
Beberapa saat kemudian setelah melanjutkan perjalanan mereka, Raquille, Alyara dan Azouraz akhirnya sampai di kota Lynerbyich.
Alyara serta Azouraz perlahan-lahan bergerak menyelinap melewati penjagaan ketat para prajurit Graina yang berada hampir di setiap sudut kota tersebut.
“Ice cursed… Paralyzing soft touch…”
Sedangkan Raquille yang mengikuti dua orang itu dari belakang dengan santainya membuat para prajurit Graina dilewatinya tak sadarkan diri menggunakan sentuhannya.
“Hei, untuk apa kita satu per satu melumpuhkan mereka?” Tanya Raquille, tampak bosan dengan hal yang dilakukannya.
“Sudah lakukan saja… Ini satu-satunya cara agar kita bisa mencapai bangunan itu,” jawab Alyara sambil menunjuk sebuah bangunan yang berada di tengah kota tersebut.
“Tuan putri apa kau bodoh? Kenapa kau tidak lebih baik menggunakan teknik yang kau lakukan sebelumnya?”
“Eh, benar juga kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku?” Alyara seketika sadar bahwa dia memiliki teknik yang bahkan lebih efektif untuk digunakan dalam keadaan mereka sekarang.
“Kalau begitu ikut aku…” putri Morseli itu kemudian berjalan dengan santai diikuti oleh Raquille dan Azouraz.
Mereka dengan mudahnya melewati semua prajurit Graina tanpa takut ketahuan ataupun diserang oleh mereka.
Para prajurit Graina tiba-tiba menjadi terdiam dengan ekspresi datar ketika Alyara datang mendekati mereka. Saat Alyara melewati mereka, seketika prajurit-prajurit tersebut jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Tiga Venerate itu berjalan tanpa hambatan hingga mencapai bangunan besar yang ditunjuk Alyara sebelumnya.
Tanpa perintah apapun, dua prajurit Graina yang berjaga di depan dengan sigap langsung membukakan gerbang untuk mereka.
Dua prajurit itu kemudian jatuh tak sadarkan diri setelah Alyara melewati mereka.
Di dalam bangunan tersebut para prajurit yang sedang berjaga sejenak terkejut melihat kedatangan mereka bertiga, namun dalam sekejap prajurit-prajurit itu langsung masuk ke dalam pengaruh kekuatan Alyara hingga membuat mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah tidak ada satupun prajurit Graina yang sadarkan diri, Mereka pun dengan sendirinya membuka sebuah pintu yang berada di depan mereka.
Betapa terkejutnya mereka bertiga melihat hulu-hulu ledak raksasa yang telah dipersiapkan di dalam ruangan yang sangat luas tersebut.
“Apa-apaan semua ini? Bagaimana bisa bangsa Slivan bisa melakukan hal ini?” Ucap Azouraz, terkejut sambil bertanya-tanya mengenai hal yang dilihatnya.
Pria itu tidak percaya bahwa bangsa yang sering berkecimpung dalam dunia spiritual serta memiliki keseharian dengan mengandalkan energi dari makhluk astral bisa memiliki teknologi yang canggih seperti itu karena sebuah ambisi demi menguasai sebuah benua.
“Aku pernah mendengar bahwa Graina dan Pavonas memiliki hubungan dengan beberapa negeri di benua Avanca… Karena itu mereka bisa memiliki teknologi yang canggih untuk membuat kristal dari Fuegonia yang mereka ambil menjadi senjata seperti ini,” ucap Alyara.
“Jika hulu-hulu ledak ini diluncurkan, maka akan banyak jiwa yang tidak bersalah akan melayang dengan sekejap,” sambung Raquille.
“Kita tidak boleh membuang waktu lagi. Aku akan segera menyegel benda-benda ini… Tuan putri, tuan Azouraz, pastikan untuk tidak ada siapapun yang mengganggu saat aku melakukan penyegelan. Jika hal itu terjadi maka mantraku sepenuhnya akan gagal,” lanjut Raquille berkata.
Alyara dan Azouraz pun paham dan kemudian memperhatikan keadaan sekitar sembari Raquille bersiap melakukan penyegelan.
“Geheimer eissiegel-zauberspruch…” Raquille memejamkan matanya dan kemudian memunculkan sebuah lingkaran sihir di tempat berpijaknya.
Pemuda Elfman itu lalu mulai mengucapkan sebuah mantra yang sangat panjang, dalam Bahasa yang sulit untuk dimengerti oleh orang-orang.
“Hahaha… Tidak kusangka ternyata kalian dengan cepat datang ke tempat ini.” Tiba-tiba seseorang datang dari arah pintu masuk, yang ternyata adalah pemimpin negeri Graina, Arvhen Horyenko.
