
“Tuan Bohrneer…” Tampak Heinz datang menghampiri Bohrneer.
“Dasar bodoh, kau membuatku khawatir saja.” Melihat pria itu datang menghampirinya, Bohrneer sontak langsung memukul kepala Heinz.
“Aahh…!” Teriak Heinz.
“Tuan Bohrneer, kenapa kau memukul kepalaku?” Lanjutnya, bertanya.
“Itu hukuman untukmu, karena sudah membuatku khawatir,” kata Bohrneer.
“Tapi, aku berhasil menang dari raksasa itu. Kau tidak perlu khawatir sekarang.”
“Iya aku tahu itu… Dan satu hal lagi…” Kata Bohrneer.
“Apa itu tuan Bohrneer?” Tanya Heinz, penasaran.
“Berhenti memanggilku tuan. Panggil aku kakak saja,” jawab Bohrneer, menyuruh mengubah panggilan Heinz padanya.
“Kakak…? Apakah aku boleh memanggilmu seperti itu?”
“Kenapa kau bertanya… Jelas saja, karena aku ini kakakmu.”
Mendengar persetujuan dari Bohrneer, Heinz pun nampak terkejut bercampur senang.
“Baiklah… Kakak…”
Bohrneer pun nampak tersenyum dan senang mendengar panggilan tersebut.
“Bohrneer…! Heinz…!” Tiba-tiba Raquille muncul dan langsung memanggil kedua orang tersebut.
“Laventille…”
Melihat Raquille, Bohrneer serta Heinz pun langsung datang menghampirinya.
“Tuan Raquille… Apa kau tadi yang membantuku?” Tanya Bohrneer pada Raquille, sambil berbisik.
“Iya… Tadi aku dengar kau nampak sedikit mengumpat, jadi kupikir kau sedang dalam bahaya.”
“Bagaimanapun juga aku sangat tertolong, terima kasih tuan Raquille.”
“Tidak masalah.”
Melihat dua orang di depannya tersebut terlihat berbisik-bisik, Neyndra pun nampak merasa terganggu akan hal tersebut.
“Hei, kalian berdua… Apa yang kalian bisikan itu?” Tanya Neyndra, dengan tatapan serius.
“Haah… Apa masalahmu jika kami berbisik-bisik?” Bohrneer pun sontak membalas pertanyaan Neyndra sambil menatap tajamnya.
“Itu membuatku terganggu, mungkin saja kalian berdua membicarakan tentangku.” Tidak mau kalah, Neyndra kembali membalas perkataan pria itu.
“Hei gadis aneh, apa kau ini sedang datang bulan… Kau terlihat sensitif sekali. Tenang saja, kami tidak membicarakanmu,” kata Raquille.
“Heh…” Mendengar perkataan Raquille, Neyndra hanya membalasnya dengan ekspresi sinis.
“Mungkin karena dia menyesal telah mencampakkan si tuan prajurit, karena itu tiba-tiba dia menjadi kesal sendiri,” bisik Bohrneer.
“Benar juga… Bisa jadi seperti itu,” Blbalas Raquille, dengan berbisik juga.
**
Tak lama kemudian, terlihat sebuah drone datang mendekati mereka berempat. Melihat drone tersebut mendekati mereka, keempat orang itu sontak langsung menoleh.
“Erklis Magchora, dari tim Lightio berhasil mengalahkan Sereia Dolliford dari tim Mormist… Maeve Wilmond, dari tim Machora Tira berhasil mengalahkan Margo Shores.”
“Venere Redeglidei, dari tim Cielas berhasil mengalahkan Zengu Ekonji, dari tim Vielass… Iezig Wakor, dari tim Mormist berhasil mengalahkan Sligo Ekonji, dari tim Vielas.”
“Urano Redeglidei, dari tim Cielas berhasil mengalahkan Aazir Wakor, dari tim Mormist… Zared Wakor, dari tim Mormist berhasil mengalahkan Morn Yarbil, dari tim Machora Tira.”
“Zurbag Yarbil, dari tim Machora Tira berhasil mengalahkan Vaena Calinarys, dari tim Cielas… Aleron Wilmond, dari tim Machora Tira berhasil mengalahkan Jarrah Shores, dari tim Neodela.”
“Jenesyn Wycencor, dari tim Vielass berhasil mengalahkan Athira Magchora, dari tim Lightio.”
Drone tersebut nampak mengumumkan hasil dari sembilan pertarungan sekaligus.
“Wah… Nampaknya setengah dari peserta turnamen ini telah tereliminasi,” kata Raquille.
