
Armada kapal pasukan Blueland pun akhirnya mulai berangkat meninggalkan wilayah Blueland, menuju ke wilayah Fuegonia.
***
Berpindah ke wilayah dari negeri Ierua, dimana di sebuah kastil yang terletak di kota Nublid, ibukota dari negeri tersebut, tampak empat orang Venerate datang memasuki ruangan tahta menemui Sheafear yang duduk di atas singgasananya.
“Salam Yang mulia…” Ucap salah satu dari kelima Venerate tersebut.
“Akhirnya kalian datang lima bersaudara dari clan Riornain, aku sudah menunggu kalian…” Balas Sheafear.
“Memangnya ada apa kali ini Yang mulia?” Tanya salah satu Venerate.
“Galcael, Galdhra, Naos, Eiseach… Akhirnya kalian datang juga…” Disaat yang bersamaan Cadhan pun datang menyebut nama dari keempat Venerate tersebut.
“Cadhan… Kurasa kau harus menjelaskan tentang rencana penyerangan ke negeri Fuegonia,” ucap Sheafear.
“Benar sekali… Seperti yang didengar bahwa kalian kali ini akan memimpin penyerangan ke negeri Fuegonia… Terutama kau Galcael, aku ingin kau memimpin pasukan kita untuk menyerang wilayah negeri itu,” ucap Cadhan.
“Fuegonia… Kukira kami dipanggil kemari untuk membantu pasukan kita yang sedang bertempur melawan pasukan Brizora,” ucap Venerate bernama Galcael.
“Untuk hal itu kalian tidak perlu khawatir, karena pasukan kita yang dipimpin oleh Iardan masih belum mengalami kesulitan… Jika pun mereka mengalami hal tersebut, maka aku yang akan kesana untuk membantu mereka,” ucap Cadhan.
Perdana menteri Ierua itu kemudian menjelaskan mengenai penyerangan mereka ke wilayah negeri Fuegonia adalah untuk merebut sebuah senjata penghancur yang jarang sekali digunakan oleh pasukan negeri Fuegonia.
Cadhan menjelaskan bahwa menurut informasi sumber energi dari senjata tersebut merupakan sebuah batu yang mampu menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar. Senjata tersebutlah yang membuat bangsa Fuegonia berhasil mengalahkan bangsa Blueland, yang merupakan para Elfman sampai memukul mundur dari wilayah Fuegonia yang sebelumnya memang menjadi wilayah dari negeri Blueland.
“Jika kita menyerang dan tidak mengetahui letak senjata tersebut, bukankah itu adalah hal yang sia-sia,” ucap Venerate bernama Galcael.
“Tenang saja… Beberapa informan kita yang berada disana telah memberi tahu bahwa senjata itu disimpan di sebuah bagunan yang berada di kota Realmton…”
“Untuk masuk ke negeri itu kalian harus melakukan sebuah penyamaran menjadi orang biasa, serta melalui jalur lembah sungai di negeri tersebut menuju ke kota Realmton,” ucap Cadhan.
“Kami mengerti… Sesuai yang kau katakan tuan Cadhan…” Ucap Venerate bernama Galcael.
“Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu untuk melakukan persiapan sebelum keberangkatan kami.” Setelah berpamitan, keempat Venerate itu kemudian meninggalkan ruangan singgasana tersebut untuk melakukan persiapan sebelum keberangkatan mereka.
–13 Desember 3011–
Dua hari kemudian, berpindah ke armada kapal pasukan Blueland yang dipimpin oleh Cyffredinol, dimana mereka saat ini telah memasuki wilayah teluk bernama Nodush yang berada di bagian timur laut negeri Fuegonia, serta berada diantara empat daerah negeri dari negeri tersebut.
Terlihat Cyffredinol sedang bersama dengan Ackerlind di atas salah satu armada kapal tersebut.
“Kenapa kita harus menggunakan kapal untuk menyerang wilayah ini?” Tanya Ackerlind.
Pria Elfman itu kemudian menjelaskan bahwa rencana penyerangan mereka akan dimulai dengan menyusup serta menguasai terlebih dahulu wilayah yang tidak dihuni oleh para Venerate Fuegonia. Karena sebagian besar penduduk serta para Venerate Fuegonia mendiami wilayah bagian selatan dari negeri tersebut, maka pasukan Blueland akan terlebih dulu menguasai kota-kota kecil terpencil yang berada di negeri Fuegonia tersebut.
