
Sontak Drakon meluncur dengan cepatnya dan langsung menangkap Neyndra keluar dari pancaran energi merah Vampireman itu, kemudian jatuh tersungkur bersamaan.
“Kau tidak apa-apa nona Neyndra?” Tanya Drakon, nampak khawatir.
“Iya, aku tidak apa-apa… Terima kasih…” Jawab Neyndra, sedikit tersipu malu.
Joker yang nampak lengah, tiba-tiba saja langsung diserang oleh Raquille dan Rox secara bersamaan hingga membuatnya seketika terhempas menabrak dinding arena.
“Akh…!” Teriak Joker.
Belum puas akan hal itu, Raquille pun nampak mengubah ukuran kapaknya menjadi lebih besar lagi hendak melancarkan serangannya lagi pada Vampireman itu.
“Tunggu dulu nak…” Namun, Rox seketika langsung menghetikannya.
“Ada apa tuan?” Tanya pemuda itu.
“Biar aku saja yang menangani Vampireman itu. Aku ingin kau membantu Rourke. Walaupun dia World Venerate, tapi aku ragu dia bisa mengalahkan orang yang dilawannya itu,” kata Rox.
“Apa kau yakin jika aku membantu tuan Rourke, kau juga tidak memerlukan bantuan melawan Vampireman itu?” Tanya Raquille sekali lagi.
“Tak perlu khawatir… Aku ini sangat berpengalaman,” kata Rox dengan percaya diri.
“Dan satu hal lagi… Aku ingin kau memindahkan yang lain dari dalam penghalang ini,” lanjutnya.
“Baiklah, sesuai perkataanmu.” Seketika pemuda itu mengangkat salah tangannya dan memainkan jarinya.
Tak lama kemudian muncul beberapa lingkaran sihir tempat berpijaknya pemuda itu dan para Venerate yang lain, yang dalam sekejap langsung memindahkan mereka semua ke tribun arena tepat di luar penghalang tersebut.
“Kenapa aku disini?” Tanya Dierill, bingung melihat dirinya kini telah berada diluar penghalang.
“Ayahmu itu menyuruh kalian untuk menonton pertarungannya disini saja. Karena sepertinya dia mau serius sekarang,” kata Raquille.
Tak berapa lama, Joker kembali berdiri. Dia kemudian memunculkan sebuah pedang sambil mengaktifkan kekuatannya, yang langsung menciptakan kobaran api biru pada bilah pedang tersebut.
Rox tak mau kalah, pria itu pun memunculkan sebuah tombak kapak dan kemudian memutar-mutarnya dengan cepat hingga menciptakan sebuah kobaran api pada bilah tajamnya.
“Sudah sekitar dua belas tahun sejak negeri Pavonas menyerang, aku sudah tidak pernah lagi berhadapan dengan Venerate yang setara denganku,” kata pria itu nampak bersemangat.
Tanpa pikir panjang, kedua orang itu pun maju secara bersamaan dan saling menabrakkan serangan mereka masing-masing.
Sontak tabrakan serangan mereka berdua menciptakan sebuah pancaran elemen api dengan dua warna yang berbeda menutupi seluruh permukaan tengah arena tersebut, hingga para Venerate menontonnya sontak terkejut dan menutupi pandangan mereka dari pancaran api yang sangat menyilaukan itu.
“Oke… Sekarang waktunya untuk membantu si World Venerate baru,” kata Raquille.
“Tuan Raquille…”
Mendengar panggilan dari Drakon, pemuda itu sontak menoleh padanya.
“Ada apa?”
“Tolong berhati-hatilah…” Kata Drakon.
“Heh… Tenang saja, ini hanyalah sebuah pemanasan untukku sebelum mengikuti perang yang sebenarnya,” kata Raquille dengan percaya diri.
Seketika dengan satu lompatannya, pemuda itu terbang dengan kencangnya ke udara menuju lokasi pertarungan Rourke dan Flogaz.
“Orang itu memang World Venerate,” kata Saturno, nampak terkejut kini melihat pemuda Elfman itu terbang tanpa menggunakan sayap proyeksi sihirnya.
***
Kembali ke pertarungan antara Rourke dan Flogaz, yang masih saling meluncurkan serangan mereka masing-masing.
“Elfman axe technique… Super great axe swing…” Tiba-tiba Raquille datang sambil mengayunkan kapaknya yang kini telah berukuran lebih dari tiga puluh kaki panjangnya pada Flogaz.
“Akh…!” Flogaz yang tidak memperkirakan serangan tersebut, sontak langsung menerimanya dan terhempas jauh ke bawah dan menghantam permukaan dengan kerasnya.
