The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 245 - Hilang ingatan



–22 Juli 3029–


Waktu pun berlalu, beberapa hari kemudian Cyffredinol tiba-tiba terbangun telah terbaring di sebuah tempat tidur.


Ketika menengok ke samping, tampak Lorainne, ibu dari pria Elfman itu sedang duduk di sebuah kursi, yang sedari tadi sudah menunggu anaknya tersebut tersadar.


“Akhirnya kau sudah tersadar… Ibu bahkan sangat khawatir ketika kau hampir seminggu tidak sadarkan diri,” ucap Lorainne, nampak legah melihat putra pertamanya tersebut telah kembali tersadar.


“Tunggu dulu… Jika kau ada disini… Apa mungkin ini adalah kota Nuku?” Tanya Cyffredinol sambil memasang eksprsi terkejut ketika menyadari bahwa wanita yang berada disampingnya itu merupakan ibunya.


Lorainne pun lantas menganggukkan kepalanya, merespon bahwa pria Elfman tersebut kini telah berada di negeri Blueland.


“Kalau begitu, dimana Aisling dan Phyton? Aku ingin menemui mereka,” ucap Cyffredinol hendak bangun dari tempat tidurnya.


Akan tetapi, hal itu langsung dihentikan oleh Lorainne, karena masih khawatir dengan kondisi dari anaknya tersebut yang masih belum pulih dengan benar.


“Ada apa ibu?” Tanya Cyffredinol, nampak kebingungan melihat ibunya tersebut menghentikannya yang ingin bangun.


“Soal Aisling dan anakmu… Mereka sebenarnya tidak berada disini,” jawab Lorainne.


“Apa katamu?” Cyffredinol pun lantas terkejut ketika mendengar jawaban dari Lorainne, yang membuatnya disaat bersamaan memikirkan bahwa Aisling dan Phyton tidak selamat akibat penyerangan para ras Ogreman di pulau negeri Mormist sebelumnya.


“Katakan padaku dimana mereka sekarang?” Tanya Cyffredinol sekali lagi dengan ekspresi wajah yang nampak khawatir.


“Cyffredinol… Tenang dulu, istri dan anakmu sekarang telah berada di negeri Ierua… Sebelumnya para Ogreman yang mengantarmu mengatakan bahwa mereka sudah dibawah oleh perdana menteri Ierua saat datang ke negeri Mormist,” jawab Lorainne, menceritakan keberandaan dari Aisling dan Phyton.


“Jadi mereka berhasil selamat… Aku merasa legah, namun sepertinya akan sulit untuk menemui mereka,” respon Cyffredinol.


“Sebelumnya ayahmu pergi ke negeri Ierua untuk berbicara kepada perdana menteri itu, namun dia tidak mengijinkan Aisling dan Phyton untuk menemuimu disini,” ucap Lorainne.


“Dia sebenarnya berniat jahat kepadaku, karena mengetahuinya aku pun mengatakan kepada Aisling, dan kemudian bersamanya dengan membawa Phyton kami pergi meninggalkan negeri Ierua lima tahun yang lalu…”


“Karena tidak tahu tempat kemana untuk bersembunyi, aku pun meminta Raquille untuk menyembunyikan kami di markas organisasi Guardian… Namun, ternyata hal ini terjadi, dan membuat aku harus berpisah dengan dua orang yang kucintai,” ucap Cyffredinol, menjelaskannya kepada Lorainne.


“Cyffredinol… Apakah kau membenci Raquille karena secara tidak langsung telah membuat kau dan keluargamu terpisah seperti ini?” Tanya Lorainne.


“Tentu saja tidak… Namun, mengenai perbuatan yang dilakukan olehnya, aku juga menganggap bahwa dia memanglah bersalah,” jawab Cyffredinol.


“Bagaimana dengan Raquille? Apakah dia sudah ditemukan?” Tanya balik Cyffredinol.


“Raquille masih belum ditemukan… Sejak kejadian itu, ayahmu pergi ke benua Avanca untuk mencari keberadaan adikmu, namun dia tetap tidak ditemukan…” Jawab Lorainne.


“Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia telah tiada karena berhasil ditangkap oleh Venerate yang berada di benua tersebut… Namun, ibu tidak mempercayai hal itu,” lanjut Lorainne berkata, sambil memperlihatkan ekspresi yang sedih.


“Aku harap Raquille bisa kembali lagi kemari, dan mempertagungjawabkan atas perbuatannya itu,” respon Cyffredinol.


