The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 61 - Serangan balik ke wilayah Gimoscha



“Haah… Majulah kalian semua sekarang,” ucap Raquille menantang keempat prajuirt Gimoscha itu secara bersamaan.


Tanpa pikir panjang, pria bernama Mercurio langsung meluncur dengan kencangnya memutari pemuda Elfman itu.


Raquille seketika meningkatkan fokusnya memperhatikan pergerakkan dari pria itu yang nampak sangat mustahil untuk diketahui oleh manusia normal.


Dengan sekejap Raquille bergerak dan langsung melancarkan sebuah tendangan hingga pria itu terpental menabrak sebuah bangunan yang berada pada jalurnya.


“Heh… Ini semudah menepis sebuah lalat,” gumam pemuda itu.


Perempuan yang belum diketahui namanya tersebut seketika memanjangkan kedua tangannya layaknya akar pohon yang bertumbuh dalam waktu singkat dan menancapkannya ke dalam tanah. Tak lama setelah itu, sebuah akar-akar pohon muncul dari bawah permukaan tempat berpijaknya Raquille.


Dengan sigap pemuda itu langsung melompat memutar-mutar tubuhnya ke udara menghindari serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu.


Namun, akar-akar pohon tersebut seketika melilit tubuh Raquille dikarenakan pergerakkannya yang lebih lambat dari serangan tersebut.


“Elfman axe technique… Whip axe consecutive slashes...” Kapak yang masih dipegang pemuda itu seketika kembali memanjang dan langsung memotong akar pohon tersebut hingga membuat Raquille pun terbebas.


“Ice spring... Hundred ice thorns...” Saat menginjak permukaan, pemuda itu sontak melancarkan sebuah serangan duri-duri es yang muncul dari dalam tanah mengarah ke tiga prajurit Gimoscha itu.


Melihat serangan es tersebut, pria bernama Marte dengan sigap melancarkan serangan proyeksi energi merah, yang langsung menguapkan duri-duri es tersebut hingga membuat tempat tersebut tertutupi oleh kabut es.


*


“Sial... Aku tidak bisa melihat mereka dibalik kabut ini,” gumam Raquille dalam hati, sulit melihat posisi lawannya yang tertutupi kabut es.


**


“Plutone sekarang...” Teriak pria bernama Marte memberi aba-aba pada pria yang satunya.


“Breaker darkness... Soul devouring evil hands...”


Pria bernama Plutone yang memiliki wujud makhluk bersayap tersebut seketika memunculkan proyeksi asap hitam pekat dari kedua tangannya, yang langsung menyebar dan menutupi permukaan di sekitar pemuda Elfman itu.


Tiba-tiba saja sebuah tangan hitam satu per satu muncul dari asap hitam tersebut hingga perlahan-lahan melahap seluruh tubuh Raquille.


“Haah... Akhirnya...” Pria bernama Plutone itu seketika legah dan kembali ke wujudnya semula setelah asap hitam itu perlahan-lahan menghilang.


“Teknikmu itu memang paling efektif jika melawan Venerate dengan tingkatan yang lebih tinggi.” Di saat yang bersamaan, pria yang bernama Mercurio yang sebelum dihempaskan oleh Raquille kembali menghampiri para rekan-rekannya.


“Tapi, aku penasaran kemana perginya orang-orang yang dilahap oleh teknikmu itu? Apakah mungkin mereka sebenarnya sudah mati?” Tanya pria bernama Marte itu.


“Entahlah... Aku juga tidak tahu kemana... Namun, setidaknya kita bisa selamat sekarang,” jawab Plutone.


“Hei... Daripada membahas hal itu, apa kalian tidak penasaran dengan apa yang terjadi pada kakak Dagon dan kakak Tezia?” Ucap pria bernama Marte.


Rekan perempuan dari pria itu kemudian datang menghampiri kedua orang yang masih terdiam sejak dari tadi.


“Aku juga tidak paham apa yang sebenarnya terjadi setelah pertarungan mereka dengan pria rambut putih itu.” Perempuan itu juga terlihat bingung dan masih menduga penyebab kedua orang itu terdiam.


***


Setelah terlahap oleh asap hitam dari serangan pria bernama Plutone sebelumnya, Raquille seketika muncul di sebuah lembah yang luas dengan kabut yang menutupi permukaan, serta pencahayaan redup layaknya pada waktu matahari hampir terbenam.


“Eh... Ini kan alam bayangan.” Namun, pemuda itu nampaknya telah familiar setelah memperhatikan tempat tersebut lebih seksama.


“Heh... Bagaimana kalian menjebak di tempat yang bisa kuakses sendiri,” gumam pemuda itu.