“Hei, kenapa kau kemari? Siapa yang melawan pria satunya lagi?” Tanya Rourke melihat pemuda itu datang membantunya.
“Tenang saja… Ayahmu sedang melawannya. Dan sepertinya dia terlihat bersemangat,” kata Raquille.
“Heh… Dasar pak tua… Apa dia tidak takut pinggang akan kejang-kejang lagi?” Kata Rourke, sedikit menyindir ayahnya itu.
“Ngomong-ngomong… Kekuatan kapakmu itu aneh sekali. Bagaimana bisa benda itu bisa menjadi sebesar tadi? Sebelumnya bahkan bisa memanjang dan lentur seperti tali,” lanjutnya, bertanya tentang kapak yang dipegang oleh pemuda Elfman itu.
“Nama kapak ini adalah Thronehawk… Ukurannya bisa berubah-ubah sesuai dengan keinginan pemakainya,” kata Raquille, memberi tahu nama dan menjelaskan kemampuan dari kapaknya itu sambil memainkannya.
Disamping itu, Raquille pun nampak bingung melihat senjata yang dipegang oleh pemuda itu yang nampak terlihat asing baginya.
“Senjata macam apa yang kau pegang itu,”
“Maksudmu ini…? Mungkin saja hanya aku seorang di benua ini yang memakainya.”
“Senjata ini berasal dari negeri Tianlong. Aku mendapatkannya dari ayahku saat berumur sepuluh tahun. Awalnya aku juga heran melihatnya karena setahuku tidak ada memakai senjata ini sebelumnya,” kata Rourke sambil memutar-mutar senjatanya tersebut.
“Tianlong…? Kenapa ayahnya pergi kesana?” Tanya Raquille.
“Entahlah... Tapi, lebih dari itu, sepertinya lawan kita telah kembali,” kata Rourke menunjuk Flogaz yang kini meluncur ke arah mereka.
Seketika Flogaz berhenti di udara dan mengangkat salah satu tangannya kemudian berkonsentrasi. Pria itu pun menciptakan sebuah bola energi yang sangat besar, sama seperti sebelumnya dan tanpa pikir panjang langsung meluncurkannya ke arah Raquille dan Rourke.
“Massive flame projection… Golden flame vortex…”
“Feuerzauber… Long way fire…”
Melihat pria tersebut, Raquille dan Rourke seketika langsung meluncurkan serangan elemen api mereka secara bersamaan.
Kedua serangan tersebut nampak lebih dari bola energi yang diluncurkan oleh Flogaz. Kedua serangan itu kemudian meluncur pria itu dengan cepatnya.
Tetapi, tiba-tiba saja Flogaz mengangkat tangannya ke arah serangan tersebut dan dengan mudahnya dapat diserap oleh pria itu.
“Apa…?” Kata Rourke nampak terkejut melihat hal tersebut.
Flogaz lalu menghempaskan kembali elemen api yang diserapnya tadi. Namun, pria itu dengan sengaja hanya
mengarahkan serangan tersebut ke arah Raquille.
Dengan cepatnya serangan tersebut meluncur menghantam Raquille yang terlambat memperkirakannya. Pemuda itu pun seketika meluncur ke bawah dan menghantam tanah dengan kerasnya hingga menerima ledakan dari efek serangan tersebut.
**
Hal tersebut sontak membuat penghalang yang diciptakan oleh Raquille di sekitar arena turnamen pun seketika lenyap.
“Eh… Sepertinya Elfman itu sudah dikalahkan oleh rekanku…” Kata Joker.
“Tapi, lebih kita lanjutkan saja pertarungan ini karena aku juga sudah mulai bersemangat untuk mengalahkanmu.” Namun, Joker nampak masih ingin berhadapan dengan ketua clan Drown itu walaupun telah melihat sebuah peluang untuk kabur dari tempat itu.
Tak perlu berlama-lama lagi, kedua orang itu pun seketika kembali saling melancarkan serangan mereka yang langsung menciptakan pancaran kobaran, yang memancar ke segala arah.
**
“Eh… Tuan Joker…” Nampak Zeidonas kini telah sadar dan melihat atasannya itu sedang bertarung dengan ketua clan Drown di tengah arena.
“Oh… Kau sudah bangun yah…” Kata Drakon, melihat pria itu telah sadar.
“Apa yang terjadi?” Tanya Zeidonas.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kalian rencanakan sehingga dengan berani menyerang kami?” Balas Drakon, bertanya balik pada pria itu sambil menunjuk Joker di tengah arena dan Flogaz yang berada di udara.
“Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi disini… Tapi, sebelumnya mereka mengatakan padaku bahwa ada sesuatu yang ingin mereka ambil di dalam kediaman clan Drown,” jawab Zeidonas, menjelaskannya pada Drakon.
“Walaupun kau mengetahuinya atau tidak. Itu tetap tidak akan membuat situasi kalian menjadi aman sekarang,” kata Drakon dengan tegas.
Zeidonas pun sontak tidak bisa mengatakan apa-apa lagi setelah mendengar hal tersebut dari Drakon.
**
“Baiklah… Sekarang giliranmu,” kata pria itu pada Rourke.
“Divine ice…”
Seketika bola energi yang diluncurkan oleh Flogaz dengan sekejap membeku dan kemudian lenyap tak bersisa.
“Uh… Serangan yang merepotkan,” Nampak Raquille kini telah kembali tanpa mendapatkan luka sedikitpun ditubuhnya.
“Apa…? Bagaimana bisa?” Flogaz pun nampak terkejut melihat Raquille yang masih baik-baik saja setelah menerima serangannya.
“Mungkin seranganmu yang barusan itu masih lemah,” kata Raquille, sedikit menyindir pria itu.
“Urgh…!” Merasa kesal karena serangannya belum mampu untuk mengalahkan Elfman itu, Flogaz kembali menciptakan bola energi yang ukurannya kini dua kali lebih besar dari bola energi, yang dia ciptakan saat pertama kali.
Melihat serangan tersebut, seketika mata dari pemuda Elfman pun nampak memancarkan cahaya berwarna biru.
Namun, tiba-tiba sebuah proyeksi energi berwarna merah dengan sekejap meluncur layaknya sebuah anak panah menyambar bola energi Flogaz hingga lenyap.
“Kenapa tidak dari tadi saja kau melakukan teknik itu,” kata Rourke.
“Itu bukan perbuatanku,” balas Raquille.
Mendadak Raquille merasakan tekanan kekuatan yang kuat berasal dari belakangnya, dengan sigap dia pun menoleh ke belakang.
Begitu juga dengan Rourke, yang juga merasakan hal sama langsung menoleh ke arah tekanan kekuatan tersebut.
“Salam tuan-tuan, mohon maaf jika aku mengganggu keseruan kalian disini.” Nampak pria yang berbicara di belakang Raquille dan Rourke adalah Aguirre.
“Siapa orang itu?” Tanya Aguirre pada mereka, saat melihat Flogaz.
“Dia adalah penyusup dari Lightio,” jawab Raquille.
“Lightio…? Untuk apa mereka kemari?”
“Sepertinya yang kau lihat, pria itu mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua dari batu kristal yang dia curi di tempat ini… Tunggu dulu… Bukankah dia mengatakan benda itu berasal dari mereka?” Raquille pun nampak kebingungan menjelaskan hal tersebut pada Aguirre.
“Ayahku mengatakan bahwa benda tersebut berasal Machora Tira… Lightio… Pokoknya benda itu berasal dari mereka,” kata Rourke.
“Baiklah… Adik-adik, penjelasannya sudah cukup bagiku. Yang pasti benda sekarang menjadi hak milik kita.”
Aguirre pun kemudian mengangkat salah satu tangannya. Seketika proyeksi energi berwarna merah muncul disekitar Flogaz sampai membuatnya ditarik mendekati mereka.
“Akh…” Saat pria itu berada di depan mereka, Aguirre langsung mencekik lehernya.
Dia kemudian mengangkat tangannya yang satunya lagi dan menyerap energi ungu dari Flogaz hingga batu kristal pun keluar dari tubuh pria itu. Benda yang keluar dari tubuh Flogaz itu pun sontak membuatnya kembali ke wujud semulanya.
“Jadi benda ini yang menjadi sumber masalahnya…” Kata Aguirre sambil mengambil batu kristal tersebut.
“Berikan padaku…” Raquille kemudian mengambil benda tersebut dari tangan Aguirre.
“Divine ice…” Seketika mata pemuda itu kembali memancarkan cahaya biru yang langsung membuat benda tersebut membeku.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Rourke.
“Aku membekukannya agar tidak bisa digunakan lagi,” jawab Raquille.
“Joker…!” Tiba-tiba Flogaz berteriak memanggil Joker.
**
Teriakannya itu seketika menggema sampai ke arena turnamen dan didengar oleh Joker yang sedang berhadapan dengan Rox di arena turnamen.
*
“Flogaz…? Apa mereka sudah mengalahkannya?” Gumam Joker dalam hati.
**
“Maafkan aku Zeidonas…” Tanpa pikir panjang, Vampireman itu seketika menghilang dari hadapan Rox.
“Haah… Sial… Dia melarikan diri,” keluh Rox.
