The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 72 - Semua pasukan Gimoscha telah menyerah



“Ice spring… Thousands ice thorns” Tidak mau terlalu lama terkejut melihat Zero dihempaskan oleh Giano, Raquille seketika menciptakan duri-duri es, yang terus-terus bermunculan hingga ke arah pemimpin Gimoscha tersebut.


“Counter breaker ice…” Namun, serangan tersebut masih tetap percuma karena Giano dengan mudah meleburkan duri-duri es tersebut saat mengangkat salah satu tangannya ke depan.


“Breaker flame… Summer sun holy flame…” Giano kemudian melancarkan serangan elemen api.


Melihat serangan tersebut dengan cepat meluncur ke arahnya, Raquille seketika menciptakan sebuah dinding es hingga berlapis-lapis.


Namun, serangan elemen api yang dilancarkan oleh Giano dengan mudah melenyapkan dinding-dinding es tersebut dan menghantam pemuda Elfman itu sampai membawanya masuk kedalam hutan.


Serangan tersebut bersamaan dengan Raquille yang dibawahnya seketika membakar pepohonan yang berada di hutan tersebut hingga hangus.


Setelah mencapai titik maksimalnya, serangan elemen api itu seketika menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar.


Para Venerate yang saling berhadapan di kota Reom langsung menghentikan pertarungan mereka saat melihat efek ledakan tersebut membumbung tinggi ke langit serta menciptakan sebuah hempasan angin kuat, yang dapat dirasakan oleh mereka.


***


Juaferrex serta Acadiuno seketika terbang ke langit untuk menyaksikan lebih jelas lagi ledakan yang berada di dekat hutan, diluar kota tersebut.


“Kurasa pasukan Gimoscha ternyata masih memiliki harapan,” ucap Acadiuno mengambil kesimpulan bahwa Raquille maupun Zero kini telah disudutkan oleh pemimpinnya.


Nampak raut wajah cemas dari Jueferrex setelah mendengar ucapan Acadiuno. Pria itu hendak bergerak untuk membantu Raquille dan Zero melawan World Venerate Gimoscha itu, namun tiba-tiba saja Acadiuno telah berada di depannya dan langsung menghalanginya.


“Hei, bukannya kau bilang tadi mau menyerahkan pertarungan itu pada mereka saja?” Ucap Acadiuno dengan memasang ekspresi wajah menyeringai.


***


“Haah… Sialan.” Ucap pemuda Elfman itu nampak kesal.


Masih tidak apa-apa, Raquille pun kembali berdiri walau mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya setelah menerima serangan sebelumnya.


*


“Bagaimana cara mengalahkannya? Aku yakin semua elemen yang dilancarkan akan diatasi dengan muda olehnya.”


“Apa mungkin aku harus menggunakan kekuatan ekdosi juga?” Sambil menatap kapak yang dipegang olehnya, Raquille bergumam dalam hatinya memikirkan cara untuk melawan pemimpin negeri Gimoscha itu.


“Ah tidak… Tidak ada ruang yang cukup jika harus menggunakan kekuatan pelepasan keduaku sekarang.”


“Sepertinya aku harus menggunakan kekuatan itu lagi.” Dia kemudian memejamkan kedua matanya.


**


“Divine ice mode…” Saat membuka matanya kembali, tiba-tiba pancaran sinar berwarna biru memancar dari kedua matanya.


“Divine ice shaping… Elfman ice armor…” Pemuda itu lalu menciptakan sebuah zirah es yang langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.


**


Tak jauh dari tempat itu, terlihat Zero kembali menyerap petir dari langit dengan mengangkat kedua kapaknya ke atas.


“Wahai makhluk suci penguasa angkasa dan udara... Pinjami sekarang aku kekuatanmu...” Setelah mengucapkan kata tersebut, kedua mata dari pria itu nampak memancarkan sinar berwarna biru.


Dengan satu dorongan yang kuat, World Venerate Calferland itu seketika meluncur ke arah Giano.


“Breaker lightning...” Saat berada satu titik dihadapan pemimpin negeri Gimoscha itu, Zero seketika melancarkan serangan proyeksi elemen petir.


*


“Apa...?” Giano sontak terheran-heran ketika serangan yang dilancarkan oleh pria itu tidak bisa diserapnya.


**


Serangan tersebut seketika diterima Giano hingga mementalkannya ke jarak yang cukup jauh.


“Ice aura... Winter slashes...” Tidak sampai disitu, Raquille tiba-tiba datang menghampirinya dan langsung melancarkan sebuah serangan tebasan elemen es secara bertubi-tubi hingga pria itu terdorong sampai menghantam permukaan dengan kerasnya.


“Akh...!” Teriak Giano.


***


Berpindah di dalam kota Reom, dimana pertarungan antara para Venerate pasukan Serepusco melawan pasukan Gimoscha akhirnya dimenangkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Arepo dan Mayorio.


“Haah... Haah... Kalian kuat juga...” Ucap Arepo sedikit menghela nafas.


