The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 81 - Bangsa Slivan



Rumen bersama dengan Erissa masuk ke dalam suatu ruangan. Pria itu kemudian duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan empat layar raksasa di depannya.


Tak berapa lama tiga dari layar tersebut menyala dan memperlihatkan tiga orang pria berada di dalamnya.


“Hei Rumen ada apa kau menghubungiku sekarang ini?”


Tampak salah satu dari pria yang berada di dalam layar tersebut merupakan Chrolexius Magchora, ayah dari Drakon, sekaligus pemimpin dari negeri Geracie saat ini.


Sedangkan dua pria lainnya yang berada di dalam layar merupakan pimpinan dari negeri Riemic dan Graina.


“Aku tahu kalian juga merasakan tekanan kekuatan dari World Venerate dari arah selatan…”


“Terlebih lagi kau Chrolexius, pasti kau merasakan tekanan kekuatan yang lebih besar karena jarakmu lebih dekat,” ucap Rumen.


“Hmph… Tekanan kekuatan yang kurasakan itu berasal dari Gimoscha. Sepertinya mereka sekarang telah dikalahkan oleh kubuh barat,” ucap Chrolexius.


“Benar juga, sepertinya itu menjadi alasan mengapa Acadiuno tidak hadir dalam pertemuan kita kali ini,” respon Rumen.


“Rumen, kurasa ini waktunya untuk kembali bergerak. Jika membiarkan kubuh barat bertindak lebih jauh lagi, tujuan kita untuk menguasai benua ini akan menjadi lebih lama lagi,” ucap pemimpin negeri Riemic, mengusulkan agar kubuh timur secepatnya melakukan penyerangan mereka lagi.


“Kau benar Saulovas, aku memang terlalu meremehkan mereka...”


“Arvhen, apa senjata kita sudah siap untuk dipakai kali ini?” Tanya Rumen pada pemimpin negeri Graina.


“Hahaha… Kukira kau sudah lupa tentang hal tersebut… Tenang saja, kristal-kristal yang kau kirimkan ke Graina telah kami sulap menjadi senjata yang mengerikan,” ucap pemimpin negeri Graina menjelaskan hal tersebut sambil tertawa.


“Bagus sekali, itu akan menjadi senjata pamungkas kita nantinya. Hahaha…” Rumen pun seketika tertawa dengan licik merespon penjelasan dari pria Graina itu.


*


“Itu pasti kristal berpijar yang pernah diambil dari negeri Fuegonia… Sial, jika kubuh timur memakai benda itu, mungkin akan menyebabkan kerusakan yang sangat parah,” gumam Erissa dalam hati mendengar percakapan para pemimpin negeri kubuh timur itu.


**


“Rumen, jadi bagaimana tentang Acadiuno dan negerinya itu? Apa mungkin kita akan membantu mereka?” Tanya Chrolexius.


“Itu tidak perlu, biarkan saja negeri anak bawang itu, lagipula dari awal kubuh timur tetap akan lebih unggul dari kubuh barat tanpa negeri itu,” jawab Rumen.


“Heh… Benar juga, tujuan mereka bergabung dengan kita hanya agar dapat bersaing dengan negeri pengendali musim lainnya, dan bukan untuk mendominasi wilayah benua ini,” ucap Chrolexius.


Keempat pemimpin negeri kubuh timur itu kemudian memutuskan untuk kembali melanjutkan serangan invasi mereka terhadap wilayah negeri-negeri dari kubuh barat, dimana pasukan negeri Pavonas berserta negeri Riemic akan terus menyerang wilayah Frieden, negeri Graina akan menyerang wilayah negeri Midauz, sedangkan negeri Geracie akan menyerang wilayah dari negeri Nascunia.


“Chrolexius jangan lupa untuk meminta bantuan dari Ledyana dan Morseli jika kalian mengalami kesulitan. Negeri-negeri itu juga merupakan bagian dari benua Greune, walau tidak terlalu dianggap,” ucap Rumen.


“Heh… Aku tahu, setidaknya kami hanya akan meminta bantuan mereka sebagai formalitas saja, karena sangat tidak mungkin jika Geracie akan mengalami kesulitan bahkan dikalahkan,” ucap Chrolexius dengan percaya dirinya.


Setelah mengucapkan hal tersebut layar dari pemimpin negeri Geracie itu kemudian mati, begitu juga dengan layar dari kedua pemimpin negeri lainnya yang mati setelahnya.


“Hmph… Kita tetap akan mendapatkan impian kita yang didambakan selama ini… Bukankah begitu Erissa?”


