
Raquille mengangkat salah satu tangannya ke depan kemudian memainkan jarinya memunculkan sebuah lingkaran sihir di atas Plutone, yang bagaimanapun keadaanya, lingkaran sihir itu terus mengikutinya.
“Apa-apaan ini?” Pria itu seketika terkejut melihat lingkaran sihir tersebut.
Dalam sekejap Plutone berpindah tepat di depan Raquille.
“Eh…” Pria itu seketika terkejut dengan apa yang terjadi.
Raquille kemudian memegang erat pundaknya agar pria itu tidak bisa kabur lagi.
“Dengar aku, kau sekarang sudah tidak berada di tempat menyeramkan itu lagi,” ucap Raquille.
**
Beberapa saat kemudian, akhirnya Plutone pun menjadi tenang setelah dijelaskan oleh Raquille.
“Jadi bagaimana perjalananmu ke alam bayangan untuk pertama kalinya?” Tanya Raquille.
“Sial… Beraninya kau meninggalkanku disana sendirian. Aku bahkan dikejar oleh makhluk-makhluk hitam yang sangat mengerikan. Entah apa yang akan terjadi jika aku berada di tempat itu lebih lama lagi,” ucap Plutone.
“Hahaha…” Raquille tertawa mendengar cerita dari Plutone yang hampir saja terbunuh di dalam alam bayangan tempatnya terjebak.
“Ngomong-ngomong ini senjata sucimu. Aku sempat memungutnya.” Dia kemudian memunculkan tongkat dwisula yang sempat diambilnya setelah memasukan Plutone ke dalam alam tersebut.
“Kau memerlukan senjata ini jika nantinya masuk ke alam bayangan lagi,” ucap Raquille sambil melemparkan senjata tersebut ke arah Plutone.
“Tunggu dulu… Ayah kenapa kau hanya diam saja, mereka kan adalah musuh kita.”
“Heh… Aku sudah menyerah, jika kau mau melawan mereka silahkan saja, tapi hati-hatilah, tiga orang yang berada dihadapanmu ini adalah World Venerate,” ucap Acadiuno.
“World Venerate…?” Mendengar hal tersebut membuat Plutone seketika menjadi ketakutan hingga kedua kakinya bergetar, walaupun ketiga orang tersebut tidak mengeluarkan tekanan kekuatan mereka.
“Nak, mungkin kau belum tahu bahwa semua pasukan kita sudah dikalahkan oleh mereka, bahkan aku juga yang secara tidak telah dikalahkan setelah bertarung melawan mereka.” Janus pun datang mendekati Plutone dan menjelaskan tentang keadaan mereka.
“Kau kan Yang mulia Janus?” Tanya Plutone, melihat pria itu yang setahunya tidak pernah terlihat dan sering menyendiri di sebuah basilika.
“Iya, dan kau pasti Plutone, putra bungsu Acadiuno?” jawab Janus sambil tersenyum.
“Oke, sekarang ayo kita kembali ke dalam kota, untuk melihat apa yang akan kita lakukan pada kalian semua nantinya,” ucap Juaferrex.
***
Di dalam kota Reom, pasukan kubuh barat tampak telah mengumpulkan semua pasukan Gimoscha di satu tempat.
“Eh… Kakak Dagon… Kakak Tezia… Kalian sudah tidak apa-apa?” Tanya Marte, terkejut melihat kedua saudaranya tersebut telah kembali normal setelah sebelumnya tidak bisa berbuat apa-apa karena selalu saja terdiam layaknya orang yang tidak memiliki pikiran.
Saudara-saudara dari dua orang tersebut, yaitu Neptuno, Terra dan Mercurio, bahkan ibu mereka Jiqu terkejut melihat mereka telah kembali normal.
“Iya, aku juga tidak mengerti sebelumnya kami berdua…” Belum saja menyelesaikan perkataan, tiba-tiba Dagon mengurungkan niatnya setelah melihat Raquille datang bersama yang lain.
“Plutone…?”
Melihat Plutone yang kembali saat hilang dijebak oleh Raquille, membuat mereka pun langsung menghampiri pria itu yang datang bersama Acadiuno dan Janus.
“Bagaimana bisa? Kukira aku tidak bisa melihatmu lagi,” ucap Marte.
“Yah… Untung saja aku bisa selamat tepat pada waktunya.”
**
Setelah semua prajurit-prajurit Gimoscha telah berkumpul di satu tempat, Juaferrex pun mengatakan bahwa mereka semua harus akat kaki dari kota tersebut pergi ke wilayah Gimoscha yang masih belum diduduki oleh pasukan kubuh barat.
“Baiklah, mulai hari ini kalian bukan lagi bagian dari kubuh timur atau aliansi GSG...”
“Sesuai dengan ketentuan GANCO, kami akan mengampuni musuh yang telah menyerah dan tidak akan berkonflik lagi dengan kami, tapi jika kalian berusaha untuk mengirim bantuan pasukan untuk membantu kubuh timur, maka kami tidak akan segan-segan untuk menyerang wilayah kalian hingga tak tersisa satupun,” ucap Juaferrex.
Setelah para pasukan Gimoscha mendengar peringatan dari Juaferrex, mereka pun kemudian satu per satu naik ke dalam pesawat meninggalkan ibukota mereka menuju wilayah Gimoscha di barat laut semenanjung Kasspa, berbatasan dengan negeri Geracie.
