
Para pasukan Ruhawsari negeri Tsureya dengan serentak memasuki setiap gerbang kota dari arah timur. Mereka langsung menyergap semua prajurit Geracie yang sedang berjaga, menyerang mereka sampai tak berdaya.
“Panggil bantuan sekarang!” Salah satu prajurit Geracie yang panik dengan sergapan pasukan Tsureya sontak berteriak, menyuruh untuk memanggil bantuan.
**
“Apa yang terjadi?”
Penyerangan pasukan Tsureya di depan kota sontak langsung didengar oleh para warga yang berada tak jauh dari tempat itu.
Beberapa dari mereka nampak kebingungan tiba-tiba mendengar suara ledakan, namun sebagian besar dari mereka pun seketika ketakutan, dan lebih memilih untuk menjauh dari tempat tersebut.
***
Di tempat lain, pasukan khusus Tsureya lainnya, yaitu prajurit Almasari tampak telah melumpuhkan semua prajurit-prajurit Geracie yang berada di beberapa titik dalam kota tersebut.
“Tuan Kurmer, pasukan Geracie yang berada di bagian timur kota ini sudah kami bereskan satu per satu,” ucap salah satu prajurit Ruhawsari menginfokan kepada pria bernama Kurmer dengan menggunakan alat komunikasi.
“Baik, kerja bagus,” jawab pria itu.
***
“Oke, sekarang kita tinggal menyebrang ke sisi seberang kota ini,” ucap Raquille.
“Hei, tunggu dulu...” Mendadak Kurmer langsung menghentikan pemuda Elfman itu, yang baru saja akan berancang-ancang untuk terbang melewati selat di depan mereka.
“Ada apa?” Tanya Raquille.
“Tak perlu terburu-buru, kita juga datang kemari bukan hanya bertiga saja...”
“Kita akan menyebrang menggunakan kapal... Lihat disana.” Kurmer kemudian menunjuk sebuah armada kapal dari negeri Tsureya, yang datang memasuki selat tersebut.
Armada kapal tersebut kemudian sampai dan berhenti tepat di depan mereka bertiga. Tampak awak armada kapal tersebut merupakan prajurit dengan memakai perlengkapan zirah baja.
Selain pasukan bertudung dan pasukan keturunan bangsa Slivan, negeri Tsureya juga mempunyai satu pasukan khusus lainnya, yang disebut sebagai pasukan Urusari. Pasukan ini sendiri merupakan para prajurit elit yang biasanya bertugas sebagai penyerang terdepan saat berhadapan dengan pasukan musuh.
Tiga orang tersebut, bersama dengan pasukan Almasari serta Ruhavsari, yang sebelumnya sudah sampai lebih dulu lalu naik ke atas kapal.
Armada kapal Tsureya kemudian kembali berlayar menyebrang ke sisi kota tersebut, yang berada di wilayah benua Greune.
Namun, tiba-tiba armada kapal negeri Geracie muncul dan sontak menghadang armada mereka.
Armada Geracie yang mengepung armada Tsureya dengan serentak mengeluarkan semburan api pelontar-pelontar yang berada di badan kapal, hingga kapal-kapal dari pasukan Tsureya seketika terbakar.
“Ice aura...” Dari balik kobaran api, Raquille seketika mengeluarkan pancaran uap es, yang langsung memadamkan semua kapal Tsureya yang terbakar.
Pancaran uap es itu yang dipancarkan oleh Raquille juga langsung membekukan perairan yang berada di sekitar tempat tersebut. Sehingga semua armada kapal, baik dari pasukan Geracie maupun pasukan Tsureya tidak bisa lagi bergerak.
Hal tersebut membuat pasukan Geracie melompat ke kapal Tsureya, menyerang semua prajurit yang ada.
“God Aura... Superior kick...” Raquille yang baru saja akan melancarkan serangannya pada para prajurit Geracie, seketika terhempas ketika salah satu Venerate Geracie datang menyerangnya.
Venerate Geracie yang menyerang Raquille adalah Asseios, pria yang pernah berhadapan dengan Zeidonas pada sebelas tahun silam, dan merupakan salah satu anggota clan Magchora.
Setelah berhasil membangkitkan kekuatannya serta mencapai tingkatan Land Venerate, pria itu akhirnya telah berhasil menerobos ke tingkatan Continent Venerate dan menjadi salah satu prajurit terkuat di negeri Geracie.
“Tuan Raquille...!” Teriak Zitkavena, melihat pemuda Elfman itu terhempas menerima serangan Asseios.
**
“Ukh...” Di sisi lain, Kurmer secara mendadak diserang oleh Venerate Geracie tingkat tinggi lainnya.