Pasukan Blueland yang dipimpin oleh Cyffredinol itu akan mulai menyerang dari daerah Rocode, yang merupakan daerah terluas yang berada di bagian timur teluk tersebut.
“Kakak, apa kau tahu bahwa menurut informasi yang ada… Pada ibukota dari daerah Rocode itu menyimpan sebuah senjata penghancur yang pernah memukul mundur kaum kita sampai ke wilayah pulau utama kini saat ini,” ucap Ackerlind.
“Senjata penghancur… Apa mungkin maksudmu adalah kristal berpijar yang kemungkinan berada di daerah Akalsa negeri ini?” Tanya Cyffredinol.
“Itu adalah sebuah senjata yang memiliki sumber kekuatan dari kristal berpijar,” jawab Ackerlind.
“Kakak, bagaimana jika setelah menguasai daerah Rocode… Kita harus melakukan sebuah misi tambahan menyerang kota itu dan mengambil senjata tersebut,” lanjut Ackerlind, memberi saran kepada kakaknya tersebut.
“Tunggu dulu… Memangnya darimana kau bisa mengetahui informasi tentag senjata penghancur itu?” Tanya Cyffredinol, merasa penasaran, dan tidak langsung menyetujui usulan dari adiknya tersebut.
“Siapa lagi kalau bukan si jenius itu…”
“Si jenius… Siapa maksudmu?” Cyffredinol pun tidak paham dengan maksud Ackerlind, dan sontak kembali bertanya untuk lebih jelasnya.
“Maksudku Raquille… Entah karena rasa penasarannya membongkar buku-buku yang berada di dalam akademi sihir, tiba-tiba dirinya mendapatkan sebuah buku tentang sejarah kekalahan bangsa Blueland dari bangsa Fuegonia, yang sebenarnya merupakan buku yang berasal dari negeri Fuegonia itu sendiri…”
Ackerlind kemudian menjelaskan bahwa Raquille sempat memperlihatkan kepada Ackerlind di dalam buku itu tertulis bahwa kota Realmton dulunya merupakan pusat pemerintahan negeri Fuegonia sebelum kota Wattao, menyimpan sebuah senjata rahasia yang dulunya mampu mengalahkan para bangsa Elfman.
Raquille pun saat itu memprediksi bahwa kekuatan dari senjata tersebut bersumber dari kristal berpijar yang diketahui secara turun temurun oleh para bangsa Elfman karena tidak akan pernah lupa dengan kekalahan mereka dari bangsa Fuegonia.
“Jika mengatakan bahwa kau mendapatkan informasi tersebut dari Raquille, kurasa aku bisa mempercayainya…”
“Dan kurasa kita harus segera mengambil ataupun menghancurkan terlebih dahulu senjata itu, karena cepat atau lambat jika permusuhan dari kedua negeri ini semakin buruk, maka pasukan Fuegonia akan terpaksa menggunakan senjata itu, dan hal tersebut akan membuat kerugian kepada kita,” ucap Cyffredinol, percaya dengan informasi tersebut, serta menyetujui usulan dari Ackerlind.
***
Beberapa saat kemudian armada kapal dari pasukan negeri Blueland akhirnya telah berlabuh di sebuah di daratan negeri Fuegonia.
Sebelum semua pasukan Blueland turun dari armada kapal mereka, Cyffredinol terlebih dahulu terbang ke langit. Saat mencapai ketinggian yang lebih tinggi dari pegunungan yang berada jauh di depannya, pria Elfman itu kemudian memunculkan sebuah busur panah senjata sucinya, lalu seketika mengaktifkan kekuatan dari senjata suci tersebut hingga mampu membuat dapat melihat dengan jelas dalam jarak sangat jauh.
Cyffredinol pun melihat bahwa dalam jarak puluhan serta ratusan kilometer terdapat beberapa kota kecil, yang hendak akan dikuasai oleh para pasukannya.
Setelah selesai memperhatikan kota-kota tersebut, Cyffredinol kemudian perlahan-lahan turun kebawah, kemudian menghampiri para saudaranya, serta Elfman bernama Drannor, yang merupakan para Continent Venerate dari pasukannya tersebut.
“Ada lima kota kecil berada puluhan sampai ratusan kilometer di depan… Kalau begitu kita akan mulai bergerak memecah menjadi lima kelompok untuk menguasai kota-kota itu,” ucap Cyffredinol.