**


Tak jauh di tempat itu juga terlihat Mayorio telah mengalahkan Terra. Perempuan yang dilawan Mayorio sebelumnya kini tak sadarkan diri tepat dipangkuan pria itu.


Beberapa saat kemudian Arepo, saudara dari pria itu datang menghampirinya.


“Mayorio, apa-apaan kau ini?” Tanya Arepo melihat Terra tertidur dipangkuan saudaranya itu.


“Sudahlah, tak usah pikirkan hal ini, yang pasti sekarang kita sudah menang,” ucap Mayorio.


“Yah, sepertinya begitu. Tinggal menunggu waktu pasukan Gimoscha akan menyerah sepenuhnya,” sambung Arepo.


“Tinggal menunggu pimpinan negeri mereka dikalahkan oleh tuan Raquille dan Zero Lancheur,” lanjut Arepo berkata.


***


Di sisi lain kota Reom, terlihat pasukan Calferland yang dipimpin oleh Cento telah menangkap prajurit Gimoscha yang masih tersisa.


***


Begitu juga dengan Continent Venerate bernama jiqu, yang telah mengakhiri pertarungannya dengan Clava setelah melihat semua pasukannya telah dikalahkan oleh para pasukan kubuh barat.


“Haah... Kurasa ini waktunya aku mengakhirinya,” ucap perempuan itu.


***


“Uwaah...!” Sedangkan di sisi lain, Vingto terhempas terus-terusan menerima serangan dari Ergine tanpa melakukan sebuah perlawanan.


“Haah... Haah...” Sekali lagi pria itu berdiri lagi setelah berulang kali menerima serangan dari perempuan Gimoscha itu.


Vingto lalu memunculkan sebuah tongkat di tangannya dan kemudian memutar-mutarnya.


“Oh, jadi kau mau serius sekarang?” Ergine yang sedari tadi merasa bosan karena terus-terusan melakukan serangan nampak senang setelah melihat Vingto akhirnya mengeluarkan senjata sucinya tersebut.


Tanpa pikir panjang, perempuan itu meluncur ke arah Vingto hendak menyerangnya kembali.


Namun, kali ini berbeda. Vingto dengan lincah menghindari serangan tersebut dengan melompat ke samping. Di saat yang bersamaan juga Vingto seketika menghentakkan tongkatnya sekali ke tanah.


Ergine yang melihat pria tersebut menghindarinya akhirnya kembali bersemangat. Dengan cepat perempuan itu meluncur kembali hendak menyerang pria itu lagi.


Vingto pun menghindari serangan perempuan itu lagi, serta secara bersamaan dia kembali menghentakkan tongkatnya tersebut sekali.


Sekitar dua sampai tiga kali Vingto pun menghindari serangan perempuan itu sambil sekali menghentakkan tongkatnya ke tanah.


Dan pada serangan Ergine yang terakhir, pria itu sontak melompat hingga jarak antara mereka berdua pun nampak lebih jauh dari sebelumnya.


“Gravoig's technique... Absolute barrier...” Vingto kembali menghentakkan tongkatnya ke tanah hingga sebuah penghalang seketika tercipta dari titik pria itu menghentakkan tongkatnya sebelumnya.


“Apa ini?” Ergine nampak terkejut bercampur bingung melihat dirinya kini telah terkurung di dalam sebuah penghalang yang diciptakan oleh pria Calferland itu.


“Sudah kubilang, bahwa aku tidak akan melukai wanita...” Ucap Vingto sambil memasang senyuman tipis diwajahnya.


Tidak terima, Ergine seketika menabrakkan dirinya berulang kali ke sisi penghalang tersebut bahkan sampai melancarkan serangan proyeksinya, namun hal tersebut percuma karena bagaimanapun perempuan itu mencobanya, dia tidak akan bisa menghancurkan penghalang itu.


“Haah... Setidaknya pertarunganku disini telah selesai.” Merasa lelah, Vingto seketika duduk sambil meluruskan kakinya ke tanah.


***


Di luar kota Reom tempat pertarungan antara World Venerate, nampak Acadiuno bersama dengan Juaferrex datang menghampiri Raquille dan Zero.


Tak berapa lama setelah itu, Giano pun mendekat dengan ekspresi kesal setelah menerima serangan dari dua World Venerate kubuh barat itu sebelumnya.


“Yang mulia, tolong hentikan semua ini... Kita lebih baik menyerah saja,” ucap Acadiuno memohon agar Giano menyudahi pertarungannya dengan Raquille dan Zero.


“Anak muda, mau berulang kali kau mengatakan hal itu, aku tetap tidak mau menyerah terhadap para budak-budak ini,” balas Giano, masih bersikeras ingin mengalahkan mereka.


“Tapi, semua pasukan kita telah dikalahkan.”


“Kalau begitu, sudah saatnya aku menyudahi semua ini,” Mendengar ucapan Acadiuno, pria seketika terbang ke udara.


Dia lalu mengangkat tongkat obornya ke atas. Sejenak sebuah pancaran yang sangat menyilaukan terpancar dari ujung senjatanya. Tak lama kemudian terciptalah sebuah bola api yang lama-kelamaan semakin membesar hingga berukuran seratus meter.