
Kemudian wasit masuk ke tengah arena untuk memulai pertandingan.
“Bersiap… Mulai…!” Kata wasit, memulai pertandingan.
Setelah wasit memulai pertandingannya, tiba-tiba saja Athira langsung melancarkan serangan awal dengan menghantamkan sarung tangan besinya ke tanah sampai menciptakan tekanan gelombang yang cukup kuat.
Neyndra serta ketiga petarung lainnya yang melihat hal tersebut sontak terkejut dan seketika melompat ke belakang menghindari efek dari serangan tersebut.
“Wah… Hebat juga kekuatanmu itu,” kata Fairyman bernama Brock, nampak terpukau dengan serangan awal dari perempuan Lightio itu.
“Kenapa? Apa kau menjadi ragu menyerangku sekarang?” Tanya Athira.
Brock pun membalas pertanyaan Athira dengan senyuman sinis kemudian kakinya. Tiba-tiba beberapa gumpalan tanah naik melayang ke atas dan sekejap berubah bentuk menjadi berbentuk pasak. Dia lalu meluncurkan pasak-pasak tersebut ke arah perempuan Lightio itu.
Melihat serangan elemen tanah dari Fairyman itu sontak membuat Athira langsung mengaktifkan kekuatan dari sarung tangan besinya, yang langsung memancarkan proyeksi energi berwarna emas.
Dengan mudahnya perempuan itu menghancurkan pasak-pasak tersebut dengan melancarkan beberapa pukulan.
Merasa serangan yang dilancarkannya tersebut kurang efektif, Brock kemudian langsung maju mendekati perempuan Lightio itu untuk menyerangnya. Mereka berdua lalu terlihat saling mengadu kemampuan bertarung jarak dekat mereka.
**
Di lain sisi terlihat Goblinman bernama Stix dengan cepatnya berlari mengelilingi Jenesyn dan Neyndra.
“Nona… Apa kau tertarik untuk bekerja sama denganku untuk mengalahkannya?” Tanya Pixieman itu mengusulkan kerja sama untuk mengalahkan Goblimman tersebut.
“Kurasa itu ide yang bagus… Baiklah aku menerimanya,” jawab Neyndra dengan tersenyum menyetujui usulan Pixieman perempuan itu.
*
“Eh… Cepat sekali dia menyetujuinya,” gumam Jenesyn di dalam hati.
**
“Kalau begitu kau memiliki sebuah ide untuk menghentikan pergerakannya yang cepat itu?” Dengan mengangkat salah satu tangannya, Neyndra kemudian menciptakan sebuah bola api yang lama kelamaan semakin membesar.
“Tunggu dulu… Aku tidak mengerti maksudmu nona?” Merasa kurang paham dengan pertanyaan perempuan itu, Jenesyn sontak bertanya balik padanya.
“Kau hentikan pergerakannya, setelah itu aku akan menyerangnya dengan bola api ini… Apa kau mengerti…?” Kata Neyndra menjelaskan rencananya.
“Iya-iya… Aku mengerti.”
Setelah mengerti dengan penjelasan Neyndra, Pixieman itu nampak mengangkat kedua tangannya. Seketika tanah yang menjadi pijakan dari Stix saat berlari tiba-tiba berubah menjadi air. Hal itu membuat Goblinman itu langsung terjatuh dan tercebur dalam air yang diubah oleh Jenesyn.
**
“Transmutasi yah…? Kemampuan yang menarik,” kata Raquille, terpukau melihat kemampuan dari Pixieman perempuan itu.
**
“Nona… Sekarang saatnya….” Kata Jenesyn memberi aba-aba.
Melihat Stix telah tersebut telah ke dalam air, perempuan itu pun sontak melompat dan meluncurkan bola apinya ke arah Stix.
“Flame projection… Multiple flame balls.” Serangan bola api yang besar tersebut seketika memecah menjadi banyak.
**
“Hebat juga perempuan itu,” kata Raquille terkagum juga melihat kemampuan Neyndra.
“Sialan… Aku bahkan yang seorang Land Venerate belum pernah melakukan serangan bola api sebanyak itu,” kata Bohrneer terkejut melihat serangan tersebut.
**
Nampak serangan bola-bola api tersebut langsung saja menguapkan air tempat Stix tercebur.
“Apa…? Dia tidak ada?” Setelah serangan bola api tersebut menghilang mereka sontak terkejut melihat Stix tidak berada di sana.
“Hah… Itu hampir saja...” Tiba-tiba Goblinman itu muncul di depan Neyndra dan Jenesyn.
