
Tak berapa lama, tuan putri dari negeri Ierua yang datang bersama Aisling tiba-tiba datang ke tempat itu.
“Kau juga datang kemari…” Ucap Raquille, nampak mengenali putri dari negeri Ierua itu.
“Siapa kau?” Tanya putri tersebut, tampak sedikit terkejut melihat Raquille yang tidak dikenalnya dalam wujud hibrida naga es tersebut.
Seketika Raquille kembali ke wujud normalnya, yang langsung membuat tuan putri tersebut mengenali pemuda Elfman itu.
“Eh… Aku tidak tahu bahwa itu kau,” ucap tuan putri tersebut.
“Tuan putri, kita harus segera kembali Ierua sekarang,” ucap Aisling, mengajak putri tersebut untuk pergi.
“Tapi kenapa? Kita baru saja sampai…” Tuan putri Ierua itu lantas terkejut, padahal mereka baru saja sampai ke wilayah tersebut dan kini akan segera kembali lagi.
“Seperti yang kau lihat pasukan Ierua sudah dikalahkan… Walaupun melawan, kita tetap tidak bisa menang, ayo kita pergi sekarang sebelum mereka semua berubah pikiran.” Aisling pun sontak menarik putri Ierua itu untuk segera pergi meninggalkan wilayah Whiteland tersebut.
Saat Aisling bersama putri Ierua itu berjalan menjauhi para pasukan Blueland, sejenak Aisling berhenti lalu menatap kembali ke belakang.
“Untuk kali ini kami akan menerima kekalahan… Tapi, tunggu saja… Kami akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi, dan saat itu juga kami akan segera menyerang wilayah utama Blueland,” ucap Aisling memberi peringatan bahwa pasukan Ierua akan kembali menyerang.
Semua Venerate Blueland pun sontak terkejut mendengar pernyataan dari perempuan itu, begitu Raquille, yang walaupun hanya memasang raut wajah datar, namun pemuda Elfman itu juga sontak terkejut dengan pernyataan tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, setelah pasukan Ierua telah meninggalkan pulau Whiteland, para Venerate Blueland yang ada, nampak berkumpul di sebuah ruangan luas, yang berada pada kota tempat pertarungan mereke sebelumnya untuk membahas tentang pernyataan dari Aisling.
“Apakah kita harus menyerang Ierua terlebih dahulu sebelum mereka menyerang pulau utama kita?” Tanya Steinolf.
“Kurasa kau benar paman… Bagaiamanapun juga, pernyataan yang dikatakan oleh perempuan itu memang benar, karena aku sempat mendengar sebelumnya dari mantan Venerate Ierua,” jawab Raquille.
“Bagaimana jika kita meminta bantuan GANCO untuk membantu kita?” Tanya Steinolf lagi.
“Percuma saja kita meminta bantuan kubuh barat… Mereka akan berusaha menolong jika kita memang sudah diserang secara terang-terang oleh negeri Ierua…”
“Dibanding itu aku memiliki rencana bagaimana menyerang mereka,” jawab Raquille.
Raquille kemudian menjelaskan bahwa harus bekerja sama dengan musuh negeri Ierua yang tidak lain merupakan negeri Brizora, yang memang sudah lama sangat bertentangan dengan negeri tersebut.
Raquille juga menjelaskan bahwa dia akan pergi ke negeri Brizora untuk meminta bantuan, sembari pasukan Blueland tetap berada di tempat mereka. Hal itu karena jika Raquille gagal, maka pasukan Blueland yang masih berada di tempat bisa bertahan dari serangan negeri Ierua.
“Apa kau yakin akan pergi sendirian ke negeri Brizora?” Tanya Steinolf.
“Tentu saja dia memerlukan seseorang untuk ditemani, paman… Jelas saja aku juga akan ikut bersama dengan Raquille ke negeri Brizora.” Hyphilia pun langsung mengunjuk dirinya untuk ikut bersama dengan Raquille.
“Aku juga ingin ikut…” Begitu juga dengan Arn yang langsung mengunjuk dirinnya juga untuk ikut bersama dengan Raquille.
“Bagaimana dengan kalian Anhilde… Asulf… Apakah kalian juga akan ikut?” Tanya Arn kepada dua saudara kembarnya.
“Baiklah… Harry… Kau juga akan ikut bersama kami.” Raquille pun langsung menunjuk Haltryg untuk ikut bersama dengannya.