“Arvhen Horyenko…” Ucap Alyara, terkejut melihat orang itu berada di tempat tersebut.
Begitu juga dengan Azouraz yang terkejut melihat pria itu. Dia dengan sigap bersiap untuk menyerang.
“Azouraz, biar aku yang menanganinya.” Namun, Alyara langsung menghalangi pria Ledyana itu.
Alyara kemudian menatap Arvhen, mencoba melakukan teknik pengendali yang dilakukannya pada para prajurit Graina sebelumnya.
“Jadi memang benar bahwa Morseli dan Ledyana telah mengkhianati aliansi SGS,” ucap Arvhen.
Akan tetapi, Alyara tampak heran melihat tekniknya tidak mempan kepada pemimpin Graina itu.
Disaat serangan Azouraz mengenai Arvhen, tiba-tiba pria itu musnah.
“Itu hanya tiruan.” Mereka pun dibuat terkejut lagi karena menyadari bahwa orang berada di hadapan mereka bukanlah Arvhen yang asli.
Alyara dan Azouraz dengan bersiaga memperhatikan keadaan sekitar, mencoba mencari keberadaan dari Arvhen.
“Ukh…” Tiba-tiba Arvhen muncul tepat di depan Alyara, langsung mencengkram leher putri Morseli itu dan mengangkatnya.
Dengan cepat pria itu melempar Alyara hingga menghantam sebuah mesin transmisi hingga hancur.
“Akh…!” Alyara pun menjerit kesakitan ketika listrik bertegangan tinggi menyambarnya.
Disaat yang bersamaan, Arvhen langsung menyerang dengan serangan dorongan elemen angin hingga pria itu seketika terhempas menabrak sesuatu yang berada di depannya.
Mendengar teriakan Alyara, Raquille yang tengah berkonsentrasi melakukan penyegelan tiba-tiba membuka matanya.
Dengan refleks pemuda Elfman itu langsung menghindar ketika Arvhen dengan cepat mencoba untuk menyerangnya.
Akibat hal tersebut, mantra yang dia rapalkan menjadi terputus hingga proses penyegelannya pun akhirnya gagal.
Raquille terkejut melihat Alyara dan Azouraz terkapar lemah setelah mendapat serangan dari Arvhen.
“Jadi kau Elfman itu yah… Berani juga kau berada di tempat ini,” ucap Arvhen.
“Untung saja Venerate yang kalian kalahkan sudah lebih dulu memberitahukan bahwa kalian sebenarnya adalah musuh kami.”
Ternyata sebelum pergi menyergap Raquille dan yang lain sebelumnya, prajurit Graina bernama Leonkiv dan Zynotyn sudah terlebih dahulu melaporkan hal tersebut kepada Arvhen untuk berjaga-jaga agar mereka mengalami kekalahan saat melawan tiga orang itu.
“Tidak ada lagi jalan keluar bagimu… Kau akan segera lenyap karena berani memasuki negeri ini.”
Seketika sebagian dari Venerate tingkat atas Graina muncul di dalam ruangan tersebut mengepung Raquille.
“Sial…” Umpat Raquille dengan memasang ekspresi menyeringai melihat keadaannya yang telah dikepung oleh para Venerate Graina.
“Majulah kalian kalau berani…” Raquille tanpa takut langsung menantang semua
Venerate Graina yang ada.
Pemuda itu lalu memunculkan pedang biru berbilah gandanya dan bersiap melawan.
Dengan serentak semua Venerate tingkat atas Graina maju menyerang Raquille dengan berbagai serangan.
Raquille menghindari serangan-serangan mereka dengan sangat lincah serta menepisnya mengunakan pedang yang dipegangnya.
Dengan hanya mengandalkan kemampuan berpedangnya, pemuda Elfman itu mampu mengalahkan beberapa Venerate yang ada.
Melihat bahwa lawan yang berhadapan dengan mereka tampak sangat kuat, para Venerate Graina pun mulai melancarkan serangan proyeksi mereka secara bergantian.
“Feuerzauber…”
“Wasserzauber…”
“Windzauber…”
Raquille pun secara berturut-turut melancarkan serangan elemen api, elemen air, bahkan elemen angin untuk menepis serangan proyeksi mereka.
“Tekhnika ekzortsista… Shadow clones…” Venerate yang lebih kuat pun lalu beraksi dengan menciptakan klon-klon bayangan untuk menyerang Raquille.
Klon-klon tersebut dengan lincah menyerang Raquille secara bergantian dan mampu menyibukkannya.
“Howling tempest… Invisible push…” Kesempatan tersebut langsung dimanfaatkan oleh Arvhen dengan melancarkan serangan dorongan elemen angin yang kuat hingga Raquille pun terhempas.