
Nampak Dierill dengan tenaganya langsung menarik bola rantainya, yang dipegang erat oleh Bohrneer itu.
“Uwaaah…!” Teriak Bohrneer ditarik oleh Dierill.
“Flame martial… Straight punch…!” Dengan cepat Dierill pun langsung melancarkan serangan kepalan apinya saat Bohrneer, pria yang ditariknya itu berada satu titik dihadapannya.
“Fire burst… Strong punch…” Bohrneer pun tidak tinggal diam, dia juga langsung melancarkan serangan kepalan api yang hampir mirip dengan serangan dari pemuda itu.
Seketika saat serangan dari mereka berdua pun saling berbenturan, terciptalah sebuah ledakan yang cukup besar. Namun, dari efek ledakan tersebut, nampak hanya Dierill yang terhempas dan menghantam dinding arena.
**
“Serangan si pria bodoh lebih kuat dibanding serangan Dierill,” kata Neyndra, melihat adiknya itu kalah saat saling melancarkan serangan dengan Bohrneer.
“Ternyata ada juga clan api selain clan Bluntill, yang pantas menjadi saingan kami,” lanjutnya berkata pada Heinz.
“Saingan yah…? Hmph… Sayang sekali karena anggota clan Flaus telah dibantai habis dan hanya menyisakan kami berdua saja,” kata Heinz.
“Telah dibantai? Kenapa hal itu bisa terjadi?” Neyndra sontak menjadi terkejut setelah mendengar hal yang dikatakan oleh Heinz itu.
“Itu terjadi dua belas tahun yang lalu… Ah, sudahlah… Aku tidak mau lagi membahas tentang hal itu,” kata Heinz yang terlihat sangat tertekan tentang hal tersebut.
*
“Dua belas tahun yang lalu? Clan dari daerah Akalsa? Apa mungkin dua anak itu?” Kata Raquille dalam hati, seperti mengetahui sesuatu dari pernyataan Heinz.
**
Kembali ke dalam pertarungan, kini Dierill terlihat berdiri kembali dan melancarkan serangan pada Bohrneer dengan mengayunkan bola rantainya tersebut.
Nampak Bohrneer langsung menangkis ayunan senjata dari Dierill itu dengan melancarkan serangan kepalan apinya. Tetapi, Dierill kemudian dengan kuatnya kembali mengayunkan senjatanya, hingga membuat bola rantai itu meluncur dengan kecepatan yang tinggi ke arah mantan perampok tersebut.
Saking cepatnya bola rantai itu mengarah padanya, Bohrneer sontak mengalami kesulitan untuk dapat mengantisipasi serangan itu, sehingga membuat tubuh pria itu menghantam bola rantai tersebut dan membuatnya terhempas sampai tersungkur di tanah.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Dierill dengan langsung berlari mendekati Bohrneer sambil memutar-mutar bola rantai sekuat mungkin.
Nampak hal itu sampai menciptakan kobaran api pada bagian bola besi dari senjatanya itu.
“Flame martial… Flail strike…” Pemuda itu kemudian mengayunkan bola rantainya tersebut pada Bohrneer, yang sedang tersungkur di tanah.
Bohrneer yang sebelumnya tidak menyadari bahwa Dierill akan menyerangnya, kini hanya bisa menganga melihat serangan tersebut tepat di depan matanya.
“Giant physical attack… Home run…” Tiba-tiba Giantman bernama Fegant seketika muncul di belakang Bohrneer dan menghalau serangan dari Dierill.
Melihat serangannya itu telah ditangkis oleh Fegant, yang kemudian ayunan gada dari Giantman itu mengarah padanya, Dierill pun sontak langsung menangkis serangan tersebut dengan menggunakan gagang dari bola rantainya.
“Ukh…!” Tetapi, karena tekanan kekuatan yang terlalu kuat dari serangan tersebut, sehingga membuat Dierill kembali terhempas.
“Hahaha…! Kulihat pertarungan kalian berdua tadi sangat menarik, jadi aku bermaksud untuk bergabung. Apakah tidak apa-apa jika aku bergabung?” Kata Giantman tersebut dengan tertawa.
“Heh… Aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku dari serangan orang itu,” kata Bohrneer yang terlihat berdiri kembali.
“Namun, tujuan dari pertandingan ini adalah saling menyerang bukanlah saling menolong,” lanjutnya, langsung mengaktifkan kekuatan kepalan tangan apinya dan melancarkannya ke arah Giantman itu.
Melihat serangan dari Bohrneer itu, Fegant kemudian langsung menciptakan sebuah dinding dari tanah untuk melindunginya dari serangan tersebut.
