The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 294 - Bunga terlangka di dunia



“Hei… Apa-apaan kalian?” Ucap Arn, tampak terkejut melihat kedua saudara kembarnya menatap dirinya, layaknya ingin menyarankan bahwa pria itulah yang harus mengisi posisi kosong yang dikatakan oleh Chrol.


“Aku setuju… Arn mungkin cocok menjadi mayor kota ini…” Ucap Hyphilia.


“Aku juga menyetujuinya… Dia akan cocok menjadi posisi itu…” Sambung Raquille.


Mendengar hal tersebut, Arn pun lantas terkejut sambil memasang ekspresi wajah menganga, tidak percaya bahwa para Venerate yang merupakan rekan-rekannya tersebut secara serentak berencana untuk membuatnya mengisi posisi sebagai mayor kota Kyacha.


“Tunggu dulu… Aku belum menyetujuinya…” Ucap Arn, menolak untuk menjadi mayor kota Kyacha.


“Tuan Chrol… Apa mungkin di wilayah ini hanya terdiri dari dua kota saja?” Tanya Raquille.


“Sayangnya walaupun wilayah ini merupakan wilayah terluas, namun kota yang daerah yang berada di dalamnya hanyalah daerah Kirutsk dan daerah Kyacha, beserta dua kota di dalamnya,” jawab Chrol.


Pria itu kemudian menjelaskan mengenai wilayah Briseria Timur Laut tersebut, dimana walaupun merupakan wilayah yang memiliki suhu terendah, namun wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah terluas dan paling penting bagi negeri Pavonas.


“Memangnya sepenting apa wilayah ini?” Tanya Raquille, penasaran.


“Daerah merupakan tempat bertumbuhnya bunga terlangka di dunia, yaitu bunga Camomile merah, dan memang banyak negeri yang mulai mengincarnya akibat efeknya yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit,” jawab Chrol.


“Hmph… Aku pernah mendengar mengenai bunga ini… Ternyata berada di tempat ini dan memang bukan sebuah dongeng…” Respon Raquille.


Pemuda Elfman itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, membuat semuanya lantas kebingungan dengan apa yang akan dilakukannya.


“Kalau begitu, karena aku sudah menjadi Venerate negeri ini, maka tidak akan membiarkan negeri lain mengincar bunga itu…” Ucap Raquille.


“Selain itu, walaupun wilayah ini merupakan suhu paling rendah diantara semua wilayah Pavonas, namun aku akan melindungi kalian agar tidak kedinginan,” lanjut pemuda Elfman itu sambil memegang satu per satu tangan dua perempuan bernama Sargyna serta sambil tersenyum.


Wajah kedua perempuan itu lantas memerah karena merasa canggung dengan sikap Raquille yang memang bertujuan untuk menggoda mereka berdua.


“Terima kasih tuan…” Ucap perempuan bernama Alta.


“Sama-sama, nona Alta…” Balas Raquille, menyebut nama perempuan itu sambil tersenyum.


“Baiklah… Aku ingin melihat bunga itu… Apakah dari kalian tahu tempatnya?” Tanya Raquille, ternyata ingin melihat bunga terlangka yang tumbuh di negeri tersebut.


“Eh… Kau mau melihatnya sekarang?” Tanya balik Chrol, sedikit terkejut mendengar hal tersebut dari Raquille.


“Tentu saja, memangnya kapan lagi…”


“Baik… Akan kuantar melihat bunga itu… Ayo tuan Raquille…” Ucap Chrol lantas berdiri dari tempat duduknya, kemudian mempersilahkan Raquille untuk mengikutinya.


“Tunggu… Bagaimana denganku? Aku belum menyetujui mengenai posisi menjadi mayor itu.” Tiba-tiba Arn berdiri sambil membahas hal mengenai dirinya yang akan mengisi posisi sebagai mayor kota Kyacha.


“Kenapa tidak Asulf ataupun Anhilde saja?” Lanjut Arn, menyarankan salah satu saudara kembarnya untuk mengisi posisi tersebut.


“Arn… Ini bukanlah sebuah permintaan, melainkan sebua perintah. Jadi kau harus bersiap dengan posisi itu.” Hal tersebut lantas membuat Hyphilia berdiri, kemudian memerintahkan Arn menjadi mayor Kyacha, sesuai dengan wewenangnya yang kini menjadi pemimpin dari wilayah Briseria Timur Laut.


“Kalian ingin pergi melihat bunga itu kan… Ayo, kalau begitu aku juga ikut…” Ucap Hyphilia.


“Haah…” Arn pun tidak bisa menolak perintah Hyphilia, dan sontak hanya bisa menerimanya walaupun merasa tidak siap berada posisi tersebut.


