The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 69 - Kerjasama dua World Venerate kubuh barat



Raquille dan Zero seketika maju secara bersamaan dan melancarkan serangan mereka pada pria bernama Giano tersebut.


“Oh, ternyata anak-anak jaman sekarang tidak punya semangat yang membara juga.” Walaupun memiliki efek tekanan yang sangat besar dari kedua serangan World Venerate tersebut, namun Giano tampak dengan mudah menahan bilah-bilah kapak yang disodorkan padanya menggunakan tangan kosong tanpa bergeming dari tempatnya sedikitpun.


Raquille dan Zero yang melihat hal tersebut seketika terkejut dan langsung melompat ke belakang menjaga jarak mereka dari pria itu.


“Hei, apa hanya seperti itu kemampuan kalian?” Tanya Giano.


“Maaf tuan, tapi aku baru saja mulai,” respon Raquille.


“Aku juga begitu,” sambung Zero.


Mendengar pernyataan dari kedua orang tersebut, Giano seketika memasang ekspresi senyuman menyeringai di wajahnya.


“Ice aura... Cold chill...” Seketika dengan menghempaskan kapak yang dipegang oleh pemuda Elfman itu, sekitar lebih dari satu kilometer wilayah permukaan tanah sontak langsung membeku bersamaan kaki dari Giano, sehingga membuat pria tidak bergerak.


“Hei, lakukan tugasmu sekarang,” kata Raquille menyuruh Zero agar melancarkan serangannya.


Tanpa pikir panjang, Zero kembali menyerap petir masuk ke dalam tubuhnya.


“Breaker lightning...” Dia kemudian melancarkan sebuah serangan proyeksi elemen petir bertegangan tinggi ke arah Giano.


Namun, pria itu mengangkat salah satu tangannya ke arah serangan tersebut dan dengan mudahnya menyerap serangan itu masuk ke dalam tangannya.


“Counter breaker lightning...” Giano kemudian membalikkan serangan proyeksi elemen petir itu ke arah Raquille dan Zero, hingga membuat dua World Venerate itu seketika terhempas menerimanya.


“Breaker flame...” Giano lalu melancarkan teknik pusaran elemen api yang membuat tanah yang berada disekitar serta kedua kakinya yang membeku langsung mencair.


“Sial...” Umpat Zero sambil kembali berdiri.


“Sepertinya kita tidak boleh meremehkan pria itu... Jangan hanya terpaku dengan melancarkan teknik saja. Kita harus menyerangnya menggunakan strategi.”


“Memangnya apa rencana yang kai pikirkan sekarang?” Tanya Zero.


“Aku ingin kau menyerangnya sampai perhatiannya hanya terfokus padamu saja... Disaat itu aku akan menyerangnya secara diam-diam.”


“Heh... Menyerang diam-diam? Kau pikir orang itu tidak akan mengetahui dimana keberadaanmu saat perhatiannya hanya terfokus padaku.”


“Sudah lakukan saja apa yang kukatakan... Aku yakin kali ini kita pasti bisa menyerang pria itu.”


“Baiklah kalau begitu, jika ini tidak berhasil maka aku akan membunuhmu setelah ini.” Setelah menyetujui rencana daei Raquille, pria itu seketika maju untuk menyerang Giano.


Zero nampak mengayunkan kedua kapaknya ke arah Giano, yang dengan mudahnya dapat ditepis oleh pria itu.


Namun, karena harus membuat perhatian pria itu hanya terfokus padanya, Zero nampak melancarkan serangannya secara terus-menerus pada Giano tanpa henti.


“Hei anak muda, apa kau tidak kelelahan? Bukannya seranganmu ini percuma saja?” Kata Giano.


“Breaker flame...” Karena bosan menepis serangan dari pria Calferland itu, Giano seketika melancarkan serangan proyeksi elemen api yang membuat Zero langsung terhempas.


Saat Zero terhempas menerima serangannya, tiba-tiba Raquille datang menghampiri Giano sambil mengayunkan kapaknya.


“Heh... Kubilang itu percuma...” Giano seketika terkejut melihat gagang kapak pemuda Elfman itu seketika memanjang dan langsung melilit tubuhnya.


Dengan kuat Raquille menarik menarik tubuh pria itu dan melemparkannya ke arah Zero.


Melihat sebuah kesempatan, pria Calferland itu langsung maju mendekati Giano sambil mengayunkan kedua kapak yang dipegangnya.


“Breaker lightning... Twin axes lightning slash...” Zero pun sontak melancarkan serangan tebasan dua kapak yang memancarkan energi listrik mengenai langsung pada pria itu.


“Akh...” Akibat hal tersebut, Giano seketika terhempas sangat jauh setelah menerima serangan dari Zero.


***


“Akh...!”