“Shadow core...” Tiba-tiba Raquille memancarkan asap berwarna hitam di sekitar tubuhnya.


Dia kemudian mengangkat salah satu tangannya ke atas. Layaknya mencelupkannya ke dalam air, tangan pemuda Elfman itu pun menghilang di udara.


***


Tangan Raquille tiba-tiba muncul di dalam bayangan dari pria bernama Plutone yang sedang duduk dengan merentangkan kedua kakinya di tanah.


“Plutone...!” Salah satu rekannya yang bernama Mercurio sontak berteriak memperingati pria itu ketika melihat tangan Raquille muncul dari permukaan.


Namun, baru saja pria itu menyadarinya, tangan pemuda Elfman telah mencengkram salah satu kakinya. Pria pun lalu ditarik masuk ke dalam permukaan.


“Plutone...!” Teriak pria bernama Mercurio sekali lagi, melihat rekannya tersebut seketika menghilang di hadapannya.


***


Plutone seketika tersadar kini telah masuk ke alam tempatnya menjebak Raquille sebelumnya.


“Kau... Bagaimana mana bisa kau ada disini? Dan tempat macam apa ini?” Pria itu sontak bertanya-tanya melihat pemuda itu beserta tempatnya berada.


“Hmph... Sepertinya kau belum bisa mengakses alam ini,” ucap Raquille.


“Biar kejelasan padamu... Tempat ini disebut sebagai alam bayangan, segala hal yang berada di dunia nyata terhubung ke tempat ini melewati refleksi bayangan.” Raquille pun kemudian menjelaskan tempat mereka berada sekarang.


*


“Alam bayangan...? Aku pernah mendengarnya, tapi aku tidak percaya bahwa tempat memang nyata... Sebenarnya sampai dimana kemampuan orang ini?” Gumam Plutone, nampak tidak percaya dengan apa yang lihat dan alami tersebut.


**


“Hei, sepertinya kau melepas senjatamu... Bagaimana bisa kau keluar jika tidak memegang senjatamu itu? Kau kan bisa mengirimku ke tempat ini berkat senjata sucimu itu,” kata Raquille.


“Haah... Kalau begitu, selamat berlatih di tempat ini... Aku yakin kau bisa menjadi lebih kuat jika bertemu dengan salah satu makhluk penguasa alam ini.”


Tiba-tiba setelah mengatakan hal tersebut kepada Plutone, Raquille nampak perlahan-lahan menghilang dimulai dari bagian bawahnya.


“Hei, mau kemana kau? Tunggu dulu...” Plutone pun sontak melompat hendak menggapai Raquille.


Namun, pria itu terlambat karena Raquille telah menghilang sepenuhnya, saat dirinya hampir saja menggapai pemuda Elfman itu.


***


Untuk kesekian kalinya, Raquille mengejutkan musuhnya dengan kini muncul secara perlahan-lahan di depan tiga prajurit Gimoscha.


“Kau...? Bagaimana bisa?” Tanya pria bernama Marte, terkejut.


“Apa kau yang membuat adikku menghilang?” Tanya pria bernama Mercurio juga, sambil menatap tajam pemuda itu.


“Jangan khawatir, rekan kalian hanya berlatih saja... Jika dia kembali nantinya, pasti pria itu akan lebih kuat dibanding dengan kalian,” respon Raquille.


Ketiga orang itu seketika merasa kesal mendengar ucapan pemuda itu. Mereka kemudian dengan cepat melancarkan sebuah serangan padanya.


Pria bernama Marte mengeluarkan serangan proyeksi, sama seperti sebelumnya. Pria bernama Mercurio mengeluarkan kobaran api dari kedua tangannya dan langsung meluncurkannya ke arah Raquille.


Sedangkan satu-satunya perempuan dari tiga orang tersebut, kembali melancarkan serangan akar-akar pohonnya ke arah pemuda itu.


Raquille yang melihat ketiga serangan tersebut dengan santai menantinya sambil memasang ekspresi menyeringai.


Tiba-tiba dua prajurit Serepusco, yaitu Arepo dan Mayorio datang menepis serangan tiga prajurit Gimoscha itu, dengan mengayunkan tongkat gada mereka.


“Tuan Raquille, anda baik-baik saja?” Tanya Prajurit bernama Arepo.


“Yah... Aku baik-baik saja kawan. Jangan khawatir,” jawab Raquille.


“Tenang saja tuan, biar kami yang urus sisanya,” sambung prajurit bernama Mayorio.


Kedua prajurit Serepusco itu lalu meluncur ke arah tiga prajurit Gimoscha hendak menyerang mereka.