“Tapi aku belum mendengar nama dari tuan prajurit,” kata Bohrneer.
“Sedikit lagi pasti kita akan mendengar namanya dalam pengumuman berikut,” kata Raquille.
Mendengar Raquille serta Bohrneer membahas Drakon, Neyndra sontak terlihat seperti memikirkan sesuatu.
*
“Drakon… Kuharap kau juga bisa menang dan baik-baik saja,” kata Neyndra dalam hati masih mengkhawatirkan Drakon, walaupun sebelumnya nampak kecewa pada pria tersebut.
**
Di lain tempat, di sebuah hutan, terlihat pria yang dibahas Raquille dan yang lain sebelumnya, tidak lain adalah Drakon. Dia nampak sendirian berjalan menyusuri hutan tersebut sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Tiba-tiba terdengar sebuah suatu dari balik pepohonan yang berada di dekat Drakon.
“Keluarlah… Aku tahu kau ada disana.” Kata Drakon, seperti mengetahui bahwa ada seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan tersebut.
“Hahaha… Sepertinya aku ketahuan.”
Orang tersebut sontak keluar dari balik pepohonan dan menunjukkan dirinya pada Drakon.
Dia merupakan Ascelin, Vampireman dari tim Machora Tira.
“Padahal yang ku inginkan adalah bertemu dengan Elfman itu, untuk membalaskan dendamku pada babak sebelumnya,” kata Ascelin.
“Kalau begitu, pergi saja cari dia. Lagipula aku tidak tertarik untuk bertarung denganmu,” balas Drakon, mengusir Vampireman itu.
“Hei… Hei… Tak seperti itu juga. Apa kau takut bertarung denganku?”
“Tidak… Aku hanya tidak mau saja bertarung dengan Land Venerate yang dengan mudah dikalahkan oleh Regional Venerate,” kata Drakon, sedikit menyindir Vampireman itu.
“Apa kau bilang…?!” Mendengar sindiran tersebut, raut wajah dari Ascelin nampak menjadi tidak senang.
Vampireman itu pun terlihat mengeluarkan pedangnya dan dalam sekejap mata menghilang dari hadapan Drakon.
Drakon yang melihat hal tersebut sontak langsung bersiaga. Tiba-tiba pria itu berbalik menghadap ke belakang.
Seketika Ascelin tiba-tiba muncul di hadapannya, yang membuat Drakon secara refleks langsung menggenggam kepala Vampireman itu lalu membantingnya dengan keras ke tanah.
“Sudah kukatakan bahwa aku tidak mau bertarung denganmu.”
Tiba-tiba Vampireman yang dibantingnya tersebut berubah menjadi darah. Hal itu sontak membuat Drakon kembali terkejut.
“Apa? Darah…?”
Tanpa pria itu sadari, Vampireman itu kini telah berada di belakangnya.
Seketika Ascelin langsung mengayunkan dan menebas Drakon.
“Akh…!” Teriak Drakon, tersungkur di tanah, menerima serangan dari Ascelin.
“Apa kau yakin?” Tanya Ascelin.
Akibat serangan dari Vampireman itu, Drakon pun mendapatkan luka tebasan pada punggungnya.
Masih bisa bertahan dari serangan sebelumnya, Drakon pun terlihat perlahan-lahan kembali berdiri.
Seketika muncul sebuah proyeksi energi berwarna emas di sekitar luka tebasan tersebut. Energi emas yang muncul tersebut seketika menyembuhkan langsung lukanya.
“Hebat juga kau...” Kata Ascelin, memuji Drakon.
Drakon pun kemudian berbalik menghadap Vampireman itu dan langsung mengeluarkan pedangnya.
“Baiklah… Aku akan melawanmu.”
Mendengar hal tersebut, Vampireman itu sontak memasang ekspresi senyuman menyeringai.
Tanpa berlama-lama lagi, Drakon dan Ascelin secara bersamaan maju dan saling melancarkan mereka satu sama lain.
***
“Ternyata dia bisa melakukan kekuatan penyembuhan,” kata Rourke.
“Apa kalian sadar bahwa proyeksi energi emas itu mirip dengan beberapa peserta dari Lightio itu?” Tanya Ailene.
“Kakak… Seberapa bodohnya baru menyadari hal itu sekarang. Jelas-jelas nama belakang dari Drakon dengan para peserta Lightio itu memanglah sama,” kata Rourke.
“Hei… Walaupun kau ini adalah World Venerate, kau bisa berbicara kasar pada kakakmu ini.” Mendengar Rourke menyebutnya bodoh, Ailene pun sontak memarahinya.
