
Pemuda yang sedang tak sadarkan diri tersebut ternyata merupakan Giano sebelum menjadi roh dan merasuki tubuh dari raja Gimoscha.
“Asal kalian sebenarnya darimana? Dan kenapa kalian bisa terbawah arus sungai?” Tanya pria itu.
“Kami sebenarnya adalah budak yang sering dipaksa bekerja demi kerajaan Geracie,” jawab pemuda bernama Seremino itu.
“Kami sebelumnya kabur bersama budak yang lain, namun hanya kami berdua yang berhasil selamat setelah dikejar oleh pasukan Geracie,” lanjutnya berkata.
“Jadi seperti itu,” ucap pria tersebut, paham mengapa kedua pemuda itu sebelumnya terbawah arus sungai.
Setelah menjelaskan pada pria itu, pemuda bernama Seremino itu kemudian memperhatikan saudaranya yang masih belum sadarkan diri.
“Beberapa tulangnya patah, kemungkinan saat kalian melompat kedalam sungai pemuda ini sempat terbentur ke bebatuan yang berada di dasar sungai.”
Terlihat raut wajah Seremino nampak khawatir melihat keadaan saudaranya setelah mendengar penjelasan pria itu.
“Tenang saja, aku sudah memberikan pertolongan pertama pada saudaramu,” ucap si pria menjelaskan pada pemuda bernama Seremino itu agar tidak perlu cemas tentang saudaranya.
“Terima kasih tuan sudah membantu kami... Jika anda tidak menyelamatkan aku dan saudaraku, entah apa yang akan terjadi pada kami nantinya,” ucap Seremino.
“Tidak masalah,” balas pria itu.
**
“Kakak...” Beberapa saat kemudian Giano telah sadar dan melihat saudaranya berada di dekatnya.
“Akh...” Pemuda itu hendak bangun, namun tiba-tiba dia merasa kesakitan.
“Giano, jangan bergerak dulu, beberapa tulangmu patah... Tenang saja, kita sudah aman sekarang,” ucap Seremino menyuruh saudaranya untuk tidak bergerak agar keadaannya tidak menjadi lebih buruk.
“Tapi, bagaimana kita bisa ada di tempat ini?” Tanya Giano.
“Kita harus berterima kasih pada tuan ini. Dia yang telah menyelamatkan kita saat hanyut terbawah arus.”
“Tuan terima kasih telah menyelamatkan kami. Aku berhutang budi kepadamu,” ucap Giano, sambil dia berusaha menengok pria itu dalam keadaan masih terlentang.
“Tidak masalah, beristirahatlah. Kau jangan terlalu banyak bergerak saat uni,” ucap si pria, tak mempermasalahkan hal tersebut.
Beberapa saat kemudian masakan yang dimasak oleh pria itu pada api unggun telah matang.
“Ayo kita makan dulu sekarang.” Pria itu pun mengangkat makanan tersebut dan mengajak kedua pemuda itu untuk makan.
“Eh… Terima kasih banyak tuan,” ucap Seremino.
Pemuda itu kemudian mengambil makanan tersebut lalu menyuapi Giano.
**
Setelah semuanya selesai makan, terlihat Seremino duduk bersama pria itu di depan api unggun.
“Ngomong-ngomong tuan, mengapa anda berada di tempat ini? Apakah kau seorang pengembara?” Tanya Seremino.
“Tidak, sebenarnya desaku tidak jauh dari sini. Aku baru saja kembali dari salah satu kota kerajaan Geracie,” jawab pria itu.
“Memangnya untuk apa kau pergi kesana?” Tanya pemuda itu lagi.
“Aku kesana untuk mengantarkan upeti desa kami yang diminta oleh kerajaan itu… Banyak desa di wilayah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan tersebut. Agar kami tidak terusir dari wilayah ini, kami terpaksa harus memberikan upeti pada mereka,” ucap si pria.
“Dari pada menceritakan hal itu, kurasa kita harus pergi sekarang… Akan lebih baik jika saudaramu dirawat oleh tabib secepatnya.” Pria itu kemudian mematikan api unggun dan mengajak pemuda itu untuk beranjak dari tempat itu.
“Memangnya kita mau pergi kemana tuan?” Seremino pun nampak bingung mendengar ucapan pria itu.
“Tentu saja ke desaku,” jawab pria itu.
“Ayo bantu aku mengangkat adikmu ke atas kereta.”
“Baik.”
Seremino bersama pria tersebut lalu mengangkat Giano dan membawanya ke atas kereta kuda yang berada di dekat tempat itu.
“Hati-hati,” ucap pria itu agar Seremino tidak melakukan kesalahan saat menaruh saudaranya ke atas kereta.
Setelah menaruh Giano ke atas kereta, keduanya pun naik dan menjalankan kereta kuda tersebut.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh kilometer, mereka akhirnya sampai di sebuah desa yang berada di daerah tersebut.