“Berani-beraninya kalian berdua berkerja sama… Padahal ini adalah pertarungan individu.” Lanjutnya, yang kemudian langsung maju untuk menyerang mereka berdua.
“Flame projection… Flame cylone…” Melihat Stix yang maju dengan cepat ke hadapan mereka berdua, Neyndra langsung menciptakan pusaran api yang besar disekitar mereka berdua.
“Hei… Gadis kecil… Apa kau juga bisa mengubah api ini menjadi sesuatu yang padat?” Tanya Neyndra pada Jenesyn.
“Eh… Eh…” Kata Pixieman perempuan tersebut merasa kebingungan.
“Cepatlah ini panas sekali…”
Setelah Neyndra bertanya tentang hal tersebut. Jenesyn pun kemudian langsung mengubah pusaran api tersebut menjadi batu.
Melihat pusaran api yang tiba-tiba menjadi batu di depannya, Stix kemudian langsung berbelok tajam untuk menghindarinya.
“Ah… Merepotkan saja...” Keluh Stix.
Tiba-tiba saja dari sisi lain Brock terlempar dan menghantam pusaran api yang menjadi batu tersebut sampai hancur, dan kemudian menabrak Neyndra serta Jenesyn yang berada di dalamnya.
Athira kemudian mendekati mereka bertiga dan langsung meluncurkan proyeksi energi emasnya mengarah pada mereka bertiga.
Melihat hal tersebut sontak membuat Jenesyn maju dan kemudian mengubah proyeksi energi emas tersebut menjadi dedaunan.
“Kemampuan transmutasi yah...? Sungguh menakjubkan… Tapi apa kau masih bisa menggunakan jika aku melakukan ini?” Kata Athira, yang langsung mengeluarkan proyeksi energinya secara berturut-turut.
“Flame martial… Consecutive attacks…” Sontak Neyndra pun juga langsung maju dan menangkis serangan Athira dengan serangan fisiknya yang dilapisi elemen api.
Kemudian terlihat kedua perempuan tersebut sama-sama berkonsentrasi membuat serangan yang besar.
“Flame projection… Orca Phoenix…” Neyndra pun mengeluarkan proyeksi elemen api berbentuk paus.
“God aura… Superior punch…” Begitu juga dengan Athira yang mengeluarkan proyeksi energi berwarna emas dari sarung tangan besinya ke arah Neyndra.
Tabrakan dari dua serangan tersebut mengakibatkan sebuah ledakan yang besar, sampai membuat mereka berlima terhempas sampai ke dinding arena.
Masih belum puas, Athira kemudian langsung berdiri kembali dan berkonsentrasi membuat sebuah serangan lagi. Namun, saat dia akan meluncurkan serangan proyeksi energinya tersebut, tiba-tiba saja seketika pergerakannya langsung terhenti.
“Hah…? Kenapa dengan dia?” Kata Neyndra, yang kebingungan melihat tatapan kosong dari wajah Athira.
“Hahaha…! Akhirnya aku bisa menggunakan kemampuan ini,” kata Brock dengan tertawa.
“Kau… Apa kau yang melakukannya pada perempuan itu?” Tanya Neyndra.
**
“Ada apa dengan perempuan itu?” Tanya Bohrneer.
“Heh, kurasa Fairyman itu telah menggunakan kemampuannya yang sebenarnya pada perempuan Lightio itu,” kata Raquille.
“Apa maksudmu tuan Raquille? Aku tidak mengerti.” Tanya kembali Bohrneer.
“Kemampuan untuk mengendalikan pikiran… Mereka dengan leluasa bisa mengendalikan pikiran dari lawannya, memanipulasinya atau membuat pikiran mereka menjadi kosong. Itu adalah kemampuan paling merepotkan dari ras Fairyman... Bahkan kami para Elfman harus berpikir dua kali jika harus berhadapan dengan mereka,” kata Raquille.
“Namun, kurasa kemampuannya itu masih belum sempurna,” lanjutnya.
**
“Hei... berani-beraninya tadi kau menghempaskanku dengan teknik sialanmu itu.”
“Sekarang kau juga harus merasakan teknikmu itu sendiri,” kata Brock pada Athira.
Kemudian terlihat Athira yang dikendalikan oleh Brock, bergerak untuk mengeluarkan serangan energinya. Dia kemudian langsung menghantamkan sarung tangan besinya ke tanah, dan seketika terjadi sebuah ledakan yang membuatnya terhempas jauh ke atas dan kemudian jatuh kembali.
