The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 122 - Pasukan Midauz bersiap menyerang



Setelah keadaan Raquille kembali pulih, pemuda itu datang menemui Kyreas, ketua dewan federal dari negeri Midauz di sebuah ruangan.


“Kau siuman ternyata…” Ucap Kyreas melihat Raquille datang menemuinya.


“Jangan khawatir, hari ini juga kita akan segera menyerang Graina dan menghancurkan senjata itu…” lanjut pemimpin Midauz berkata.


“Sekedar informasi bahwa benda itu tidak boleh kita hancurkan… Karena akan menyebabkan ledakan yang bahkan tidak bisa kau bendung… Satu-satunya jalan yang harus kita lakukan pada benda itu adalah menyegelnya,” sangga Raquille pada pernyataan dari Kyreas yang dianggapnya salah.


“Baiklah, aku paham nak… Aku kini tidak akan mengatakan untuk menghancurkannya…”


“Daripada terus berdebat lebih baik ayo kita berangkat sekarang… Semua Venerate tingkat atas Midauz sudah bersiap diluar sekarang.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Kyreas pun berjalan diikuti Raquille dibelakangnya meninggalkan ruangan tersebut.


***


Mereka berdua pergi ke sebuah lapangan udara, dimana tempat armada pesawat tempur Midauz berada.


Disana tampak semua pasukan Midauz, yang terdiri dari berbagai tingkatan Venerate telah bersiap untuk melakukan penyerangan mereka ke negeri Graina.


Tak berapa lama, salah satu World Venerate Midauz yaitu Rostyana datang menghampiri Raquille dan Kyreas.


“Tuan Kyreas, kita akan segera berangkat,” ucap perempuan itu.


“Baik… Kalau begitu aku duluan…” Kyreas pergi meninggalkan Raquille dan Rostyana menuju ke pesawat yang akan dinaikinya.


“Tuan… Ayo ikuti aku sekarang…” Rostyana pun kemudian menuntun Raquille menuju ke pesawat yang akan mereka naiki.


**


“Ngomong-ngomong namaku Raquille… Walaupun aku disini sebagai prajurit Fuegonia, namun sebenarnya aku berasal dari negeri Blueland… Yah, kau pasti langsung mengetahuinya dengan melihat ciri-ciriku…”


“Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi banyak perempuan yang berada di negeri asalku, sering mengidolakanku… Aku tidak terlalu menyukai mereka karena lebih tertarik kepada perempuan yang berasal dari luar.” Saat sedang berjalan menuju ke pesawat mereka, Raquille sedikit menggoda perempuan bernama Rostyana itu dengan memberitahukan tentang dirinya.


“Aku sebelumnya tidak mendengar dengan jelas namamu…”


“Tuan… Jika ingin menggodaku kupikir kau sudah salah orang, karena aku sebenarnya bukanlah seorang gadis yang masih berumur dua puluh tahunan…” Rostyana pun langsung memotong ucapan Raquille dengan menyatakan bahwa dirinya bukanlah tipe perempuan yang pemuda Elfman itu harapkan.


“Lagipula aku sudah menikahi… Itu dia suamiku.” Setelah sampai di depan pesawat mereka, Rostyana sontak menunjuk seorang Continent Venerate yang pernah datang ke pertemuan di kota Nerbil sebagai suaminya.


Setelah itu Rostyana pun lebih dulu naik ke atas pesawat meninggalkan Raquille.


“Maafkan aku tuan, aku tidak bermaksud seperti itu…” Merasa malu kepada suami dari Rostyana, Raquille pun langsung meminta maaf kepada pria itu.


“Hahaha… Jangan khawatir tuan, dia hanya satu dari ratusan Venerate berumur puluhan tahun yang pernah digoda oleh anak-anak muda.” Untung saja pria itu tidak mempermasalahkan Raquille dan hanya meresponnya dengan tertawa serta sedikit bergurau.


***


Beberapa saat kemudian, semua Venerate yang akan pergi berangkat kini telah masuk kedalam pesawat tempur mereka masing-masing.


Armada pesawat tempur Midauz yang telah siap lepas landas kemudian perlahan-lahan mulai naik ke udara.


Hingga semua pesawat pun telah mencapai titik ketinggian yang pas, dalam kecepatan penuh armada pesawat tersebut pun bergerak.


**


“Baik, semuanya sekarang dengarkan aku…” Kyreas yang berada di salah satu pesawat kemudian berbicara kepada seluruh Venerate melalui layar komunikasi yang dilihat bisa oleh semua armada pesawat yang ada.