“Hei Kurmer, sepertinya kau tidak ada bosannya menyerang kami,” ucap pria itu pada Kurmer.
Namun, serangan yang dilancarkan oleh Kurmer dengan mudah dihindari oleh pria Geracie itu, dan malah mengenai prajurit-prajurit Tsureya, yang sedang bertarung di belakang mereka.
“Lihat itu, kau bahkan menyerang rekan-rekanmu,” ucap pria itu, menyindir Kurmer karena serangannya malah salah sasaran.
Kurmer yang nampak kesal setelah disindir kembali melancarkan serangan proyeksinya kembali.
Namun, pria itu dengan mudah menghindari serangan Kurmer. Dia juga langsung bergerak menyerang balik Kurmer, hingga pria Tsureya itu terhempas jatuh dari atas kapal.
**
Kembali pada Asseios yang kini sedang berhadapan dengan Zitkavena.
Dengan lincah pria Geracie itu menghindari semua serangan Zitkavena yang diarahkan kepadanya.
“God aura... Superior punch...” Asseios dengan cepat meluncur ke arah Zitkavena, langsung melancarkan serangan proyeksi energi berwarna emas pada perempuan itu.
Untungnya Zitkavena bisa dengan tepat waktu menghindari serangan yang dilancarkan oleh pria Geracie itu.
“Tekhnika ekzortsista... Lost spirits...” Pasukan Ruhawsari kemudian datang membantu Zitkavena dengan memunculkan arwah-arwah hitam yang langsung menahan Asseios, hingga pria itu tak bisa bergerak.
Melihat sebuah kesempatan Zitkavena seketika melompat hendak melancarkan serangan Asseios.
“God aura... Deadly superior slashes...” Walaupun tidak bisa bergerak, Asseios mampu mengeluarkan proyeksi energi emas, membuat arwah-arwah hitam yang menahannya seketika lenyap.
“Akh...!” Proyeksi energi emas itu juga menyerang Zitkavena yang berada di dekat Asseios, mencabik-cabik perempuan itu hingga jatuh terkapar tak berdaya.
Asseios mendekati Zitkavena, mencengkram bagian leher dan mengangkat perempuan itu. Dia kemudian hendak melancarkan serangan proyeksi energi emas yang terpancar pada salah satu tangannya.
Para prajurit Ruhawsari yang melihat hal tersebut bergerak dengan cepat berusaha untuk menghentikan pria itu.
Namun, meraka tidak akan sampai dengan tepat waktu karena kecepatan tangan pria itu, jauh lebih cepat dari pergerakan mereka.
Mendadak Asseios tersadar, perempuan itu dengan sekejap telah hilang dihadapannya.
Asseios menghadap ke samping dan seketika terkejut melihat Zitkavena kini telah berada ditangan Raquille.
“Kapan dia datang?” ucap Asseios, tidak percaya melihat Raquille dengan sekejap dapat merebut Zitkavena tanpa disadari olehnya.
Raquille membaringkan Zitkavena dan kemudian memunculkan kapaknya. Ekspresi dari Raquille nampak serius setelah mengetahui Zitkavena telah dikalahkan oleh pria itu.
“World Venerate... Sepertinya kau bukan dari Tsureya,” ucap Asseios.
Raquille hanya memasang ekspresi menyeringai di wajahnya setelah mendengar ucapan pria Geracie itu. Seketika dia bergerak dengan cepat mengayunkan kapaknya, hingga Asseios pun tidak dapat merespon serangannya tersebut.
Akibatnya pria Geracie itu terhempas dari atas kapal sampai ke jarak yang cukup jauh.
Dengan sigap Raquille memunculkan pasak-pasak es disekitarnya, dan langsung meluncurkannya ke arah Asseios yang masih terhempas.
“Akh...!” Asseios yang tidak bisa melakukan apa-apa saat terhempas, seketika menerima serangan pemuda Elfman itu, hingga jatuh ke dalam air.
Namun dengan cepat, pria Geracie itu muncul kembali dari air, dengan wujud berbeda, setelah mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya.
Asseios tampak berubah menjadi makhluk yang dilapisi dengan zirah emas diseluruh bagian tubuhnya, serta memegang sebuah tongkat, yang meruncing pada salah satu bagian ujungnya.
Melihat perubahan pria itu, Raquille seketika mengubah ukuran kapaknya menjadi lebih besar.
Dengan satu hentakkan, pemuda Elfman itu dengan cepat langsung meluncur ke udara.
Mereka berdua seketika saling mengayunkan senjata mereka masing-masing, hingga tabrakan tersebut memancarkan percikan proyeksi energi emas serta uap es.