Tapi, dengan mudah Bohrneer dapat menghancurkan dinding tanah itu dengan serangan kepalan apinya. Betapa terkejutnya Bohrneer saat melihat bahwa Giantman itu telah menghilang dibalik dinding tanah yang dihancurkannya itu.
*
“Hilang…? Dimana dia?” Kata Bohrneer dalam hati, melihat-lihat ke segala arah, memastikan keberadaan Giantman tersebut.
**
Seketika Giantman itu muncul dari bawah tanah tepat berada dibelakangnya, dan dengan cepat langsung mengayunkan senjata gadanya itu mengarah pada Bohrneer.
Dengan refleksnya, Bohrneer langsung melompat memutar tubuhnya untuk menghindari serangan dari Fegant itu. Bohrneer kemudian dengan sigap langsung menyerang balik Giantman itu dengan kepalan apinya.
Tabrakan tinju api dari Bohrneer serta gada dari Fegant itu sontak langsung menciptakan ledakan sama seperti saat berhadapan dengan Dierill sebelumnya.
“Boleh juga seranganmu ini. Tapi, kurasa masih belum untuk bisa mengalahkanku,” kata Fegant nampak tidak bergeming.
“Apa…? Ini tidak mungkin.” Melihat Giantman itu yang dapat menahan serangannya, membuat Bohrneer pun langsung terkejut.
Fegant kemudian merespon perkataan dari Bohrneer dengan ekspresi menyeringai.
Kemudian, Dierill yang kini telah berdiri kembali terlihat akan menyerang mereka berdua secara bersamaan. Dia nampak memutar-mutar senjatanya itu dengan kuat lalu meluncurkannya ke arah kedua petarung tersebut.
Sadar akan bahaya didepan mereka, kedua orang itu pun masing-masing langsung melompat ke belakang menghindari serangan dari pemuda tersebut.
“Hei, kalian berdua… Kalau berani, serang aku secara bersamaan,” Kata Dierill yang terlihat mulai kesal langsung menantang Bohrneer serta Fegant secara bersamaan.
Tanpa pikir panjang, Bohrneer dan Fegant pun langsung maju untuk menyerang Dierill secara bersamaan.
Terlihat ketiga petarung itu pun kini saling melancarkan serangan mereka satu sama lain.
**
Di sisi lain, nampak Ogreman bernama Iezig serta Gnomeman bernama Horner, yang dari tadi masih belum melakukan pergerakkan untuk menyerang.
“Hei, Gnomeman… Apa kau sebenarnya kau tidak berniat untuk mengikuti turnamen ini?” Tanya Iezig.
“Apa maksudmu? Aku tidak berniat seperti itu,” jawab Horner.
“Lantas… Kenapa dari tadi kau masih berdiam saja, apa kau tidak mau menyerang?” Tanya Iezig lagi.
“Hmph… Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Bagaimana denganmu…? Kau juga sepertinya tidak mau menyerang?” Jawab Horner, yang kemudian bertanya balik pada Ogreman itu.
“Heh… Aku juga menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.”
“Waktu yang tepat?” Kata Horner kebingungan.
“Yah… Sekarang waktu yang tepat.” Seketika Ogreman itu mengaktifkan kekuatan dari kedua belatinya.
Sontak saat pancaran petir berwarna merah keluar dari kedua belatinya, Ogreman itu seketika langsung menghilang di depan mata Gnomeman itu.
“Apa…? Hilang?”
Tiba-tiba dalam sekejap Iezig kini muncul beberapa langkah di belakang Horner hendak melancarkan sebuah serangan padanya.
**
“Ayah… Aku merasakan bahwa dampak serangannya ini akan meluas,” kata Rourke menyuruh ayahnya untuk mengaktifkan penghalang kembali.
“Ah, sialan… Kita mulai lagi…” Kata Rox yang kembali berdiri dari kursinya dan mengangkat tangannya untuk mengaktifkan penghalang sekali lagi.
**
“Red electric style… Doom spark…” Ogreman itu pun seketika meluncurkan sebuah serangan elemen petir merah bertegangan tinggi mengarah pada Horner.
Sadar akan bahaya yang berada di belakangnya, Gnomeman itu pun seketika menoleh ke belakang. Namun, Horner tidak dapat lagi menghindari serangan tersebut karena serangan tersebut karena telah tepat berada di depan matanya.
Seketika serangan tersebut langsung menghantamnya sampai menimbulkan gelombang ledakan yang cukup besar yang sangat menyilaukan. Bahkan, dari para penonton pun yang melihatnya langsung menghalangi pandangan mereka pada serangan itu.
Ketiga yang petarung lain pun sontak langsung menghentikan pertarungan mereka untuk menangkis dan menghindari percikan-percikan dari serangan petir merah tersebut.