“Tujuan pertama kita adalah mengambil alih wilayah Zecha dan Valoskia dari tangan pasukan Graina terlebih dahulu…”


“Karena itu kita harus membagi pasukan kita menjadi dua kelompok, yang akan dipimpin setidaknya terdiri dari dua World Venerate…”


“Jika informasi ini sudah jelas, berarti mari segera berpisah terlebih dahulu sebelum kembali bertemu di wilayah Graina nantinya.”


***


Kemudian di kota Lynerbyich, negeri Graina, Alyara tiba-tiba tersadar di sebuah ruangan kosong.


Dia mencoba bergerak berdiri, namun ternyata dirinya kini telah terbelenggu di sebuah kursi.


“Apa-apaan ini? Kenapa kekuatanku tidak bisa diaktifkan?” Alyara kebingungan menyadari bahwa kekuatannya tidak diaktifkan, padahal hanya dengan dibelenggu seperti itu tidak akan membuat seorang World Venerate kesusahan untuk lepas.


“Hahaha… tuan putri, ternyata kau sudah sadar rupanya…” Tak berapa lama, Arvhen datang ke ruangan itu dengan ekspresi menyeringai.


“Katakan padaku… Apakah penghianatan ini hanya dilakukan olehmu dan Venerate Ledyana itu, atau seluruh Morseli dan Ledyana sudah bermaksud untuk beralih ke kubuh barat?” Tanya Arvhen.


“Kenapa hanya aku saja? Tentu saja Morseli dan Ledyana sudah tidak mau lagi berada di pihak kalian…” Ucap Alyara dengan tatapan tajam pada pemimpin negeri Graina itu.


Mendengar hal tersebut Arvhen pun menjadi geram. Pria tersebut langsung menarik rambut Alyara dan kemudian menatap tajam perempuan itu balik.


“Jadi, karena berada di belakang kalian diam-diam ingin menusuk kami yah…”


Arvhen lebih keras menarik rambut Alyara hingga membuatnya kesakitan, namun perempuan itu tidak memperlihatkannya rasa sakit dan terus menatap tajam pemimpin negeri Graina tersebut.


Merasa cukup, Arvhen pun seketika melepaskan tarikannya pada Alyara dengan mendorong kepala perempuan itu.


“Untuk kau ketahui saja, kau mungkin merasa bingung mengapa kekuatanmu tidak bisa kau gunakan…


“Itu karena gelang cantik yang ku pakai ini,” ucap Arvhen sambil menunjuk sepasang gelang yang terpakai di kedua tangan Alyara.


“Bahkan seorang World Venerate sepertimu saja akan menjadi orang biasa saat memakainya…”


“Tidak mungkin… Kemampuan itu hanya bisa digunakan oleh salah satu Venerate dari Nascunia, dan aku sangat mengetahui bahwa Nascunia tidak akan membiarkan negeri lain mengambilnya,” ucap Alyara, tidak percaya pernyataan Arvhen.


“Hmph.. Memang benar mereka tidak akan membiarkannya… Tapi asal kau tahu juga, kekuatan kekangan surgawi tidak hanya dimiliki oleh satu Venerate ataupun satu makhluk suci saja… Masih ada seseorang yang memiliki yang sama sehingga kami juga bisa membuat benda seperti ini,” balas Arvhen, menjelaskan hal tersebut.


Setelah selesai, Arvhen pun berbalik berjalan hendak meninggalkan ruangan tersebut.


“Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu mati… Kau bisa menjadi aset bagi negeri ini jika tidak memiliki jalan pulang setelah negerimu runtuh nanti…”


***


Kembali ke armada pesawat tempur Midauz yang kini telah masuk ke wilayah Valoskia.


“Itu dia kota Lavarabsky, yang akan kita rebut…” Ucap Rostyana kepada Raquille.


“Kita harus mencari tempat pendaratan terlebih dahulu sebelum melakukan penyerangan,” lanjut perempuan itu.


“Kenapa harus seperti itu… Aku memiliki ide yang bagus…” Balas Raquille.


Pemuda Elfman itu kemudian memejamkan matanya dan berkonsentrasi.


“Projektionszauber… Eldritch wings…” Sontak energi sihir pemuda itu memancar keluar menuju ke arah para Venerate Midauz hingga berubah menjadi sepasang sayap proyeksi di belakang pundak mereka.


**


“Sayap…?”


Sayap proyeksi sihir Raquille juga terjadi pada para Venerate yang berada di pesawat lain.


Tiba-tiba layar komunikasi yang berada di setiap armada pesawat Midauz tersebut memperlihatkan wajah Raquille.


“Baiklah, jika kalian semua sudah mendapatkan sayap kalian masing-masing, bersiaplah untuk turun dan nikmati bagaimana rasanya menjadi Venerate tingkat atas walaupun hanya untuk sementara.”