“Hah? Kenapa denganku juga?” Tanya Haltryg, tiba-tiba menjadi bingung, padahal dirinya sebenarnya tidak berniat untuk ikut.
“Kau itu sudah lama hanya berdiam diri terus di dalam akademi sihir… Maka untuk kali ini aku akan mengajakmu berjalan-jalan,” jawab Raquille.
“Haah… Kenapa juga harus denganku?” Haltryg pun hanya bisa setuju dengan ucapan Raquille, walaupun dirinya tidak berniat untuk ikut.
“Kalau begitu, kita semua akan mengikuti rencanamu tuan muda…” Ucap Steinolf, menyetujui rencana dari Raquille.
***
Berpindah di negeri Ierua, tepatnya di kota Nublid yang menjadi pusat pemerintahan dari negeri itu. terlihat perdana menteri Ierua, Cadhan Naisitorach memasuki sebuah ruangan singgasana dari raja negeri Ierua.
“Salam Yang mulia… Ada apa anda memanggilku?” Ucap Cadhan memberi salam kepada raja negeri Ierua, serta bertanya mengenai panggilan terhadapnya.
Tampak raja dari negeri Ierua yang bernama Sheafear Macolla atau disebut sebagai Sheafear III duduk atas sebuah tahta.
Pria yang disebut sebagai raja tersebut nampak memiliki penampilan layaknya seorang pria masih berumur tiga puluh tahunan, namun yang sebenarnya pria tersebut sudah berumur sekitar empat ratus empat puluh tahun lebih.
“Apakah kau tahu bahwa Hazelise pergi ke wilayah Whiteland?” Tanya raja Ierua yang bernama Shefear itu.
Mendengar hal tersebut, Cadhan pun sontak terkejut, tidak menyangka bahwa raja Ierua itu bisa mengetahui bahwa sang tuan putri Ierua pergi ke negeri Blueland.
“Maaf jika tidak memberitahukan padamu sebelumnya… Namun, aku memberi izin kepada tuan putri karena percaya akan kemampuannya… Lagipula tuan putri sekarang adalah seorang Continent Venerate dan merupakan salah satu Venerate terkuat Ierua,” ucap Cadhan, menjelaskannya pada raja Ierua itu.
“Iya, walaupun begitu dia tetap harus meminta izin kepada ayahnya juga… Walaupun dia merupaka salah satu Venerate terkuat, namun dia juga merupakan penerus tahta Ierua… Apakah aku harus hidup lebih lama lagi jika terjadi sesuatu terhadapnya,” ucap Sheafear.
“Sebenarnya aku juga memikirkan hal itu… Namun, disamping itu aku juga percaya dengan kemampuan tuan putri dan percaya bahwa dia akan baik-baik saja,” respon Cadhan.
“Baiklah, kurasa kau benar… Tapi, sebenarnya alasan utamaku memanggilmu kemari bukan untuk membahas perginya Hazelise, namun karen alasan lain.”
“Apa itu Yang mulia?”
“Cadhan… Apa kau berencana ingin menyerang pulau utama Blueland, selain pulau Whiteland?”
“Eh… Bagaimana anda bisa tahu hal itu?” Mendengar hal tersebut, Cadhan pun langsung terkejut.
“Cadhan… Walaupun aku selalu mempercayaimu untuk bisa mengambil keputusan sendiri, namun kau juga harus memikirkan bahwa negeri yang kau serang itu sekarang telah menjadi salah satu bagian dari kubuh barat…”
“Walaupun kita berada di sisi kubuh utara serta menghilangnya raja Elfman itu, akan tetapi bagaimana jika penyerangan tersebut akan kembali menimbulkan sebuah perang antar kubuh seperti perang kubuh barat dan kubuh timur sebelumnya,” ucap Sheafear, sedikit memperingati Venerate yang menjabat sebagai perdana menteri Ierua itu.
Mendengar penjelasan dari Sheafear, Cadhan pun lantas hanya bisa terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.
“Tetapi Yang mulia… Tentang rencana penyerangan negeri Blueland, sebenarnya aku memiliki sebuah alasan.” Tidak mau terlalu lama berdiam, Cadhan pun langsung memberitahukan kepada raja Ierua itu bahwa dia memiliki sebuah alasan untuk hal tersebut.