**
Joker pun tiba-tiba muncul di depan mereka bertiga dan langsung melepaskan cengkraman Aguirre pada Flogaz. Dia juga merebut batu kristal yang berada di tangan Raquille dan kembali menghilang.
“Hei…” Raquille pun tersadar melihat batu kristal itu kini menghilang dari tangannya.
Tiba-tiba Joker muncul kembali dan kini telah berada di jarak yang lebih jauh dari ketiga orang itu.
Dengan sigap Aguirre melancarkan serangan proyeksi energi berwarna merahnya sebelum Vampireman itu kembali menghilang.
“Akh…!” Joker yang sedang membawa Flogaz seketika menerima serangan pria Elfman itu dan langsung meluncur ke bawah menghantam tanah dengan kerasnya.
“Joker, cepat bangun…”
“Iya, kau diam saja. Aku bahkan harus meninggalkan Zeidonas dan yang lain demi menolongmu.” Walaupun kesusahan membawa rekannya itu, Joker dengan berusaha keras kembali berdiri dan terbang ke udara mencoba melarikan diri dari jangkauan ketiga World Venerate itu.
*
“Sial… Serangan macam apa yang barusan itu? Kenapa aku tidak bisa berteleportasi?” Gumam Joker dalam hati, tidak bisa menggunakan teknik perpindahannya setelah menerima serangan dari Aguirre.
**
“Adik-adik, kita harus mengejar mereka sebelum dua orang itu melewati perbatasan negeri,” kata Aguirre.
Pria Elfman bersama adiknya Raquille kemudian mengepalkan tangan mereka, yang seketika menciptakan pancaran uap es yang besar. Seketika dua uap es tersebut menjadi dua naga es raksasa dengan wujud yang berbeda, dimana naga yang berada di depan Raquille memiliki sepasang sayap yang lebar. Sedangkan naga es yang berada di depan Aguirre terlihat menyerupai seperti seekor ular.
Begitu juga dengan Rourke, dia terlhat mengeluarkan kobaran api yang besar di atasnya dan berubah menjadi burung api raksasa.
“Ice shaping… Mythical ice dragon…”
“Ice shaping… Mythical ice wyrm…”
“Massive flame projection… Colossal flame bird…”
Seketika tiga serangan berwujud hewan itu dengan cepatnya meluncur mengejar Joker dan Flogaz yang berada jauh di depan.
“Joker… Ayo lebih cepat lagi… Hewan peliharaan mereka mengejar kita di belakang…!” Teriak Flogaz menyuruh Vampireman itu untuk menambah kecepatannya karena panik melihat ketiga serangan tersebut dengan kencangnya meluncur ke arah mereka.
Namun, Joker yang sudah tidak mampu untuk terbang lagi tiba-tiba jatuh meluncur ke bawah.
“Akh…” Kedua orang itu pun dengan keras menghantam tanah dan terkapar.
Joker dan Flogaz yang kesulitan untuk berdiri hanya bisa pasrah melihat ketiga serangan itu datang mengarah pada mereka.
“Ah, sial… Kurasa ini akhirnya. Senang bisa mengenalmu kawan,” kata Flogaz.
“Diam kau… Bahkan disaat terakhir seperti ini, kau masih saja membuatku kesal,” balas Joker dengan nada tinggi.
Sontak ketiga serangan tersebut lenyap setelah menabrak sebuah penghalang yang tak kasat mata, yang di berada di depan Joker dan Flogaz.
“Eh… Apa yang terjadi?” Flogaz pun nampak kebingungan melihat serangan-serangan tersebut tiba-tiba musnah.
“Aku juga tidak tahu apa yang terjadi.” Begitu juga dengan Joker, tidak mengerti dengan apa yang dia lihat barusan.
Tak berselang lama, Raquille, Aguirre dan Rourke, bersamaan juga dengan Rox sampai di tempat itu dan turun kebawah.
“Kenapa mereka masih selamat…? Akh…” Tiba-tiba saat ingin menghampiri ke dua orang itu, Rourke seketika menabrak penghalang tak kasat mata didepannya.
“Aku baru tahu jika perbatasan Fuegonia dan Lightio memiliki sebuah penghalang. Siapa yang melakukan semua ini?” Kata Aguirre, nampak bertanya-tanya tentang penghalang tersebut.
“Hei kalian berdua, cepat kemari dan kembalikan benda itu.” Saking kesalnya, pemuda itu memukul penghalang tersebut secara berulang kali.
“Mohon maaf tuan-tuan, sepertinya langkah kalian hanya disana saja.” Tiba-tiba terlihat seorang perempuan datang mendekat dari wilayah negeri Lightio.