Beberapa saat kemudian, Raquille dan Hyphilia mengikuti Chrol mendaki sebuah bukit yang cukup terjal dengan keadaan di tengah badai salju yang tentu saja membuat lingkungan yang berada di sekitar mereka nampak sangat dingin.


Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat Raquille ataupun Hyphilia kedinginan ataupun kesulitan karena keadaan tersebut hampir sama saja seperti keadaan yang berada di pulau utama negeri Blueland.


Satu-satunya orang yang mengalami kesulitan pada suhu rendah tersebut tidak lain merupakan Chrol, walaupun sudah mengenakan pakaian yang tebal, namun pria itu tetap saja harus mengakses kekuatan miliknya untuk menciptakan hawa panas agar mampu menjadi suhu tubuhnya.


“Tuan Chrol… Apakah masih jauh?” Tanya Raquille mengenai tempat yang akan mereka tuju, sambil sesekali mencoba membantu Hyphilia menaiki medan terjal, yang sebenarnya memang merupakan hal mudah untuk Elfman perempuan itu melakukannya, namun perlakuan Raquille tersebut hanya bertujuan agar dirinya terlihat seperti seorang laki-laki sejati.


“Sedikit lagi… Bunga Camomile yang paling dekat bertumbuh di atas bukit ini,” jawab Chrol.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menaiki bukit salju tersebut, hingga tak berapa lama ketika sampai puncak bukit tersebut, tiba-tiba saja badai salju yang cukup kuat sebelumnya lenyap, membuat kedua Elfman tersebut lantas kebingungan.


“Tuan Raquille… Nona Hyphilia… Itu dia bunga Camomile merah yang ingin kalian lihat…”


Chrol lantas menunjukkan kepada Raquille dan Hyphilia hamparan bunga Camomile merah yang tumbuh di seluruh puncak bukit tersebut, yang membuat kedua ras Elfman itu lantas terkejut melihat indahnya hamparan bunga berwarna merah itu.


Tanpa pikir panjang, Hyphilia lantas berlari mendekati hamparan bunga merah tersebut dengan ekspresi senang, kemudian memetiknya dan menyisipkannya diantara telinganya.


“Indah bukan…” Ucap Chrol pada Raquille, ingin melihat respon dari pemuda Elfman tersebut setelah melihat hamparan bunga Camomile di puncak bukit itu.


“Iya… Sangat indah… Aku tidak menyangka bahwa bunga ini memang ada…” Respon Raquille sambil berjalan menghampiri Hyphilia yang sudah lebih dulu pergi ke hamparan bunga tersebut.


“Raquille… Bagaimana penampilanku?” Tanya Hyphilia, memperlihatkan bunga Camomile yang dipakai pada telinganya.


“Tentu saja kau terlihat cantik kakak… Bahkan tanpa harus menggunakan bunga ini,” jawab Raquille sambil tersenyum, namun langsung mengambil bunga yang dipakai oleh Hyphilia, kemudian memperhatikannya.


“Hei, kenapa kau memujiku jika akhirnya kau harus mengambilnya?” Ucap Hyphilia lantas merasa kesal ketika melihat Raquille mengambil bunga yang dipakainya.


Raquille tidak merespon ucapan Hyphilia karena sementara dengan seksama memperhatikan bunga yang sedang dipegangnya.


“Jadi ini bisa menyembuhkan segala macam penyakit yah… Tapi, bagaimana jika orang yang sehat memakannya?”


“Ekh…” Tanpa pikir panjang Raquille langsung mengisi bunga tersebut ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, hingga membuat Hyphilia sedikit terkejut dengan kelakuan dari adik sepupunya tersebut.


“Apakah itu enak?” Tanya Hyphilia.


“Huekh…!” Belum saja menjawabnya, Raquille tiba-tiba memuntahkan bunga tersebut.


“Rasanya sangat pahit… Ini tidak seperti bunga Camomile yang biasa…”


“Bagaimana bisa tumbuhan ini bisa meyembuhkan semua penyakit, jika saja rasanya seperti ini,” gumam Raquille berkomentar megenai bunga yang dimakannya tersebut, yang tidak sesuai dengan harapannya.


“Mungkin saja tidak langsung dimakan seperti anak bodoh,” ucap Hyphilia.


“Lupakan saja… Setidaknya bunga masih terlihat indah…”


Raquille tiba-tiba menggunakan kekuatan sihir, mengangkat beberapa bunga. Dengan hanya menggerakkan salah satu tangannya, pemuda Elfman itu membuat bunga-bunga tersebut dengan sendirinya menjadi sebuah mahkota.