Akibat dari serangan tersebut, debu yang berada di tanah menjadi naik ke permukaan dan menutupi tengah arena.
**
“Uh… Apakah kakak Horner tidak apa-apa?” Kata Jenesyn bertanya-tanya tentang keadaan dari Gnomeman tersebut.
“Serangan itu tepat mengarah padanya. Pastinya itu sangat fatal,” kata Messen, menjawab Jenesyn.
“Apa maksudmu kakak?” Tanya Jenesyn, tidak paham dengan maksud dari saudaranya itu.
**
Beberapa saat kemudian debu di permukaan tengah arena kemudian turun kembali sehingga membuat pandangan pada tengah arena tersebut tidak terhalang lagi.
“Hei, Ogreman… Seranganmu itu hampir saja mengenaiku.”
Betapa terkejutnya Iezig saat melihat Gnomeman itu masih bisa bertahan karena sebelumnya telah melindungi dirinya dengan menciptakan sebuah kubah kristal.
“Sialan…” Kata Iezig dengan kesalnya.
Dia kemudian mengaktifkan kembali kekuatan petir merahnya dan melancarkan serangan serangan tersebut kembali pada Horner.
Namun, serangannya itu sia-sia karena kubah kristal yang melindungi Gnomeman itu, tidak bisa dihancurkan dengan serangannya tersebut.
Saking kesalnya karena tidak bisa menghancurkan kubah kristal itu, Iezig pun seketika maju mendekati kubah itu dan menebasnya berulang kali dengan kedua belatinya.
Tapi, serangan itu tetap masih saja sia-sia karena kubah kristal itu tidak tergores sedikit sedikitpun.
“Hei, hei, tenang… Ada apa denganmu?” Kata Horner, melihat Iezig menebas-nebas kubah kristalnya.
“Sudah kubilang tenang…!” Kata Horner dengan nada tinggi.
Seketika sisi dari kubah kristal itu berubah bentuk menjadi berduri-duri pada tiap bagiannya.
Secara refleks, Iezig dengan cepat langsung melompat ke belakang menghindari duri-duri dari kubah kristal itu. Namun, walaupun dengan cepat telah menghindarinya, Ogreman itu tetap terkena goresan dari duri tersebut sehingga membuat beberapa bagian tubuhnya terluka.
Kemudian Horner langsung melenyapkan kubah kristalnya. Kesempatan itu lalu dimanfaatkan oleh Iezig, yang dengan cepat langsung maju untuk menyerangnya.
Krystalitation release… Solid krystalburg seal.” Sontak setelah mengatakan kata tersebut, Iezig yang berada dekat di hadapannya langsung terkurung ke dalam kristal yang diciptakannya.
“Hehe… Kurasa kau sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi,” kata Horner, melihat Iezig kini telah terperangkap membeku di dalam kristal yang dia diciptakan.
“Sekarang waktunya untuk mengalahkan petarung yang lain,” kata Horner yang langsung menatap ketiga petarung lain.
Terlihat Bohrneer, Dierill serta Fegant dari tadi hanya menonton pertarungannya dengan Iezig.
“Eh, apa…? Ternyata kalian dari tadi hanya menonton saja,” kata Horner, terkejut.
“Kalau begitu, saja satu dari kalian bertiga majulah dan serang aku sekarang,” lanjutnya, menantang salah satu dari mereka bertiga.
Tanpa pikir panjang Bohrneer langsung berlari dengan cepatnya ke arah Horner dan kemudian melompat. Dia lalu mengaktifkan kekuatan kepalan apinya dan melancarkannya pada Gnomeman itu.
Melihat hal tersebut, Horner dengan cepat langsung menciptakan sebuah pedang dari kristalnya dan menangkis serangan tinju api dari Bohrneer.
Efek dari tabrakan serangan Bohrneer itu sontak langsung membuat sebuah ledakan yang besar. Namun, terlihat Horner dapat menahan serangan tersebut tanpa membuat terhempas seperti yang dilakukan Bohrneer pada Dieril sebelumnya.
“Kekuatan fisik kalian lumayan kuat juga ras campuran,” kata Bohrneer, agak memuji Horner.
“Oh… Terima kasih,” respon Horner.
Horner kemudian dengan cepat langsung mengayunkan pedang kristalnya itu berkali-kali ke arah Bohrneer, yang langsung membuat efek ledakan lagi pada setiap tabrakan serangan-serangan mereka berdua.
**
Di sisi lain terlihat Fegant yang masih berdiam diri menonton pertarungan antara Bohrneer dan Horner.
