
Setelah bertemu dengan seekor naga yang mendiami daerah utara pulau utama Blueland, Raquille dan Hyphilia kemudian kembali lagi ke kastil utama kota Nuku.
“Kakak, kau duluan saja… Aku mau pergi ke tempat lain.”
Ketika berjalan bersama dengan Hyphilia pada salah satu lorong yang berada di dalam kastil tersebut, Raquille lantas berbelok ke samping sembari pemuda Elfman itu menyuruh Hyphilia untuk kembali ke tempatnya.
Raquille berjalan meninggalkan Hyphilia, namun karena merasa penasaran Elfman perempuan itu lantas diam-diam mengikuti Raquille dari belakang.
***
Tak berapa lama, Raquille sampai di sebuah ruangan, dimana di dalamnya telah berada ibunya Lorainne.
“Ibu ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Raquille kepada Lorainne.
“Iya, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan?” Pemimpin negeri Blueland itu lantas bertanya tentang hal yang ingin dibicarakan oleh putra bungsunya tersebut.
“Ijinkan aku pergi ke Whiteland sekarang juga,” ucap Raquille.
“Apa?” Mendengar penjelasan Raquille, Lorainne lantas terkejut.
“Apa kau sudah mengetahui bagaimana keadaan yang terjadi di Whiteland?” Tanya Lorainne.
“Tentu saja… Aku mendengarnya dari Aguirre sebelumnya… Karena itu sebagai World Venerate Blueland aku tidak bisa membiarkan wilayah yang sudah menjadi bagian dari negeri kita diambil oleh negeri lain,” jawab Raquille, sambil menjelaskan tujuannya untuk pergi ke salah satu wilayah negeri Blueland.
“Padahal kau baru saja kembali… Tunggu beberapa lama lagi, ibu bahkan belum melepas rindu padamu,” ucap Lorainne, belum siap untuk mengijinkan putranya tersebut untuk pergi kembali.
“Tapi ibu, negeri Ierua yang menguasai pulau Whiteland sebenarnya memiliki tujuan utama menyerang wilayah utama kita ini… Aku mendengar fakta ini dari seorang mantan Venerate Ierua yang kutemui di negeri Pavonas sebelumnya,” ucap Raquille, memaksa ibunya untuk mengizinkannya berangkat dengan memberikan penjelasan bahwa wilayah pulau utama mereka sedang terancam.
“Mereka mau menyerang pulau utama kita…” Lorainne pun lantas merasa cemas mendengar penjelasan dari Raquille hingga membuatnya berpikir keras harus mengijinkan putranya tersebut untuk berangkat atau tidak.
“Ibu… Percaya saja padaku, walaupun ayah tidak berada disini, tapi aku masih bisa diandalkan… Setidaknya aku percaya bahwa kemampuanku tidak kalah jauh dengan pak tua itu,” Melihat ibunya berpikir keras tentang hal tersebut Raquille pun langsung meyakinkan ibunya tersebut dengan percaya bahwa dirinya tidak berbeda jauh dengan ayahnya.
“Ibu Lorainne, jika kau ingin mengijinkan aku juga ingin ikut bersama dengan Raquille.” Tiba-tiba Hyphilia masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung mengunjuk dirinya untuk ikut bersama dengan Raquille ke wilayah Whiteland.
“Hyphilia kau juga...” Lorainne pun nampak lebih pusing ketika mendengar Hyphilia juga ingin ikut bersama dengan Raquille.
“Haah… Baiklah kalian bisa pergi ke Whiteland,” ucap Lorainne, akhirnya mau mengijinkan kedua Elfman itu berangkat.
Raquille pun tersenyum dan langsung merangkul pundak Hyphilia kemudian perlahan-lahan beranjak dari ruangan tersebut.
“Aku belum selesai… Kalian berangkat kesana esok hari…”
“Apa?” Mendengar ucapan Lorainne Raquille dan Hyphilia seketika berhenti dan menoleh kembali ke arah ratu negeri Blueland itu.
“Jangan membantah, aku sudah mengijinkan kalian, setidaknya turuti kataku itu,” ucap Lorainne dengan tegas.
Tidak punya pilihan mereka berdua lantas harus menerimanya untuk berangkat ke wilayah Whiteland pada esok hari.