***
“Haah… Setidaknya negeri kita tidak hancur sepenuhnya… Mulai sekarang aku akan membangun kembali negeri ini, dan menjalin hubungan yang lebih baik lagi dengan Serepusco, Calferland, bahkan negeri-negeri di benua ini,” ucap Janus.
“Baik Yang mulia, aku selalu siap mendampingi anda kapanpun dan dalam keadaan apapun,” respon Acadiuno.
“Ngomong-ngomong, aku tidak melihat putriku Leagerenza sejak keluar dari basilika. Dimana sebenarnya dia?”
Mendengar pertanyaan dari Janus, sontak membuat Acadiuno langsung terkejut.
“Yang mulia, sebenarnya tuan putri Leageranza sudah meninggalkan negeri Gimoscha sejak dua puluh tahun yang lalu.”
“Apa…? Dua puluh tahun yang lalu… Aku memang sudah tidak memperhatikannya, bahkan saat ratu kita meninggal beberapa tahun yang lalu.” Janus tampak sedih mendengar informasi yang diberikan oleh Acadiuno tentang putrinya tersebut.
“Tapi, kenapa dia harus meninggalkan negeri kita?” Tanya pria itu.
“Ini tentang masalah percintaan… Dulu tuan putri jatuh cinta pada seorang pria yang berasal dari negeri Fuegonia… Yang mulia ratu, yang tidak merestui hubungan mereka mengusir pria itu, dan tuan putri yang tidak mau meninggalkannya sontak lari bersama pria tersebut.”
“Jadi seperti itu… Walaupun sedih mendengar tersebut, tapi aku yakin bahwa Leageranza telah bahagia hidup dengan pria itu saat ini.”
***
Di taman yang berada di Sprintrobe, kota Novacurve, terlihat Heinz nampak murung sedang duduk sendirian menatap langit sambil melamun.
Tak berapa lama Bohrneer datang menghampiri pria itu dan duduk bersamanya.
“Heinz sedang apa kau disini?”
“Tidak, aku hanya memikirkan tentang tuan Raquille,” kata pria itu.
“Tuan Raquille yah… Tenang saja, dia itu orang yang kuat, pasti kita sedikit lagi akan mendengar bahwa dia telah menjadi seorang pahlawan dalam peperangan tersebut,” kata Bohrneer.
“Hei, apa hal lain lagi yang kau pikirkan?” Bohrneer melihat saudaranya tersebut nampak murung memikirkan sesuatu, yang sepertinya bukan hanya tentang Raquille saja.
“Ternyata kau bisa melihatnya… Sebenarnya aku masih bingung mengapa aku bisa menggunakan elemen lain, selain api beberapa hari yang lalu saat turnamen Venerate… Apa mungkin kekuatanku itu berasal dari ibuku, karena setahuku ibuku bukanlah berasal dari Fuegonia.”
“Bisa jadi kekuatanmu berasal dari ibumu. Aku juga penasaran mengapa bibi Leagerenza selalu dipanggil tuan putri oleh paman Argis… Apa mungkin ibumu sebenarnya memanglah seorang putri?”
“Kalau itu mungkin kau sudah berlebihan kakak.”
***
Kembali ke kota Reom, yang kini dikuasai sepenuhnya oleh pasukan kubuh barat negeri Serepusco dan Calferland.
“Baiklah, setelah mengalahkan Gimoscha, tujuan kita selanjutnya adalah Geracie, negeri tertua yang berjaya di benua ini.”
Juaferrex nampak memberi pengarahan kepada semua pasukan kubuh barat di dalam sebuah ruangan.
“Tapi, sebelum itu harus ada pasukan kubuh barat yang menjaga wilayah ini, jika nantinya akan diserang kembali.”
“Clava, Arepo dan Mayorio, kalian kutunjuk untuk tetap berada di tempat ini… Sedangkan ayahmu ini akan berangkat bersama dengan pasukan Calferland beserta tuan Raquille ke kota Dubstepa, negeri Nascunia.”
“Aku tidak setuju, lebih kau yang tinggal disini saja pak tua.” Namun, putra sulungnya Clava, tiba-tiba tidak setuju dengan perintah dari ayahnya tersebut.
“Haah…? Dasar bodoh, kau mau melawan perintahku?” Juaferrex seketika geram menerima penolakan dari pria itu.
“Maaf tuan Juaferrex, tapi kurasa Clava ada benarnya. Wilayah dari Gimoscha ini sebenarnya harus dijaga oleh World Venerate… Lagipula pasukan yang akan berangkat ke Nascunia lebih dari tiga puluh ribu pasukan, itu bahkan sudah lebih dari cukup,” ucap Raquille memotong pembicaraan Juaferrex.
“Dan juga tiga serangkai Armadura merupakan pria muda yang telah mengalahkan beberapa Venerate Gimoscha, aku yakin mereka akan lebih semangat untuk pertarungan selanjutnya,” lanjut pemuda itu berkata.
“Benar tuan Raquille itu yang ingin kukatakan sebenarnya!” Seru Clava sambil mengangkat tangannya ke atas.
“Eh… Eh… Baiklah…” Juaferrex seketika menyetujui untuk menjaga wilayah tersebut dan membiarkan Clava berserta anaknya yang lain pergi melanjutkan perjalanan mereka.
“Wuu… Huu…” Merasa senang dengan persetujuan ayah mereka, Clava beserta dua adiknya seketika berseru.