Akibat hal tersebut Athira langsung mengalami kekalahan.
**
Terlihat anggota tim dari Athira langsung terkejut dan tidak percaya akan kekalahan dari Athira.
“Apa…? Ini tidak mungkin…!” Kata Erklis, yang tidak percaya akan apa yang dia lihat itu.
**
“Baiklah… Selanjutnya adalah kalian...” Kata Brock, yang kemudian tersenyum sinis.
Neyndra kemudian langsung mengangkat kedua tangannya berniat untuk menyerah pada Fairyman tersebut.
*
“Hei gadis aneh…” Tiba-tiba Raquille berbicara kepada Neyndra melalui telepati.
**
“Siapa…? Siapa yang berbicara…?” Kata Neyndra, yang kebingungan dan melihat-lihat ke sekitaran.
“Nona… Apa kau juga sudah terpengaruh oleh orang itu?” Tanya Jenesyn.
*
“Hei… Dengar aku dulu… Ini aku Ra… Laventille,” kata Raquille melalui telepati.
“Hah...? Pria cantik… Kau bisa menggunakan kemampuan seperti ini?” Kata Neyndra yang berbicara melalui telepati juga.
“Itu tidak penting... Dengar dulu… Aku mau mengatakan bahwa kemampuan dari Fairyman itu masih terbatas. Jika dia sudah menggunakannya pada satu orang saja, selanjutnya dia sudah tidak bisa menggunakannya dalam waktu yang dekat. Jadi kau langsung saja menyerangnya tanpa perlu takut dikendalikan olehnya,” kata Raquille menjelaskan hal tersebut pada Neyndra.
“Oh… Jadi seperti itu yah... Kalau begitu terima kasih pria cantik, itu sangat membantu untukku.”
“Berhenti menyebutku pria cantik...” Kata Raquille kesal.
**
Kemudian setelah diberitahu oleh Raquille, Neyndra pun langsung menurunkan kedua tangannya dan maju untuk menyerang Brock.
Melihat Neyndra ingin menyerangnya, Brock pun langsung dengan sigap untuk menangkis serangan dari Neyndra.
“Hei… Kau berani yah menyerangku… Apa kau tidak takut akan berakhir seperti perempuan dari Lightio itu?” Kata Brock mengancam Neyndra.
Namun, karena telah diberitahu oleh Raquille tentang kelemahan dari Fairyman itu, Neyndra pun membalas ancaman dari Brock.
“Kemampuanmu itu hanya bisa mempengaruhi satu orang saja kan…? Karena itu aku berani untuk maju menyerangmu seperti sekarang,” kata Neyndra.
*
“Apa…? Dari mana dia bisa mengetahuinya…?” Kata Brock dalam hati, terkejut bahwa Neyndra mengetahui kebenarannya.
**
Kemudian Brock langsung melompat ke belakang untuk menjaga jarak dengan Neyndra.
“Lihat… Sekarang kau yang takut padaku,” kata Neyndra meledek Brock.
“Flame projection… Multiple flame balls.” Tak perlu menunggu lama, Neyndra pun langsung memunculkan bola api yang lama-kelamaan semakin membesar, lalu meluncurkannya mengarah pada Brock.
“Water manipulation… Water wall…” Melihat serangan tersebut, Brock seketika menggunakan kemampuan elemen airnya untuk menahan beberapa serangan elemen api tersebut.
**
Di sisi lain, nampak Stix bersiap untuk menyerang Jenesyn, dia lalu berlari dengan cepat ke arah Jenesyn, dan kemudian melompat untuk menyerang Jenesyn dengan cakarnya.
Saat Goblinman itu hampir saja dapat menyerang Jenesyn, tiba-tiba Pixieman itu sontak langsung memunculkan sayapnya dan kemudian terbang ke atas. Hal itu sontak membuat Stix terkejut sampai membuatnya jatuh tersungkur di tanah.
Melihat kesempatan yang ada, Jenesyn kemudian langsung mengubah tanah tempat terbaringnya Stix menjadi pasir hisap.
“Uwaah…! Apa ini…?” Kata Stix, yang bingung tubuhnya perlahan-lahan terhisap oleh pasir dan tidak bisa melepaskan diri.
**
Berpindah pada pertarungan Neyndra dan Brock. Terlihat Brock yang masih menahan serangan bola api dari Neyndra dengan menggunakan perisai airnya.
