
“Kurasa kau benar… Karena bahkan usiaku masih sama saat sepuluh tahun yang lalu…” Respon Raquille.
“Ngomong-ngomong kakak… Senang bertemu denganmu lagi. Kau juga terlihat tidak berubah seperti tiga tahun… Maksudku, tigabelas tahun yang lalu,” lanjut pemuda Elfman itu, menyapa Drannor yang tampak tidak berubah setelah terakhir kali bertemu.
“Usiamu masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu… Apa maksudmu pangeran?” Tanya Drannor, tidak paham dengan pernyataan dari pemuda Elfman itu.
“Sebenarnya aku sudah bosan menjelaskan hal itu… Jika kau ingin mengetahuinya, cukup tanyakan saja kepada lain yang sudah kujelaskan…” jawab Raquille, enggan menjelaskan mengenai dirinya yang melompati masa depan kepada Drannor karena sudah berulang kali kepada yang lain.
“Aku paham pangeran… Mungkin aku harus menunda rasa penasaranku, karena ada sebuah informasi yang sangat penting, yang harus kukatakan kepada kalian sampai membuatku datang kembali kemari,” respon Drannor, sambil hendak mengatakan mengenai tujuannya datang ke pulau utama Blueland.
Merasa bahwa informasi yang hendak diberikan oleh Drannor nampak penting, Raquille serta Lorainne pun menjadi penasaran untuk mendengarnya.
“Sebelumnya aku mengatakan bahwa orang-orang yang sudah pergi atau dinyatakan telah meninggal tiba-tiba datang kembali layaknya mereka ternyata masih hidup… Aku juga cukup terkejut ketika mendengar bahwa kau telah kembali, dan bahkan ikut dalam perang benua Greune, serta berhasil menjadi pahlawan utama… Aku juga belum lama mendengar bahwa setelah pergi menyerang ke negeri Ierua bersama dengan pasukan Brizora, kau juga berhasil menundukkan mereka, dan membuat mereka masuk menjadi salah satu negeri kubuh barat,” ucap Drannor, masih memberikan sebuah isyarat.
“Kakak… Setidaknya kau tidak boleh mengetes rasa penasaranku ini… Sebebarnya apa yang ingin kau katakan.” Balas Raquille, merasa bahwa penjelasan awal dari pria Elfman itu tidak penting dibandingkan informasi utama yang akan diberikannya.
“Baiklah akan kukatakan apa yang sebenarnya terjadi… Ketika mengetahui bahwa ada penyusup di wilayah Valars, aku pun mengikuti seorang Venerate…”
Drannor kemudian menjelaskan bahwa ketika dia sebelumnya mengejar seorang Venerate misterius, yang diyakinkannya merupakan Venerate yang berasal dari negeri Ereise, Drannor sontak merasa terkejut ketika melihat Venerate tersebut seperti dikenal olehnya.
Akan tetapi, hal tersebut baru sebuah awal, dimana ketika seorang yang lain muncul, pria Elfman sontak terkejut melihat wajah dari Venerate kedua yang tiba-tiba saja menyerangnya.
“Dan untuk Venerate yang kedua itu, sangat mirip dengan Freynile…” Ucap Drannor.
“Apa…? Freynile katamu…” Ucap Lorainne, lantas terkejut mendengar penjelasan dari pria Elfman itu.
“Tunggu dulu… Venerate yang mirip dengan Freynile… Apa kau tidak salah melihat? Atau mungkin saja kau merasa rindu dengan adikmu kakak…” Tanya Raquille, karena masih tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Drannor.
“Raquille… Awalnya aku berpikir bahwa aku memang salah mengira Venerate itu adalah Freynile, namun setelah kuingat-ingat lagi, dia menggunakan tongkat sihir Aurgelmir, senjata suci yang sama denganmu,” jawab Drannor.
Mendengar hal tersebut, Raquille sontak terkejut, karena tongkat sihir yang pernah digunakannya ketika menyelamatkan Arn sebelumnya memang hanya dua, dimana dimiliki oleh clan Noroh, yang akhirnya diberikan kepada Raquille, dan yang satunya dimiliki oleh clan Moira, yang akhirnya juga diberikan kepada Freynile.
“Benarkah begitu…” Merasa penasaran, Raquille tiba-tiba memunculkan tongkat sihir senjata sucinya miliknya yang bernama Aurgelmir tersebut.