Terlihat Arepo terlihat menyerang Mercurio dan Marte secara bersamaan.


“Terra, sebenarnya aku tidak mau melawan orang yang kusukai,” kata Mayorio sedikit menggoda perempuan itu.


“Diam kau,” Mendengar ucapan pria itu, perempuan yang bernama Terra tersebut nampak tersipu malu.


Setelah membiarkan Arepo dan Mayorio mengatasi tiga prajurit tersebut, Raquille kemudian datang menghampiri Dagon dan Tezia.


“Hei, ayo duduk.” Kedua prajurit tanpa mengatakan apapun langsung mengikuti perintah pemuda itu untuk duduk.


“Tapi, mereka ternyata bisa mengimbangi para Venerate yang telah mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua.” Sambil duduk bersila pemuda itu tampak memperhatikan pertarungan yang ada di depannya.


***


Di sisi lain, pertarungan antara Clava melawan prajurit Gimoscha bernama Neptuno masih berlanjut sampai sekarang.


“Breaker ice...” Pria Serepusco itu melancarkan sebuah serangan bongkahan es raksasa.


Prajurit bernama Neptuno itu seketika melompat menghindari serangan tersebut dan langsung melancarkan serangan tebasan elemen air, yang membuat bongkahan es tersebut terbelah.


Serangan tebasan elemen air itu kemudian meluncur dengan cepatnya menghantam Clava hingga membuatnya terhempas ke jarak yang cukup jauh.


Neptuno kemudian terbang ke udara dan mengangkat tongkat trisulanya ke atas. Senjatanya tersebut tiba-tiba mengeluarkan air dalam volume yang sangat besar berputar-putar di atas pria Ginoscha itu.


“Breaker water... Holy water waves unstoppable...”


Volume air yang besar itu seketika meluncur ke permukaan dan menyapu bersih apa saja yang dilewatinya, termasuk Clava yang sedang terkapar pada jalurnya.


Gelombang air itu juga masuk ke dalam kota Ceabalte dan menghancurkan bangunan-bangunan kota yang disambarnya.


“Ayo berdiri...” Raquille bersama dengan dua orang yang dikendalikannya tersebut seketika berdiri dan terbang ke udara saat melihat gelombang tersebut datang ke arah mereka.


Pertarungan antara dua prajurit Serepusco dan dua prajurit Gimoscha itu seketika terhenti, karena keempat orang itu juga ikut tersapu gelombang air yang datang mengarah pada mereka.


Namun, berbeda halnya dengan Mercurio, dengan mengandalkan kecepatan pergerakannya, pria itu seketika berlari dengan cepatnya ke tempat yang lebih aman sehingga membuatnya selamat dari terjangan gelombang tersebut.


“Haah... Hampir saja,” ucap Mercurio dengan leganya.


**


Di udara, Raquille melihat tiga prajurit Serepusco yang sedang terbawa ombak nampak tidak bisa berbuat apa-apa.


“Hei, kalian berdua tolong dua orang itu.” Dengan hanya menunjuk Arepo dan Mayorio yang dibawah oleh gelombang air, kedua prajurit Gimoscha yang sedang dalam pengaruh dari pemuda itu seketika terbang meluncur menolong dua prajurit Serepusco itu.


Sedangkan Raquille menolong Clava yang nampak tidak sadarkan diri tersebut ke tempat yang lebih aman bersamaan dengan Arepo dan Mayorio yang dibawah oleh dua prajurit Gimoscha itu.


“Blitzzauber...” Raquille lalu mengeluarkan proyeksi elemen petir untuk menyadarkan Clava.


“Ah...” Clava pun tersadar setelah menerima serangan kejut dari Raquille.


“Tuan Raquille... Arepo... Mayorio...” Pria itu kemudian kembali berdiri setelah melihat rekan-rekannya selamat dari terjangan gelombang sebelumnya.


“Kalian... Ternyata kalian juga selamat...” Clava seketika memunculkan kembali tongkat gadanya, hendak melancarkan sebuah serangan saat melihat Dagon dan Tezia di tempat itu.


“Hei, tunggu dulu... Jangan khawatir, mereka berdua sekarang telah berada di dalam pengaruh teknikku.” Namun, Raquille seketika menghentikan tindakan pria itu dan menjelaskan kenapa dua orang itu ada bersama dengan mereka.


“Apa kau yakin?” Tanya Clava.


“Iya,” jawab Raquille sambil menganggukkan kepalanya.


“Sepertinya kau kesulitan melawan pria itu... Apa kau perlu bantuan?”