Namun, karena serangan bola-bola api dari Neyndra sangat panas, sehingga membuat perisai air yang digunakan oleh Brock untuk menahan serangan api tersebut seketika langsung menguap.
Serangan bola-bola api itu sontak menghantam Brock sampai membuatnya terhempas sehingga tersungkur di tanah.
Hal itu juga sontak membuat Fairyman itu langsung mengalami kekalahan.
**
“Wow…! Bagus sekali gadis aneh…! Tinggal dua petarung lagi…” Teriak Bohrneer melihat Neyndra mengalahkan Brock.
“Aku rasa Pixieman perempuan itu merupakan lawan yang berat bagi nona Neyndra,” kata Drakon.
“Hmph… Kurasa kau benar. Dari tadi juga aku melihat bahwa si gadis aneh memang telah banyak mengeluarkan serangan yang cukup menguras energi. Kurasa Pixieman itu akan menjadi lawan yang sulit,” kata Raquille sependapat dengan Drakon.
**
Setelah mengalahkan Brock. Neyndra pun kemudian mendekati Stix yang telah terperangkap di dalam pasir hisap Jenesyn.
“Sial… Kenapa aku tidak bisa keluar dari pasir ini…?” Keluh Stix, dengan sekuat tenaga berusaha untuk keluar dari pasir hisap tersebut.
“Mungkin ini dapat membantumu,” kata Neyndra, bergurau, kemudian mengangkat kakinya.
“Apa maksudmu itu…?”
Seketika kakinya tersebut langsung mengeluarkan api.
“Flame martial… Low kick...!” Teriaknya dengan langsung menendang wajah Goblinman itu sampai pingsan.
Setelah mengalahkan Brock dan Stix, Neyndra kemudian melihat Jenesyn. Namun, tiba-tiba perempuan itu merasa kasian pada Pixieman itu.
“Aku mengaku kalah...” Sontak Neyndra langsung mengangkat kedua tangannya dan mengaku kalah.
**
“Apa…!” Teriak Rox, Rourke, Dierill, Afucco, Raquille, Bohrneer dan Heinz secara bersamaan setelah mendengar pernyataan dari perempuan itu.
Serta nampak terlihat ekspresi terkejutnya orang-orang mendengar pernyataan kalah dari Neyndra.
**
“Eh… Nona… Kenapa kau menyerah?” Tanya Jenesyn, penasaran.
“Aku tidak mau melawanmu saja... Lagipula aku tetap akan kalah jika berhadapan denganmu. Karena aku sudah kelelahan melawan tiga petarung tadi,” kata Neyndra dengan tersenyum kepada Jenesyn.
Dengan pengakuan kalah dari Neyndra tersebut, sontak membuat Jenesyn menjadi pemenang dalam pertarungan kali ini.
**
Lalu wasit pun kemudian masuk ke tengah arena untuk mengumumkan pemenang dalam pertandingan kali ini.
“Baiklah… Pemenang dari pertandingan kali ini adalah Jenesyn Wycencor dari tim Vielass,” kata wasit menyatakan kemenangan dari Jenesyn.
Setelah itu, di layar langsung terlihat perolehan poin dari semua tim.
Fuegonia A (6), Asimir (6), Vielass (5), Fuegonia B (2), Neodela (2), Machora Tira (1), Cielas (1), Lightio (0), Mormist (0).
Kemudian disusul oleh pembawa acara yang masuk ke tengah arena, untuk menyampaikan sebuah informasi.
“Para hadirin sekalian… Aku mohon maaf karena pertandingan sebelumnya merupakan pertandingan yang terakhir pada malam hari ini.”
“Kita akan melanjutkan pertandingan selanjutnya pada besok malam. Dan untuk para peserta yang belum mendapatkan giliran bertarung, dimohon untuk mempersiapkan diri kalian untuk pertandingan pada besok malam.”
“Kalau begitu… Aku Tomair… Undur diri dulu,” kata pembawa acara menutup turnamen pada malam hari ini.
**
Di tribun peserta, nampak Zeidonas menatap layar yang memperlihatkan perolehan poin dari semua tim. Dia melihat bahwa tim Lightio masih belum mendapatkan poin di hari pertama turnamen tersebut.
“Sudah kubilang ini akan menarik…” Kata pria itu dengan tersenyum menyeringai.
Kemudian dilanjutkan dengan Zeidonas dan Drakon yang saling tajam satu sama lain.
*
“Aku sudah tidak sabar untuk bisa berhadapan denganmu,” kata Zeidonas dalam hati.