The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 38 - Tujuan Pavonas datang ke Akalsa



“Sepertinya tempatnya masih jauh?” Kata Morten, yang tampak mulai bosan menyusuri lorong panjang gua tersebut.


“Bersabarlah, kita bahkan belum mendapatkan jalan buntu.” Raquille sontak menyuruh rekannya itu untuk sedikit bersabar, karena perjalanan tersebut sepertinya masih agak panjang.


Belum lama Raquille menjelaskan hal tersebut pada rekannya itu, tiba-tiba mereka berpapasan dengan longsoran batu yang menutupi jalan di depan mereka.


Melihat sebuah jalan buntu, Raquille seketika langsung menghentikan kereta esnya tersebut.


Demesa kemudian turun dari kereta es tersebut dan mendekati longsoran batu yang menutupi jalan mereka. Dia lalu memegang longsoran tersebut, yang seketika mengubah tumpukan bebatuan itu menjadi pasir hingga membuka jalan tersebut.


Raquille kemudian turun dari kereta es dengan membawa proyeksi energi sihirnya, yang digunakan sebagai penerangan di tangannya. Dia kemudian berjalan lebih dalam lagi menelusuri lorong gua tersebut bersama dengan kedua rekannya.


“Ini…?” Demesa sontak terkejut setelah beberapa jasad manusia, yang sudah berubah menjadi tulang-belulang tergeletak di tempat itu.


“Kurasa karena ledakan dari kristal yang dibawah sehingga membuat mereka semua terjebak di tempat ini,” kata Raquille, menjelaskan hal tersebut pada kedua rekannya.


“Raquille, lihat itu… Ada sebuah cahaya.” Perhatian Morten sontak tertuju pada sebuah cahaya yang berada di ujung lorong gua tersebut.


“Heh… Kurasa kita sudah sampai,” kata Raquille.


Melihat hal tersebut, mereka bertiga kemudian bergegas pergi ujung lorong yang bercahaya tersebut.


Tak berapa lama mereka sampai di ujung lorong tersebut. Ketiga orang itu seketika terkejut setelah melihat bongkahan-bongkahan kristal yang memancarkan cahaya emas tersebut menempel di dinding gua itu.


“Hahaha… Akhirnya kita menemukan benda ini,” seru Morten, akhirnya menemukan apa yang mereka cari selama ini.


Tanpa pikir panjang Morten langsung mendekati salah satu bongkahan kristal tersebut dan langsung menariknya.


“Morten… Tunggu dulu,” kata Raquille, memperingati rekannya tersebut.


“Hah… Memangnya kenapa?” Tanya Morten.


“Kau harus berhati-hati menarik kristal itu, sedikit saja kristal itu mengalami goresan atau terbentur, maka benda itu akan langsung meledak.”


“Kau tenang saja.” Namun, Morten tidak mendengarkan perkataan dari pemuda itu dan langsung menarik salah satu bongkahan kristal yang berada di dinding gua tersebut dengan kasarnya.


Karena terlalu bersemangat menarik kristal dari dinding gua itu, Morten sontak langsung menjatuhkan benda tersebut saat diambilnya.


“Awas…!” Teriak Demesa melihat kristal tersebut terjatuh ke tanah.


Hal tersebut sontak membuat benda tersebut memancarkan cahaya yang lebih terang lagi.


“Divine ice...” Nampak mata Raquille seketika memancarkan cahaya berwarna biru, yang sontak langsung membuat kristal tersebut membeku.


“Hah… Untung saja…” Kata Morten, merasa lega hampir saja membuat kristal tersebut meledak.


“Apa kau yakin kristal ini tidak akan meledak?” Tanya Demesa.


“Tenang saja… Kekuatan elemen es yang kukeluarkan dapat menahan ledakan dari kristal berpijar tersebut,” jawab Raquille.


“Untung saja kau memiliki kemampuan itu… Kalau begitu, kita ambil kembali kristalnya lalu kau bekukan lagi.” Morten kemudian kembali mendekat ke dinding gua dan mencoba menarik satu bongkahan kristal berpijar lagi.


“Hei, bodoh… Apa yang mau kau lakukan?” Lantas melihat hal tersebut Raquille pun langsung memukul kepala rekannya tersebut.


“Aku mau mengambil kristalnya kembali,” Kata Morten sambil memegang kepalanya yang sebelumnya dipukul oleh Raquille.


