
Mendengar seseorang berbicara kepada mereka, Raquille serta Zero pun langsung menoleh, dan sontak terkejut melihat seorang perempuan sedang melayang mendekati mereka.
“Erissa…” Ucap Raquille sambil memasang ekspresi tersenyum, melihat perempuan tersebut.
Sedangkan Zero nampak terkejut melihat Erissa yang merupakan pemimpin negeri Pavonas tersebut, dimana pria itu merasakan sesuatu ketika melihat Fairyman perempuan itu.
Erissa kemudian perlahan mendarat ke permukaan kemudian mendekati Raquille terlebih dahulu.
“Kuharap kau tidak akan membuat kekacauan pangeran Blueland,” ucap Erissa sedikit memperingati pemuda Elfman itu dengan sebutan formal.
“Hehe… Maaf aku hanya sedikit terkejut dengan tamu yang kau undang kemari… Kalau begitu, sesuai perkataanmu aku tidak akan membuat kekacauan,” balas Raquille, lantas mengikuti apa yang dikatakan oleh Fairyman perempuan itu.
“Selamat datang di negeri Pavonas, putri Hyphilia… begitu juga dengan ketiga kembar, tuan Arn, tuan Asulf, dan nona Anhilde,” ucap Erissa, menyapa para Venerate yang berasal dari negeri Blueland.
Erissa kemudian berbalik ke arah Zero untuk melakukan hal yang sama kepada pria itu dan para Venerate yang ikut bersamanya seperti pada para Venerate Blueland.
“Selamat datang tuan Zero, sang penunggang badai… Aku pernah mendengar bahwa kau dan pangeran Raquille pernah berselisih ketika menyerang negeri Gimoscha sebelumnya, namun kuharap kalian tidak perlu mengulang hal itu lagi di tempat ini, karena bagaimanapun kalian berdua akan bersama-sama menjadi World Venerate di negeri ini,” ucap Erissa, menyapa Zero sambil sedikit memperingati pria itu agar tidak membuat kekacauan.
“Baik… Aku mengerti…” Balas Zero.
Erissa kemudian berjalan menghampiri dua Venerate dari Calferland untuk menyapa mereka juga.
“Selamat datang tuan Vingto dan tuan Cento dari negeri Calferland…”
“Selamat datang tuan Clava, tuan Arepo dan tuan Mayorio dari negeri Serepusco… Begitu juga dengan nona Terra dan tuan Plutone dari negeri Gimoscha…” Erissa kemudian tidak lupa untuk menyapa Venerate yang berasal dari negeri lain, yang pada saat ini telah direkrut untuk menjadi Venerate Pavonas.
*
“Jadi perempuan ini adalah dewi merak… Disamping itu, dia terlihat mirip seperti…” Ucap Zero dalam hati, merasakan bahwa perempuan itu mirip seperti seseorang yang dikenalnya.
**
Karena merasakan hal tersebut, Zero pun terus memandangi Erissa, hingga membuat Raquille lantas penasaran dengan tatapan pria itu.
“Apa-apaan pria itu menatap Erissa seperti itu?” Gumam Raquille, merasa risih melihat Zero terus menatap Erissa.
“Memangnya kau merasa cemburu dengan hal itu?” Tanya Hyphilia karena lantas mendengar gumamam dari pemuda Elfman itu.
“Eh… Sebenarnya tidak juga,” jawab Raquille.
**
“Baiklah… Karena semua Venerate, khususnya para Venerate tingkat atas telah berkumpul setidaknya mari kita bersama-sama membincangkan sesuatu.” Tidak terlalu peduli dengan tatapan Zero sebelumnya, Erissa pun langsung mengajak para Venerate Pavonas, serta para Venerate yang baru direkrut menuju ke suatu tempat.
***
Beberapa saat kemudian, semua Venerate dengan tingkatan diatas Land Venerate berkumpul di dalam sebuah ruangan pertemuan, dimana tampak mereka semua duduk mengelilingi sebuah meja panjang.
“Kalau begitu, kita mulai pada pengenalan untuk Venerate yang baru saja direkrut pada negeri Pavonas ini…” Ucap Erissa.
“Gudov… Kurasa kau sebagai perwakilan Venerate bangsa Slivan harus menceritakan mengenai sejaran negeri Pavonas kepada semuanya,” lanjut Erissa, menyuruh Venerate bernama Gudov.
