
“Drakon Magchora dari tim Fuegonia B berhasil mengalahkan Ascelin Wilmond dari tim Machora Tira.”
Sontak pengumuman hasil pertarungan Drakon dan Ascelin langsung diinformasikan kepada seluruh peserta yang berada di sekitar tempat tersebut, serta pada para penonton yang berada di arena turnamen.
***
“Jadi Drakon sudah mengalahkan lawannya. Ini adalah kesempatan yang bagus bagiku,” kata Zeidonas mendengar informasi hasil pertarungan Drakon.
Disamping itu, terlihat Zeidonas juga telah menyelesaikan pertarungannya dengan Elford. Pria Fuegonia itu nampak telah terkapar tak berdaya di depan Zeidonas.
Tak mau berlama-lama lagi di tempat itu, Zeidonas dengan cepat berlari memasuki hutan untuk menghampiri Drakon yang dikiranya masih berada di tempat itu.
**
Kemudian di suatu tempat yang masih sama dengan lokasi para peserta turnamen lain, tampak salah satu anggota tim Fuegonia A, yang tidak lain merupakan Dierill terlihat berjalan tanpa arah tujuan.
“Zeidonas Magchora dari tim Lightio berhasil mengalahkan Elford Drown dari tim Fuegonia A.” Tiba-tiba sebuah informasi hasil pertarungan dari Zeidonas dan Elford diumumkan dari sebuah drone yang berada di dekat pemuda Fuegonia itu.
“Apa…? Kak Elford sudah dikalahkan?”
Pemuda itu nampak terkejut setelah mendengar pengumuman hasil pertarungan tersebut, dikarenakan kini dua anggota timnya telah mengalami kekalahan, bahkan dari para anggota tim Lightio.
**
Kembali pada Zeidonas yang kini telah sampai di tempat pertarungan Drakon dan Ascelin sebelumnya.
Setelah sampai, Zeidonas pun tidak menemukan Drakon dan hanya melihat Ascelin yang telah terkapar tak berdaya di tempat tersebut.
“Sial…” Umpat pria itu dengan kesalnya tidak menemukan orang yang dia cari di tempat itu.
Dengan cepat Zeidonas pun berlari ke arah yang dia yakini merupakan arah dari Drakon meninggalkan tempat itu.
**
Berpindah pada Raquille, Neyndra, Bohrneer serta Heinz yang kini sedang menaiki sebuah bukit.
Terlihat Bohrneer serta Heinz yang nampak sudah mulai kelelahan menaiki bukit tersebut.
“Pria cantik, apa kau tidak bisa menggunakan sayap sihirmu untuk membawa kami ke atas sana? Ini melelahkan sekali,” keluh Neyndra yang juga sudah mulai kelelahan.
“Kau pikir aku ini angkutan umum…?” Raquille sontak menolak mentah-mentah permintaan dari gadis itu.
“Heh… Dasar kejam.” Balas Neyndra dengan sinis mengatainya.
Berbeda dengan ketiga rekan setimnya itu, Raquille nampak dengan santainya menaiki bukit tersebut, tanpa merasa kelelahan sedikit pun. Hal tersebut karena ketahanan fisik dari ras keturunan campuran memang lebih kuat dari manusia pada umumnya.
Beberapa saat kemudian, keempat orang tersebut sampai di puncak bukit itu. Namun, saat mereka sampai di puncak bukit itu, mereka sontak bertemu dengan dua anggota tim Cielas, Urano dan Venere.
Melihat kedua orang tersebut, Bohrneer, Neyndra serta Heinz seketika langsung bersiaga untuk menyerang maupun bertahan.
“Wah… Tampaknya ini waktu yang tepat untuk membalas dendam sewaktu di kedai beberapa hari yang lalu,” ucap Urano merasa bersemangat melihat Raquille berada di hadapannya.
*
“Sial… Elfman itu lagi,” gumam Venere dalam hati nampak ketakutan saat melihat Raquille karena telah mengetahui kebenaran dari pemuda itu.
**
“Kakak, ayo kita pergi dari sini, mereka itu orang-orang yang kuat. Kau kan mendengarnya tadi keempat orang itu sudah mengalahkan lawan mereka. Bahkan Vaedor dikalahkan oleh perempuan itu,” kata Venere nampak beralasan agar tidak berhadapan dengan Raquille.
