
–12 Agustus 3029–
Keesokan harinya, tampak Raquille, Hyphilia serta ketiga kembar telah bersiap untuk berangkat ke negeri Pavonas bersama dengan Phyton yang merekrut mereka.
Di tempat itu juga terlihat beberapa ras Elfman yang diantaranya merupakan Lorainne, Ruvaen, Drannor serta Ackerlind, untuk melihat keberangkatan mereka ke negeri mantan kubuh timur tersebut.
“Baiklah… Apa kalian sekarang sudah siap?” Tanya Phyton mengenai kesiapan para Venerate negeri Blueland tersebut untuk menjadi Venerate negeri Pavonas.
Akan tetapi, tidak ada satupun para Venerate Blueland tersebut menjawab pertanyaan dari Phyton. Membuat pemuda itu lantas mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya mereka tidak setuju dan hanya melakukan hal tersebut karena terpaksa.
“Kakak-kakak… Apa kalian siap?” Tanya Phyton sekali lagi, ingin memastikan bahwa pemikirannya salah.
“Memangnya jika kami tidak siap apa yang akan terjadi pada negeri Pavonas itu?” Tanya balik Raquille.
“Aku sudah menjelaskan sebelumnya bahwa kami kekurangan Venerate jadi kami terpaksa harus merekrutnya dari negeri lain… Lagipula sekarang ini negeri Pavonas sedang berada dalam beberapa konflik dengan negeri lain,” jawab Phyton, menjelaskannya kepada semuanya.
Raquille pun mengerti dengan penjelasan pemuda tersebut, ditambah semalam mereka juga sudah berbincang mengenai konflik yang sedang berada di negeri Pavonas tersebut.
“Jangan khawatir Phyton, kami tidak akan merubah keputusan kami… Bukankah begitu,” ucap Raquille sambil meyakinkan para Venerate Blueland lain yang akan bergabung ke negeri Pavonas.
Hyphilia serta ketiga kembar pun lantas menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, merespon bahwa mereka juga memiliki pemikiran seperti Raquille.
“Kurasa aku yang sudah berpikir berlebihan tentang kalian…” Mendengar hal tersebut, Phyton pun merasa senang karena kesimpulannya yang dipikir sebelumnya ternyata adalah kesalahan.
“Baiklah… Ibu, Paman, Kakak Ackerlind, Kakak Drannor… Kalau begitu, kami pergi dulu ke negeri Pavonas…” Ucap Raquille.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Raquille, Hyphilia, Arn, Anhilde, serta Asulf, bersama dengan Phyton masuk ke dalam pesawat negeri Pavonas yang berada di tempat itu.
Tak berapa lama, pesawat yang dinaiki oleh Raquille dan yang lain perlahan-lahan naik ke atas kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan pulau utama Blueland.
“Padahal dia baru saja kembali setelah menghilang selama beberapa tahun lamanya,” Disamping itu, Lorainne pun nampak sedih bahwa putra bungsunya yang belum lama ditemuinya harus pergi meninggalkannya kembali akibat bergabung ke negeri lain.
“Kakak… Yang pasti Raquille sekarang sudah kembali… Dia pasti akan baik-baik saja,” ucap Ruvaen, meyakinkan sang ratu Blueland untuk tidak terlalu khawatir mengenai putra bungsunya tersebut.
“Kau benar… Tapi bagaimanapun kita harus menemukan Aloof, karena aku yakin bahwa dia juga masih selamat sampai sekarang…” Ucap Lorainne.
“Aku juga selama ini memikirkan keadaan dari kakak Razoranos… Setelah ke negeri Avanca untuk kedua kalinya, sampai saat itu kita sudah tidak bisa mengetahui keadaannya,” lanjut Lorainne, tidak lupa memikirkan bahwa negeri Blueland sebenarnya masih kehilangan sang raja mereka yang dijuluki sebagai Venerate terkuat di Lamue.
***
Berpindah ke sebuah hamparan padang gurun yang sangat luas, dimana terlihat dua orang yang sedang berjalan dibawah teriknya matahari di tengah padang gurun tersebut.
Dua orang misterius yang tengah berjalan di tengah padang gurun tersebut, tidak lain merupakan Rumen Sayruz, mantan pemimpin agung negeri Pavonas, serta Vahal Izumir, salah satu Continent Venerate Pavonas, yang pada saat-saat terakhir berakhir lolos dari negeri Pavonas.