“Ini sudah cukup… Memangnya kau mau mengambil sebanyak apa?” Kata Raquille dengan nada tinggi.


“Uh… Baiklah”


“Kalau begitu, ayo kita pergi keluar dari gua ini,” kata Demesa.


Mendengar hal tersebut, Raquille dan Morten kemudian mengangkat bongkahan kristal yang diambil mereka dan membawanya ke atas kereta es mereka.


**


“Raquille, ayo naik,” kata Demesa, melihat Raquille masih belum menaiki kereta es tersebut.


“Divine ice…” Sontak Raquille langsung menutup jalan menuju tempat terkuburnya kristal berpijar tersebut dengan menggunakan kekuatan elemen esnya.


Setelah menutup tempat tersebut, Raquille menaiki dan menjalankan kereta esnya untuk keluar dari dalam gua tersebut.


**


“Jadi, apakah kita akan ke kota itu kembali?” Tanya Demesa, setelah berada di luar gua.


“Kita langsung pergi saja dari negeri ini. Lagipula ketua clan Flaus itu sudah mengatakan bahwa jangan kembali lagi kemari,” jawab Raquille.


“Ada seseorang datang…” Namun, tiba-tiba saja pemuda itu seperti mendengar kedatangan dari seseorang yang berada di tempat itu.


Belum lama dia mengatakan hal tersebut pada kedua rekannya, seketika sebuah rombongan prajurit berpapasan dengan mereka di depan gua itu.


“Apa…? Bukannya tambang-tambang di daerah ini sudah tidak digunakan lagi? Kenapa masih ada penambang disini?” Kata salah satu prajurit tersebut.


“Hei… Siapa kalian?” Lanjut prajurit itu, bertanya pada ketiga orang tersebut.


“Itu yang ingin kutanyakan lebih dulu. Siapa kalian ini? Ada keperluan apa kalian berada ditempat ini? Sepertinya kalian bukan clan Flaus atau prajurit dari negeri ini?” Sontak Raquille langsung membalas pertanyaan prajurit tersebut dengan ekspresi serius.


“Haah… Keperluan kami? Jelas saja kami mau mengambil kristal berpijar yang kemungkinan berada di dalam gua itu,” jawab salah satu prajurit tersebut.


“Sayang sekali, kami sudah menutup jalan masuk gua ini,” kata Raquille.


“Hahaha…” Para prajurit itu sontak langsung tertawa, setelah mendengar pernyataan dari pemuda itu.


“Morten… Demesa… Kurasa kita akan sedikit lebih lama di tempat ini,” kata Raquille pada kedua rekannya.


Para prajurit tersebut nampak melihat kereta es yang diciptakan Raquille sebelumnya.


“Sepertinya kalian adalah Venerate yah…?” Tanya salah satu prajurit tersebut.


“Kalau iya, memangnya ada apa kau menanyakan hal itu?” Jawab Raquille.


“Tidak… Hanya saja, kalian seperti menghadang jalan kami. Bisakah kalian minggir dulu?” Kata prajurit tersebut.


“Kalau aku tidak mau? Memangnya apa yang ingin kalian lakukan?” Sontak Raquille langsung menolak pemintaan dari prajurit tersebut.


Mendengar hal tersebut, para prajurit itu sontak langsung mengangkat pedang lalu mengaktifkan kekuatan mereka.


Tanpa pikir panjang, para prajurit tersebut maju hendak menyerang Raquille dan kedua rekannya itu.


***


Berpindah ke kota Hargocane, nampak Gwell dan para prajurit Pavonas telah sampai di salah satu kediaman yang berada di kota tersebut.


Setelah sampai di kediaman tersebut, Gwell berserta para prajurit Pavonas nampak turun dari kendaraan mereka.


“Tuan-tuan kita sudah sampai… Selamat datang di kediaman kecil ini,” kata Gwell pada para prajurit Pavonas.


“Nyonya, kurasa anda terlalu berlebihan. Bagaimana tempat ini bisa disebut sebagai kediaman yang kecil. Bahkan mungkin semua warga kota ini dapat tinggal di kediaman ini.” Vahal nampak sedikit bergurau karena tidak menyetujui pernyataan dari Gwell, yang mengatakan bahwa kediaman tersebut merupakan tempat yang kecil, yang nyatanya memiliki luas lebih dari sembilan kilometer persegi.


