The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 73 - Seremino dan Giano



“Dasar hantu sialan, apa dia tidak berpikir tentang dampak dari serangan yang akan dia lancarkan itu?” Acadiuno nampak mengumpat saat melihat Giano ingin melancarkan serangan tersebut.


“Apa yang kau maksud dengan hantu?” Juaferrex pun sontak bertanya mendengar Acadiuno menyebut pria yang sedang melayang di udara itu dengan sebutan hantu.


“Memang orang itu adalah Janus Camponero, raja Gimoscha… Namun tubuh orang itu sekarang sedang dikendalikan oleh roh dari raja pertama bangsa Seremoschan,” jawab Acadiuno.


“Raja pertama bangsa Seremoschan…? Apa maksudmu... Raja yang paling kejam itu?” Tanya Juaferrex lagi.


Acadiuno pun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Juaferrex.


**


“Dengar kalian semua bangsa Serepusco dan Calferland… Hari akan kutunjukkan pada kalian akibatnya karena berani menantangku…” Ucap Giano dengan suara yang menggema hingga dapat didengar oleh semua orang yang berada di sekitaran kota Reom, baik yang berada di dalam maupun di luar kota.


**


“Hei, jangan hanya berdiam saja, kita harus menghentikannya… Setidaknya gunakan cara agar bisa menghalau serangan pria itu,” ucap Acadiuno nampak panik.


“Raquille, kau kan penyihir, apa mungkin kau memiliki teknik penghalang atau semacamnya?” Tanya Juaferrex.


“Tentu saja aku memilikinya, tapi aku rasa teknikku tidak akan mampu menahan serangan seperti itu,” jawab Raquille.


“Kalau begitu, biar kami bantu.”


Mendengar ucapan Juaferrex, Raquille seketika merapatkan kedua tangannya berkonsentrasi untuk meningkatkan kekuatan.


Tiga World Venerate yang lain sontak mendekatinya pemuda itu untuk menyalurkan energi mereka.


*


“Giano, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal ini.” Tiba-tiba terdengar seseorang berbicara dari dalam kepala pemimpin negeri Gimoscha itu.


**


“Siapa yang bicara?” Giano sontak melihat-lihat ke sekitaran setelah mendengar suara yang berbicara tersebut.


*


“Ini aku, orang yang kau kendalikan tubuhnya.”


“Kau… Beraninya kau muncul. Tidurlah kembali sekarang, jangan menggangguku.”


“Tidak… Aku tidak akan membiarkanmu membunuh orang yang tak berdosa.”


**


Mendadak tangan kanan Giano bergerak sendiri menurunkan tongkat obor yang dipegangnya.


Giano seketika menjadi terkejut. Tangan kirinya sontak langsung menghentikan tangan kanannya yang sepertinya telah dikendalikan oleh pemilik asli tubuh tersebut.


“Hentikan, serangan ini akan gagal,” ucap Giano sambil berusaha keras menggerakkan tangan kanannya ke posisi awal.


Dikarenakan senjata suci dari pria itu tidak dalam posisi yang semestinya, membuat bola api raksasa yang diciptakannya itu seketika lenyap.


**


“Eh… Apa-apaan ini? Kenapa serangannya dibatalkan?” Raquille pun nampak heran melihat bola api yang hendak diluncurkan oleh Giano seketika lenyap.


Melihat hal tersebut juga, Acadiuno seketika tersenyum.


“Kurasa pemilik asli tubuh itu berusaha mengambil alih kesadarannya,” ucap Acadiuno.


“Tuan, barusan kau bilang tadi bahwa ada sesosok hantu yang mengambil alih kendali dari tubuh rajamu itu?” Tanya Raquille.


“Iya, memangnya kenapa?” Tanya balik Acadiuno.


“Kurasa serangan ini cocok untuk mengusir hantu itu… Ngomong-ngomong terima kasih juga telah menyalurkan energi kalian. Serangan ini akan lebih berkat kalian.”


“Geheimer feuerzauberspruch… Fegfeuer um bose geister auszutreiben…” Dengan mengucapkan mantra yang cukup panjang tersebut, seketika sebuah serangan proyeksi elemen api berwarna putih dilancarkannya meluncur dengan cepat ke arah Giano yang sedang melayang di udara.


***


Serangan tersebut meluncur dengan lurus ke atas dan sontak langsung disaksikan oleh seluruh orang serta Venerate yang berada sekitar tempat tersebut dengan jelasnya.


**


Tak berapa lama, setelah Giano terhempas mencapai titik tertingginya, pria itu kemudian jatuh meluncur ke bawah.


