The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 240 - Pasukan Elfman menyerang pasukan Fuegonia



“Baiklah… Sesuai yang kau katakan…” Respon Drannor, kemudian dengan cepat meluncur menuju kediaman clan Fungle yang sebelumnya sudah diketahui olehnya.


**


Bersamaan dengan perginya Drannor menuju kediaman clan Fungle, para Elfman yang berada di dalam armada pesawat pasukan Blueland seketika keluar dan terbang menggunakan masing-masing menggunakan sepasang sayap dari proyeksi energi sihir mereka.


Para Elfman kemudian menyerang para Venerate Fuegonia yang berada di sekitar kota dengan menggunakan serangan proyeksi dalam berbagai elemen alam.


***


Sementara itu, Drannor yang telah sampai di kediaman clan Fungle, tampak dengan mudahnya memasuki kediaman tersebut karena pata Venerate yang berjaga di dalamnya kini telah pergi melawan pasukan Blueland.


Dengan mengakses sihir observasi miliknya, pemuda Elfman itu seketika mampu melihat dengan tembus pandang setiap bangunan yang berada di dalam kediaman tersebut.


Dalam penglihatan Drannor, pemuda Elfman tersebut melihat sebuah jalan menuju ke bawah tanah. Dengan memperhatikan arah jalan tersebut, Drannor pun langsung mengetahui bahwa kediaman clan Fungle tersebut memang terhubung dengan sebuah bangunan pencakar langit yang berada di kota Realmton.


Dengan melihat jalan itu, membuat Drannor pun yakin bahwa jalan tersebut, tempat tersimpan senjata penghancur yang memang dicari oleh mereka juga.


***


Berpindah pada pertarungan Ackerlind, Achilles, serta Aguirre melawan lima Continent Venerate Fuegonia. Karena memiliki jumlah yang lebih sedikit, Ackerlind serta yang lain perlahan-lahan mulai kesulitan menangani para Venerate Fuegonia yang memiliki tingkatan setarah dengan mereka.


**


“Raquille… Kurasa kau harus membantu mereka.” Hal tersebut pun langsung membuat Cyffredinol pun menyuruh Raquille untuk membantu saudara-saudara mereka melawan para Continent Venerate Fuegonia.


Raquille langsung mengaktifkan kekuatan dari kapak senjata suci tersebut, hingga mampu membuat ukuran senjata itu menjadi lebih besar.


Dengan cepat, Raquille meluncur membantu saudara-saudaranya melawan para Continent Venerate Fuegonia itu, untuk setidaknya mampu mengimbangi kekuatan mereka yang memiliki jumlah lebih unggul.


***


Kembali pada Drannor yang telah memasuki sebuah lorong yang berada di bawah permukaan kediaman clan Fungle, yang juga terhubung dengan bangunan museum di tengah Realmton tersebut.


Ketika sedang berjalan melihat ke sekitaran, pemuda Elfman itu tiba-tiba merasakan sebuah tekanan kekuatan dari Venerate yang setarah dengannya.


Hal tersebut langsung membuat Drannor pun menjadi siaga karena menyangka mungkin Venerate yang masih belum terlihat di depannya tersebut merupakan penjaga tempat itu.


**


Dari arah yang berbeda, tampak Eiseach yang sebelumnya telah lebih dahulu memasuki lorong yang berada dibawah permukaan tersebut, melalui bangunan yang berada di tengah kota Realmton, juga tampak bersiaga ketika merasakan tekanan kekuatan dari seorang Venerate, yang tidak lain merupakan Drannor.


Perlahan-lahan Eiseach berjalan ke depan sambil mengaktifkan tongkat sihir senjata suci milik Barnedict, hingga memancarkan proyeksi energi.


Saat melhat seseorang dengan tinggi dua meter lebih di depan, yang merupakan Drannor, perempuan itu seketika terkejut, dan langsung melancarkan serangan proyeksi energi dengan skala yang cukup besar ke arah pemuda Elfman itu.


“Abwehrzauber… Eldritch shield…” Melihat sebuah serangan proyeksii energi meluncur ke arahnya, Drannor dengan sigap langsung menciptakan sebuah perisai dari kekuatan sihirnya.


Ketika serangan yang dilancarkan oleh Eiseach lenyap, pemuda Elfman itu seketika langsung mendorong perisai proyeksi miliknya ke depan, hingga meluncur dengan cepat ke arah Eiseach.