Tiba-tiba Dierill yang berada di belakang langsung menyerang Giantman itu dengan mengayunkan bola besinya.
“Uwah… Hampir saja.” Fegant sontak menghindari sesuatu yang datang dari arah belakangnya.
“Jangan alihkan pandanganmu,” kata Dierill, yang kemudian memutar senjatanya dan meluncurkannya pada Fegant.
Giantman itu sontak langsung melancarkan senjata gadanya pada serangan Dierill itu. Efek tabrakan itu sontak menciptakan sebuah gelombang yang cukup kuat.
Dierill kemudian kembali mengayunkan senjata bola rantai itu lalu meluncurkannya ke arah Giantman tersebut sehingga membuat serangan tersebut menghantam tubuh Fegant.
Fegant sontak membalas serangannya itu dengan mengayunkan gadanya. Namun, serangan dari Giantman itu dengan mudah dapat dihindari oleh Dierill dengan memanfaatkan kelincahannya.
Dierill pun langsung melancarkan serangannya lagi dengan menghantamkan bola rantainya itu ke tubuh Fegant secara berulang-ulang kali.
“Argh…!” Teriak Fegant, menerima serangan Dierill secara berturut-turut.
Karena kesal menerima serangan dari Dierill secara terus-menerus, Fegant kemudian menghantamkan gadanya ke tanah.
“Giantman earth technique… Waving ground…” Sontak teknik tersebut, langsung membuat tanah di tengah arena itu bergerak layaknya ombak.
Hal tersebut sontak membuat Dierill serta Bohrneer dan Horner menjadi kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Fegant dengan langsung memunculkan tanah dari bawah Dierill hingga membuatnya terhempas ke atas.
Saat Dierill mencapai titik tertinggi, dia jatuh kembali bawah.
Fegant kemudian dengan kuat mengayunkan gadanya saat Dierill sudah berada di depan matanya.
Namun, dengan refleksnya Dierill langsung memutar tubuhnya hingga dapat menghindari ayunan senjata dari Giantman itu.
“Apa…?” Kata Fegant, terkejut bahwa Dierill dapat menghindari serangannya itu.
Dierill lalu memutar bola rantainya dengan sekuat tenaga sehingga memunculkan kobaran api pada senjatanya tersebut.
“Flame martial… Flail strike…” Dia kemudian langsung meluncurkan serangannya itu sehingga membuat Fegant langsung terhempas dengan kuatnya sampai menabrak dinding arena dan membuatnya seketika mengalami kekalahan.
**
Beralih pada pertarungan Bohrneer dan Horner yang masih saling melancarkan serangan mereka.
Tampak Horner mulai kelelahan mengatasi serangan-serangan tinju api dari Bohrneer sampai membuatnya perlahan-lahan mulai kelelahan.
*
Eh… Kenapa pergerakannya melambat? Ini menjadi terasa lebih muda untuk menghindari serangannya,” kata Bohrneer dalam hati, mengamati pergerakkan Horner yang mulai melambat.
**
“Fire projection… Ball of fire…” Kemudian Bohrneer melancarkan sebuah serangan bola api dan menghantamkannya ke tanah sehingga menciptakan sebuah ledakan.
Hal tersebut sontak membuat Horner melompat ke belakang menghindari efek dari serangan itu.
Sontak dengan cepat Bohrneer muncul dari kobaran api yang berada di depan Horner dan langsung melancarkan serangan pada Gnomeman itu.
“Argh…!” Teriak Horner terhempas menerima serangan tersebut.
“Sialan… Kau…” Kata Horner, yang mulai kesal dan kemudian kembali berdiri.
Tiba-tiba dia mendengar suara dari percikan petir. Gnomeman itu pun sontak menoleh pada sumber suara tersebut.
Nampak Ogreman bernama Iezig, yang sebelumnya terkurung di dalam kristal kini telah terbebas.
Melihat Ogreman yang mengincarnya itu sontak membuat Horner langsung terkejut dan bersiaga. Namun, hal itu sudah terlambat karena Iezig kini telah berada di depan matanya.
“Red electric style… Shocking slash…” Ogreman itu pun langsung melancarkan serangan tebasannya, yang membuat Gnomeman itu jatuh terkapar dan mengalami kekalahan.
“Hei, bodoh... Ayo maju.” Setelah mengalahkan Horner, Iezig pun menoleh pada Bohrneer dan kemudian menantangnya untuk maju.
Tanpa pikir panjang Bohrneer pun langsung maju menyerangnya. Iezig dan Bohrneer kini saling melancarkan serangan satu sama lain.
Saking sengit pertarungan antara mereka berdua, kedua petarung itu sampai tidak sadar bahwa Dierill kini mendekati mereka.