“Apa yang ingin kau lakukan Raquille?” Tanya Drannor, penasaran melihat pemuda Elfman itu memunculkan senjata suci miliknya.
“Tongkat sihir ini memiliki kemampuan melacak keberadaan dari tongkat yang lain...” Jawab Raquille, kemudian menancapkan tongkat sihir itu ke lantai sambil berkonsentrasi memejamkan kedua matanya untuk mengakses kekuatan dari senjata suci tersebut.
***
Berpindah di pulau Whiteland, wilayah dari negeri Blueland yang diihuni oleh para ras manusia murni, dimana tampak Arn sedang berlatih di sebuah gunung api yang terdapat di pulau tersebut.
Sambil menggunakan tombak senjata sucinya, pria itu berkali-kali melepaskan serangan proyeksi energi berwarna merah ke arah lahar yang keluar dari kawah gunung sampai memancar ke segala arah.
“Haah… Haah…” Karena kemungkinan energinya telah terkuras saat berlatih, Arn pun sejenak berhenti melepaskan serangan proyeksi kemudian duduk untuk beristirahat.
“Apa mungkin jika bukan kejadian beberapa tahun yang lalu, aku mungkin sudah bisa menerobos ke tingkatan Continent Venerate?” Gumam pria itu, bertanya-tanya kemungkinan dirinya yang bisa menjadi Venerate tingkat atas jika saja kejadian saat rekan-rekannya yang gugur di negeri Ereise tidak terjadi.
**
Beberapa kilometer dari tempat tersebut, tampak seorang Venerate msterius dengan mengenakan jubah bertudung sedang memperhatikan Arn berlatih.
Venerate misterius yang sedang itu tidak lain merupakan Freynile, perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan Arn sendiri.
“Arn…” Dengan ekspresi sedih, Elfman perempuan itu sebenarnya merasa bahagia bisa melihat kembali Arn, walau hanya dari kejauhan, tidak menampakkan dirinya pada pria yang dicintainya tersebut.
“Eh…” Tiba-tiba tongkat sihir yang sedang dipegang oleh Elfman perempuan itu memancarkan proyeksi energi yang sontak meluncur hingga ke langit.
Dengan terkejutnya Freynile nampak panik mengapa hal tersebut bisa terjadi pada senjata sucinya tersebut, karena dirinya saat ini tengah memata-matai.
***
Berpindah di pulau utama Blueland, dimana Raquille telah mengetahui keberadaan dari tongkat sihir yang dipegang oleh Freynile.
“Senjata suci beberapa beberapa kilometer arah tenggara… Bukan negeri Ereise, tapi kurasa di pulau Whiteland,” ucap Raquille.
“Pulau Whiteland… Kenapa disana?” Ucap Drannor, nampak kebingungan serta bertanya-tanya mengapa Raquille merasakan keberadaan senjata suci tersebut di pulau itu.
***
Kembali ke pulau Whiteland. Dimana Arn tiba-tiba terkejut melihat sebuah proyeksi energi memancar ke langit berada beberapa kilometer dari tempatnya berada.
Karena penasaran, pria itu langsung mengakses kekuatan sihirnya, menciptakan sepasang sayap proyeksi, kemudian meluncur ke arah pancaran proyeksi energi tersebut.
**
“Apa-apaan ini?” Ucap Freynile, nampak kebingungan karena tidak bisa menghentikan proyeksi energi itu memancar dari tongkat sihirnya.
Disaat yang bersamaan, Arn yang sedang meluncur ke arahnya terlihat sudah mulai mendekat.
Dengan sigap Freynile langsung mengakses kekuatan sihirnya, tanpa menggunakan perantara kekuatan dari senjata suci yang dipegang olehnya.
“Leveranspel…” Seketika tepat dibawah Elfman perempuan itu muncul diagram sihir, yang sontak membuatnya seketika menghilang.
**
Tak berapa lama Arn sampai ke tempat itu, namun pria itu terlambat karena Freynile sudah lebih dulu menghilang dari tempat tersebut.
“Apa sebenarnya proyeksi kekuatan tadi?” Gumam pria itu, bertanya-tanya mengenai proyeksi energi yang memancar sebelumnya.
Disaat kebingungan, Arn tiba-tiba terkejut melihat sebuah armada pesawat berada di langit pulau Whiteland.