
“Apa itu ibu?” Tanya Folvest, merasa penasaran.
“Ini mengenai ketiga belas harta karun yang sebelumnya dikumpulkan oleh para Venerate Ierua, namun selalu gagal karena kuncinya adalah para ras Elfman yang pada dasarnya merupakan keturunan dari penyihir agung bangsa Friedenic,” jawab Harmae.
Ratu Brizora itu kemudian menjelaskan kepada putranya bahwa untuk mampu mengakses dimensi Valenhall yang gabungan kekuatan ketiga belas harta karun harus dilakukan oleh salah satu ras Elfman yang berada pada tingkat World Venerate dengan menggunakan sebuah pedang bernama Hilgwyn, yang sebelumnya tidak sengaja dicabut oleh Raquille dari sebuah batu di pulau Vann.
Sebelumnya, Harmae pergi ke sebuah perpustakaan untuk mencari informasi tentang ketiga belas harta karun tersebut. Tidak disengaja ratu Brizora itu menemukan sebuah buku tua yang bertuliskan di dalamnya bahwa pada jaman dahulu para dewa mempercayakan perwakilan dari bangsa Friedenic untuk memegang sebuah pedang pemberian mereka untuk menjadi kunci pembuka dimensi Valenhall menggunakan ketiga belas harta karun.
Harmae kemudian membaca lagi buku tersebut, dan mendapatkan fakta bahwa perwakilan dari bangsa Friedenic telah dianggap sebagai penyihir agung. Karena peperangan yang terjadi antar bangsa Fridenic hingga membuat bangsa tersebut terpecah belah akibat ingin menguasai pedang dari penyihir agung tersebut, maka salah satu keturunan terakhir dari sang penyihir agung menyegel pedang tersebut di sebuah batu yang berada di pulau Vann.
Setelah selesai, keturunan dari penyihir agung tersebut kemudian secara diam-diam pergi dan menikah dengan salah satu ras Elf murni dan melahirkan ras Elfman yang pertama.
“Sheafear dan Cadhan ingin menyerang negeri Blueland karena sudah mengetahui tentang fakta ini… Jika saja ibu mengetahui hal ini lebih cepat, mungkin ibu sudah memperingatkan pangeran Blueland itu untuk pergi dari sini, karena raja dan perdana menteri Ierua itu memang sedang mengincarnya,” ucap Harmae.
“Lebih baik kita pergi ke pulau Vann, karena Reminel dan Guilmus kemungkinan juga sudah berada disana,” ucap Folvest, kemudian bangun dari tempat tidurnya untuk segera pergi menuju pulau Vann bersama dengan ibunya Harmae.
***
Kembali di pulau tersebut, dimana Raquille datang menemui para Venerate Blueland yang sedang bersama.
“Haltryg, apa kau bisa membantuku sebentar?” Tanya Raquille.
“Mengenai apa kakak? Apa mungkin aku harus membantumu melupakan kakak Hyphilia?” Tanya balik Haltyg, dengan sedikit bergurau kepada pemuda Elfman itu.
“Tentu saja tidak… Aku membutuhkan kemampuan teknik sihir persepsi milikmu untuk membantuku mengimbalikan ingatan dari Phyton,” jawab Raquille.
“Phyton… Venerate dari Pavonas itu?” Tanya Haltryg lagi.
“Iya…” Jawab Raquille sambil menganggukkan kepalanya.
“Baiklah… Aku akan membantumu,” respon Haltryg, menyutujui permintaan dari Raquille.
Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan para Venerate Blueland yang berada di tempat itu, untuk ke tempat Cyffredinol, Aisling serta Phyton berada.
***
Tak berapa lama kemudian, Raquille kembali menemui Cyffredinol, Aisling dan Phyton sambil membawa Haltyrg bersamanya.
“Baiklah Phyton… Apa kau siap sekarang?” Tanya Raquille.
“Tentu saja… Aku siap untuk kembali mengingat kenangan yang sempat lupa beberapa tahun yang lalu,” jawab Phyton.
“Ice cursed…” Raquille seketika memegang kepala Phyton, dan langsung mengakses kekuatan elemen es miliknya, hingga membuat otak Phyton menjadi kaku akibat suhu yang dingin dari teknik pemuda Elfman tersebut.
Hal itu pun lantas membuat Phyton tiba-tiba terdiam karena sulit untuk memikirkan sesuatu.
