
Saking kesalnya Aulvius menyerang pria Geracie itu dengan melancarkan serangan proyeksi elemen api secara berturut-turut.
Hal tersebut sontak membuat pria itu menjadi kewalahan hingga tersudut menerima serangan dari Aulvius.
Saat Aulvius melancarkan serangan proyeksi api yang lebih besar ke arahnya, seketika pria Geracie tersebut berubah menjadi butiran-butiran cahaya berwarna merah dan lenyap.
“Sial…” Umpat Aulvius dengan kesalnya, membiarkan pria Geracie itu kabur begitu saja.
**
Beberapa saat kemudian Aulvius datang menghampiri Seremino yang terbujur kaku dipangkuan Giano.
“Kalau saja hari itu aku membiarkanmu hanyut terbawah arus sungai, pasti hal ini tidak akan terjadi,” ucap Aulvius dengan kesalnya pada Giano.
“Kakakmu selalu melakukan perlawanan untuk menundukkan negeri itu atas kekejaman mereka, namun pada akhirnya kau beraliansi dengan mereka dan melawan saudaramu sendiri.”
Giano pun nampak terdiam tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar ucapan dari Aulvius.
“Aku tidak mau hidup dibawah perintahmu.” Pria itu lalu memungut senjata suci milik Seremino yang tergeletak di tanah.
“Tuan Aulvius, apa yang kau lakukan?”
Aulvius mengangkat tongkat tersebut, yang sontak memunculkan sebuah proyeksi cahaya di atasnya. Seketika cahaya tersebut melahapnya, hingga pria itu menghilang tepat dihadapan Giano.
Giano yang melihat pria itu seketika menghilang sontak terkejut. Dia kemudian menatap Seremino dengan persaan menyesal lalu memeluknya dengan erat.
–1 Agustus 340–
Puluhan tahun kemudian Giano yang telah berusia lebih dari satu abad, namun dengan penampilan fisik sebagai pria berumur tiga puluh tahunan nampak duduk di sebuah ruangan menatap pemandangan yang berada diluar.
Pria itu masih tetap merenung tentang perbuatannya yang membuat saudaranya meninggal puluhan tahun yang lalu.
Tak berapa lama, seorang prajurit masuk ke dalam ruangan tersebut menemui Giano untuk memberikan sebuah informasi.
“Yang mulia, anda harus mendengar ini. Penduduk di bagian wilayah barat laut melakukan kudeta, sepertinya mereka berani melakukannya karena dipimpin oleh Aulvius,” ucap prajurit itu.
“Aulvius yah… Haah… Biarkan saja mereka melakukannya, aku sudah tidak peduli lagi...” Respon Giano.
“Tapi Yang mulia.”
“Apa masih ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Tanya Giano.
“Tidak, Yang mulia.”
“Kalau begitu, boleh tinggalkan aku sendiri?”
“Baik, Yang mulia.” Setelah mendengar perintah dari Giano, prajurit itu kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah ditinggal pergi prajurit tersebut, pria itu lalu kembali merenung sambil menatap pemandangan yang berada diluar.
–Tahun 348–
Delapan tahun kemudian Giano meninggal di usia seratus dua puluh tahun. Namun, walaupun begitu jiwanya masih belum bebas dan malah terperangkap di dalam senjata suci yang dipegang selama hidupnya.
–Abad 4 sampai 31–
Selama puluhan abad senjata suci yang dimiliki Giano dipegang oleh para raja negeri Gimoscha secara turun-temurun. Selama itu juga para raja Gimoscha selalu dirasuki dan dikendalikan oleh roh dari Giano yang berdiam di dalam senjata suci tersebut.
Anehnya walaupun di akhir hidupnya Giano sudah tidak memperdulikan tentang negerinya, namun setelahnya merasuki para keturunannya, pria itu nampak terhasut untuk menyatukan kembali wilayahnya dan terus menganggap bahwa para bangsa Seremoschan yang berada diluar wilayah semenanjung Pianena merupakan para budaknya.
Negeri Gimoscha sendiri yang memiliki wilayah membentang luas di pada bagian selatan benua Greune akhirnya telah terpecah menjadi tiga negeri, dimana negeri-negeri tersebut dapat bertahan sampai pada abad ketiga puluh satu sekarang ini.
–22 Juni 3029–
Giano yang jatuh dari ketinggian berubah ke wujudnya semula dan kemudian menghantam tanah dengan kerasnya.
**
Dengan sigap, pemuda Elfman itu langsung mengubah ukuran kapaknya menjadi kecil dan memanjangkan gagangnya layak sebuah tali lalu meluncurkannya melilit tongkat obor tersebut.
Raquille kemudian menarik kapaknya dan menangkap tongkat obor tersebut.