Venerate tersebut kemudian berdiri lalu mulai menceritakan sejarah dari negeri Pavonas pada jaman kerajaan bangsa Slivan pertama kali. Setelah keruntuhan kerajaan bangsa Slivan oleh negeri bangsa lain, sisa-sisa dari bangsa Slivan bangkit dengan dukungan salah satu makhluk suci berwujud seekor burung merak. Mereka kemudian menguasai daratan utara Antikara serta wilayah timur benua Greune untuk menjadikan kembali negeri bangsa Slivan, dan menamai negeri mereka tersebut dengan nama negeri Pavonas dengan alasan untuk menghormati makhluk suci yang memberikan bantuan kepada mereka.
Ketika negeri Pavonas berdiri, negeri tersebut tidak lepas dari konflik internal, dimana beberapa kelompok di dalamnya memiliki pemahaman yang berbeda sehingga membuat mereka pun melepaskan diri mendirikan negeri yang baru, akan tetapi walaupun pada saat itu wilayah dari negeri Pavonas terbagi, namun negeri tersebut tetap merupakan negeri dengan wilayah terluas di Lamue.
“Dan karena itu negeri ini sering disebut sebagai negeri yang haus wilayah…” Respon Raquille, memberikan ucapan sedikit menohok pada penjelasan yang diberikan oleh Gudov.
“Hahaha… Bahkan wilayah Briseria di bagian timur negeri ini sering dibiarkan oleh para Venerate Pavonas,” sambung Zero.
Gudov serta beberapa Venerate yang memang berasal dari Pavonas nampak menunjukkan ekspresi kesal ketika mendengar ucapan dari kedua World Venerate tersebut yang cukup menghina mengenai negeri mereka itu.
“Raquille… Tuan Zero… Walaupun bukan berasal dari Pavonas, namun aku juga merasa kesal mendengar ucapan kalian itu… Kurasa kalian harus sedikit menjaga sikap kalian,” ucap Erissa kembali memperingati kedua World Venerate tersebut.
Mendengar peringatan tersebut, baik Raquille maupun Zero lantas langsung terdiam, namun dengan alasan bahwa mereka sebenarnya hanya menghormati Erissa yang merupakan Venerate dengan tingkatan yang setara dengan mereka.
“Kurasa penjelasan mengenai sejarah negeri Pavonas sudah cukup… Sekarang aku ingin membahas mengenai alasan Pavonas merekrut Venerate dari negeri lain… Setelah peperangan benua Greune berakhir, dimana banyak Venerate dari negeri ini ditangkap ataupun bergabung dengan kemauan mereka sendiri ke negeri anggota kubuh barat… Karena itu kami harus mencari setidaknya beberapa diantara Venerate yang bersedia untuk mengisi kekosongan yang ada di negeri ini, termasuk menjadi pemimpin dari empat wilayah yang masih kosong saat ini,” ucap Erissa menjelaskan secara panjang lebar mengenai tujuan perekrutan tersebut.
Erissa kemudian menjelaskan bahwa kali ini terdapat tiga Continent Venerate yang baru saja direkrut untuk mengisi kekosongan tersebut, dimana Erissa sebagai pemimpin agung negeri Pavonas langsung menunjuk Continent Venerate pertama yaitu Vingto Lancheur untuk menjadi premier atau pemimpin dari wilayah Pavonov Tengah, Clava Armadura sebagai Continent Venerate kedua ditunjuk oleh Erissa menjadi premier dari wilayah Barat Laut Briseria, sedangkan Hyphilia sendiri sebagai Continent Venerate ketiga ditunjuk oleh Erissa menjadi premier di wilayah Timur Laut Briseria.
“Tunggu dulu Erissa… Bukankah wilayah Briseria, terutama utara adalah kawasan kutub utara?” Tanya Raquille, nampak sedikit terkejut ketika mendengar bahwa Hyphilia ditunjuk sebagai pemimpin dari kawasan tersebut.
“Tentu saja… Bukankah kalian para Elfman sudah terbiasa tinggal di daerah dengan suhu dingin,” jawab Erissa.
“Sial…” Gumam Raquille, mengumpat karena merasa penghinaan yang dia katakan sebelumnya menjadi sebuah karma bagi para Venerate Blueland yang telah bergabung ke negeri Pavonas.
“Baiklah dewi merak… Aku bersedia memimpin wilayah itu…” Akan tetapi, Hyphilia memiliki pendapat berbeda dengan langsung menyetujui hal tersebut.