“Eh... Maaf aku hanya sedikit lengah sebelumnya... Tenang saja, aku akan mengakhirinya dalam waktu singkat,” ucap Clava.


Setelah meyakinkan Raquille bahwa dia bisa mengalahkan Neptuno, pria itu kemudian kembali mengaktifkan wujud pelepasan keduanya.


“Breaker ice... Super cold winter...” Dengan mengibaskan senjatanya, seketika hempasan angin berhawa dingin meluncur hingga membekukan apa saja yang dilewatinya.


Hempasan angin tersebut seketika datang menghampiri Neptuno yang sedang melayang di udara, dan dalam sekejap membekukan tubuhnya hingga tak bisa bergerak lagi.


*


“Sial... Orang itu ternyata belum kalah...” Gumam Neptuno dalam hati, tidak memperkirakan hal tersebut.


**


Melihat serangannya tersebut berhasil membekukan tubuh lawannya, Clava seketika memutar-mutar tongkat gadanya, hingga memancarkan pancaran elemen petir yang cukup besar.


Pria itu kemudian terbang meluncur dengan cepatnya ke arah Neptuno sambil mengayunkan senjatanya tersebut.


“Breaker lighting... Strong swing lightning mace.” Dalam sekejap Clava menghantamkan tongkat gadanya pada Neptuno hingga membuat es yang membekukan tubuh pria itu seketika hancur dan membuatnya dalam waktu bersamaan terhempas begitu cepatnya sampai menghantam permukaan dengan kerasnya.


Hal tersebut sontak membuat pria Gimoscha itu tak sadarkan diri dan kembali ke wujudnya semula.


**


Tak berapa lama kemudian, pesawat Serepusco yang dinaiki oleh Raquille dan tiga prajurit negeri itu sampai di tempat mereka.


Di saat yang bersamaan juga, nampak para pasukan Serepusco yang berasal dari ibukota negeri itu sampai ke kota Ceabalte dengan telah menangkap Marte, Mercurio, perempuan yang bernama Terra, beserta para prajurit mereka.


Juaferrex Armadura, World Venerate perwakilan Serepusco yang sebelumnya menghadiri pertemuan organisasi perjanjian negeri-negeri kubuh barat, nampak keluar setelah pesawat tersebut mendarat.


“Apa...? Ternyata kalian sudah mengalahkan mereka,” ucap Juaferrex.


“Kau terlambat pak tua... Clava dan tuan Raquille sudah mengalahkan mereka,” balas Arepo.


“Tapi, kenapa dengan dua orang ini?” Juaferrex sontak kebingungan saat melihat Dagon dan Tezia yang nampak hanya terdiam memaku tanpa ekspresi.


“Tuan, kesadaran dua orang ini sebelumnya telah kuambil... Mereka akan bisa berbuat apa-apa kecuali mendengar perintah dariku.” Raquille pun sontak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dua prajurit tersebut.


“Jadi begitu yah... Aku tidak tahu kalau bangsa Elfman memiliki sihir seperti ini.”


Raquille kemudian membalas tanggapan pria itu dengan tersenyum.


Tak lama setelah itu, Clava datang membawa Neptuno yang sudah tak sadarkan diri.


Setelah mengumpulkan para prajurit Gimoscha dan menyerahkan mereka pada para prajurit yang lain, yang masih berada di pesawat mereka.


Prajurit Serepusco kemudian mengancam para prajurit Gimoscha untuk kembali ke negeri mereka dan membawakan informasi bahwa pasukan Serepusco akan segera menyerang negeri tersebut secepatnya.


***


Di malam hari, beberapa informan Serepusco datang dan memberikan informasi bahwa pasukan Calferland telah berhasil merebut kembali wilayah pesisir selatan Calferland dan mengusir pasukan Gimoscha yang menduduki wilayah tersebut.


“Ayah, jadi bagaimana rencana selanjutnya?” Tanya Clava.


“Hmph... Sebagian pasukan Serepusco bersama denganku akan mengambil alih wilayah pesisir timur negeri kita kembali... Sedangkan sebagian pasukan yang lain, bersama kalian bertiga dan tuan Raquille akan merebut pulau-pulau Serepusco dan Calferland.”


“Setelah kalian berhasil mengambil alih pulau-pulau tersebut, kita akan menyerang wilayah semenanjung Pianena negeri Gimoscha dari arah selatan... Aku yakin pasukan Calferland juga akan menyerang wilayah Gimoscha dari arah utara, dan bertemu dengan pasukan kita di wilayah tengah.”



“Kurasa kita harus segera menjalankan rencana ini sekarang,” ucap Raquille.


“Kalau begitu tunggu apa lagi?” Respon Juaferrex.