“Venere… Ada apa denganmu?” Tanya Urano, bingung melihat sikap adiknya tersebut.
“Tenang saja, Elfman itu hanya beruntung bisa menang darimu waktu itu. Biar aku kali ini yang melawannya.” Lanjutnya.
*
“Urgh… Setiap aku ingin mengatakan kebenarannya selalu tubuhku merasakan dingin dan tidak sadarkan diri,” gumam perempuan tersebut dalam hati, nampak terlihat kesal.
**
“Gadis aneh, kau dan Heinz mundurlah. Biar aku dan Bohrneer yang mengatasi mereka,” kata Raquille.
“Haah… Jangan pikir kau itu pernah mengalahkan salah satu dari mereka, sehingga kau bisa merendahkanku. Kita berdua kan berada di tingkatan yang sama, setidaknya kita satukan kekuatan saja untuk melawan mereka.” Mendengar perkataan dari Raquille yang menyuruhnya untuk mundur, Neyndra pun sontak langsung menolaknya.
“Hei nona, lebih kita mundur saja dan serahkan ini pada kakak Bohrneer dan Laventille,” kata Heinz.
“Kau saja yang mundur sana, aku mau melawan mereka. Mungkin dengan melawan mereka aku bisa mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua dan menerobos ke tingkatan Land Venerate,” kata Neyndra sambil memperlihatkan tangannya yang masih belum kembali normal setelah pertarungan dengan anggota tim Cielas sebelumnya.
Mendengar ocehan dari perempuan tersebut, Raquille pun mulai terlihat kesal. Seketika pemuda itu menciptakan sebuah es dan langsung mengangkat Neyndra.
“Hei bodoh, ada apa denganmu?” Neyndra terlihat meronta-ronta saat dengan mudah diangkat oleh pemuda itu.
“Heinz naik,” ucap raquille menyuruh Heinz naik ke atas perahu es tersebut.
“Baik.” Tanpa berkomentar, Heinz pun langsung mengikuti perintah dari pemuda itu.
Raquille kemudian langsung melempar perempuan itu hingga masuk ke dalam perahu es yang diciptakannya.
Seketika pemuda itu langsung menendang perahu es itu hingga membuatnya meluncur menuruni bukit tersebut.
“Aaahhh…! Awas saja kau pria cantik…!” Teriak Neyndra meluncur menuruni bukit.
“Bohrneer apa kau siap?” Tanya Raquille.
“Aku lebih dari siap,” jawab Bohrneer, yang sontak langsung mengaktifkan kekuatan dari kapaknya.
Urano kemudian mengangkat sebuah tongkat yang dipegangnya saat melihat mantan perampok itu nampak telah bersiap untuk melawan mereka.
Seketika Urano maju mendekati Bohrneer dan Raquille sambil dengan kencangnya memutar-mutar tongkatnya tersebut, sehingga menciptakan hempasan angin yang cukup kuat disekitarnya.
Melihat pria Cielas itu akan melancarkan serangan pada mereka, dengan sigap Bohrneer pun langsung mengayunkan kapaknya tersebut menangkis ayunan tongkat dari Urano.
Tabrakan serangan dari kedua orang tersebut sontak langsung menciptakan hempasan angina yang kuat dari sisi Urano serta pancaran kobaran api dari sisi Bohrneer.
“Huh… Panas sekali udara disini,” kata Raquille, terlihat mengibaskan tangannya saat merasakan efek pancaran kobaran api dari serangan Bohrneer.
Saking kuatnya tabrakan serangan dari kedua orang itu sampai membuat mereka pun terhempas bersamaan.
Urano yang terhempas masih dapat menyeimbangkan tubuhnya hingga tidak terjatuh. Sedangkan Bohrneer yang terhempas langsung ditahan oleh Raquille.
“Terima kasih tuan Raquille,” ucap Bohrneer.
“Hmph… Boleh juga kemampuanmu orang Fuegonia,” kata Urano, memuji mantan perampok tersebut.
“Kalau begitu aku tidak akan bermain-main lagi sekarang,” lanjutnya.