Rumen yang menoleh pada Erissa nampak bingung melihat raut cemas dari wajah perempuan itu.


“Hei, ada apa denganmu? Apa yang kau khawatirkan?” Tanya pria itu.


“Baiklah, sekarang ayo kita pergi untuk membahas hasil diskusi kita disini dengan para pasukan kita.”


Pria itu lalu berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Erissa dibelakangnya.


–23 sampai 26 Juni 3029–


Dalam kurun tiga hari setelah menguasai ibukota negeri Gimoscha, para pasukan Calferland dan Serepusco lebih dulu mengamankan para warga negeri tersebut yang hampir seluruhnya berada di ibukota itu sebelum berangkat ke negeri Nascunia.


Mereka mengarahkan para warga tersebut kembali ke daerah mereka masing-masing, bahkan sebagian dari para warga negeri Gimoscha sampai diantarkan menggunakan pesawat untuk membawa mereka ke wilayah yang berkilo-kilometer lebih jauh dari yang lain.


Tidak sampai disitu, sebagian pasukan Serepusco yang tidak ditugaskan untuk menuju ke negeri Nascunia dikirim ke wilayah utara dan selatan semenanjung Pianena untuk menjaga wilayah Gimoscha yang diduduki mereka dari ancaman serangan balik oleh pasukan kubuh timur nantinya.


Setelah semua masalah yang berada di negeri Gimoscha telah teratasi, para pasukan Calferland dan sebagian pasukan Serepusco akhirnya berangkat ke negeri Nascunia untuk membantu pasukan negeri tersebut mengambil alih kembali wilayah mereka yang telah diduduki oleh negeri Geracie.


–27 Juni 3029–


Di salah satu pesawat dari armada pasukan Serepusco dan Calferland yang sedang mengudara menuju kota Dupstepa, Nascunia, terlihat Raquille sedang berada di sebuah ruangan bersama dengan Clava.


“Hmph… Negeri Nascunia itu bukannya merupakan salah satu dari bangsa Slivan kan?” Tanya pemuda Elfman itu.


“Benar sekali tuan, terdapat lima negeri bangsa Slivan yang berada di negeri ini, Nascunia dan Midauz berada di pihak kubuh barat, sedangkan Pavonas, Riemic dan Graina berada di pihak kubuh timur,” jawab Clava sambil menjelaskan negeri-negeri dari bangsa Slivan yang dibahas oleh pemuda itu.


“Walaupun jarang bertemu dengan Venerate dari bangsa tersebut, tapi aku sering mendengar bahwa kemampuan mereka cukup unik,” ucap Raquille.


“Iya, mungkin bisa dikatakan seperti itu, karena sumber kekuatan mereka bukan hanya menyerap energi yang berasal dari alam saja, bahkan mereka bisa mendapatkannya dari roh-roh yang masih terjebak di dunia ini...”


“Aktivitas mereka bahkan selalu berhubungan dengan hal-hal yang berbau astral,” ucap Clava.


**


Setelah berbincang tentang bangsa Slivan, armada yang dinaiki oleh mereka akhirnya sampai di atas ibukota Nascunia.


Beberapa saat kemudian armada pesawat dari pasukan Calferland dan Serepusco mendarat. Tampak prajurit Nascuni beserta Grelic Krozoff, World Venerate yang datang menghadiri pertemuan di kota Nerbil.


“Selamat datang tuan-tuan di kota kami, aku senang kalian datang lebih cepat dari perkiraanku,” ucap pria itu menyambut pasukan Calferland dan Serepusco.


“Terima kasih atas sambutannya tuan,” ucap Zero.


“Padahal kukira kami hampir terlambat datang kemari,” lanjut Zero berkata.


“Tidak tuan, jika kalian semua terlambat kemari, maka aku sudah tidak lagi ada disini untuk menyambut kalian datang karena telah pergi untuk menyerang sendirian.”


“Ternyata begitu. Aku juga senang kami datang kemari lebih awal.”


World Venerate Nascunia itu kemudian mengarahkan beberapa prajurit petinggi, seperti Raquille, Clava, Arepo, Mayorio, Zero, Vingto dan Cento naik ke dalam sebuah kendaraan yang telah disiapkan mereka untuk menuju ke suatu tempat.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka kemudian sampai di sebuah benteng yang berada di pinggir kota tersebut.


Raquille dan yang lain lalu turun dari kendaraan yang dinaiki mereka dan masuk ke dalam benteng itu.