“Gold instrict mode…” Raquille kemudian mengaktifkan kekuatan insting emas miliknya, yang membuat kedua mata pemuda Elfman itu berubah menjadi warna emas.
Setelah teknik Raquille bekerja pada pemuda itu, kini giliran Haltryg pun memegang kepala Phyton, kemudian mengakses kekuatan sihir untuk membuat Phyton jatuh ke dalam sebuah ilusi yang diciptakan oleh pemuda tersebut.
****
Karena terpengaruh oleh kekuatan ilusi dari Haltryg, di dalam alam bawah sadar Phyton, dirinya tiba-tiba melihat memori masa lalunya, dimana saat dirinya sedang kebingungan pertama kali kehilangan ingatan dan bertemu dengan Aisling yang sudah tidak dikenalinya.
“Phyton…”
Tiba-tiba pemuda itu terkejut mendengar sebuah suara berbicara, namun tidak menampakan sebuah wujud.
“Siapa yang berbicara?” Tanya pemuda itu sambil melihat-lihat kesekitaran, namun tidak menemukan seseorang yang berbicara itu.
“Ini aku Raquille…” Jawab suara mistrius itu, yang ternyata Raquille.
“Tuan Raquille,” ucap Phyton, sedikit terkejut bahwa suara tersebut merupakan Raquille.
“Dengar… Hal yang kau lihat ini merupakan memori masa lalumu yang berada di dalam pikiranmu…”
“Dengan menggunakan kekuatanku aku akan memerintahkanmu untuk mengingat memori yang dihapus di dalam ingatanmu…” Ucap Raquille.
“Apapun itu lakukan saja…” Ucap Phyton, nampak siap dengan hal yang akan dilakukan oleh Raquille.
“Baiklah, kalau begitu mari kita mulai… Phyton Naisitorach… Aku memerintahkan kepadamu untuk kembalilah mengingat kenangan masa lalu yang sempat kau lupakan itu…”
“Urgh…” Ketika Raquille mengatakan hal tersebut, Phyton tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya.
Seketika penglihatannya memjadi buram, dan pemuda itu sontak terkejut tiba-tiba di sekitarnya hanyalah sebuah kegelapan.
Ketika kebingungan dengan apa yang terjadi, Phyton pun melihat sebuah cahaya berada tak jauh dari kegelapan yang berada di sekitarnya.
Merasa bahwa cahaya tersebut merupakan jalan keluar, pemuda itu dengan cepat langsung berlari, hingga dalam sekajap muncul disebuah ruangan, dimana merupakan kenangan masa lalunya pertama kali lahir ke dunia.
Dengan kemampuan perintah dari kekuatan makhluk suci milik Raquille, Phyton bahkan mampu mengingat kenangan masa lalunya yang masih berusia belum genap satu hari.
Dalam waktu yang cepat refleksi ingatan Phyton terus berganti, dimana pada kejadian Cyffredinol dan Aisling membawanya pergi dari negeri Ierua, bertemu dengan Raquille dan akhirnya tinggal di markas para anggota Guardian, dan tinggal bersama dengan kedua orang tuanya di tempat tersebut selama kurang lebih lima tahun lamanya.
Phyton pun satu per satu mengingat kembali kenangan masa lalunya, dimana memang sedari dulu dia sangat mengetahui ayahnya merupakan Cyffredinol, pamannya Raquille yang selalu mengunjungi mereka di tempat tersebut, serta dia juga mengingat bahwa beberapa anggota Guardian tampak sangat akbrab dengannya, bahkan Giantman bernama Claus yang pernah ditemuinya di kepulauan Brizora sebelumnya, sebenarnya sangat dia kenal sebelum pemuda itu kehilangan ingatannya.
Kemudian refleks sudut pandang dari Phyton terus berganti hingga dirinya sampai pada kejadian dimana satu per satu anggota Guardian meninggalkan markas mereka hingga tertinggal dirinya bersama kedua orangtuanya.
Selanjutnya, ketika refleksi sudut pandang dari Phyton memperlhatkan kejadian penyerangan para Ogreman, dimana saat itu kedua orangtuanya berjuang keras melindunginya dari penyerangan tersebut.
Ketika melihat Aisling terpaksa meninggalkan Cyffredinol untuk membawanya kabur, disitulah Phyton akhirnya mengingat bagaimana pengorbanan dari ayahnya untuk menahan Ogreman yang mau mengincar dirinya beserta ibunya.