Di sisi lain, Neptuno pun seketika mengalami kekalahan dari Clava. Pria itu terhempas menabrak permukaan dengan kerasnya setelah menerima serangan dari Clava.


Melihat pria itu sudah tidak bisa melakukan apa-apa, dengan cepat Clava meluncur ke arahnya hendak melancarkan sebuah serangan penutup.


“Neptuno, kau masih bisa berdiri?” Tanya perempuan itu, sambil mengulurkan tangannya.


“Ibu, kenapa kau repot-repot untuk datang menolongku? Alu bisa menanganinya.” Neptuno pun meraih tangan perempuan yang disebutnya sebagai ibu itu dan kembali berdiri.


“Dasar bodoh, jika aku terlambat sedikit saja, pasti kau sekarang sudah tiada...”


Beberapa saat kemudian, Clava yang sempat terhempas sebelumnya kini kembali di hadapan mereka berdua.


“Neptuno, kau mundur saja, biar aku yang menanganinya sekarang,” ucap ibu Neptuno.


***


“Sial...” Di sisi lain, perempuan bernama Ergine nampak mengumpat karena mulai kewalahan berhadapan dengan prajurit Calferland yang dilawannya.


“Ergine lebih baik kau menyerah saja, aku sebenarnya tidak mau melukai perempuan...”


“Lagipula cepat atau lambat para pasukanmu tetap akan dikalahkan oleh kami,”


“Tenang saja, aku sebenarnya masih belum serius... Bagaimana pun juga tidak seru jika kita belum menggunakan kekuatan pelepasan kedua,” kata Ergine.


Perempuan itu memunculkan sebuah pedang di tangannya. Dia mengangkat pedang tersebut ke atas dan berkonsentrasi untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya.


“I defteri ekdosi... Steile the star maiden...” Seketika sebuah pancaran sinar yang sangat terang memancar dari dari tersebut hingga membuat Vingto menghalangi pandangannya.


Setelah pancaran cahaya itu meredup, tidak terlihat sebuah perubahan yang nampak dari perempuan tersebut. Hanya saja pedang yang digunakannya untuk mengaktifkan kekuatan suci sebelumnya kini telah menghilang.


“Ergine, kau tidak berubah sama sekali. Apa mungkin kau gagal mengaktifkan kekuatan pelepasan keduamu?” Tanya Vingto.


Namun, perempuan itu hanya menanggapi pertanyaan Vingto dengan memasang ekspresi senyuman tipis di wajahnya.


“Apa mungkin karena gagal mengaktifkan kekuatan pelepasan keduamu, kau sekarang menjadi bisu...”


Baru saja akan bertanya kembali, tiba-tiba Vingto terkejut melihat perempuan seketika menghilang dari pandangannya.


*


“Apa...? Dimana dia?” Gumam Vingto dalam hati, melihat ke sekitar untuk memastikan keberadaan dari Ergine.


**


“Hei, aku dibelakangmu...” Tiba-tiba Ergine seketika telah berada dibelakang pria itu.


“Breaker light...” Baru saja Vingto hendak menoleh kebelakang, Ergina seketika langsung melancarkan serangan proyeksi elemen cahaya, sehingga membuat pria itu terhempas menabrak permukaan.


“Haah...” Masih tidak apa-apa, Vingto pun dengan cepat kembali berdiri.


Ergine pun seketika meluncur mendekati Vingto setelah melihat pria masih bisa bertahan setelah menerima serangan darinya.


“Breaker ice...” Seketika Vingto menciptakan sebuah dinding es disekitarnya.


Namun, anehnya Ergine dapat menembus dinding es itu dengan mudah dan berdiri tepat di depan Vingto, menatap pria itu.


*


“Bagaimana mungkin dia bisa melewati dinding es yang kuciptakan... Padahal akan lebih masuk jika dia menghancurkannya,” gumam Vingto dalam hati saking terkejutnya melihat hal tersebut.


**


Ergine kemudian sekali lagi melancarkan serangan-serangan proyeksi elemen cahayanya, hingga membuat Vingto seketika kembali terhempas.


***


Di sisi lain, pasukan Serepusco yang dipimpin oleh Arepo dan Mayorio, serta pasukan Calferland yang dipimpin oleh prajurit bernama Cento, nampak telah mendarat dan menyerang kota Reom dari sisi yang berbeda.


Pasukan dari Serepusco yang masuk ke kota Reom tampak dihalangi oleh para pasukan Gimoscha yang dipimpin oleh Terra, Marte dan Mercurio.


Sedangkan pasukan Calferland yang menyerang sisi lain ibukota Gimoscha tersebut, nampak dihalangi oleh para pasukan yang dipimpin oleh dua prajurit pria dan perempuan, yang sebelumnya pernah menghalangi para warga untuk masuk ke dalam kota.