Pria itu kemudian menghentikan kereta kudanya dan turun bersama dengan Seremino duluan. Mereka berdua lalu menurunkan Giano dengan hati-hati.
Tak lama kemudian, beberapa warga desa datang menghampiri mereka membantu pria itu bersama Seremino membawa Giano.
“Tolong obati pemuda ini dulu.”
Tanpa bertanya balik para warga yang membantu kemudian langsung membawa Giano ke salah satu rumah untuk mengobati pemuda itu lebih lanjut.
“Tenang saja, adikmu akan segera ditangani oleh tabib di desa kami,” ucap si pria pada Seremino agar pemuda itu tidak terlalu khawatir melihat adiknya dibawah oleh para warga.
“Tuan, entah bagaimana caraku untuk membalas budi nantinya,” ucap Seremino, berterima kasih atas kebaikan dari pria tersebut.
“Sudah kubilang itu tidaklah masalah, jangan terlalu memikirkan hal itu dulu, yang penting sekarang agar adikmu itu bisa cepat sembuh,” respon si pria.
“Ayo, kita temui tetua desa lebih dulu.”
Pria itu pun kemudian mengajak Seremino ke suatu tempat untuk menemui tetua desa yang diua katakan.
***
Beberapa saat kemudian, Seremino dan pria itu terlihat berjalan di dalam hutan.
“Tuan, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Seremino nampak bingung belum ke tempat tujuan mereka setelah berjalan cukup lama meninggalkan desa.
“Sedikit lagi,” ucap si pria.
Baru saja beberapa langkah mereka berjalan setelah berucap bahwa tujuan mereka hampir sampai, tiba-tiba pria itu melangkah.
“Itu dia tempat tinggal tetua desa.” Pria itu lalu menunjuk sebuah gubuk yang di depan mereka.
**
Setelah mereka sampai, pria itu kemudian mengetuk pintu gubuk tersebut.
Tak berapa lama, seseorang membuka pintu dari dalam. Tampak tetua desa yaitu seorang pria paruh baya keluar dari gubuk tersebut.
“Ternyata kau yang datang Aulvius,” ucap pria paruh baya itu.
“Tuan Hordius, ada yang ingin aku bicarakan,” ucap si pria bernama Aulvius itu.
“Hmph…” Tidak menggubris ucapan pria itu, si tetua nampak mendekati Seremino dan menatap pemuda itu dengan tatapan tajam.
“Eh… Apa ada yang salah tuan?” Dengan sedikit memberanikan diri, Seremino sontak bertanya pada tetua itu karena kebingungan mengapa pria tersebut menatap tajamnya.
“Aku mengerti sekarang… Ayo kita masuk dulu.” Tidak menjawab pertanyaan pemuda itu, si tetua sontak mengajak mereka untuk masuk ke dalam gubuk.
“Ayo masuk,” ucap pria bernama Aulvius itu, mempersilahkan Seremino untuk masuk.
Pemuda itu mengikuti saja arahan dari mereka Walaupun masih bingung dengan apa yang terjadi.
**
Setelah mereka masuk, ketiga orang itu tampak duduk di depan sebuah perapian.
“Tuan Hordius, kurasa ini bukan sebuah kebetulan,” ucap Aulvius.
“Hmph… Memang ini bukan sebuah kebetulan...” Sambung tetua desa.
“Eh… Mohon maaf tuan-tuan sebenarnya, apa yang kalian bicarakan ini?” Seremino pun bingung mendengar pembicaraan dari kedua pria itu yang berbicara hanya tentang sebuah kebetulan saja.
“Nak, siapa sebenarnya kau ini?” Tanya si tetua.
“Aku adalah seorang budak yang dipaksa bekerja oleh prajurit Geracie bersama dengan saudara kembarku. Kami kabur…”
“Lebih jauh lagi…” Belum sempat selesai, perkataan Seremino sontak langsung dipotong oleh pria paruh baya itu.
“Eh, lebih jauh lagi…?” Pemuda itu kembali dibingungkan setelah mendengar ucapan si tetua yang tidak dia pahami.
Seremino yang terlihat bingung tersebut, seketika menatap Aulvius, agar pria dapat menjelaskannya lebih jelas lagi.
“Maksud tetua desa adalah tentang siapa kau sebenarnya sebelum kau dan saudara kembarmu menjadi budak… Apa kau masih mengingatnya?” Ucap pria itu, mejelaskannya pada Seremino, kemudian bertanya pada pemuda itu.
“Sebelum kami menjadi budak, sebenarnya kami berdua tinggal bersama ibu kami,” jawab Seremino.
***
Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba pasukan yang sebelumnya mengejar dua saudara kembar itu sampai di pedesaan.
“Dengar para suku tanah Calfer, ada yang ingin kami sampaikan,” ucap pemimpin prajurit dari pasukan tersebut.