Dengan sigap, Venerate Ierua itu langsung memproyeksikan energi yang memancar dari tongkat sihir yang dipegangnya sampai membuat perisai proyeksi yang meluncur ke arahnya seketika hancur.


“Ukh…” Karena tubuhnya membeku, eiseach pun kini tidak bisa bergerak, dan hanya bisa pasrah melihat Drannor perlahan datang mendekat ke arahnya.


“Apa kau penjaga tempat ini?” Tanya Eiseach.


“Eh… Apa maksudmu?” Tanya balik Drannor, karena mennyangka bahwa perempuan itulah yang sebenarnya merupakan penjaga dari tempat tersebut.


“Aku kemari untuk mencari senjata penghancur yang kemungkinan disimpan di tempat ini,” lanjut Drannor berkata, menjawab tujuannya berada di tempat itu.


“Jadi kau juga ingin mengincar senjata itu…” Respon Eiseach.


“Katakan… Darimana kau berasal?” Lanjut perempuan itu, bertanya kepada Drannor.


“Karena kau akan berakhir disini, maka aku akan menjawab pertanyaanmu… Aku adalah salah satu Venerate Blueland,” jawab Drannor.


*


“Venerate Blueland… Benar juga, penampilannya memang terlihat seperti ras keturunan campuran dari negeri itu,” ucap Eiseach dalam hati, langsung percaya bahwa pria yang berada di depannya tersebut merupakan salah satu dari ras Elfman, dilihat dari penampilannya.


**


Setelah menjawab pertanyaan Eiseach, Drannor pun langsung mengakses kekuatan elemen es milknya, menciptakan sebuah pedang es lalu mengayunkannya ke arah Eiseach untuk mengakhiri perempuan itu.


“Tunggu…!”


Tiba-tiba Eiseach berteriak, yang langsung membuat pemuda Elfman itu mengurungkan niatnya untuk mengakhiri perempuan tersebut.


“Ada apa lagi?” Tanya Drannor.


“Kau salah paham. Aku sebenarnya bukan Venerate Fuegonia… Aku adalah salah satu Venerate Ierua yang dengan sengaja datang ke negeri ini untuk mencari senjata penghancur negeri Fuegonia yang juga dicari olehmu,” jawab Eiseach, mengatakan identitasnya serta tujuannya berada di tempat itu.


“Ierua… Jadi selain kami, kalian juga ingin mengincar senjata itu yah…” Respon Drannor.


“Aku mohon tolong lepaskan aku… Jika kau mau mencari senjata itu, maka aku tidak akan mengganggumu,” ucap Eiseach, bermohon agar dirinya dilepaskan oleh pemuda Elfman tersebut.


“Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Aku yakin jika melepaskanmu, kau pasti akan langsung menyerangku.” Namun, Drannor tidak dengan mudah langsung mempercayai ucapan dari perempuan itu.


“Dengar… Kita disini memiliki tujuan yang sama, lebih baik kita bekerja sama mencari senjata penghancur… Lagipula negeri Ierua dan negeri Blueland selama ini tidak pernah terlibat sebuah konflik,” ucap Eiseach, menyarankan agar mereka lebih baik bekerja sama sambil menjelaskan bahwa kedua negeri mereka tidak memiliki sebuah konflik untuk bersaing satu sama lain.


Mendengar penjelasan tersebut, Drannor pun berpikir sejenak untuk menentukan pilihan apakah dirinya harus menyutujui usulan tersebut atau tidak.


Akan tetapi, Drannor tiba-tiba menguapkan es yang membeku Eiseach, hingga perempuan itu bisa kembali menggerakan tubuhnya.


“Apa menyetujuinya?” Tanya Eiseach.


“Iya… Lagipula aku tidak terlalu suka menyakiti seorang perempuan… Tapi, jika kau macam-macam, maka aku tidak akan segan-segan untuk mengakhirimu,” jawab Drannor sambil memperingati perempuan tersebut untuk tidak melakukan sebuah rencana untuk menyerangnya.


“Tentu saja tidak… Aku kemari untuk mencari senjata itu… Kumohon percayalah kepadaku,” ucap Eiseach, meyakinkan kepada Drannor bahwa dirinya tidak akan mmacam-macam.


Setelah percaya dengan perempuan itu, Drannor pun mengakses kekuatan sihir miliknya untuk mengobservasi lorong yang memiliki banyak percabangan ditempat itu.