“Maksudku kediaman ini lebih kecil dari dari kediaman clan Flaus.” kata Gwell, nampak menjelaskan pernyataannya yang sebelumnya.


“Oh jadi begitu yah… Aku mengerti sekarang,” kata Vahal sambil menganggukkan kepalanya.


Pria itu kemudian terlihat memperhatikan ke sekitaran tempat itu.


“Tapi nyonya… Apa tempat ini tidak ditinggali?” Tanyanya.


“Kalau begitu, aku tinggal dulu… Ada yang harus aku kerjakan,” lanjutnya, yang kemudian naik ke kendaraan.


“Terima kasih atas semuanya nyonya,” kata Vahal.


Wanita itu sontak merespon permintaan terima kasih dari Vahal dengan melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan para prajurit Pavonas di tempat itu.


Setelah Gwell pergi meninggalkan mereka, terlihat Viecion mendekati Vahal.


“Tuan Vahal, apa kau yakin wanita itu tidak akan mencurigai kita?” Tanyanya.


“Kita juga harus tetap berhati-hati walaupun perempuan itu terlihat menyambut kita dengan baik,” jawab Vahal, yang nampak masih setengah percaya pada Gwell.


“Cepat kalian semua periksa ke seluruh tempat ini, dan laporkan padaku jika ada sesuatu yang mencurigakan.” Vahal kemudian langsung memerintahkan para prajuritnya untuk menyisir area kediaman tersebut.


“Tuan Vahal… Apa sebenarnya tidak terlalu berlebihan jika kita harus mengusik ketenangan mereka dengan langsung datang ke kota ini?” Tanya Viecion lagi.


“Viecion… Kau jangan mencampuri perasaanmu disaat kita sedang melakukan tugas kita,” jawab Vahal.


“Atau mungkin, sepertinya kau mulai tidak patuh denganku yah…?” Nampak pria itu langsung menatap tajam Viecion, setelah mendengar perkataannya.


Terlihat Viecion sontak terdiam setelah atasannya tersebut menatapnya dengan tatapan yang tajam.


***


Kembali pada Raquille dan Morten, yang berada di dekat pertambangan. Tampak kedua pemuda tersebut kini telah mengalahkan para prajurit yang sebelumnya mencoba menyerang mereka.


“Sial… Mereka kuat sekali…” Keluh salah satu prajurit, telah tergeletak di tanah.


Raquille kemudian mendekati salah satu prajurit yang nampak masih sadarkan diri tersebut.


“Katakan padaku, siapa kalian ini sebenarnya?”


“Heh… Sampai mati pun aku tidak akan mengatakannya padamu.” Namun, prajurit tersebut sontak langsung menolak untuk mengatakan identitasnya.


Tak berselang lama, Demesa yang sebelumnya tidak terlihat, datang menghampiri mereka.


“Raquille… Aku baru saja melihat ada sebuah kapal yang berada teluk tidak jauh dari tempat ini.”


Mendengar hal tersebut, Raquille kemudian memperhatikan lencana yang dipakai oleh prajurit tersebut.



“Merak merah… Jawab aku, apakah kalian dari negeri Pavonas, yang berasal dari benua seberang sana?” Dengan tatapan yang serius Raquille mencengkram erat kerah prajurit itu, sampai dia membuat prajurit itu sulit untuk bernafas.


“Raquille, hentikan itu.” Melihat hal tersebut, Morten dengan cepat langsung melepaskan cengkraman erat pemuda itu pada prajurit tersebut.


“Sepertinya mereka datang kemari untuk mengambil kristal berpijar,” kata Morten.


“Tapi, bagaimana mereka bisa mengetahui informasinya?” Tanya Demesa.


“Entah bagaimana mereka bisa mengetahuinya, yang pasti kita harus mengusir mereka dari tempat ini,” kata Raquille.


Kemudian Raquille terlihat menciptakan sebuah pasak es disekelilingnya.


“Raquille apa yang ingin kau lakukan?” Hal tersebut sontak membuat Morten langsung memperingatinya.


“Tenang saja, aku tidak akan membunuh mereka.”


“Ice cursed… Absolute command…” Pasak-pasak es itu kemudian langsung diluncurkannya ke arah para prajurit Pavonas tersebut.