Pria itu pun dengan kencangnya memutar-mutar tongkatnya sambil berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya. Dari hal tersebut menciptakan uap es yang cukup tebal serta pancaran cahaya berwarna biru, yang sontak langsung menyelimuti dirinya.
“I defteri ekdosi… Coleus the mysterious adventurer ice giant…”
“Bohrneer, orang itu mau menggunakan kekuatan pelepasan keduanya,” kata Raquille pada Bohrneer.
“Tapi, aku tidak bisa melawannya. Barusan tadi aku gagal mengaktifkan kekuatan pelepasan keduaku.”
Mendengar hal tersebut Raquille sontak melihat drone yang berada di dekat tempat tersebut.
*
**
Seketika Raquille terlihat memainkan jarinya, yang sontak langsung memunculkan sebuah lingkaran sihir di bawah drone tersebut.
***
Berpindah pada arena turnamen, terlihat para penonton sedang menyaksikan pertarungan antara Raquille dan Bohrneer melawan dua petarung Cielas dari layar yang berada di pada arena turnamen itu.
Tiba-tiba visualisasi dari layar yang menyiarkan pertarungan dari Raquille dan yang lain menjadi hitam, sehingga para penonton tidak bisa melihat pertarungan mereka.
“Eh, ada apa ini?” Gumam Rox, yang berada di tribun khusus nampak kebingungan melihat layar tersebut menjadi hitam.
“Itu pasti karena dronenya,” kata Ailene.
“Aneh sekali,” ucap Rox sekali lagi.
**
Kembali ke pertarungan Raquille dan yang lain, nampak pemuda tersebut memegang pundak dari Bohrneer dan menyalurkan energi pada pria itu.
“Tuan Raquille, kau memberikan energimu padaku?” Tanya Bohrneer.
“Iya, kurasa sekarang kau bisa menggunakan kekuatan pelepasan kedua,” jawab Raquille.
“Baiklah kalua begitu…” Bohrneer kemudian langsung berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya.
“I defteri ekdosi… Tanvark the pull of chariot…”
Kobaran api yang besar pun dengan cepat keluar dari dalam kapaknya dan langsung menyelimuti tubuh pria itu.
Bohrneer pun kini kembali berubah ke wujud ekdosinya sewaktu melawan Raquille di kota D’Swano sebelumnya, dengan memiliki tanduk yang meruncing, kulit kemerahan serta kobaran api yang berada di hampir setiap bagian kapaknya tersebut.
*
“Wujud ini lagi.” Melihat perubahan dari Bohrneer, Raquille pun terlihat tipis dan memikirkan pertarungan mereka sebelumnya.
**
Di sisi lain, terlihat Urano telah selesai mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya. Pria itu nampak memiliki banyak perubahan dari wujudnya saat ini, dimana kulitnya kini nampak memucat, warna rambutnya yang sebelumnya berwarna cokelat serta mata kuning kecokelatan kini berubah menjadi warna biru. Terlihat pakaian yang dikenakannya juga berubah warna layaknya warna mata dan rambutnya.
Perubahan lain yang terlihat yaitu terdapat sebuah cincin yang melayang di atas kepala pria itu. Dia pun nampak berdiri di atas sebuah papan seluncur yang sedang melayang.
“Baiklah, majulah kemari,” ucap Urano menantang Bohrneer.
“Kau yang maju kemari,” Balas Bohrneer menyuruh pria itu untuk maju lebih dulu.
Karena saling menantang untuk maju menyerang, tiba-tiba dengan sekejap mata kedua petarung itu terbang meluncur ke udara dan langsung saling melancarkan serangan mereka.
Bohrneer melancarkan sebuah serangan proyeksi elemen api pada Urano, yang dengan sigapnya pria langsung mengeluarkan uap es yang tebal untuk memadamkan serangan api tersebut.
Belum puas dengan hal tersebut, Bohrneer sontak meluncur ke arah Urano dengan cepatnya. Melihat hal itu, Urano sontak langsung menciptakan sebuah tombak es dan meluncur mendekati Bohrneer dengan cepat menggunakan papan seluncurnya.
Kedua orang itu pun saling menghantamkan serangan mereka secara berulang-ulang kali.