***
Beberapa saat kemudian, Raquille dan Hyphilia hanya bisa menunggu hingga hari esok di sebuah balkon kastil sambil duduk menatap langit yang tidak akan kunjung gelap akibat matahari yang menyinari negeri Blueland tersebut tidak akan pernah tenggelam.
“Jadi, kapan kau berhasil mencapai tingkatan Continent Venerate, kakak?” Tanya Raquille pada Hyphilia, karena yang diketahuinya bahwa Elfman perempuan itu masih berada di tingkatan Land Venerate.
“Sekitar lima tahun yang lalu…” Jawab Hyphilia.
“Ternyata sudah lama kau menjadi Continent Venerate,” respon Raquille, nampak senang mendengar pernyataan dari Elfman perempuan tersebut.
Karena tidak tahu harus membicarakan apa dengan Elfman perempuan tersebut, Raquille lantas hanya menatap Hyphilia sambil memasang senyuman di wajah.
“Kenapa kau tersenyum?” Hyphilia yang tiba-tiba melihat senyuman sontak merasa canggung hingga lantas bertanya kepada pemuda Elfman itu.
“Kakak, ternyata kau terlihat lebih cantik dibandingkan sepuluh tahun yang lalu,” ucap Raquille, seketika memuji Hyphilia.
Mendengar hal tersebut, Hyphilia pun langsung terkejut, tidak menyangka bahwa pemuda Elfman itu bisa berbicara seperti itu kepadanya.
Raquille tiba-tiba mengangkat tangannya kemudian menggapai rambut panjang Hyphilia, lalu perlahan-lahan mulai membelai rambut Elfman perempuan itu.
“Raquille… Apa yang kau lakukan?” Tanya Hyphilia sambil menahan tangan pemuda Elfman itu.
Akan tetapi, Raquille tidak menjawab pertanyaan Hyphilia, dia seketika berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Hyphilia hingga kedua Elfman itu pun kini saling berbagi tempat duduk.
Raquille kembali membelai rambut Hyphilia hingga membuatnya tiba-tiba merasa canggung dengan sikap pemuda Elfman itu.
“Raquille…”
“Aku tidak menyangka bahwa kau ternyata selama ini sangat begitu cantik… Apa mungkin kali ini aku harus menganggapmu sebagai wanita dan bukanlah saudaraku, Hyphilia?” Ucap Raquille.
Hyphilia pun hanya bisa terdiam melihat pemuda Elfman yang merupakan adik sepupunya tersebut membelai rambutnya.
Tiba-tiba Raquille memegang erat bagian belakang kepala Elfman perempuan itu hingga membuatnya terkejut.
“Raquille… Apa yang kau lakukan?” Sekali lagi Hyphilia bertanya, ingin mengetahui tujuan pemuda Elfman itu melakukan hal tersebut kepadanya.
“Hyphilia, tolong diam dulu…” Namun, Raquille tidak menjawab pertanyaan Hyphilia hanya menyuruhnya untuk diam dan melihatnya saja.
Perlahan-lahan Raquille pun mendekatkan wajahnya ke arah Hyphilia hingga langsung membuat Elfman perempuan itu terdiam sampai wajahnya pun tiba-tiba memerah. Hyphilia yang tidak bisa menghentikan tindakan Raquille tersebut hanya bisa memejamkan kedua matanya sambil merasa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh pemuda Elfman itu kepadanya.
Ketika wajah mereka hampir saja bersentuhan, Raquille tiba-tiba berhenti kemudian memasang ekspresi senyuman.
Merasakan sesuatu yang dipikirkan oleh Hyphillia ternyata tidak kunjung terjadi, Elfman perempuan itu lantas membuka kedua matanya kembali.
“Hahaha…” Tiba-tiba Raquille tertawa sampai membuat Hyphilia menunjukan ekspresi yang heran.
“Kakak, ternyata kau gampang sekali digoda… Tapi, maaf aku tidak mau mencium seorang bibi.” Ternyata tindakan yang dilakukan oleh Raquille hanya untuk membuat Hyphilia tergoda dan tidak pernah sekalipun pemuda Elfman itu mengubah anggapannya kepada Hyphilia sebagai seorang saudaranya.
Mendengar ucapan dari Raquille, Hyphilia pun langsung merasa kesal serta malu disaat yang bersamaan, hingga membuatnya langsung mendorong pemuda Elfman itu menyingkir dari hadapannya.
“Ukh…” Raquille yang didorong kuat oleh Hyphilia lantas jatuh dan membentur dinding balkon.