“Sepertinya senjata ini yang membuat rajamu itu dirasuki oleh leluhurnya terdahulu,” kata Raquille.
“Apa maksudmu?” Tanya Acadiuno.
“Roh yang merasuki rajamu itu sebenarnya berasal dari senjata suci ini. Banyak senjata suci yang menarik jiwa penggunanya setelah kematian, bahkan jiwa pengguna tersebut yang sebenarnya baik akan menjadi jahat akibat terpengaruh oleh makhluk ataupun kekuatan yang tersegel didalamnya…”
“Aku yakin juga jiwa leluhur Gimoscha yang terperangkap di dalam sebenarnya hanya terpengaruh oleh kekuatan dari senjata ini,” kata Raquille menjelaskan secara panjang lebar kepada mereka.
“Anak muda, sepertinya pengetahuanmu boleh juga,” ucap Acadiuno, sedikit memuji pemuda Elfman itu.
“Aku mengetahuinya karena salah satu senjata suci yang kumiliki hampir sama seperti ini.”
“Berarti kau pasti sering dirasuki oleh leluhur Elfman-mu?” Tanya Acadiuno lagi.
“Aku bisa saja seperti itu, namun sayangnya aku memiliki kekuatan khusus untuk dapat menangkalnya… Ngomong-ngomong senjata suci yang kumiliki itu sebenarnya memiliki jiwa seorang Ogreman, dan bukanlah Elfman.”
“Hmph… Begitu yah. Yang mulia Janus tidak memiliki kekuatan semacam itu… Anak muda, apakah ada cara lain untuk membuat agar pria itu tidak dirasuki lagi oleh jiwa leluhurnya?”
“Satu-satunya cara yaitu dengan menghancurkan senjata ini,” kata Raquille.
“Kalau begitu, ayo secepatnya kita hancurkan senjata ini,” ucap Acadiuno, langsung menyetujui ucapan Raquille.
“Tuan-tuan, aku mohon sekali pinjamkan kekuatan kalian.” Pria itu kemudian meminta bantuan kepada Juaferrex dan Zero untuk membantunya menghancurkan benda yang dipegang oleh Raquille itu.
“Tunggu dulu tuan, untuk kali aku bisa melakukannya sendiri… Kau tinggal membantuku dalam doa saja.” Namun, Raquille meminta agar hal tersebut dilakukannya sendiri tanpa bantuan dari mereka.
Pemuda itu lalu mengangkat tongkat obor tersebut ke depan. Dia kemudian memejamkan kedua matanya sejenak dan membukanya kembali sampai memancarkan cahaya bewarna biru.
“Divine ice…” Seketika tongkat obor yang dipegang oleh Raquille itu membeku.
Dengan mudah dia meremas benda tersebut hingga hancur berkeping-keping. Nampak butiran cahaya kemudian muncul dan berubah menjadi Giano dalam bentuk tubuh astral.
Keempat World Venerate tersebut seketika terkejut melihat roh Giano yang dengan jelas dapat dilihat oleh kedua mata mereka.
“Terima kasih anak-anak muda, berkat kalian aku bisa terbebas dari pengaruh senjata suci itu selama puluhan abad… Sekarang akhirnya aku bisa pergi dengan tenang dan menemui kakakku disana.”
Melihat pria itu, seketika membuat Acadiuno, Juferrex dan Zero pun berlutut dihadapannya.
Raquille yang keheranan melihat tiga pria tersebut sontak langsung mengikuti mereka berlutut dihadapan Giano.
“Kuharap bangsa Seremoschan bisa hidup dengan damai, walau telah terbagi menjadi tiga negeri,” ucap Giano, yang perlahan-lahan terbang ke atas sampai kemudian kembali berubah menjadi butiran cahaya, lalu lenyap.
“Hati-hati disana kakek… Kuharap makhluk-makhluk bersayap disana tidak akan menendangmu ke tempat berapi.”
Acadiuno, Juaferrex, serta Zero yang sedang tegang seketika dikejutkan oleh Raquille yang tiba-tiba bergumam.
“Hei, apa maksudmu dengan makhluk-makhluk bersayap?” Tanya Zero.
“Tidak, aku hanya bercanda,” jawab Raquille.
Zero pun nampak kesal mendengar jawaban Raquille, yang dikiranya pemuda Elfman tersebut seperti mengetahui sesuatu.
Setelah Giano menghilang, Acadiuno bersama dengan Juaferrex pun kemudian pergi mendekati Janus yang terkapar tak jauh di tempat itu.
“Hei, apa kau juga adalah pengguna kekuatan dari makhluk suci?” Tanya Zero.
Mendengar pertanyaan dari pria Calferland itu, Raquille sontak terkejut dan langsung menatapnya.
“Bagaimana kau mengetahuinya?”