**
Berpindah pada Raquille yang masih berada di bawah, saat pemuda itu telah memastikan bahwa Bohrneer dapat mengimbangi kekuatan dari pria Cielas itu, perhatian Raquille sekarang tertuju pada Venere yang berada di depannya. Dia pun kemudian berjalan mendekati wanita itu.
Melihat Raquille mendekatinya, perempuan itu sontak langsung terkejut. Saat Raquille berada satu titik di hadapannya, Venere terlihat langsung mengangkat dan merapatkan kedua tangannya lalu berlutut di depan Raquille.
“Tuan, mohon ampuni aku. Aku akan menyerah sekarang juga, jadi aku mohon ampuni nyawaku, jangan membunuhku,” ucap perempuan itu memohon ampunan dari Raquille.
“Eh… Aku bahkan belum menyerangmu,” Raquille pun nampak kebingungan melihat tingkah perempuan itu yang langsung ketakutan.
Namun, tiba-tiba Raquille memasang ekspresi senyuman menyeringai. Pemuda itu seperti memikirkan sesuatu yang akan dilakukannya pada perempuan itu.
“Memangnya apa yang kulakukan padamu sehingga kau ketakutan dan memohon ampunanku seperti ini?” Tanya Raquille.
“Tuan, aku mohon lepaskan mantra kutukan yang kau berikan padaku ini. Aku berjanji tidak akan mengatakan kebenaranmu pada siapa pun,” jawab Venere.
“Hmph… Memangnya… Apa yang kau ketahui tentangku?” Tanya Raquille lagi.
“Kau itu adalah Wo… Akh…”
Tiba-tiba perkataan dari Venere langsung terhenti saat akan mengatakan kata World Venerate. Perempuan itu nampak jatuh tersungkur dan merasakan rasa dingin rasa amat menusuk.
*
“Sial… Aku mengatakannya,” Gumam Venere dalam hati.
**
“Bagus sekali katakanlah hal itu,” Kata Raquille dengan senyuman menyeringai.
Walaupun mengatakan kepada orang yang telah mengetahui kebenarannya sekalipun, kutukan dari teknik Raquille tersebut tetap saja berlaku. Venere yang merasakan siksaan tersebut, secara perlahan-lahan mulai melemah dan kemudian nampak tidak sadarkan diri.
Dengan liciknya Elfman itu menjebak Venere sehingga membuatnya seketika mengalami kekalahan tanpa melancarkan sebuah serangan fisik pada perempuan itu.
“Tenang saja, teknik ice cursed hanya akan bertahan sekitar satu minggu. Setelah itu kau akan terbebas dari kutukan ini,” Gumam Raquille mengatakan kebenaran dari tekniknya tersebut.
**
Kembali pada pertarungan antara Bohrneer dan Urano yang masih sengit dengan masih saling melancarkan serangan satu sama lain.
Merasa hal tersebut membuang-buang waktu, Urano pun bergerak mundur ke belakang untuk menjaga jaraknya dengan Bohrneer.
“Hei, ada apa? Apa kau sudah kewalahan melawanku? Padahal aku baru saja mau serius,” ucap Bohrneer.
“Tentu saja tidak, aku hanya tidak mau membuang-buang tenagaku karena tujuanku adalah Elfman itu,” ucap Urano.
Sontak pria itu langsung mengangkat salah satu tangannya ke arah Bohrneer.
“Blue sky ice… Blizzard crystallization…”
Tiba-tiba tubuh Bohrneer perlahan-lahan mulai membeku, hingga membuat kobaran pada kapaknya juga sedikit demi sedikit padam.
*
“Sial… Kenapa aku tidak bisa bergerak?” Gumamnya dalam hati merasakan tubuhnya telah mati rasa akibat pembekuan tersebut.
**
Melihat kesempatan tersebut, Urano pun langsung mendekatinya dan mengayunkan tombak es pada Bohrneer.
Karena tidak bisa bergerak dengan bebas, Bohrneer pun tidak bisa menghindar dan seketika menerima serangan dari Urano tersebut.
“Akh...!” Teriak Bohrneer, menerima serangan dari Urano.
Akibat menerima serangan tersebut, pria itu seketika langsung terhempas meluncur ke bawah dan menghantam tanah dengan kuatnya.