“Heh…” Namun, Rourke membalas perkataan kakaknya tersebut dengan ekspresi sinis.
“Clan Magchora yah… Aku banyak mendengar tentang clan yang berasal dari negeri Geracie ini. Bisa dibilang mereka juga masuk ke dalam kelompok ras keturunan campuran,” kata Rox.
“Ras keturunan campuran? Memangnya mereka pencampuran dari ras yang mana?” Tanya Rourke, penasaran.
“Aku memang tidak terlalu yakin, tapi clan itu sering kali mengklaim bahwa mereka memiliki darah dari para dewa,” jawab Rox.
“Dewa katamu? Heh… Apa itu tidak terlalu berlebihan?” Mendengar hal tersebut, Rourke pun nampak tidak percaya.
“Memang hal tersebut nampak terlalu berlebihan. Tapi, orang-orang Geracie itu memang sedikit berbeda dengan manusia pada umumnya.”
“Kekuatan fisik mereka bahkan bisa mengimbangi kekuatan fisik dari para ras keturunan campuran.”
“Bahkan, hal utama yang membuat mereka itu menjadi berbeda adalah bahwa mereka merupakan wadah hidup.”
“Wadah hidup? Apa-apaan maksudmu itu ayah?”
Dari penjelasan Rox tersebut, Rourke nampak menjadi lebih bingung dari sebelumnya.
“Begini… Walaupun kau itu adalah World Venerate, tapi apakah kau bisa menggunakan kekuatan pelepasan kedua tanpa sebuah senjata suci?” Tanya Rox.
Rourke pun nampak sedikit menggelengkan kepalanya.
“Para clan dari Geracie itu bisa melakukannya tanpa menggunakan senjata suci sekalipun,” kata Rox, menjelaskan hal tersebut.
Nampak Rourke dan Ailene menjadi terkejut akan penjelasan Rox tersebut.
“Bisa dibilang, tubuh mereka adalah senjata suci itu sendiri.”
***
Kembali pada pertarungan Drakon dan Ascelin. Terlihat kedua petarung itu masih dengan sengitnya saling melancarkan serangan mereka masing-masing.
“God aura… Superior punch…” Drakon pun meluncurkan serangan proyeksi energi emasnya, yang sontak langsung dihindari oleh Vampireman dengan langsung menghilang.
Terlihat efek dari serangan Drakon sebelumnya sampai membuat pepohonan yang berada di depannya tersebut hancur berkeping-keping.
Dalam sekejap mata, Ascelin muncul dan langsung meluncurkan sebuah serangan proyeksi energi berwarna putih secara beruntun.
Terlambat untuk merespon serangan Vampireman itu, Drakon nampak hanya menahannya dengan menggunakan pedangnya, yang seketika membuat pedang yang dipegangnya tersebut hancur, dan membuat pria itu terhempas, menabrak pepohonan di belakangnya.
“Sepertinya pedangmu itu bukanlah senjata suci?” Tanya Ascelin.
Setelah menerima serangan dari Vampireman itu Drakon pun kembali berdiri. Dia pun terlihat menciptakan sebuah pedang menggunakan proyeksi energi emasnya.
“Senjata suci…? Aku tidak memerlukan hal itu,” jawab Drakon.
Masih belum puas, Drakon pun sontak mengeluarkan energi emas, yang dengan cepat langsung melapisi tubuhnya, hingga berbentuk menjadi zirah.
Tidak mau kalah dengan pria tersebut, Ascelin pun sontak mengaktifkan kekuatannya, yang langsung membuat tubuh dan matanya kini memancarkan energi berwarna putih.
Tanpa berlama-lama lagi, keduanya pun maju secara bersamaan dan saling melancarkan serangan mereka.
Tabrakan serangan tersebut sontak menciptakan ledakan yang cukup kuat, hingga membuat pepohonan di sekitar mereka seketika hancur.
Namun, karena saking kuatnya ledakan, sampai membuat kedua orang itu pun langsung terhempas.
**
Tak jauh dari tempat itu, Zeidonas, salah satu anggota dari tim Lightio tampak terkejut setelah mendengar suara ledakan dari dalam hutan.
Pria itu sontak menoleh ke arah suara ledakan tersebut.
“Ini kan…?” Tiba-tiba orang itu nampak tersenyum tipis.
“Drakon…”
Ternyata Zeidonas bisa merasakan hawa keberadaan Drakon yang sedang berada di dalam hutan tersebut. Merasa bahwa ini adalah kesempatan yang bagus baginya untuk bisa berhadapan dengan Drakon, pria itu seketika langsung berlari menuju hutan.