“Tenang saja… Kita pasti akan disambut dengan layak di tempat itu… Kau pasti ingat sebelumnya bahwa tuan Osudobor ingin aku bersama dengan Ienin menjadi Venerate Xaronveyn,” jawab Rumen.
Baik Rumen maupun Vahal kini sedang berada di sebuah gurun paling luas yang disebut dengan nama gurun Harsha, dimana gurun tersebut terletak di bagian utara benua Avanca, salah satu benua yang berada di Lamue.
****
Kemudian di sebuah dimensi yang memiliki penampakan langit baik di segala sisinya tanpa sebuah pijakan, dan merupakan dimensi yang pernah dibuka oleh Raquille menggunakan ketiga belas harta karun sebelumnya, terlihat sebuah cahaya yang sangat terang tiba-tiba muncul.
Setelah cahaya tersebut perlahan-lahan mulai redup, tampak sesosok makhluk dengan memiliki perawakan layaknya manusia, namun memiliki beberapa pasang sayap berbulu di punggungnya.
Tampak makhluk yang menyerupai manusia tersebut tidak lain merupakan Fluke, pria tua yang sebelumnya pernah ditemui oleh Raquille di kota D’Swano, namun kini dengan perawakan yang lebih muda, serta memiliki perubahan pada penampilannya, dimana sepasang matanya yang sebelumnya berwarna cokelat kini menjadi warna emas, sedangkan rambutnya yang sebelumnya juga berwarna cokelat kini berubah menjadi warna pirang.
Entah bagaimana yang terjadi, Fluke yang sebelumnya merupakan manusia biasa saat ditemui oleh Raquille, kini menjelma menjadi sesosok makhluk yang nampak kuat, yang mampu muncul tanpa menggunakan portal untuk masuk ke dalam dimensi tersebut.
“Scathair…!” Tiba-tiba Fluke yang dalam wujud makhluk bersayap tersebut memanggil sesuatu.
Setelah beberapa kali memanggil, makhluk ataupun sesuatu yang dipanggilnya tersebut tidak kunjung-kunjung datang menemuinya. Kemungkinan Fluke nampak memanggil makhluk hitam yang sebelumnya dikalahkan oleh Sheafear menggunakan senjata penghancur dari negeri Fuegonia.
“Sepertinya dia sudah tidak ada di tempat ini…” Gumam Fluke.
“Aku tidak menyangka bahwa para World Venerate sudah banyak mengalahkan Venerate yang memiliki tingkatan di atas mereka,” lanjut pria itu berkata, yang nampaknya mengetahui sesuatu mengenai tingkatan kekuatan yang berada di atas World Venerate.
“Sudahlah… Lebih baik aku pergi dari sini saja…” Karena tampak merasa bosan mengunjungii dimensi tersebut, Fluke yang dalam wujud makhluk bersayap tersebut perlahan mulai menghilang, meninggalkan tempat itu.
***
Kembali pada Raquille yang berada di dalam pesawat milik negeri Pavonas. Ketika melihat Arn yang berada di sampingnya, Raquille pun mengingat bahwa dirinya harus tetap menyembunyikan kebenaran dimana perempuan yang dicintai oleh pria tersebut ternyata selama ini masih hidup.
“Apakah kau baik-baik saja Arn?” Tanya Raquille.
“Eh… Kenapa memangnya? Tentu saja aku baik-baik saja…” Jawab Arn sambil merasa bingung dengan pertanyaan dari pemuda Elfman itu.
“Kurasa kau sudah baik-baik saja setelah apa yang kita lalui ketika berada di negeri Brizora,” ucap Raquille.
“Benar kakak… Aku tidak akan seperti ini jika bukan karena semangat darimu,” sambung Arn sambil tersenyum.
Namun dibalik itu, entah bagaimana ekspresi Arn ketika mengetahui bahwa selama ini Freynile masih hidup dan terus memperhatikannya tanpa pria itu sadari.
“Baiklah semuanya… Selamat datang di kota Grand Vosmoc… Bagi kalian yang baru pertama kali mengunjungi tempat ini.” Disamping itu Phyton menginformasikan kepada Raquille dan yang lain karena pesawat mereka kini telah memasuki langit ibukota.