itu… Untuk beberapa saat kau tidak menggunakan kekuatanmu.” Disaat yang bersamaan Erissa melihat Verre yang mencoba mengaktifkan kekuatan untuk menyerang gudov sekali lagi.


“Sial…” Umpat Verre dengan kesal.


–16 Juli 3029–


Berpindah ke negeri Midauz, dimana pasukan yang menyerang bersama Raquille kini berhasil mengambil alih penuh wilayah Valoskia dan kini dalam perjalanan memasuki wilayah yang sebenarnya dari negeri Graina.


***


Sedangkan pasukan kedua yang dipimpin oleh dua World Venerate, yang sekaligus pemimpin tertinggi negeri Midauz juga telah berhasil merebut wilayah mereka kembali.


“Haah… Untuk apa kita ikut jika hanya mereka berdua yang turun,” ucap salah satu Continent Venerate Midauz.


**


Tampak Kyreas duduk dengan santai di atas puing bangunan-bangunan salah satu kota Midauz. Tak jauh dari tempat itu terlihat mantan World Venerate Graina, Egata.


Hanya dengan mereka berdua saja yang turun menyerang, semua pasukan Graina yang menduduki kota serta wilayah tersebut langsung dikalahkan.


“Egata… Apa kau siap untuk mengunjungi lagi negeri asalmu,” ucap Kyreas.


“Memang banyak kenangan tentang negeri itu… Tapi, aku tidak terlalu memperdulikannya karena kali ini aku yang akan membuat pria itu bertekuk lutut dihadapanku,” balas Egata, membahas tentang Arvhen.


“Baiklah… Waktunya berangkat…”


Kyreas dan Egata seketika terbang ke udara dengan kecepatan tinggi diikuti oleh armada pesawat tempur mereka di belakang.


Pasukan kedua Midauz pun akhirnya selesai mengambil alih wilayah mereka dan kini menuju ke wilayah Graina juga.