Sontak beberapa prajurit yang sebelumnya tidak sadarkan diri akibat dikalahkan oleh Raquille dan rekannya, tiba-tiba kembali tersadar saat menerima serangan Raquille tersebut. Mereka semua kemudian terlihat langsung berdiri dengan ekspresi yang datar.


“Dengarkan aku… Kembalilah ke negeri kalian sekarang,” kata Raquille.


Setelah mendengar perintah dari Raquille, para prajurit Pavonas itu lalu perlahan-lahan berjalan meninggalkan mereka bertiga tanpa mengatakan sedikit katapun.


Raquille kemudian menciptakan pasak-pasak es kembali, lalu meluncurkannya ke arah kapal yang dibicarakan oleh Demesa sebelumnya.


“Kemana kau mengarahkannya?” Tanya Morten, penasaran.


“Jelas saja dia mengarahkannya ke kapal yang berada di dekat tempat ini,” jawab Demesa.


“Kalau begitu, sebaiknya kita harus mengelilingi daerah ini. Kemungkinan ada para prajurit Pavonas lain mengincar pertambangan-pertambangan yang berada di sekitar daerah ini,” kata Raquille.


“Oh tidak… Kita mulai lagi…” Kata Morten, yang sepertinya telah menduga bahwa Raquille akan mengatakan hal tersebut.


Raquille kemudian mengangkat kristal berpijar yang diambil mereka tersebut, lalu menyimpannya dengan menggunakan teknik spasial.


Tanpa berlama-lama lagi, ketiga orang itu langsung terbang secepat mungkin meniggalkan tempat tersebut.


***


Malam harinya di kediaman clan Flaus. Nampak Gwell yang baru saja sampai di tempat itu, terlihat dihampiri oleh kedua anaknya, Derts dan Bohrneer.


“Ibu aku dengar bahwa ada prajurit yang berasal dari benua seberang dating ke kota ini?” Tanya Derts.


“Iya, ibu baru saja menemui mereka tadi siang,” jawab Gwell.


“Apa…?” Nampak Derts langsung terkejut setelah mendengar hal tersebut dari ibunya.


“Derts, sekarang kau ikut ibu, kita temui paman,” kata Gwell, yang langsung bergegas pergi untuk menemui ketua clan Flaus.


“Baik…” Tanpa pikir panjang Derts kemudian langsung mengikuti ibunya.


“Ada apa dengan mereka?” Kata Bohrneer, tidak mengerti dengan hal yang dibicarakan oleh mereka berdua.


***


Beberapa saat kemudian, nampak Gwell bersama dengan Derts sampai di ruangan Argis.


“Gwell, bagaimana para prajurit Pavonas itu?” Tanya Argis.


“Kakak, aku telah mengantar mereka ke kediaman Belford, yang sering ditinggali oleh prajurit Fuegonia,” jawab Gwell.


“Itu keputusan yang bagus, memang aku tidak salah menunjukmu sebagai walikota Hargocane menggantikanku,” kata Argis memuji Gwell.


“Kakak, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk berapresiasi. Aku sudah bertanya tentang tujuan mereka datang ke kota ini, dan salah satu dari mereka mengatakan bahwa sebenarnya mereka datang ke Hargocane hanya untuk mampir sebentar.”


“Karena tujuan mereka yang sebenarnya adalah pergi ke kota Wattao untuk menjalin kerja sama bilateral antar negeri,” kata Gwell, menjelaskan hal tersebut pada Argis.


“Kerja sama bilateral yah…? Sepertinya mereka mau menjalin aliansi dengan negeri kita. Setahuku negeri itu sedang mengalami kesulitan karena negeri lain yang berada di benua Greune ingin meruntuhkan mereka.”


“Tapi paman, kurasa ada alasan lain kenapa mereka datang ke kota ini,” kata Derts.


“Iya… Aku juga merasakan hal seperti itu. kita harus tetap waspada pada mereka,” kata Argis.


Tiba-tiba saja salah satu anggota clan Flaus dengan tergesa-gesa masuk ke ruangan tersebut dengan membawa sebuah alat komunikasi.


“Tuan Argis… Walikota dari kota Neom mengatakan bahwa kota tersebut diserang oleh para prajurit dari negeri seberang.”


“Apa…?” Terlihat Argis terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


Begitu juga dengan Gwell serta Derts yang juga nampak terkejut setelah mendengar hal tersebut dari salah satu anggota clannya.