Tak lama kemudian, pria Elfman itu pun perlahan-lahan bangun dari tempat tidurnya untuk berdiri.


“Cyffredinol… Sudah ibu bilang jangan dulu memaksakan diri… Kau itu masih belum pulih dengan totol,” ucap Lorainne, mempertingati anak pertamanya tersebut.


“Jangan khawatir ibu… Aku sudah baik saja-saja sekarang.” Namun, Cyffredinol pun meyakinkan bahwa dirinya telah pulih.


Di dalam benak Cyffredinol, pria Elfman itu nampak merasa sangat sedih serta harus pasrah karena dirinya kemungkinan tidak akan bisa dipertemukan kembali bersama Aisling dan Phyton, karena Cadhan tidak akan mengijinkannya untuk bertemu mereka, sekalipun dia pergi ke negeri Ierua.


***


Berpindah ke kota Nublid, dimana merupakan ibukota dari negeri Ierua, terlihat Aisling datang menemui Phyton yang sedang duduk menatap keluar jendela di dalam sebuah ruangan.


“Phyton…” Ucap Aisling, memanggil putranya tersebut.


Phyton pun lantas menoleh ke arah Aisling, namun terlihat anak tersebut memasang ekspresi heran ketika melihat ibunya.


“Phyton… Ada apa?” Tanya Aisling, nampak bingung melihat ekspresi Phyton yang merasa heran menatapnya.


Ketika Aisling mendekati Phyton, anak itu lantas berdiri dari tempat duduknya kemudian perlahan-lahan menjauhi Aisling.


“Ada apa denganmu Phyton?” Tanya Aisling, kini merasa kebingungan melihat sikap dari putranya tersebut.


“Kakak, kau siapa?”


“Kakak… Phyton, apa kau sedang bercanda? Walaupun ibu terlihat seperti layaknya kakakmu, apa mungkin kau harus memanggil ibu dengan sebutan itu?” Ucap Aisling, sedikit terkejut ketika Phyton mengatakan hal tersebut.


“Aku tidak mengenalmu… Setidaknya katakan kau ini siapa?”


Aisling pun nampak heran ketika Phyton mengatakan hal tersebut, layaknya putranya tersebut nampak tidak mengenalinya.


“Phyton, berhenti bercanda… Ibu tidak mau lagi mendengar candaanmu itu.”


“Menjauh dariku… Aku tidak mengenalmu.”


“Phyton tunggu… Kau mau kemana?” Tiba-tiba Phyton pun langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut, hingga membuat Aisling terkejut bahwa Phyton tidak sedang bercanda, serta merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi pada putranya tersebut.


Ketika keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba Aisling terkejut karena di depannya telah berada Cadhan ayahnya, serta Venerate Ierua bernama Barnedict.


Melihat Cadhan serta Barnedict, Aisling pun langsung memperlihatkan ekspresi wajah serius, karena mengetahui bahwa hal yang terjadi kepada Phyton ada sangkut pautnya dengan mereka.


“Ayah… Apa yang kau lakukan kepada Phyton?” Tanya Aisling.


“Maaf Aisling… Aku terpaksa menyuruh Barnedict untuk menghapus ingatan Phyton, agar bisa melupakan Elfman itu… Kurasa untuk kali ini kau harus mengulang kembali peranmu sebagai ibu, karena dia juga tidak tahu siapa kau sebenarnya,” jawab Cadhan sambil memperlihatkan ekspresi senyuman menyeringai.


“Maafkan aku Aisling, tapi ini adalah perintah dari tuan Cadhan… Aku tidak bisa membantahnya,” sambung Barnedict, nampak meminta maaf atas apa yang dilakukannya kepada Phyton.


“Kenapa kau melakukan itu ayah? Phyton bahkan lupa bahwa aku adalah ibunya.” Saking kesalnya mendengar penjelasan tersebut, Aisling pun langsung mencengkram kerah baju Cadhan.


“Karena tentu saja aku tidak menginginkan Phyton menganggap Elfman itu adalah ayahnya,” ucap Cadhan.


“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Cyffredinol itu adalah ayahnya… Kau sudah memisahkan kami dari dia, dan sekarang kau membuat Phyton tidak bisa mengingat ayahnya,” ucap Aisling dengan nada suara tinggi karena sangat kesal mendengar ucapan dari Cadhan.


“Tuan Barnedict, aku mohon tolong kembalikan ingatan Phyton…” Aisling kemudian memohon kepada Barnedict untuk mengembalikan ingatan dari Phyton, agar putranya tersebut bisa kembali mengingat Cyffredinol.