*


“Sial, jadi ini akhirnya…” Disaat kesadaran pria itu perlahan-lahan mulai menghilang, tiba-tiba dia mengingat ingatan masa lalunya.


–16 Februari 247–


Abad ketiga setelah peperangan antara para Venerate dengan para makhluk suci, di suatu malam tampak di sebuah hutan terlihat dua orang pemuda memiliki wajah yang mirip satu sama lain sedang berlari dikejar oleh segerombolan pasukan berkuda yang berada beberapa puluh meter dibelakang mereka.


Tanpa menengok ke belakang melihat pasukan berkuda tersebut mengejar mereka, kedua pemuda itu terus berlari sekencang mungkin ke depan agar pasukan itu tidak bisa mengejar mereka lagi.


Beberapa saat kemudian langkah kedua pemuda sontak terhenti di pinggiran sebuah jurang yang cukup dalam.


“Kakak, bagaimana ini?” Kata salah satu dari mereka nampak panik melihat jalan di depan mereka telah buntu sedangkan pasukan yang mengejar mereka berdua mulai dekat.


Dengan tenang pemuda yang satunya melihat ke bawah jurang. Setelah dilihatnya dasar jurang tersebut merupakan sebuah sungai dengan arus yang sangat deras.


“Dibawah sana adalah sungai, tapi arusnya sangat deras,” ucapnya.


“Sungai...?”


“Iya... Ayo lompat saja.”


“Apa...? Bagaimana jika kita tidak selamat jika melompat kesana?” Pemuda yang satunya nampak ragu mendengar ucapan pemuda itu, yang menyuruhnya untuk melompat.


“Kita tidak punya pilihan... Jika berdiam disini kita cepat atau lambat kita tidak akan selamat.”


Melihat bahwa pasukan yang mengejar semakin mendekat, pemuda itu seketika melompat tanpa rasa takut sedikitpun.


“Aahh...!” Pemuda yang satunya juga sontak melompat mengikutinya karena tidak memiliki pilihan lagi.


**


Tak berapa lama pasukan berkuda yang mengejar kedua pemuda itu terhenti di pinggiran jurang tersebut.


Beberapa dari prajurit turun dari kuda mereka dan melihat kebawah jurang tersebut.


“Tuan, mereka sepertinya sudah melompat ke bawah,” ucap salah satu prajurit.


Terlihat seorang prajurit yang merupakan pemimpin dari pasukan tersebut mendekat ke pinggiran jurang.


“Biarkan saja, lagipula mereka berdua tidak akan selamat... Arus sungai Giade ini telah banyak memakan korban,” ucap pemimpin prajurit tersebut.


Para prajurit itu sontak meninggalkan tempat tersebut setelah mendengar ucapan dari pimpinan mereka yang mengambil kesimpulan bahwa kedua pemuda itu tidak akan selamat setelah melompat ke dalam sungai yang deras tersebut.


***


Kedua pemuda yang melompat ke dalam sungai sontak tidak bisa berbuat apa-apa selain terhanyut oleh arus yang sangat deras.


Akibatnya mereka menjadi terpisah satu sama lain. Salah satu pemuda yang terbawah arus tersebut tenggelam ke dasar menghantam bebatuan hingga keadaannya menjadi memburuk.


Melihat pemuda itu tenggelam ke dasar sungai, dengan berusaha keras pemuda yang satunya menyelam untuk menggapainya.


Dia pun memegang pemuda itu dan membawanya ke permukaan. Walaupun sambil melawan arus yang sangat kuat, pemuda itu berusaha keras agar pegangannya pada pemuda yang mulai tak berdaya itu tidak terlepas darinya.


–17 Februari 247–


Pagi harinya, entah apa yang terjadi, salah satu pemuda itu terbangun mendapati dirinya telah terbaring dipinggiran sungai beralaskan sebuah kain.


Walaupun masih bingung dengan apa yang terjadi, dia pun nampak merasa lega telah selamat dari kejaran pasukan berkuda yang mengejar mereka, serta selamat dari arus sungai yang deras sebelumnya.


“Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?” Di tempat tersebut tampak seorang pria sedang duduk di depan api unggun menanyakan keadaan pemuda itu.


Tanpa menjawab pria itu, saat melihat pemuda yang satunya telah terbaring tak sadarkan diri, pemuda itu sontak menghampirinya.


“Aku melihat kalian hanyut kemarin hari... Kau memang hebat, walau susah payah melawan arus sungai, tapi kau tidak melepaskan tangan pemuda ini...”


“Jika diperhatikan wajah kalian sangat mirip... Apakah kalian berdua bersaudara?” Tanya pria itu.


“Kami adalah saudara kembar. Aku Sermino yang lebih tua, sedangkan ini adikku Giano,” jawab si pemuda.