Saat dirinya nampak berlari memasukki hutan tersebut, tiba-tiba saja sebuah serangan proyeksi energi berwarna merah datang mengarah kepadanya.
Sontak dengan refleksnya, Zeidonas menangkis serangan tersebut dengan mengeluarkan proyeksi energi berwarna emasnya.
Setelah menangkis serangan tersebut, pandangan Zeidonas kini tertuju pada seorang pria yang datang menghampirinya.
Pria yang datang menghampirinya itu adalah Elford, salah satu anggota tim Fuegonia A.
“Apa kau yakin ingin bertarung denganku?” Tanya Zeidonas, terlihat sedikit meremehkan petarung Fuegonia itu.
“Tentu saja, kapan lagi aku bisa berhadapan dengan orang yang diklaim sebagai peserta terkuat di turnamen ini. Bukankah ini suatu kehormatan?”
“Hehe…” Mendengar ucapan dari pria Fuegonia itu, Zeidonas pun nampak sedikit tertawa.
“Pergilah cari lawan yang lain. Aku tidak mempunyai untuk meladelanimu sekarang,” kata Zeidonas, menolak tantangan Elford.
“Kalau begitu, tak perlu buang-buang waktumu sekarang.”
Masih tidak menyerah, Elford pun berlari mendekati Zeidonas dan langsung mengayunkan kedua belatinya.
**
Kembali pada pertarungan Drakon dan Ascelin. Terlihat Drakon kesulitan untuk berdiri kembali setelah menerima tabrakan serangan sebelumnya.
Berbeda dengan lawannya Ascelin, yang telah kembali berdiri dan mendekati Drakon.
“Hei, sepertinya kau kesulitan berdiri. Mau kubantu?”
Dengan memasang ekspresi menyeringai, Vampireman itu malah menginjak-injak Drakon dengan tanpa ampun.
“Akh…!” Teriak Drakon.
Walaupun mendengar jeritan dari pria tersebut, Ascelin tetap saja tidak menghentikan perbuatannya tersebut dan tampak semakin bersemangat melanjutkan siksaannya pada pria itu.
Drakon yang terus-terusan disiksa oleh Vampireman itu perlahan-lahan mulai tidak sadarkan diri.
*
Tiba-tiba Drakon mengingat sepotong ingatan masa lalunya yang berada di sebuah pinggiran tebing. Dia terlihat tersungkur tak berdaya di depan Zeidonas, Dimira, Erklis dan Athira yang menatapnya dengan tatapan tajam.
Seketika Zeidonas meluncurkan serangan proyeksi energi berwarna emas dari sarung tangan besinya pada Drakon, yang sontak membuat Drakon jatuh dari tebing tersebut.
**
Setelah mengingat ingatan tersebut, seketika mata dari pria itu memancarkan cahaya berwarna emas.
Ascelin yang masih melanjutkan kegiatannya menginjak-injak Drakon, tiba-tiba terkejut melihat pancaran cahaya dari mata pria itu.
Sontak sebuah pancaran energi emas keluar dari tubuh Drakon, yang membuat Vampireman itu langsung terhempas.
Layaknya telah mendapatkan kekuatan kembali, Drakon nampak kembali berdiri dan menatap Ascelin.
Ascelin yang masih dapat berdiri kembali sontak langsung mengaktifkan kekuatannya, yang membuat mata dari Vampireman itu kini memancarkan cahaya berwarna putih. Terlihat juga pedang yang dipegang oleh Vampireman nampak dilapisi pancaran energi berwarna putih.
Tidak mau membuang waktu lagi, Vampireman sontak langsung meluncurkan serangan proyeksi energi berwarna putihnya tersebut secara beruntun.
Melihat serangan tersebut, Drakon pun langsung memasang kuda-kuda dan berkonsentrasi membuat serangan.
“God Aura… Deadly Superior Punch…” Seketika pancaran energi emas yang memancarkan pada tubuhnya, meluncur membentuk sebuah pusaran ke arah Ascelin.
Kedua serangan tersebut sontak saling menabrak satu sama lain. Namun, karena tekanan yang lebih kuat dari serangan Drakon membuat serangan dari Ascelin dalam sekejap musnah.
Saking cepatnya serangan dari Drakon mengarah pada Vampireman itu, sehingga membuatnya tidak bisa menghindarinya.
Seketika serangan proyeksi itu langsung menghempaskan Ascelin dalam jarak yang cukup jauh, hingga membuatnya langsung mengalami kekalahan.
Setelah melihat Vampireman tersebut sudah tak berdaya, Drakon pun akhirnya pergi meniggalkan tempat itu.